Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 393 : Toko Emas 23


__ADS_3

“Ya, itu anak ambar.”


“Tapi berdasarkan kitab, anak ambar tidak meminta tumbal, asal dia dirawat dengan baik, orang tuanya pasti merawat anak ambar itu dengan baik bukan?”


“Ya, anak ambar tidak pernah meminta tumbal! Kematian yang kalian curigai karena anak ambar juga, bukan sepenuhnya kesalahan anak itu, tapi ada faktor lain yang membuat anak ambar menjadi marah hingga mencelakai orang lain.


“Bagaimana cara kami membawanya ‘pulang’ ke tempat para ruh anak?” Aditia bertanya lagi.


“Tidak bisa, karena anak ambar sudah bertumbuh, hingga ruhnya tidak akan dianggap sebagai ruh anak-anak, maka tempat selanjutnya adalah seperti ruh yang tubuhnya meninggal dunia, tempat perhitungan.”


Kawanan terlihat sangat kesal karena tahu, orang tuanya sangat salah langkah hingga membuat ruh anaknya akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hak khusus, yaitu langsung masuk surga karena meninggal sebelum baligh.


Sayang sekali, untuk anak ambar menjadi polemik yang rumit jika diulik.


Anak ambar yang meninggal dalam keadaan masih kecil, begitu dirawat, konon katanya akan berkembang sangat cepat, hingga menjadi dewasa.


Orang tua yang merawat anak ambar akan mendapatkan banyak keberuntungan, hingga hal itu akan dianggap dosa yang harus ditebus, karena keberuntungan tersebut dilakukan dengan cara curang.


Setidaknya itulah yang tertulis di dalam kitab yang disusun oleh para tetua zaman Mulyana.


Hanya ada keterangan tentang kisah anak ambar, tapi tidak ada keterangan bagaimana cara memulangkan mereka, memulangkan mereka haruskah dengan cara biasa, mengantarkan pada alam baka menunggu waktu perhitungan. Tapi ... akan sangat tidak adil karena anak ambar seharusnya bahkan sekarang bermain di taman surga, bukannya malah ikut mengantri bersama para orang dewasa yang memang melakukan dosa.


“Keluarganya sudah tahu resiko tersebut, bahwa kalau memanggil anak ambar, artinya adalah menghidupkan mereka lagi dalam wujud ruh dan menghilangkan keistimewaan mereka yang meninggal dalam keadaan masih suci.”


“Satu-satu dulu Babah, sekarang satu yang sampai sekarang aku tidak mengerti, kenapa bau mereka berbeda dari jin atau ruh tersesat, aku bahkan sulit mendeskripsikannya.” Aditia bertanya, dia akan mengurai satu persatu hal yang dia tidak paham, mumpung bertemu dengan ahlinya, walau mereka berbeda tekhnik budaya dan ilmu, tapi nggak ada salahnya mempelajari banyak hal.


“Apakah baunya terasa manis? Seperti bau pada bunga tapi tak kau dapat deskripsikan bau apa itu?” Babah bertanya pada Aditia, yang lain menyimak.


“Ya, baunya manis.”


“Maka itu adalah wangi bunga surga, anak-anak yang meninggal akan ditempatkan di taman surga untuk menunggu ibu-ibu mereka kelak ketika sudah tiba waktunya, bau itu terbawa oleh anak ambar, karena bunga surga tak ada di dunia ini, makanya kau tidak mampu mendeskripsikan wangi itu dan menganggap itu bau aneh, bau ghaib tentunya, orang-orang terpilih seperti kita yang mampu menciumnya.” Babah menjelaskan, dia lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, itu seperti tabung kecil dengan patung manusia mini di dalamnya, itu adalah patung anak ambar, tempat anak ambar di rawat sebelum akhirnya memiliki kamar di rumah orang tuanya.”


“Cium ini, wangi seperti ini kan?” Babah menyodorkan tabung kaca transparan itu pada Aditia, Aditia lalu mencium baunya dan langsung mengangguk.


“Ini benar wanginya, wangi seperti ini yang aku cium dan yang lain juga kan?” Aditia menyerahkan tabung itu pada kawanan, mereka sepakat mencium bau yang dimaksud.


“Maka benar tidak dapat disangsikan lagi bahwa anak itu, adalah anak ambar ya.” Alka memberikan kesimpulan.


“Lalu kenapa dia menelan korban? Ada yang meninggal, kemungkinan karena anak ambar ini Babah, Aditia pertama kali mencium wangi ini dari baju ibu dan adiknya yang melayat ke rumah ibunya Amanda, wangi ghaib itu membuat Aditia begitu penasaran, kami pikir ini bau makluk yang lain, yang mungkin bermaksud menumbal, tapi dugaan kami salah.” Alka menjelaskan, tentu saja kawanan salah, kalian semua juga salah tebak kan? (Author lagi-lagi merasa menang hehehe)

__ADS_1


“Ini yang salah, orang tua anak ambar itu kemarin sempat ke sini, mereka meminta bantuanku untuk menenangkan anak itu lagi, dulu sempat dilakukan ritual untuk menenangkan anak itu, dulu sekali ketika anak itu baru saja dipanggil, katanya anak ambar itu sering sekali berkeliaran di dalam rumah dan mengganggu cicinya, aku meminta merkea melakukan pengorbanan energi, agar anak ambar tenang, karena energi dari ibunya adalah energi kasih sayang.


