Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 107 : Hartino 1


__ADS_3

Hartino berasal dari keluarga yang cukup kaya raya, orang tua Hartino berasal dari suku yang  terkenal memiliki tanah banyak di Jakarta, suku Betawi.


Dari kecil Hartino adalah anak, cucu dan keponakan yang paling disayang, karena dia memiliki wajah yang sangat tampan, sangat tampan sampai beberapa orang melihatnya sebagai keturunan Arab, padahal bukan.


Orang tuanya berharap Hartino menjadi orang hebat, karena wajah dan juga uang yang mereka punya cukup membawa kesuksesan bagi mereka.


Hartino selalu menjadi anak yang paling disayang dimana pun dia berada, dia cukup cerdas, sangat aktif jika berhubungan dengan orang-orang, setiap yang melihatnya merasa dia adalah anak yang menggemaskan, umurnya saat ini adalah enam tahun sudah kelas satu Sekolah Dasar.


Semua berjalan baik, harapan-harapan kepada Hartino mereka percaya itu akan benar-benar terwujud, tapi … tiba pada suatu saat, Hartino menjadi pendiam, dia selalu menangis di tengah malam, seperti hari ini.


“Aku bermimpi Bu, aku bermimpi kakiku ditarik ke suatu lubang, lubang sumur, aku ketakutan, lubang sumur itu sangat dalam, pas aku jatuh, airnya dalam, aku tenggelam, aku takut Bu.” Hartino menangis terus seperti itu, sudah tiga hari dia bilang mimpi yang sama.


Ibunya hanya bilang bahwa itu mimpi, kau mungkin terlalu lelah sampai mimpi yang tidak-tidak.


Tapi mimpi itu membuat Hartino menjadi tidak fokus pada apapun, sekolahnya, lesnya, teman-temannya dan keluarganya.


Hartino menjadi penakut.


Saat itu Hartino berumur enam tahun,  mimpi-mimpi itu mengganggunya, selain semua hubungan menjadi terganggu, Hartino mulai tidak suka makan,  dia selalu terbayang, betapa menakutkannya mimpi itu.


 


 


"Har, makan dulu ya Nak, kalo Hartino tidak suka makanannya, nanti Mama buatkan makanan yang kamu mau, harus makan ya Na, kalau nggak makan nanti sakit."


 


 


Hartino diam saja, dia tidak menjawab hanya diam dan menatap kosong.


 


 


Kondisi Hartino membuat keluarga dan saudaranya ikut khawafir, ada juga yang senang, yaitu anak-anak yang merasa Hartino terlalu populer dan membuat anak mereka terlupakan, padahal mereka saudara.


 


 


Makanya sakitnya Hartino membuat ada juga saudara yang senang.


 


 


"Aku tidak mau makan."


 


 


"Harus makan Nak. "


 


 


"Ma, apa Hartino akan mati?"


 


 


"Kok? kenapa kamu ngomong gitu?"


 


 


"Hartino mimpi tenggelam di sumur tiap malam Ma, Hartino capek, apa iya Hartino bakal meninggal di sumur?"


 


 


"Mimpi hanyalah mimpi Nak, tidak akan terjadi padamu, Mama akan jagain dan lindungi kamu, sekarang tugas Hartino hanya bahagia jangan mikirin hal berat gitu ya."


 


 


"Har takut Ma, kayak beneran soalnya."


 


 


"Sekarang ceritain ke Mama, gimana mimpi itu sebenrarnya, kamu hanya cerita tenggelam di sumur saja, ceritakan pada Mama, awal mula mimpi itu."


 


 


"Jadi saat Har lagi bobo, tiba-tiba akan ada tangan yang menarik Har."


 


 


"Tangan siapa?" tanya Mama.


 


 


"Tidak tahu, karena aku tidak bisa melihat wajahnya, saat dia menaruk kakiku, fangan itu dingin sekali, tangannya ... hancur, seperti kulit yang busuk. Tapi orang itu membelakangi Har."


 


 


"Bajunya gimana?"


 


 


"Hmm,  bajunya ... kotor, dia memakai daster putih yang sangat kotor Ma."


 


 


"Perempuan?" mama bertanya lagi.


 


 


"Ya, perempuan," jawab Hartino.


 


 


"Lanjutkan Nak."

