
“Alka, aku boleh tau nggak?”
“Tau apa?”
“Kamu itu ... siapa?”
“Saba Alkamah.” Dia nyeruput kopi Aditia dengan santai.
“Ya aku tahu, bukan itu, aku bertanya tentang perjalan hidupmu, siapa kamu, kenapa menolong aku?”
Raut muka Alka berubah menjadi muram.
“Haruskah aku menceritakannya?”
“Tidak, jika kau tidak ingin, tapi satu hal yang aku tahu, kau bukan manusia biasa, benar kan?”
“Aku memang bukan manusia biasa, aku lahir dari rahim seorang ibu manusia dan ayah seorang Jin, pernikahan terlarang yang mereka lalukan melahirkan seorang anak iblis! hukuman Tuhan atas keegoisan dan nafsu dunia yang mereka menangkan.” Alka menunduk karena malu.
“Kau yang membantai warga desa itu?” Aditia bertanya dengan hati-hati.
“Bukan aku, tapi Takdir Tuhan.” Alka terlihat marah.
“Kenyataannya, mereka yang berusaha membunuhku, aku marah, lalu terjadilah hal itu, andai mereka tahu yang sebenarnya.”
“Lalu kenapa kau menolongku?” Aditia bertanya.
“Karena aku menjaga pesan Ayahmu.”
“Pesan Ayahku? Apa pesannya?”
“Dia bilang bahwa .... “
Aditia mencoba mendengar dengan seksama.
“Ada seorang lelaki dewasa datang ke hutan tempat tinggalku, aku yang ditemukan di hutan saat masih bayi, harus kembali ke hutan karena mereka anggap pembawa sial.”
“Ayahku?” Aditia bertanya.
“Wajahnya teduh, mirip denganmu. Bapak itu bilang ingin menjemputku, membawaku 'pulang'. Dia terus mengulurkan tangannya, aku lalu menggapai tangan itu, begitu tanganku menyentuhnya, dia terlihat terkejut. Lalu dia mengatakan bahwa, aku manusia, bukan sesuatu yang bisa dia antar 'pulang'.”
“Jadi kau memang manusia?” Aditia yakin dari awal dia bukan manusia, tapi mungkin istimewa, “lalu?” Aditia lanjut bertanya.
“Lalu, begini ceritanya.”
30 TAHUN YANG LALU
Mulyana dan Dirga muda, karena umur mereka masih 21 tahun, dua sahabat sedari masih sekolah itu tiba di desa yang sebelumnya terbakar. Mulyana bilang mereka berdua harus ke sana untuk menjemput lusinan jiwa tersesat.
Mulyana memang dikaruniai tepat seperti Aditia, mampu melihat ‘mereka’ dari kecil, Dirga percaya. Walau dia tidak pernah melihat secara langsung, tapi beberapa kali diajak Mulyana dari kecil untuk ikut merasakan 'mereka'. Perjalanan mengantar jiwa yang tersesat oleh Mulyana dimulai ketika umurnya 18 tahun, tepat setelah lulus SMA, padahal orang tuanya adalah orang berada, tapi dia memilih membeli angkot dan mengemudikannya sendiri. Dia beralasan bahwa, ingin menjadi pengusaha angkot pada orang tuanya.
“Pa ... panasss, to ... longgg.” Bulu kuduk Dirga langsung meremang, dia yang sudah sering sekali ikut Mulyana, masih saja tidak terbiasa.
“Yan, bulu kuduk gue berdiri nih.” Dirga yang baru selesai pendidikan kepolisian, memegang bahu sahabatnya.
“Mereka ada di belakang lu Ga, pada nyium sama jilat badan lu tuh.”
“Wah lu sih parah Yan!” Dirga seketika lompat dan menempel pada sahabatnya, apa yang dikatakan Dirga memang benar, mereka yang harus diantar pulang menyerbu Mulyana dan Dirga.
Malam terasa gelap sekali di desa ini, awalnya kepala desa yang baru, ingin membangun kembali desa ini, tapi entah kenapa semua alat berat yang dialokasikan untuk membangun, rusak dan seperti tumpul, tidak ada satu pun dari tukang yang mampu memberI jawaban, kenapa tanah di desa ini begitu keras.
“Bau angus Yan, kayak … daging kebakar!” Dirga berkata lagi.
“Lu mau ikut apa tunggu di balai desa aja gih.” Mulyana memang selalu berani, karena berhubungan dengan mereka adalah sesuatu yang lumrah, walau bentuknya menakutkan.
“Pa-panasss …. “ Suara itu muncul lagi, Dirga semakin menempel pada sahabatnya.
