
Dalam hitungan menit, api yang tadinya membumbung tinggi, hingga menutupi seluruh tubuh kawanan itu akhirnya padam.
Enam mayat bergelimpangan, gosong tak karuan. Anto mendekat, kawanan tewas seketika dalam keadaan gosong.
Anto tertawa terbahak-bahak melihat itu.
“Tidak sesulit yang kubayangkan, mudah sekali membunuh mereka.” Anto mengatakan itu dengan penuh percaya diri.
Dia masuk dan melihat kawanan dalam jumlah yang banyak, jiwa-jiwa parasit itu siap untuk dipaketkan ke berbagai kota untuk dijadikan barang dagangan, mereka akan dijadikan orang-orang ‘pintas’ yang membantu para petinggi yang ada di desa-desa dan juga kota-kota besar, mereka akan menjadi penasehat orang-orang ternama, lalu dari merekalah uang-uang akan mengalir pada Anto dan pemilik vila itu.
[Halo Pak, sudah kubereskan.] Anto menelpon seseorang.
[Kau yakin mereka mati?] pria diujung sana dengan suara berat itu bertanya.
[Tentu saja, aku yakin, 6 mayat gosong tanpa sisa.]
[Bagus Anto, aku tahu kau selalu bisa diandalkan.]
[Bagaimana dengan aset-aset kita ini, apakah sudah boleh mengirim mereka ke para pelanggan?] Anto bertanya.
[Sudah waktunya, kirimlah, aku tidak sabar uang masuk ke rekeningku.] Lelaki itu memberi perintah.
[Baiklah Pak, jangan lupa uang yang kau janjikan.]
[Tentu saja Anto, uang akan segera aku kirim ke rekeningmu. Aku suka, cara kerjamu sungguh luar biasa.]
[Tentu saja.]
[Lalu bagaimana dengan istrimu? Apa kau akan melepaskan jiwanya? Bukankah kau mengurung jiwanya bersama dengan jiwa parasist milikmu sendiri?] Lelaki itu bertanya lagi.
[Aku akan melepaskannya, maksudku, jiwa parasitnya, bukan dia yang asli, tapi memakai tubuhnya, aku tidak butuh istri, aku butuh budak yang takkan pernah melawan untuk apapun yang kulakukan padanya, aku tidak butuh wanita pembangkang sepertinya, maka aku akan memanggil jiwa parasitnya saja, lalu menaruhnya di tubuh istriku, itu jauh lebih menyenangkan bukan, Pak?]
[Kau memang kejam, tapi aku suka itu, karenamu pekerjaan bertahun-tahun bisa selesai dalam waktu semalam saja.]
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Anto ke kamar utama membawa istrinya yang masih menatap kosong ke depan.
“Gea kau itu cantik, sayang aku tidak terlahir kaya, jika saja aku terlahir kaya, mungkin kau akan lebih sabar dan baik. Oh ya, soal adikmu, maaf ... aku tidak bisa menyelamatkan jiwanya, sudah kuberikan sebagai tumbal, kami tidak ke bandara untuk pulang ketika itu, tapi kami menyerahkan jiwa adikmu yang polos itu, andai dia pulang dengan orang tua kita, pastilah dia selamat, tapi dia keras kepala ingin menemani kita katanya.” Anto tertawa terbahak-bahak, menertawakan kebaikan orang yang akhirnya dia gigit, macam anjing yang ditolong tapi gigit tuannya.
“Gea, aku memanggilmu.” Anto memanggil jiwa parasit Gea, jiwa itu keluar, karena dia tidak di dalam tubuh Gea, jiwa Gea telah disandera di suatu tempat ghaib, maka dari sanalah jiwa parasit itu tercipta.
Gea sang jiwa parasit muncul secara tiba-tiba dalam wujud ruh, masuk ke dalam tubuhnya sendiri.
“Selamat datang di tubuh barumu, sekarang kau harus membantuku mengurus semua orang-orang baru kita yang sangat mahir itu.” Yang dimaksud Anto itu adalah para peniru kawanan.
Gea yang sudah dimasuki jiwa parasitnya itu mengikuti dari belakang Anto keluar, beberapa pengawalnya sedang sibuk membariskan beberapa Aditia, beberapa Alka, ganding, Hartino, Jarni dan Alisha.
Mereka berbaris hendak disiapkan dikirim ke beberapa daerah.
“Siapkan mereka, kita akan segera mengirim mereka ke beberapa tempat di mana orang-orang kaya itu berada, kita akan menggunakan kawanan untuk pura-pura membantu orang-orang kaya itu untuk melancarkan usaha-usaha mereka. kita akan kaya raya dalam waktu yang singkat, kalian bergegas.” Anto memerintah semua orang untuk segera menyiapkan mereka untuk dikirim dengan beberapa mobil.
