
Dokter Adi sudah menunggu di ruangannya, dia sudah menyiapkan ruang operasi, bukan untuk mengoperasi tapi karena alatnya lebih lengkap, dia ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Donor darah sudah didapatkan dari PMI, golongan darah manusia yang ditumpangi itu ada persediannya.
Begitu Aditia, Ganding, Jarni, Hartino dan Alisha sudah masuk ruang operasi yang memang dibuat private oleh Dokter Adi, sehingga mereka bisa masuk seenaknya, karena secara prosedur rumah sakit, hal itu memang sangat dilarang.
Aditia membaringkan Alka dan Hartino membaringkan manusia yang ditumpangi itu. Alka terlihat sangat pucat, beberapa bagian kulitnya mengelupas, kemungkinan ini tanda kematian sementara dari tubuh manusianya, Aditia sempat menitikkan air mata saat melihatnya.
Saba Alkamah yagn cantik, bagaimana bisa menjadi sangat kesakitan seperti itu, jikalah bisa, tentu Aditia akan rela memberikan darahnya, menukar nyawapun mungkin dia sanggup.
Inilah kelemahan Kharisma Jagat, sekali mencintai, mereka kesulitan lepas, karena kemampuan mereka yang tinggi, cara mereka mencintai juga tinggi. Beruntung ketika bersama Alya, Aditia tidak pada level sangat mencintai, tapi lebih kepada tertarik saja.
“Kalian semua keluar dulu ya, saya akan mulai proses transfusi darahnya, aku akan mengeluarkan darah dari gadis ini dulu, lalu mengalirkannya pada tubuh Alka, setelahnya darah baru akan masuk ke dalam tubuh gadis ini.
Mengenai keberhasilan, bukan aku yang menentukan, karena secara medis, hal ini memungkinkan, tapi tubuh manusia itu tidak sesederhana seperti asumsi kita.
Makanya, kalian bantu doa ya.” Dokter Adi lalu meminta semua orang untuk keluar, Aditia dan yang lain menunggu di luar.
“Dit, tenang, dia udah ditanganin Dokter terbaik, baik manusia dan bagi para jin, ingat kan, ada kisah tentang bagaimana Dokter itu menjadi bagian Tim Ayi Mahogra? Tidak mungkin Ayi memilih orang sembarangan, kita percayakan padanya ya.” Aditia memang terlihat sangat depresi, dia duduk di lantai dengan kaki menekuk menutupi wajahnya. Hartino mencoba menenangkannya, Ganding duduk dihadapannya dan memegang tangan Aditia, sementara Jarni dan Alisha berpelukan, saling menguatkan. Pemimpin mereka sedang dalam masa kritis.
Alka memang tidak punya ayah dan ibu, tidak punya keluarga dekat, adik apalagi kakak. Tapi dia punya sahabat yang tidak pernah melepas genggaman, selalu menuruti perintah dan percaya pada semua keputusan Alka seratus persen.
Alka telah memiliki semua yang dia butuhkan di dunia ini ketika bersama mereka dan hidupnya menjadi sempurna ketika bertemu dengan cintanya, sang Lanjo.
Setelah berjam-jam Dokter Adi terlihat keluar dengan tergesa-gesa, beberapa perawat datang berlarian, dia menyuruh semua perawat masuk ke dalam.
“Dok, ada apa? ada apa Dok?” Aditia menahan Dokter Adi, dia ingin tahu apa yang begitu mendesak hingga membuat Dokter Adi terlihat panik.
Terjadi pendarahan di otak Alka, kita harus segera membedah kepalanya untuk menghentikan pendarahannya, aku butuh darah lebih banyak lagi, siapapun yang bergolongan darah O, masuk, aku butuh darah lebih banyak lagi!” Dokter Adi berteriak, karena pasokan darahnya sudah menipis, sementara pendarahan itu membuat proses transfusi menjadi terhambat.