“Yan, gue nggak pernah ngerasa sekelam ini, kita mau kemana sih, bukannya biasanya kita angkut terus cabut?” Dirga bertanya.
“Nggak bisa, orang banyak banget, lagian pada nggak mau tuh, gue ngomong sama pemimpinnya dulu deh.
“Waduh! kita ke mana ketemu pemimpinnya? kepala desa yang tadi?” Dirga bertanya.
“Kepala Desa yang dulu, Almarhum!” Mulyana langsung berjalan ke arah rumah paling besar, dekat dengan hutan.
__ADS_1
“Yan! Yan!!!” Dirga berusaha memanggil sahabatnya.
“Assalamualaikum.” Mulyana menyapa rumah kosong yang hitam terbakar.
Tidak ada jawaban, itu yang Dirga rasakan.
“Saya mau jemput kalian semua untuk pulang.” Mulyana kembali berbicara, apa yang dilihat Dirga hanya sebuah rumah kosong, tapi apa yang dilihat Mulyana adalah makhluk terbakar yang cukup tinggi dan besar, sepertinya dia memiliki sesuatu yang belum selesai.
“Nyingkah sia! (pergi kamu!) ” Suara makhluk yang merupakan mantan Kepala Desa itu menggelegar dan menakutkan.
“Pulang, mereka perlu untuk membangun desa ini kembali.” Mulyana masih saja bersikeras mengantar mereka pulang.
“Maneh henteu denge aing (kamu tidak mau denger saya) Hayang maot maneh (mau mati kamu)!” Makhluk itu mendekat dan mencengkram leher Mulyana, terlalu cepat, hingga Mulyana tidak mampu untuk menghindar, lehernya melepuh karena terkena tangan makhluk itu yang terbakar itu.
“Mul! Mul!” yang dilihat Dirga adalah, leher Mulyana melepuh dan Mulyana hanya diam saja, seperti melamun, padahal dia sedang melawan makhluk gosong ini.
Dirga bergegas menarik sahabatnya, karena tahu ada yang salah, saat menariknya, tubuh Mulyana terasa berat. Dia tidak bisa menarik sahabatnya, sementara Dirga merasa tangan kanan yang sedang menarik sahabatnya itu ikut melepuh, panas!
“Yan! Yan!” Dirga merasa bahwa mereka dalam bahaya, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun.
Tiba-tiba Mulyana jatuh tergeletak, Dirga makin pucat, dia tidak tahu harus melakukan apa.
“Yan, lu malah pingsan lagi, gue mesti gimana Yan?” Dirga sudah ketakutan, tangannya terasa melepuh, akhirnya dia putuskan untuk menggotong tubuh temannya, tidak sia-sia pelatihan kepolisian, setidaknya dia punya tubuh yang tegap.
Dirga berlari ke arah angkot Mulyana, dia menyalakan mobilnya segera setelah menaruh tubuh Mulyana di samping supir. Begitu mobil nyala, dia langsung tancap gas, segera pergi dari desa terkutuk ini.
Mereka berkendara selama 20 menit, setidaknya sudah menjauh dan ada dikeramaian, desa itu seperti desa mati, sunyi, bau anyir dan tentu saja menyeramkan.
“Ga, di mana kita?” Dirga mengerem angkotnya dan buru-buru minggir karena Mulyana sudah bangun dan bertanya.
“Udah bangun lu? Ggila! lu pingsan. Gue akhirnya gendong lu, trus kabur, nih tangan gue melepuh.” Dirga menunjuk tangannya, aneh, tidak ada garis hitam yang sebelumnya terasa menyakitkan di tangan itu.
“Lah, ilang.”
“Tipu daya setan itu.” Mulyana memberitahu sahabatnya.
“Lah, elu kenapa pingsan!” Dirga kesal.
“Gue masuk ke dimensi itu, sekarang, kita makan dulu, gue pulihin tenaga, elu pulang aja ya, gue harus balik ke hutan.” Mulyana mengatakannya.
“Bahaya Ga, lu pulang aja ya.” Mulyana masih memaksa.
“Kalau gue pulang, jangan harap kita ketemu lagi.”
“Lu kayak bini gue aja ngomongnya.” Mulyana tertawa.
“Lu kayak tau aja rasanya punya bini.” Baik Mulyana maupun Dirga masih belum menikah, mereka baru akan lulus kuliah.
Setelah makan dan memulihkan keadaan, mereka akhirnya berangkat ke hutan, sudah jam enam pagi, syukurlah, itu yang Dirga rasakan. Saat harus melewati desa itu lagi, Dirga merasa ada yang berbeda, desa itu ternyata terlihat biasa saja saat pagi tiba, tidak seperti semalam begitu mencekam.