Semua orang berjalan ke arah pintu depan, Anto paling depan, saat dia membuka pintu depan, ternyata pintu depan terkunci, Anto dengan yakin merasa bahwa pintu tidak dia kunci dan tidak memerintahkan siapapun untuk mengunci pintunya.
__ADS_1
Dia segera memeriksa kantung celana, di mana kunci itu berada, kosong, Anto mencari-cari kuncinya, dia hendak berjalan ke kamar utama tapi ....
“Kau mencari ini, bedebah?” Salah satu dari kumpulan Aditia itu bertanya, dia memegang kumpulan kunci vila itu.
Anto terkejut, karena ada seorang Aditia tiruan memegang kunci itu, Anto terdiam dan mulai sadar.
Sedang Alka, Jarni, Alisha, Ganding dan Hartino yang tadinya menatap kosong ke depan menataap Anto dengan tatapan menghina.
“Kau pikir mudah menghabisi kami? Tidak terbayangkah kau, sudah berapa banyak makhluk serakah sepertimu yang kami habisi dalam sekejab?” Hartino tertawa.
“Serang mereka!” Anto memerintahkan pada kawanan tiruan untuk menyerang kawanan yang asli.
Tiba-tiba kawanan tiruan itu mengelilingi kawanan dan hendakm menyerang yang kawanan asli.
“Anto, kau ini bodoh atau bagaimana sih! mereka memang memiliki jiwa kami, tapi kan mereka tidak punya khodam dan senjata kami.” Aditia dan yang lain mengeluarkan senjata, sementara Alisha seperti biasa, masuk ke dalam lingkaran pagar ghaib yagn Jarni buatkan untuknya.
“Tentu saja aku tahu itu, tapi jiwa yang bisa menarik khodam setinggi ilmu-ilmu yang kalian miliki, pasti bisa memanggil jin-jin lain untuk menjadi khodam mereka!” Anto bersiap, ternyata dia memang bukan orang yang bisa disepelekan, entah apa yang akan dia lakukan pada jiwa parasit kawanan yang kosong tanpa khodam itu.
Anto membaca mantra ....
Adnyana angsar mudia kaaruh
Jiwa ning sajih kabubuti jarwa
Mung nigah jahir angsar mudia karuh
Setelah membaca mantra itu, Anto mengetuk tiga kali lantai dengan kakinya, seketika angin bertiup kencang, pintu yang tadinya terkunci, tiba-tiba terbuka, jendela juga terbuka, seluruh pintu dan jendela kaca pecah.
“Mantra apa itu?” Aditia bertanya pada Ganding.
“Masuk ke lingkaran Kak! Masuk!” Ganding meminta Alka masuk ke lingkaran pagar ghaib yang Jarni ciptakan untuk Alisha.
Alka tanpa bertanya langsung masuk ke dalam lingkaran.
Aditia paham setelah beberapa menit kemudian banyak yang berdatangan, berbagai makhluk mitos Bali, mereka hendak menyerang tempat ini.
Rupanya itu adalah mantra pemanggil, Anto mengeluarkan energi ghaibnya dan memanggil setan-setan Bali itu untuk datang, tentu saja mereka akan datang ketika merasakan energi yang berbeda dari yang biasa mereka rasakan di tempatnya.
Ini seperti undangan perang.
“Anto, kau bodoh atau memang tidak paham! Kau hendak menjadikan setan-setan itu sebagai khodam manusia palsu buatanmu!” Aditia geram, mereka masih berkelahi dengan diri mereka masing-masing, tentunya itu adalah parasit yang meniru.
“Tentu saja aku paham, tidak akan tahu kalau tidak di coba, kita lihat, pasti salah satu dari kalian akan memiliki setan-setan ini menjadi jin, yang pasti manusia-manusia parasit ini yang akan menajdi tuan mereka.
Anto berlari ke luar hendak kabur.
Alisha yang melihat itu mengulurkan tangannya pada Alka, Alka menyerahkan cambuknya, Alisha memegang cambuk itu dengan tangan yang dilapisi kain, walau memang masih terasa panas, tapi Alisha memagangnya dan mengejar Anto.
Anto sudah ada di halaman vila itu, Alisha menyabet cambuk Alka pada Anto dan Anto jatuh karena sabetan itu.
“Perempuan brengsek, bisa apa kau!” Anto kesal karena Alisha membuat langkahnya terhenti.
__ADS_1
“Kau mau tahu? Seperti yang kau bilang, kalau tidak dicoba takkan tahu.” Alisha menyabet kembali tubuh Anto, Anto kesakitan karena sabetan itu sungguh sangat pedih.
“Perempuan ******!” Anto mengeluarkan pisau lipat dari kantung kelananya dan dia mencoba meneyrang Alisha di bantu oleh beberapa pengawalnya.
