Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 370 : Kemala Tamat


__ADS_3

“Aku di mana?” Alka bertanya setelah bangun.


“Di guamu, aku membawamu ke sini.”


Alka akhirnya menutup mata lagi, merasa aman dan nyaman, tapi sejenak kemudian dia ingat bahwa, dia harus menanyakan mengenai Rajima.


“Dit, bagaimana dengan Rajima dan Kemala?” Alka bangun dengan tiba-tiba, membuat Aditia terkejut karena bangunnya Alka itu membuat wajah mereka berdekatan, sangat dekat hingga nafas masing-masing terasa. Untuk beberapa waktu, Alka dan Aditia membeku, kedekatan ini membuat mereka ingin menghentikan waktu. Aditia tahu, Alka tidak bermaksud untuk bersikap nakal seperti Kemala yang suka nempel-nempel, dia pasti tadi baru ingat kalau dia pingsan sebelum tahu akhir dari kasus ini. Sedang Aditia mencondongkan tubuhnya untuk memastikan Alka nyaman di tempat tidurnya, maka ketika Alka bangun tiba-tiba wajah mereka saling bertemu.


“Kau cantik sekali.” Aditia berkata tanpa memundurkan wajahnya.


“Aku atau Kemala?”


“Tidak akan ada pilihan jika itu tentangmu.”


“Tapi kau selalu bersamanya.”


“Dia korban kasus, dia seperti Bening yang Khodamnya mantan istri Abah Wangsa, hanya manusia dengan jenis kelamin perempuan, itu saja.”


“Oh ya, lalu bagaimana dengan Rajima dan ....”


“Kalian sedang apa!” Tiba-tiba kawanan masuk.


Mereka berdua terkejut dan spontan saling memundurkan badan, bagaimana mungkin Alka dan Aditia bisa tak sadar kawanan sudah masuk gua.


“Bagaimana dengan patung itu?” Aditia berdiri dan bertanya sembarang saja.


“Aku bertanya, kalian sedang apa!” Ganding bertanya lagi, yang lain hanya melihat mereka berdua dengan tatapan curiga.


“Nggak ngapa-ngapain, lihat kami masih berpakaian lengkap bukan!” Aditia kesal karena telah dituduh.


“Tapi kenapa wajah kalian dekat sekali, Dit?”


“Tadi aku sedang mencoba untuk membuat Alka nyaman dengan bantalnya, tapi Alka tiba-tiba bangun karena ingat kasus, jadi wajah kami cukup dekat karena itu, tidak sengaja.”


“Tapi kami masuk itu sudah lebih dari lima menit dan kalian masih dalam posisi yang sama, kalau kami tak ada, kira-kira kalian mau ngapain!” Ganding menjadi adik yang posesif, Hartino berdiri di depan Ganding, sikap mendukung sebagai adik yang ikutan posesif.


“Kami nggak ngapa-ngapain! Kalian pikir aku serendah itu, nempel-nempel macam janda kembang itu!” Alka kesal karena kedua adiknya terlihat sangat menyelidik, padahal memang tak terjadi apappun.


“Nding, patung itu bagaimana?” Aditia bertanya lagi.


“Kau kali ini aku lepaskan, lain kali aku melihat kalian aneh-aneh lagi, kupastikan senjataku keluar dari sarungnya dan akan aku ajak duel kamu!”


“Aku juga!” Hartino masih mendukung Ganding.


“Santai-santai! Nggak ngapa-ngapain kok!” Aditia memastikan, “soal patung itu gimana?”


“Patung itu sudah kami kubur, di tempat yang sudah ditentukan oleh Dewi Sundarwani, tempat yang takkan terlihat oleh siapapun, kami mengubur patung itu selayaknya mengubur tubuh manusia, karena patung itu memang tubuh Rajima yang membatu.