“Gue bakal masuk ke gua itu, elu tunggu di luar, gue bakal hadapin dulu orangnya, gue takut dia orang yang sangat berbahaya, dia bukan manusia biasa.” Mulyana mengatakannya pada Dirga.
“Lu perlu senjata nggak?” Dirga menyerahkan pisau pegangannya.
“Nggak perlu, gue kan ada ini.” Mulyana memperlihatkan keris mini bawaannya, dia memang selalu membawa keris itu kemana saja.
Mulyana mendekati gua yang ada di hutan, walau matahari sudah mulai terang, tapi hutan ini terlalu gelap untuk waktu di mana matahari menyapa mereka, pohon yang tinggi dan lebat, menutupi sinar.
“Aku ingin menjemputmu, ayo kita pulang.” Mulyana terus mengulurkan tangannya, walau tidak ada jawaban dari dalam. Sesaat Mulyana merasa usahanya sia-sia tiba-tiba ada tangan yang memggapai tangannya, begitu tangan itu menyentuhnya, Mulyana terlihat terkejut.
“Kau manusia, bukan sesuatu yang bisa aku antar 'pulang'!” Lalu anak itu keluar, anak perempuan lusuh, berumur lima tahun. Dia terlihat tidak takut, tenang tapi sungguh kotor.
“Aku Saba Alkamah.” Sesuatu yang cukup terdengar angkuh untuk anak berumur 5 tahun.
“Kau yang membawa jiwaku keluar raga semalam, agar si kepala desa lama itu tidak membunuhku?” Mulyana bertanya, Alka kecil mengangguk.
“Apa yang membuatmu membawa jiwaku berkelana di dimensi itu, semalam?” Mulyana bertanya lagi.
“Aku membunuh mereka, mereka yang menyiapkan minyak tanah dan obornya dengan api, aku marah dan membuat mereka membayarnya, karena kemarahanku, aku sengaja membuat api itu tersambar ke segala arah, mereka semua mati terpanggang, rumah, hasil pertanian dan binatang, tidak ada satu pun yang selamat.” Alka kecil terlihat jauh lebih dewasa dari umurnya saat bicara.
“Kau memohon kepada Tuhan bukan? Untuk menghukum mereka?” Mulyana bertanya.
“Aku menyelamatkan mereka selama 5 tahun, Tuhan menunda penderitaan kekeringan yang harus Desa itu alami, tapi setelah mereka berhasil keluar dari kekeringan dan Tuhan hanya memberi waktu lima tahun agar mereka bisa bersiap untuk kesulitan di depan, mereka malah mencari kambing hitam untuk kesengsaraan yang bahkan belum setahun mereka rasakan, saat lima tahun kemakmuran itu, mereka menganggap, diri mereka lah yang hebat, foya-foya, lupa bahwa hidup tidak selalu tenang. Ketika akhirnya kesulitan menghampiri, mereka menyalahkanku, hendak membakarku, apakah karena aku benih dari Jin, mereka merendahkanku!” Alka menangis, walau bicaranya seperti orang dewasa, tapi saat menangis, dia tetaplah anak kecil.
__ADS_1
“Dimana ayahmu?” Mulyana bertanya.
“Tidak tahu, mereka berdua meninggalkanku di sini, di hutan ini.”
Mulyana terkejut, apakah dia adalah ....
“Tapi akan berat tinggal di dunia ini, kau akan mencolok, usia dan kemampuanmu, kau akan menderita di dunia ini, mereka ingin pulang bersamamu sebagai pertukaran.” Mulyana berat mengatakannya, tapi memang harus.
Semalam saat jiwanya dibawa Alka, dia melihat dendam yang begitu dalam, mereka mau pulang asal Alka ikut bersama mereka, walau Mulyana merasa bahwa itu tidak adil, ada kemanusiaan di diri Alka yang seharusnya bisa menjadi landasan dia hidup di dunia ini.
“Aku takut bersama mereka, mereka jahat, mereka akan membawaku ke neraka.” Alka ketakutan.
“Neraka dan surga milik Tuhan, Alka. Dia yang akan memilih siapa yang ke neraka dan ke surga.”
“Aku takut Pak. Mereka selalu menggangguku di hutan ini, aku bersembunyi setiap saat dari mereka, mereka jahat, Mungkin saat mereka ikut dan aku bersama mereka, mereka akan ingkar janji, mereka tidak akan mau ikut pulang, mereka akan mencelakai kita.” Alka memberitahu sesuatu yang memang Mulyana juga sudah prediksi.
“Aku harus membawa mereka pulang Alka, mereka mengganggu desa itu, mereka membuat alam menjadi tidak seimbang.” Mulyana bingung.
“Baiklah aku akan ikut, tapi jangan antar kami, kau akan celaka Pak.” Alka berkata dengan tulus.