__ADS_1


 


 


"Dia menarik Har sangat kuat, Har nggak bisa gerak, dia menarik Har keluar rumah melewati kamar mama tapi nggak ada yang nolongin Har, Har takut Ma."


 


 


"Teruskan ceritanya Nak."


 


 


"Lalu dia bawa keluar Har dari rumah menuju keluar, dia menyeret Har sampai ke suatu tempat, di tempat itu ada sumur, setelah sampai di dekat sumur itu, dia menggendong Har, seperti ini." Hartino memeragakannya, maksudnya adalah membopongnya di bahu, tapi wajahnya menghadap belakang, jadi wajah itu tidak pernah terlihat.


 


 


"Lalu dia mendorongmu masuk ke sumur?"


 


 


"Iya ...." Hartino menangis.


 


 


"Ini sudah satu minggu, Mama akan coba tanyakan ke Kakekmu, mungkin dia bisa bantu."


 


 


"Har takut banget Ma."


 


 


"Har tenang, Mama nggak akan tinggalin kamu."


 


 


"Har tahu, Mama nggak akan tinggalin Har kayak papa."


 


 


"Nak,  jangan bicara begitu, kami berpisah baik-baik, kalau Har mau bertemu dengan papa, kita bisa telepon dia."


 


 


"Seharusnya, dia yang cari Hartino kan? bukan sebaliknya."


 


 


"Dia itu papamu, bukan dia, dia, dia." Mamanya protes karena anaknya benci papanya.


 


 


 


 


"Iya sayangku." Akhirnya Hartino terpaksa makan karena mamanya memohon, dia anak yang pengertian, tidak suka membuat mamanya sedih.


 


 


Malam tiba, Hartino tidur ditemani Mamanya, dia bilang takut tidur sendiri setelah seminggu mimpi yang sama.


 


 


Hartino tidur dipeluk ibunya, dia merasa aman.


 


 


Tapi perasaan aman itu tidak bertahan lama, karena tepat jam satu malam, tangan dingin itu lagi menarik kakinya, Hartino tidak bisa bergerak, dia ketakutan, dia melihat mamanya tidur disamoingnya dengan pulas, bahkan ketika kakinya ditarik hingga pelukan mamanya terlepas, masih tidak bangun juga.


 


 


Hartino menangis tapi tidak mampu, tangan itu terus menariknya, sama seperti malam-malam sebelumnya, dia digotong dan dimasukkan ke sunur itu, begitu dia masuk ke sumur, tubuhnya tenggelam, dia minta tolong, tapi tak ada yang dengar.


 


 


"Har! Har!  Har!!!" Ibunya menepuk-nepuk wajah Har, dari mulai tepukan lembut sampai akhirnya seperti menampar karena Har berteriak tapi matanya tertutup


 


 


Saat berhasil membangunkan Har, mamanya langsung memeluk tapi punggunya terasa basah, seperti ada air jatuh.


 


 


Mamanya melepaskan pelukan dan melihat Har, Har menangis tapi dari mulutnya keluar air, persis seperti orang yang habis tenggelam lalu diselamatkan.


 


 


"Mama bggak tolongin Har, Mama biarin Har diambil dia."


 


 


"Nggak Nak, Mama jagain Har, kamu mimpi, buktinya kamu bangun kan, cuma mimpi Nak. "


 


 

__ADS_1


Mamanya menenangkan, walau ketika Har memuntahkan air dari mulutnya, dia sempat merasa aneh dan khawatir.


 


 


"Tapu Har beneran tenggelam Ma, Har liat Mama tidur sambil meluk, Har ditarik dari pwlukan Mama tapi Mama nggak sadar."


 


 


"Nggak Nak, Har masih dalam pelukan Mama ketika kamu ngigau tadi, Mama masih peluk Har." Mamanya mencoba terus menenangkan.


 


 


"Ma, Har ga mau tidur lagi, pokonya Har nggak akan pernah tidur lagi."


 


 


"Har, mandi ya, kita akan ke rumah kakek, kita akan minta tolong kakek."


 


 


Hartino patuh, dia mandi ditemani mamanya dibalik pintu, setelah itu mereka ke rumah kakeknya Har, ayah dari papanya, walau sudah bercerai dari papanya Har, hubungan mertua menantu tetap terjalin baik, makanya mamanya Har masih bisa minta tolong.