“Aku Dok,” Ganding menunjuk tangannya, lalu Hartino juga, kebetulan dua orang dengan tubuh kekar itu memiliki darah yang sama seperti kakaknya.
“Aku juga Dok!” Aditia mau ikut menyumbangkan darah.
“Jangan!!!” Yang lain berteriak, Aditia lupa bahwa darahnya adalah darah dingin, itu akan berbaya bagi gadis itu jika ditransfusikan, bukannya menyembuhkan malah membuat gadis itu koma mungkin, karena darah Kharisma Jagat bukan darah sembarangan bisa diterima orang lain.
“Oh iya, maaf.” Aditia hilang akal, makanya dia tidak bisa berpikir jernih. Hampir saja mencelakakan orang lain.
Lalu Dokter Adi, Ganding dan Hartino masuk, mereka akan mendonorkan darah.
Aditia dan yang lain menunggu di luar. Jarni mendekati Aditia, dia ingin membuat Aditia lebih tenang.
“Kakakku bukan wanita biasa, dia bukan wanita lemah, kalau dia melihatmu begini, dia pasti kecewa, apalagi kau bukan orang biasa di matanya, kau itu sangat berharga baginya, maka kuatlah, jangan lemah.” Setelah mengatakannya, Jarni lalu pergi, dia tidak ingin menjelaskan lebih jauh, tapi itu pasti membuatnya bisa bertahan dari rasa ketakutan kehilangan Alka.
Sementara Dokter Adi dan semua perawat itu melakukan bedah kepala untuk segera menghentikan pendarahan pada Alka, dia terlihat tenang walau sedikit khawatir, dia takut kalau melakukan kesalahan, karena ini kepala, hubunganya dengan semua organ, maka resikonya adalah lumpuh, lupa ingatan atau lainnya.
__ADS_1
Dia butuh konsentrasi yang tinggi.
Dua jam setelah bedah kepala, transfusi berjalan lancar, Ganding dan Hartino sudah ke luar, darah mereka sudah diambil dan masih harus menunggu, total sudah lima jam Alka di ruang operasi itu, Dokter Adi tidak beristirahat sama sekali, dia terus memaksakan diri untuk melakukan yang terbaik. Ada rasa rindu melakukan misi lagi seperti dulu dengan sepupu sekaligus sahabatnya Malik Rainan, tapi bukan saatnya lagi, sekarang mereka semua fokus pada Akademi Kharisma Jagat.
Sementara itu di luar datang serombongan makhluk yang tidak bisa dikategorikan sebagai manusia.
Mereka memakai baju adat dan bersiap untuk entah apa masuk ke rumah sakit, tanpa satupun manusia yang sadar dan melihat kehadiran mereka.
Mereka masuk ke dalam ruangan di mana Aditia sedang menunggu Alka yang di operasi.
Melihat rombongan itu Aditia berdiri dan berlari, yang lain ikut.
“Kalian menjemput siapa?!” Aditia bertanya dengan putus asa.
“Saba Alkamah.”
Aditia lemas, dia hampir saja jatuh tapi mencoba menguasai keadaan.
“Jangan, dia sedang diselamatkan, kenapa kalian akan menjemputnya, dia itu setengah manusia, setengah jin, jadi jangan seenaknya.” Aditia mencoba mencegah.
“Dia akan segera menjadi jin seutuhnya, waktunya habis sebentar lagi, jika Dokter itu tidak mampu membangkitkannya dan menjadikannya setengah manusia dan setengah jin, maka dia akan menjadi jin dalam waktu beberapa jam lagi.”
“Ini belum tiga hari, bahkan kami masih punay waktu kurang dari satu hari, kalian jangan semena-mena!” Aditia berkata.
Aditia tanpa peringatan menyerang pasukan itu, yang lain juga tanpa aba-aba langusng menyerang pasukan itu. Pergumuan sulit dihindari. Jika dilihat mata manusia, Aditia dan yang lain seperti orang gila, bertarung sendiri, tapi mereka tidak melihat yang dilawan adalah pasukan yang memiliki ilmu yang tinggi, jin berumur ratusan tahun.