Lalu anak ambar itu tenang, tahun berganti, kupikir mereka akan hidup dengan tenang, tapi belum lama ini, orang tuanya kembali datang dan meminta bantuan untuk melakukan ritual penenangan lagi, aku bertanya ketika, apakah ini karena kakaknya lagi, lalu mereka jawab ....


SEBELUM KEMATIAN PEMILIK TOKO EMAS


“Aku mendengar tetangga mulai bergunjing tentang kamar ini, pembantu kita yang baru itu sudah mami pecat karena mengatakan bahwa rumah kita punya kamar untuk pemujaan, mereka bilang bahwa emas-emas yang kita jual itu karena muja setan.” Anaknya mengeluh, walau sebenarnya berita itu tidak terlalu populer, tapi tetap saja mengganggu telinga, pembantu baru itu ketahuan hendak mencuri di kamar anak ambar, karena di kamar itu dia pikir ada benda berharga karena ditutup dan bahkan tidak diizinkan untuk dibersihkan oleh para pembantu, hanya mami dan papi yang boleh bersihkan, padahal hanya kamar anak ambar tapi pembantu itu mengira di sana ada emas batangan atau uang yang banyak.


Dia bermaksud untuk menyelinap, tapi ketahuan oleh pembantu senior, belum sempat masuk. Makanya dipecat, sebelum pulang ke kampung, dia menyebar rumor tentang kamar itu pada para tetangga, dia bilang bahwa dirinya dipecat karena tahu ada kamar pemujaan di sana.


Beberapa tetangga percaya, sisanya tidak percaya karena banyak bantuan yang diberikan oleh pemilik toko itu pada para tetangganya.


Jadi rumor itu tidak populer, tapi kakak ketakutan ketika pertama kali mendengar rumor itu, takut kalau kisah anak ambar itu akan tersebar dan orang tuanya kena amuk masa, ketakutan berlebihan.


“Tidak akan ada yang percaya dengan rumor itu, kita sudah banyak melakukan kebaikan untuk para tetangga, jadi mereka akan menampik itu, dengan sendirinya rumor itu tertelan bumi.” Mami terlihat santai.


“Tapi kalian tidak melakukan pesugihan seperti yang orang itu tuduhkan bukan?” Kakak masih takut.


“Adakah yang meninggal karena adikmu?”


“Dia bukan adikku, adikku sudah tiada.” Kakak kesal dan akhirnya masuk ke kamar di lantai 2.


Setiap kali kakak melewati kamar itu, dia semakin kesal dan ingin menghancurkan kamar itu agar anak ambar pergi dari sini dan orang tuanya tidak lagi memelihat anak itu.


Hingga akhirnya kakak mendapat kesempatan itu, dia mencuri kunci dari kamar pembantu senior, satu-satunya yang dipercaya oleh mami dan papi untuk memegang kuncinya, walau tidak pernah diizinkan untuk membuka, kunci dipegang hanya jika ada kejadian luar biasa kamar itu harus dibuka, misalkan kebakaran atau pencurian. Jadi tetap saja kamar itu terlarang bagi siapapun kecuali mami dan papi.


Kakak mencuri kunci itu dan menyelinap masuk. Begitu dia masuk, angin kencang keluar dari sana, kakak melihat betapa kamar itu masih sama, seperti ketika adik masih ada, hanya bedanya, kasurnya memiliki kelambu, kamar itu sangat bersih dan bau dupa menyengat.


Kakak melihat ada sesaji di meja pemujaan, di sesaji itu, kakak melihat makanan masih sangat bagus, bukan makanan yang jelek dan berbau.


Kakak heran, kenapa orang tuanya bisa melakukan ini dan mengambil resiko agar anak ambar ini bisa hidup di sini lagi bersama mereka.


Tentu kematian adik membuat kakak sedih dan merasa bersalah, tapi memanggil adiknya dan menjadikannya anak ambar, itu hal yang salah.


Kakak mengambil dupa yang terpasang di sana, mengganti dupa itu dengan dupa yang di pasang di lantai 2, lantai kamar kakak.


Dupa itu katanya sudah dimantrai berbeda oleh Babah, dupa di lantai 2 untuk melindungi kakak, dupa itu sangat tidak disukai oleh anak ambar, karena tujuan mantranya memang mengusir anak ambar dari lantai di mana kakak tidur, maka dari sana muncul ide.