Dengan begitu, maka sama saja, kita mengirimnya kembali ke haribaan Tuhan, dia sudah pulang dengan rencana B, Dewi juga akan menepati janjinya, dia akan memberikan pasukannya untuk Ayi, tapi dia minta ditangguhkan sampai dia tiada, karena dia ingin menikmati kopi panas di desa sebrang jembatan itu, hal yang sudah sangat lama dia lakukan karena takut terlacak, kopi membuat energi jin semakin kuat hingga jadi mudah dilacak, kalian tahu kan, makanya kita suka kopi.” Hartino tertawa mendengar penjelasan Ganding.


“Lalu bagaimana museum itu? bukankah kita mencuri patungnya dari sana? Patung itu sudah kita curi malam kemarin.” Aditia bertanya lagi.


“Kami tidak mencurinya, tapi ... kami menukarnya dengan patung palsu,” Ganding tersenyum, karena hanya itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan, menukar patung itu dari museum tempat penyimpanan patungnya, patung itu diputuskan pindah karena takut membuat orang jadi memujanya dan akhirnya jatuh dalam dosa musyrik, makanya patung itu diamankan di museum, “akhirnya terpaksa harus kami tukar dan menjadikannya tempat peristirahatan Rajima. Karena itu memang tubuh yang seharusnya dikubur sejak lama, kan?”


Ganding mengatakannya dengan hati-hati, karena takut dimarahi Alka dan Aditia, karena rencana untuk mendapatkan patung itu disusun oleh tim Ganding dan Hartino bersama pasangan, sedang Aditia harus selalu bersama Kemala untuk membangun rasa percayanya, dengan Kemala percaya, maka Rajima takkan curiga.


Sedang Alka harus berlatih mantra dengan Dewi Sundarwani.


“Wah kalian keterlaluan, itu tindak pidana!” Aditia marah, “tapi pintar!” Aditia melanjutkan, dia ternyata hanya meledek saja.


“Kalau begitu akan lebih aman, karena patung palsu itu kita bersihkan dan tidak akan ada lagi yang tergoda untuk memujanya.” Alka menambahkan.


“Dit, mari kita mulai meringkasnya di kitab kisah kita.” Ganding duduk dan bersiap merangkumnya, kitab yang memuat semua perjalanan kasus mereka, untuk dijadikan bekal kelak, jika saja nanti mereka tua dan generasi berikut harus menuntaskan kasus yang sama.


“Kita mulai dari mana?” Aditia bertanya.


“Dari kau dan Alka menyepakati mendekati Kemala, setelah kita gagal untuk pertama kalinya. Lalu bagaimana kau mendapatkan cara untuk mendekatinya dan menjadikan patung itu sebagai tempat peristirahatan terakhir Rajima?”


BEGINI CERITANYA ....


“Besok kita akan menjebak Rajima untuk melalui malam pertama dengan raja itu, kalau berhasil, dia akan pulang sebagai istri dari raja dan pekerjaan kita selesai.” Aditia berkata, Alka dan Aditia sedang ada di gua Alka, mereka berdua sedang membuat strategi untuk bisa mengelabui Rajima.


Sedang yang lain sibuk mencari data untuk rencana B yang sudah dilontarkan Dewi Sundawani.


“Kalau tidak berhasil?” Alka bertanya.


“Pasti berhasil!”


“Kalau tidak, kau tetap harus menjalankan rencana cadangan kita ya Dit, berjanjilah.”

__ADS_1


“Aku tidak mau.”


“Tidak sulit dekat dengannya bukan? kau sudah melakukannya sebelum ini, hingga kita bertengkar hebat di markas ghaib ketika itu.” Alka mengingatkan.


“Itu kulakukan tidak dengan  perasaan sebagai seorang lelaki, untukku dia hanya korban kasus.”


“Maka lakukan lagi seperti itu.”


“Kau tidak keberatan aku mendekatinya?”


“Keberatan, tapi kasus lebih penting dari apapun, amanah bapak jauh lebih prioritas.”


...