Aditia dan yang lain terus berusaha walau tubuh mereka sudah terpelanting ke sana kemari, darah terus berjatuhan dari tubuh-tubuh itu, Alisha bahkan tidak bisa berkutik, mereka banyak dan memiliki ilmu yang tinggi.
Kawanan berdiri di depan pintu operasi, mereka membentuk pagar.
“Jangan pernah lepaskan pegangan, apapun yang terjadi, jangan biarkan mereka membawa Sabaku!” Aditia memberi perintah.
“Tidak akan pernah, mereka harus melangkahi nyawa kami dulu jika sampai mereka ingin membawa kakak kami!” Ganding mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Pasukan itu menyerang, mereka tidak melawan, hanya terus bertahan, walau tubuh sudah babak belur, pasukan tidak menyerah tapi kawanan jauh lebih gila dari pasukan itu.
Mereka boleh memiliki ilmu tinggi, tapi mereka belum tentu punya tekad kuat.
Saat energi mereka hampir habis, bahkan Jarni sudah jatuh karena kelelahan, Ganding menahan tubuh Jarni dengan kakinya agar tidak diinjak oleh pasukan, Hartino dicekik hingga hampir kehabisan nafas, tapi dia tetap tidak melepas pegangan.
Alisha yang baru saja bergabung tidak kalah tangguhnya, dia menahan tubuh yang mencekik Hartino itu dengan kakinya berkali-kali, walau gagal dia tetap berusaha menyelamatkan Hartino, walau dirinya juga sudah babak belur, dia tidak perduli. Betapa cinta diantara mereka sangat kuat.
Aditia masih terus berpegangan, tubuhnya sudah banyak mengeluarkan darah, kesadarannya sudah melemah, lututnya tidak mampu lagi menopang tubuh, di sisa kesadarannya, dia jatuh berlutut, di titik ini dia masih bertahan sementara yang lain sudah jatuh terkulai, ada Ganding sudah ikut pingsan, Alisha masih mencoba melindungi Hartino yang mulai keholangan kesadaran, Aditia hampir saja menyerah ketika akhirnya dia mendengar auman yang sangat keras, sesuatu jatuh dari langit.
Brak!!!
__ADS_1
Sesuatu yang jatuh itu membuat jalan bagi entah apa yang hendak datang lagi, Aditia sudah tidak memiliki kekuatan untuk melawan, dalam kepasrahannya, dia melihat dari kejauhan, jubah hijau, yang berkilauan, jubah itu memiliki tudung yang menutupi wajah pemiliknya, dia menunggangi macan, macan belang tiga.
Aditia tersenyum, tentu saja, Aditia tahu, Ratu itu telah melakukan kesalahan dengan membuat Kharisma Jagat tingkat tinggi hampir mati.
Wanita dengan jubah hijau berkilau itu berdiri tepat di hadapan Aditia dan kawan-kawannya yang sudah tidak bisa berdiri lagi tapi tangan tetap saling memegang satu sama lain.
“Maju selangkah aku takkan ragu untuk menghabisi kalian, kalian telah melanggar perjanjian antara dunia manusia dan jin.” Wanita itu berkata dengan tegas, suaranya membaut pasukan itu ketakutan, mereka mundur.
“Ayi Mahogra, kami harus menjemput jin wanita itu, karena dia sudah ditandai oleh Ratu kami, dia menginginkannya untuk kerajaan laut.” Sepertinya dia adalah pemimpina dari pasukan itu.
“Maka ambilah jika kalian sanggup.” Ayi Mahogra mengeluarkan senjatanya, dia memegangnya di kedua tangan, gerakan otentik miliknya, siapapun yang melihatnya mengeluarkan senjata, baik manusia dengan predikat dukun sekalipun akan gentar karena begitu menakutkannya senjata itu. Sepasang Kujang itu menjadi ciri Khas ketika kemarahan Ayi sudah tidak dapat dibendung lagi.