Kakak pikir kalau dia mengganti dupa kesukaan anak ambar itu dendan dupa yang dibencinya, anak ambar akan pergi begitu saja dari kamar, tapi kakak tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Kakak hanya selalu bertindak gegabah, karena dupa diganti, dari dupa yang dimantrai agar anak ambar tenang dan nyaman di sana, diganti dengan dupa yang dibenci, anak ambari itu marah, dia yang saat ini tertidur tenang pada tabung yang ada patung manusia mini di dalamnya, menjadi marah dan murka, tidurnya terganggu oleh bau dupa yang menyengat itu.


Kakak setelah melakukannya, dia keluar dari kamar terlarang dan mengunci pintu itu lagi. Di titik ini pembantu senior itu memergoki kakak, walau dia tidak melihat kakak masuk atau keluar, tapi dia tahu, kakak bermaksud melanggar peraturan.


Kelak hal ini akan diadukan oleh pembantu senior kepada pemilik toko emas itu, ketika kakak akhirnay kecelakaan, karena di dorong anak ambar dan akhirnya anak ambar kembali berkeliaran, keluar dari kamar yang tidak membuatnya nyaman, menempel pada maminya, tanpa maminya sadari, membawanya ke toko emas, tepat saat itu ....


“Ibu mau yang mana?” Saat di mana Amanda hendak membelikan kalung untuk ibunya, apa yang membuat anak ambar sangat iri, ketika dia melihat kedekatan antara anak dan ibu, kedekatan yang sangat dia inginkan, walau sekarang dia bisa bersama maminya, tapi dia hanya ruh yang tidak bisa menyentuh maminya, seperti yang Amanda lakukan, bahagia bersama ibunya.


Maka anak ambar itu langsung memasuki kalung yang dibelikan Amanda untuk ... mengambil energi kebahagiaan ibunya dan membuat ibunya Amanda menjadi lemah, lalu meninggal dunia, energi itu membuat adik merasa sangat kuat, energi kasih sayang ibu dan anak, itu memang santapan yang sangat lezat bagi anak ambar yang haus kasih sayang.


Sama halnya dengan Sum si penjaga toko dan anaknya, begitu tahu bahwa maminya memberikan hadiah pada anak Sum, anak ambar itu menempel pada gelang itu dan mengambil energi kebahagiaan anak Sum, lagi-lagi anak ambar mendapatkan santapan yang sangat lezat, dia semakin mendapat energi itu, semakin menjadi serakah, betapa sesaji yang diberikan ibunya bukan apa-apa dibanding energi kebahagiaan itu, sungguh santapan yang sangat lezat.


Maka ketika akhirnya mami mengetahui bahwa kakak telah berbuat ulah lagi, mami buru-buru mendatangi Babah, untuk meminta bantuan melakukan ritual penenang bagi anak ambar.


Mami memberikan energinya untuk anak ambar, walau biasanya papilah yang memberikan energi itu, tapi anak ambar menolak, papi tidak tahu, tapi mami menyadarinya, makanya mami menggantikan papi memberikan energi itu, melalui gelang ritual.


Kelak saat papi tahu bahwa mami melakukan ritual itu, papi marah, tapi mami bilang tidak apa-apa. Mami berbohong, karena sebenarnya dia sangat lemah sakit, persis seperti ibunya Amanda.


Mami masuk rumah sakit dan ketika papi menungguinya, mami sekarat, karena anak ambarnya tidak mau melepas energi dari mami, energi yang paling besar, yaitu energi dari ibu kandungnya, anak ambar semakin haus energi yang begitu lezat baginya, energi yang sangat besar.


Lalu Mami meninggal dunia, kawanan mendatangi papi dan membuka kamar itu, papi mengungsi di tempat yang aman katanya.


KEMBALI KE MASA INI


“Jadi anak itu murka karena kakaknya menukar dupa itu? apakah orang tuanya tidak sadar ketika dupa itu ditukar?”


“Tidak sadar, saat aku yang sadar, karena ketika aku melayat ke rumahnya, hanya untuk memastikan apakah anak ambar itu ikut ibunya atau masih bertahan di kamar, aku melihat anak ambar itu tidak ada di kamarnya, aku mencium bau dupa yang salah di sana, tapi aku tidak beritahu papinya, karena ... dia akan tahu siapa pelaku penukaran itu, aku sudah menebak dari awal, bahkan ketika sudah setua itu pun, kakak masih sangat dengki pada adiknya, sungguh iri dan cemburu itu mampu meluluhlantahkan sebuah hubungan.” Babah menyesal mengatakannya, tapi itu adalah apa yang terjadi sebenarnya.


“Maka sekarang kita harus memburu anak ambar itu, dia bisa saja membuat keonaran untuk mengambil energi dari ibu dan akan yang dia rasa energinya sangat lezat.” Aditia dan kawanan bersiap, lagi-lagi lawannya anak kecil, walau anak ini tidak benar-benar kecil dan dari jenis yang berbeda.


_____________________________________


Catatan Penulis :


Jangan lupa like, komentar dan vote ya, kasih hadiah juga boleh.


BTW yang belum ikuti akun Noveltoonku, jangan lupa ikuti ya.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2