KETIKA RENCANA 1 (GAGAL )


Kemala dalam kendali Rajima bangun, dia dan bala tentaranya, para arwah tersesat korban Rajima itu menghilang.


“Dit! Gagal!” Ganding paham maksud Aditia dan tidak kecewa dengan langkahnya melepaskan Rajima.


“Kau pemuda yang terlalu ragu-ragu.” Dewi itu pergi karena marah, dia tak keberatan jika harus berperang.


“Maka, langkah terakhir yang harus kita lakukan Dit.”


“Alka, kau tidak masalah aku melakukannya?”


“Tidak masalah, lakukanlah, terkadang perih memang harus dilalui, maka aku akan berusaha menahan diri, ini hanya karena memulangkan jiwa yang tersesat jauh lebih penting dari perasaanku.” Alka tertunduk.


“Tidak, untukku, perasaannya Saba Alkamah jauh lebih penting, apa yang Saba Alkamah rasakan, jauh lebih prioritas!” Aditia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


“Kalau begitu, saat ini yang aku inginkan adalah, jalankan rencana kedua, aku akan mencoba mengendalikan diriku. Aku mohon, lakukanlah sesuai rencana, Plan B, harus segera dijalankan, karena ritual ini gagal!”


...


RENCANA B (cadangan) MULAI DILAKUKAN


“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau akan setuju menikah Dit, terima kasih.”


“Aku lakukan untuk kebaikanmu.”


“Soal Alka bagaimana?”


“Biarlah, dia adalah orang yang memang tidak bisa aku nikahi.”


“Karena dia bukan manusia, kau tahu kan, dia itu setengah manusia setengah jin.”


“Oh begitu, tapi dia sangat cantik menawan Dit. Aku tahu banyak yang pria mengatakan bahwa aku sangat cantik, tapi aku merasa mereka tidak tulus, tidak seperti kau mencintainya.”


“Cinta itu sesuatu yang bisa disusul  berikutnya, kau tenanglah, tidak perlu mengkhawatirkan apa yang yang masih jauh. Nikmati saja yang sudah dekat ini.”


“Apa memang yang sudah dekat? Hari pernikahan kita?” Kemala bertanya dan mungkin berharap.


“Kau sangat ingin menikah denganku? Sedang detik sebelumnya kau ragu dan mengungkit soal Alka.”


“Keraguan dan ketakutanku tentang wanita lain pada hubungan kita, tentu saja mengkhawatirkan aku, tapi menikah denganmu, sesuatu yang patut diperjuangkan, tentu aku sadari bahwa sainganku akan sangat kuat, dia cantik, hebat, cerdas dan tangguh, sedang aku hanya punya kelembutan dan keanggunan, tapi aku kira kami dapat bersaing.”


“Kalau begitu percaya dirilah, kau mau ke mana lagi?” Aditia bertanya, mereka sedang berkendara dengan angkot.


“Kita nonton film yuk, hal yang sangat aku inginkan sejak dulu, tapi tidak bisa dilakukan karena kutukan itu, aku ingin menjadi normal, nonton dengan kekasihku dan ... maaf aku menyebutmu kekasihku.”


“Tak masalah, kau memang calon istriku kan?” Kalau bukan karena misi rencana B, Aditia pasti sudah muntah mengatakan itu, sungguh menjijikan baginya.


Kemala wanita cerdas, tapi caranya mengungkapkan cinta, berlebihan dan kelebihan percaya diri yang buruk.


“Kau sangat manis sekali Dit, terima kasih ya.”


Aditia mengangguk dan mereka lalu pergi ke bioskop untuk nonton film, selama nonton film bioskop, terlihat sekali Kemala mencoba mencuri-curi untuk menggenggam lengan Aditia, pura-pura takut.


Mereka memang sedang nonton film horor, sedang Aditia tidak takut, karena sekeliling studio bioskop sebenarnya yang lebih menakutkan.


Aditia melihat di pintu masuk studio ada beberapa anak kecil dengan wajah sangat pucat dan tubuh menghitam sedang menjilat-jilat dinding.