Mulyana bingung, anak ini masih begitu kecil, dia pun berwujud manusia, walau bukan seperti pada umumnya, seharusnya Alka bisa tumbuh menjadi gadis baik.
“Alka, Bapak akan pindahkan kamu ke hutan yang jauh dari desa ini, tinggallah di sana, Bapak akan pastikan kau akan baik-baik saja, mereka akan Bapak kunci di desa itu, sehingga mereka tidak akan bisa keluar dan terkubur selamanya di desa itu, bagaimana?”
“Terima kasih Pak.” Alka tersenyum.
Dirga kaget karena Mulyana menggendong seorang anak perempuan.
“Kata lu ada bahaya, ini kenapa elu malah bawa anak kecil.”
“Gue kan cuma manusia biasa, kadang gue salah, gue fikir monster, ternyata calon malaikat.” Dirga merinding mendengar Mulyana berkata begitu.
“I-ini manusia kan?” Dirga mencolek Alka.
“Manusia, setengah Jin.”
Mulyana lalu menyetir, menuju hutan dekat rumahnya, akan lebih mudah jika dekat dengan rumahnya, maka Mulyana bisa ikut mengurusnya, membawa pulang ke rumah tentu terlalu beresiko, banyak orang akan bingung dengan pertumbuhan dan kecerdasan Alka, maka jalan terbaik adalah meninggalkannya di hutan, dan Mulyana akan memastikan Alka baik-baik saja di sana.
…
“Ayahku yang mengantarmu ke hutan itu?” Aditia bertanya setelah Alka menceritakan semua.
“Iya, dia menjagaku setiap hari, mengantar makan, mengajarkan membaca, saat dia sudah menikah, dia menawariku untuk tinggal bersama istrinya, aku menolak, karena ibumu bukan seorang wanita yang paham dunia yang kita berdua lihat.” Alka menjelaskan.
“Saat Ayah meninggal, bagaimana dengan hidupmu.”
“Aku sudah memberitahunya, waktu dia akan dekat, dia pun sudah memberiku banyak pesan, termasuk menjagamu dan keluargamu, aku selalu mengikutimu, bahkan saat Dita kemasukan, aku mencoba menolongnya, tapi maaf aku memilih menolong Ibumu dulu, aku mengikutinya sampai ke rumah sakit jiwa itu dan meninggalkan Dita dalam keadaan kerasukan, maafkan aku Adit.” Alka merasa bersalah.
“Keluargaku tanggung jawabku, bukan kamu.”
“Ini balas budiku karena Ayahmu menjagaku seperti anak sendiri, aku hanya ingin menjaga kalian seperti amanahnya, beberapa hari sebelum dia meninggal dunia, seharusnya aku menjagamu dari jauh, tapi sayang, waktu kemarin, kau dikeroyok, makanya aku harus segera menolongmu dan terlihat olehmu.”
“Terima kasih Alka.” Aditia berkata.
“Santai aja, kalian keluarga kok.” Alka menjawab.
“Tapi sebentar … kalau kejadian yang kau ceritakan itu 30 tahun lalu dan ketika itu umurmu lima tahun, berarti saat ini umurmu …. “
“35 tahun.” Alka tertawa.
“Tidak mungkin, maksudku, kau bahkan terlihat lebih muda dariku, aku menebak kita sepantaran atau bahkan kau lebih muda dibawahku satu atau 2 tahun. Wajahmu seperti ABG, kau benar-benar terlihat sangat muda dan … cantik.” Aditia mengatakannya dengan ragu.
“Umurku lebih panjang dari kalian, itu yang Ayahku wariskan, sama sepreti Jin lainnya, umurku 2 atau 3 kali umur kalian.
Aditia terlihat terkejut, dia merasa bahwa, wanita ini sungguh menawan dan dia kesulitan menerima bahwa umurnya 14 tahun lebih tua.
“Jadi panggil aku kakak ya, aku anak angkat Ayahmu, aku berarti anak sulung.” Alka meneguk kembali kopi Aditia.
“Mimpi! untukku, kita seumuran, titik!” Aditia kesal.
“Dit, kita akan mengembalikan penglihatanmu dalam waktu dekat ya, bahaya kalau matamu masih saja tertutup, kita akan mengusahakan segala cara, ok.” Alka terlihat seperti seorang kakak, Aditia mengangguk dan tersenyum, hatinya terasa hangat saat melihat Alka, seorang wanita yang tulus.
_________________________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Setelah ini, jangan tandain orang-orang yang terlihat muda dari umurnya ya, mereka bukan keturunan Jin seperti Alka loh, itu murni karena skin care dan perawatan tubuh.