Alisha mundur sejenak, menghitung berapa orang yang harus dia hadapi, total ada 4 orang termasuk Anto.
Anto mulai menyerang dan Alisha menyabet lagi cambuk Alka, sementara tiga orang lain juga ukut menyerang, Alisha menyabet tubu Anto, menendang satu lelaki pengawal pada organ vitalnya agar cepat lumpuh, lalu menendang yagn satunya, menyabet lagi pria satunya, dia terus menyabet ke berbagai arah, Anto tetapt tidak bisa menjangkau Alisha.
Beruntung Anto karena menghadapi Alisha yang sekarang, walau nekat, senjatanya tidak mumpuni, dulu dia memegang pedang yang sangat panjang dan besar, bahkan pedang itu harus diseret kalau hendak digunakan, pantang bagi pedang itu dimasukkan lagi kalau tidak kena darah.
Sekarang Alisha hanya mampu memegang cambuk dan menyabet ke segala arah juga bertumpu pada kemampuan bela dirinya saja.
Saat Alisha fokus pada 3 orang yang hendak menyerang bersamaan, Anto menyelinap dari belakang dan menusuk tepat bagian pinggang Alisha.
Alisha terdiam, pisau itu terasa dingin menusuk pinggannya, tidak merasakan sakit sama sekali, tapi setelah darah ke luar dari sana Alisha tumbang.
Hartino berteriak, karena dia melihat Alisha bertarung sendirian, sejak tadi Hartino berusaha menebus sekeliling manusia mirip mereka itu dan juga para setan Bali yang menyerang karena panggilan mantra dari Anto manusia laknat itu, tapi Hartino belum berhasil, saat kakinya hampir berhasil melangkah menjauh dari manusia parasit itu, Alisha telah tertusuk.
“ALISHA!!!” Hartino berteriak dengan sangat kencang.
Aditia dan yang lain melihat Alisha ambruk, terkejut karena tidak tahu Alisha telah keluar dengan cambuk Alka, Alka melihat itu, dia bersiap berlari menyelamatkan Alisha dengan keluar dari lingkaran dan hampir saja berubah wujud menjadi wujud jin.
Tapi Jarni dengan sigap langsung memukul balik Alka dan membuatnya pingsan, akan sangat berbahaya bagi Alka jika dia keluar dari pagar ghaib Jarni dengan tubuh jinnya, dia akan menjadi incaran para setan Bali dan itu membuat semua orang akan dalam ancaman, Alka terluka, artinya kawanan akan menciptakan perang di tempat ini, maka hubungan Balian Kharisma Jagat dan semua pemilik khodam dari pasundan akan hancur karena hal ini terjadi di tanah mereka.
Makanya Jarni segera bertindak dengan mendorong Alka masuk kembali ke dalam lingkaran dan membuat Alka pingsan.
Hartino mengejar Alisha, Alisha jatuh melihat kekasih hatinya mengejar untuk menopang tubunya, tapi terlambat, Alisha jatuh dan Anto bersiap akan menusuk Alisha pada dadanya, tapi belum juga kena, Hartino melontarkan khodamnya keluar dari tubuhnya dan membuat Anto akhirnya mental karena khodam itu tahu siapa musuhnya.
Anto terpental, juga dengan para pengawal karena khodam Hartino menyerang semua pengawal Anto.
Hartino sudah memegang tubuh Alisha.
“Sha, Sha, Sha! Bangun!” Hartino melihat Alisha mulai tak sadarkan diri.
“Har ... sakit.” Alisha merasakan lagi sakit yang dulu selali menjadi temannya, sakit di tubuh karena memelihara Esash.
“Sha, kita ke rumah sakit ya.” Hartino hendak menggendong Alisha, tapi Alisha menolak.
“Lalu bagaimana dengan yang lain, kita harus ada di sini.”
“Sha, aku mohon, kita harus ....”
“Dia menusuk organ vital Har, aku merasakannya.” Alisha berbicara dengan terbata karena bertahan untuk tetap sadar.
“Kita harus ke rumah sakit, Sha!” Hartino berteriak dan menangis, dia takut, sangat amat takut Alisha akan celaka.
“Har ... lepaskan aku, kembalilah, kawanan lebih membutuhkanmu.”
“Sha ....”
“Aku mencintaimu, itu yang harus kau ingat, sampai kapanpun, ada ataupun tidak ada ragaku di dunia ini, aku akan tetap tetap mencintaimu.”
__ADS_1
“Sha!!!” Hartino berteriak, dia marah dan mengacungkan senjatanya ke arah Anto, dia hendak membantai lelaki yang sudah lemah karena terpental oleh khodam Hartino sebelumnya.