Lalu di beberapa bangku dengan nomor ganjil ada pocong-pocong yang duduk dan menggeraka-gerakkan kepala mereka ke kanan dan ke kiri.


Sedang di sebelahnya tidak ada apa-apa, karena energinya membuat bangku di sekitarnya tidak berani didekati oleh makhluk tak kasat mata itu.


Aditia memang bisa dibilang hampir tidak pernah menonton bioskop, dia dan kawanan memang bisa dibilang orang-orang yang tidak bisa menikmatim masa muda dengan nonton bioskop, makan di restoran mewah dan nongkrong di kafe.


Sekalinya melakukan itu pasti ada misi yang harus dilakukan, tidak bisa dinikmati seperti para pemuda dan pemudi yang sedang bergaul dengan teman sebayanya.

__ADS_1


Makanya dia baru sadar bahwa, film horo sungguh menarik makhluk tak kasat mata itu untuk berkumpul di studio ini.


Agak aneh bagi Aditia, kenapa studio dengan menampilkan film horor lebih diminati oleh ‘mereka’ dibanding studio yang menampilkan film romantis, setelah Aditia perhatikan, ternyata energi ketakutan membuat ‘mereka’ suka berada di sekeliling orang-orang yang menonton di studio itu.


Orang-orang yang menonton horor memiliki energi lemah karena ketakutan, itu membuat ‘mereka’ betah berada di sekitarnya, energi itu bisa ditarik dan dijadikan energi sebaliknya, yang menguatkan mereka, makanya studio horo ini sungguh penuh dengan makhluk tak kasat mata itu.


“Dit, serem banget ya.” Kemala mengatakannya sembari memegang lengan Aditia untuk berlinding  dari layar yang menampilkan setan.


Aditia ingin tertawa, karena itu aneh, padahal di tubuhnya ada Rajima, sesosok jiwa tersesat yang hidup sudah ratusan tahun, dia lebih mengerikan dibanding setan bohongan yang ada di layar itu.


“Kau mau kita ke luar saja?” Aditia menawarkannya, karena lengannya dipegang begitu sungguh tidak menyenangkan, risih!


“Tidak usah, aku kan bisa berlindung di lenganmu Dit, kalau aku takut.” Kemala terlihat senang dengan kemesraan mereka.


“Baiklah, terserah kau saja.” Aditia semakin merasa tidak suka pada Kemala, bagaimana orang ini bisa percaya dengan mudah pada pria dan tidak risih berada di dekat pria sembari memegang tangannya, sesuka apapun, dia harusnya bisa menjaga diri.


Film horor selesai, Aditi dan Kemala keluar studio, lalu pulang.


Hari-hari dilalui dengan keromantisan yang Aditia hadirkan, dia sengaja membuat Kemala benar-benar percaya dia akan menikahinya, membuat Rajima juga percaya dan setuju, karena semua itu untuk membuat mereka mau ikut ke tempat yang Dewi Sundarwani tentukan untuk proses mengikat Rajima pada tubuhnya sendiri.


Sementara Alka sibuk menghapal mantra, Aditia sibuk membangun keromantisan dengan Kemala dan kawanan mencari cara supaya patung itu bisa dihadirkan di lokasi yang sudah ditentukan.


Hingga akhirnya hari itu tiba, di mana Aditia membawa Kemala ke tempat itu pada malam hari dan akhirnya berhasil mengunci Rajima di tubuh aslinya, yaitu patung perawan Sunti.


Aditia lega, karena akhir dari penderitaannya harus pura-pura ingin menikahi Kemala berakhir.


Aditia juga tahu, kalau Alka sudah menahan diri untuk tidak marah padahal tahu kalau Aditia merayu wanita lain, Lanjonya sudah bisa dikendalikan dengan baik setelah disegel oleh Aditia terakhir kali itu.


...