“Ayi kami hanya menjalankan tugas.”
“Aku pun sama, aku menjalankan tugas untuk melindungi keluargaku, kalian membuatnya babak belur, aku tidak sabar membuat kalian babak belur.” Ayi Mahogra turun dari tubuh Panglima dan Raden mendekatinya sembari membuat pasukan menyingkir karena erangan Raden membuat mereka gemetaran.
“Kau sedang menabuh genderang peperangan dengan Ratu.” Pemimpin pasukan itu berkata.
“Aku sudah menabuhnya sejak dia menolak membantuku dalam peperangan melawan Mudha Praya, Ratu kalian memilih mundur dan tidak memilih satu di antara kami. Dia seolah lupa bahwa ayahnya pemuda ini sering melaksanakan tugas darinya, tapi ketika peperangan pecah, dia diam dan tidak memihak. Aku lebih suka dia memihak, sekalipun itu Mudha Praya yang dia pilih! Sehingga aku tahu musuhku siapa.
Sampaikan ini padanya, jika anak buahnya menyentuh Kharisma Jagatku lagi, aku sebagai ratu mereka akan mengadakan perang terbuka dengannya! Jin wanita di dalam adalah jatahku, karena dia berada di dalam wilayahku, di darat, bukan di laut. Apapun masa lalunya, air laut yang kalian berikan, sudah dia tebus dengan semua kebaikan yang dia lakukan untuk manusia.
Tapi aku tidak keberatan jika kalian ingin bertarung, aku sendiri mampu menghadapi kalian, aku akan meminta Karuhunku diam, bagaimana?” Ayi melepas jubahnya, dia benar-benar rindu bertarung.
“Kami akan sampaikan apa yang kau katakan barusan, aku tahu kalian berdua sama-sama Ratu, tapi ingat, dia Ratu yang sudah berumur, tingkatanmu sangat jauh dengannya, kali ini kami akan melepas jin wanita itu, tapi kalian lengah sedikit saja, kami akan mengambilnya, karena Ratu kami suka padanya.”
Pasukan itu lalu menghilang.
Ayi Mahogra lalu membantu Aditia bangun dan yang lain juga dibantu bangun oleh Raden dan Panglima.
“Makasih Ayi.” Aditia berkata, dia terlihat murung.
“Alka akan baik-baik saja, aku datang karena Dokter Adi memintaku datang. Kalian semua juga akan pulih, kalian pemuda dan pemudi hebat, aku sangat iri, karena dulu tidak punya tim sesolid kalian. Kalau begitu, aku pamit dulu, jaga diri kalian ya.” Ayi Mahogra hendak pergi bersama Karuhunnya.
“Ayi! Maaf, apa aku boleh tahu, kenapa kau membantu Alka, bukankah kau membencinya?” Aditia bertanya.
“Benci bukan berarti ingin dia mati Dit.” Ayi tersenyum.
“Lalu apa alasannya?” Aditia bertanya lagi.
“Saatnya nanti, kalian akan tahu, kenapa aku begitu melindungi kalian dan meminta semua orang memenuhi apa yang kalian perlukan. Bukankah sudah kukatakan, bahwa apa yang terjadi di luar sini adalah, sesi latihan panjang untuk kalian. Karena peperanga nmungkin akan terjadi lagi, saat itu, saat aku butuh kalian, aku akan meminta balasan kebaikan yang sudah aku lakukan untuk kalian.” Ayi lalu pergi setelah mengatakannya.
Aditia tersenyum, dia tahu kalau Ayi sebenarnya sudah luluh pada Alka, tapi rasa sakit kehilangan Pram, tidak bisa membuatnya ikhlas menerima Alka.
Aditia bangga karena dia punya seseornag seperti Ayi Mahogra dalam hidupnya, dia adalah Ratu Kharisma Jagat yang sangat hebat.
__ADS_1