 


 


setelah siap, mamanya Har menyetir ke arah rumah kakek, hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai sana.


 


 


Mobil parkir di halaman, kakeknya Har ada di runah sedang mengasah goloknya.


 


 


Melihat Mamanya Hartino dan Hartino masuk ke pekarangan, kakek langsung menghampiri, wajahnya terlihat senang kedatangan cucu kesayangan.


 


 


"Cucu kakek dateng, sini masuk Nak. Nenek, ini cucu sama Mamanya datang, bawain minun." Kakek berteriak agar nenek mendengar.


 


 


Tidak lama nenek keluar dengan es teh manis, udara lumayan panas, makanya dia buat minuman dingin.


 


 


"Bu, maaf dateng tiba-tiba." Mamanya Hartini menciun tangan nenek.


 


 


"Nggak apa-apa dong, kan ini juga rumah Hartino, mau datang kapan aja boleh, kamu tahu kan, saya tidak pernah mendukung ...."


 


 


"Bu ...." Mamanya Hartino memotong omongan nenek, dia tidak mau nenek menjelekkan ibu tiri Hartino, sudah cukup rasa benci itu hanya dirasakan olehnya, Hartino tidak perlu ikut-ikutan.


 


 


"Jadi, ada apa Nak?" kakek bertanya.


 


 


"Hmm,  ini soal Har Yah,  Har sednag tidak enak badan, dia akhir-akhir ini sering bermimpi, dia bermimpi ditenggelamkan di sumur oleh seorang perempuan dengan pakaian tang kotor, daster putih katanya Har.


karena mimpi itu, Har ketakutan terus, dia jadi susah tidur, tidak ***** makan, nggak mau main, maunya hanya dekat denganku saja, tidak mau melakukan apapun."


"Astagfirullah, kasihan cucuku yang ganteng ini," neneknya berkata. Dia juga memeluk Har, wajahbya terlihat sedih.


"Har takut?" Kali ini kakeknya yang bertanya.


"Takut Kek."


"Kenapa mesti takut, kan Har anak hebat, Har harusnya tanya siapa dia."


"Tapi Har nggak bisa gerak smaa nggak bisa ngomong sama sekali."


"Har keliatan pucet Yah, kamu harus tolong dia." Neneknya memeluk cucunya lagi.


"Nggak ada yang bisa kita lakukan, Har harus menanganibya sendiri."


"Tapi Har nggak mampu, Yah," protes ibunya.


"Mampu kok, jangan panik, saat dia terus menarikmu, kau harus membiarkannya, jangan berontak, jangan takut."


"Tapi Har tenggelam, Har minum air sumur banyak banget, Har takut."


"Itu masalahnya, Har takut, seharusnya Har berani."


"Gimana cara ngelawannya Kek."


"Nggak ada yabg suruh kamu lawan, aku hanya bilang hadapi, kamu bisa berenang kan?"


"Bisa, jago malah." Har berusaha menyombongkan diri.


"Lalu kenapa takut tenggelam?"


"Hmm,  soalnya dia mau bunuh aku," jawab Hartino.


"Kok bisa tahu dia mau bunuh?"


"Dia cemplungin Har ke sumur Kek."Hartino kesal, kakeknya tidak mengerti,  menurut dia.


"Kalau dia mau membunuhmu, seharusnya dia lempar kamu ke jurang, bukan ke sumur, dia tahu kau bisa berenang, tapi karena panik kau lupa itu."


"Lalu aku harus bagaimana Kek?"


"Kan sudha kakek bilang tadi, Har, hadapi."


Har diam, dia tidak mengira kakek yang sangat memanjakannya, sekarang malah membiarkannya ketakutan, apakah karena papanya sudah bersama wanita lain, makanya kakek nggak sayang lagi sama Har,  itu yang ada dalam pikiran Har.


"Baiklah, Har sama mama pulang dulu, maaf ganggu kalian."

__ADS_1


Har menarik tangan mamanya untuk pulang, mamanya terlihat bingung karena ini tidak sopan, tapi mengingat Har sedang tidak stabil akhirnya mamanya mau pulang dan meminta maaf pada dua orang mantan mertuanya itu.


__ADS_2