HARI INI DI GUA ALKA


“Wah, kau bisa menahan diri untuk selalu merayunya? Tentu saja dia kan cantik, ketika itu.”


“Kau mau aku habisi atau mau menghabisi dirimu sendiri?” Alisha menyerahkan pisau di dekatnya pada Hartino yang dengan leluasa memuji Kemala.


“Maaf.” Hartino baru sadar, kalau itu bisa membuat Alisha marah.


“Aku tidak suka padanya, jadi saat itu benar-benar menyiksa.”


“Tapi kau jahat Dit, kau menipu hati seorang wanita.”


“Aku tidak peduli dibilang jahat, karena bersihnya Kemala dari kutukan itu, adalah upah yang akan dia dapatkan, mulai sekarang dia bisa menikahi siapapun yang dia mau.” Aditia menjawab dengan santai.


“Siapa saja, kecuali kamu kan, Dit?” Ganding menambahi.


“HARTINO!” Alisha menambahkan nama lain yang tidak bisa dinikahi Kemala.


“Ganding juga!” Jarni ikut menimpali.


“Aku tidak terlalu suka wanita yang banyak bicara seperti Kemala, seleraku tetap wanita yang tidak banyak bicara tapi banyak bertindak, itu seksi.” Wajah Jarni memerah mendengar itu, sungguh gombal yang menyenangkan.


“Kau tidak mau merayuku?” Alisah memegang leher Hartino yang tadi keceplosan mengatakan Kemala cantik.


“Kau itu wanita yang canti jelita, kaya raya dan cerdas, maka aku menikahimu.”


“Har! Itu bukan gombal, tapi kau licik! Kau menyebalkan!” Alisha ngambek.


“Sayang, gombal dalam rumah tangga itu tidak soal perkataan, tapi soal perbuatan.”


“Maksudnya?” Alisha tidak paham.


“Kita bisa memulainya dengan kata ranjang ....”


“Har!!!!” Semua orang berteriak, kesal.


Maka ringkasan telah ditulis di kitab kasus oleh Ganding dan mereka harus istirahat dulu, mungkin gua akan menjadi tempat yang cukup nyaman walau hanya alas kasur tipis, tapi mereka saling memiliki, kebersamaan ini, sungguh jauh lebih berharga dibanding tempat yang menjadi area istirahat mereka.


_____________________________


Catatan Penulis :


IG, TIKTOK dan NOVELTOON : MUKA KANVAS.


Yang belum ikuti/follow akun Noveltoonku, jangan lupa untuk ikuti/follow ya, biar kalau aku up novel lain, kalian dapat notif.


Untuk part Kemala TAMAT di sini ya, besok kita masuk part baru, aku memang sengaja kasih penjelasan ini biar jelas, kalau masih ada yang nggak jelas, ya maklum lah, ini kan novel dengan plot twist yang tajam, kadang ada yang sengaja tak aku kasih jawaban, agar imajinasi kalian bisa mengambil alih dan menyelesaikannya sesuai selera kalian.


Minta maaf juga kalau masih ada yang typo, tapi dari dua ribuan kata lebih ini, masa kalian lebih sorot satu dua kata typo atau nama salah dibanding ribuan kata yang benarnya yang sudah kaliana nikmati, kan itu nggak adil. Apalagi aku up selalu setiap hari dan hanya libur 3 hari setiap bulannya. Ditambah aku tidak membuat AJP dikunci dengan koin loh, aku gratiskan kalian untuk baca dan terima kasih untuk yang dermawan karena sudah kasih aku hadiah, bagi koin di chat dan juga vote. itu sungguh kebaikan yang mungkin aku dapat balas hanya dengan rajin update.

__ADS_1


Tapi aku nggak salahin kalau masih ada yang koreksi, terima kasih, tapi bukan berarti aku bisa langsung edit hanya karena disuruh-suruh, karena bisa jadi aku lebih kejar up nya daripada revisinya.


Ya begitulah aku, selamat datang di dunianya Muka Kanvas.


__ADS_2