Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 524 : Mulyana 30


__ADS_3

“Lelaki dukun itu lalu bersiap untuk menyerang Aep, tapi sayang Aep keburu membuka pintu gerbang dan masuk, dia menutup pintu gerbang itu.


“Dasar pengecut!” Lelaki itu berkata dengan lantang, dia kesal, tidak bisa masuk ke dalam, karena gerbang itu sudah dipagari, kalau dia berani pedang, maka pagar itu membaca sebagai ancaman, tanganmu akan hangus, makanya tadi dia meminta Aep membuka gerbangnya agar bukan dia yang memegang gerbang dan bisa langsung kabur membawa tubuh Mulyana, jika saja Aep tertipu, tapi kita tahu, Aep terlalu cerdas untuk ditipu murahan seperti itu.


“Kau yang pecundang, sudah tahu aku bukan lawan yang seimbang, kau mau menindasku bukan? kalau bukan bertumpu pada kecerdasan, aku tak mungkin bisa bertahan di keluarga ini. Lagian kalau menghasut kami berdua dengan pembicaraan uang, kau salah, kami berdua tidak pernah bertengkar soal uang dan juga ilmu, karena kami punya tujuan hidup yang berbeda. Pulang sana, kau tak diterima di sini, tapi kalau kau ingin masuk sih, silahkan, maksudku ... silahkan kalau mampu.”


Aep lalu berjalan masuk ke rumah, sambil tetap menggendong adiknya, sementara dukun lelaki itu kesal dan kembali ke markasnya.


Di dunia ghaib, setelah melewati zona yang gelap, Nando telah menemukan gerbang yang terbuka, dia buru-buru berjalan ke gerbang itu, makin lama semakin dekat dengan gerbang, maka semakin teranglah jalannya.


Lalu dia keluar dari gerbang itu, gerbang yang merupakan terowongan akhir dari tubuh Mulyana sudah bisa dia lewati, dia sangat senang.


Begitu keluar, dia melihat begitu banyak hal, banyak bentuk dan banyak jiwa, mereka tidak berani mendekati gerbang itu lagi.


Mulyana memintanya menunggu di sana, dia akan menunggu, dia percaya pada Mulyana, dia tidak pernah mempercayai seseorang seperti dia mempercayai Mulyana.


Dia menunggu tanpa ingin sekalipun untuk bertanya atau berkata pada siapapun di sana.


Tak lama kemudian, dia melihat seseorang keluar dari gerbang yang dia lewati juga, itu Mulyana, Nando sangat lega.


Tapi ada yang berbeda dari penampilannya di dunia ghaib ini, Mulyana terlihat sangat bercahaya, dia juga memakai jubah berwarna hijau, warna yang menjadi ciri khas dari Kharisma Jagat pada masa ini, kelak Seira Adam Hanida akan memakai Jubah yang sama pemberian Raja Bapati kakak angkatnya, juga seperti semua anak buah yang Malik kumpulkan dengan ditandai selendang warna hijau yang menjadi penanda milik Ayi Seira Adam Hanida.


“Kau sangat gagah di sini.” Nando tersenyum.


“Ya, karena aku Kharisma Jagat.”

__ADS_1


“Kharisma Jagat? Apa itu?” Nando dan Mulyana mulai jalan, mereka harus menemukan titik koordinat pemulangan Nandi dari zona ghaib ini, karena biasanya dari dunia manusialah titik itu didapatkan. Sekarang Mulyana harus menemukan titik itu di duni ghaib, tentu tidak mudah, karena dilakukan berbeda dari biasanya.


“Tetap jalan ya Nando, jangan jawab apapun yang ruh-ruh itu tanyakan, dulu bahkan mereka menyerangku bersama-sama dan sempat memasuki tubuhku seenaknya, setiap malam! Hanya untuk menyebrang.”


“Dulu itu kapan? Kau kan baru berumur belasan tahun.” Nando protes dan dia benarnya juga, Mulyana bercerita seolah dia sudah berumur puluhan tahun saja.


“ketika umurku 7 tahun lah.”


“Astaga, kasihan sekali kau Mulyana, pasti masa kecilmu berat sekali.”


“Kau juga, masa kecilmu juga berat sekali bukan?” Mulyana bertanya balik.


“Ya, aku juga berat, aku lupa,” Nando berkata sambil tertawa,“ tapi kau belum jawab, Kharisma Jagat itu apa?” Nando bertanya lagi. Mereka masih tetap berjalan sambil terus ngobrol.


“Oh ya, Kharisma Jagat adalah para ksatria tanah Pasundan yang memiliki berkah dalam hidupnya, berkah itu adalah memiliki Karuhun sebegai penjaganya, Karuhun adalah jin-jin yang hidupnya sudah sangat lama, bisa berumur ratusan bahkan ribuan tahun.


“Jadi, sudah tugasmu untuk menolongku? Sebagai manusia yang meninggal tidak wajar dan ruhnya menjadi luntang-lantung, ini semua karena memang sudah tugasmu ya?” Nando menjadi kecil hati.


“Untuk kau itu kasus istimewa, kau bukan bagian dari kasus yang harus kuselesaikan.”


“Maksudnya? Kok bisa gitu?”


“Ya, karena sebenarnya aku bahkan tak sadar kau sudah tiada, kita punya energi yang hampir sama, lagian, sebagai ruh penasaran kau itu memiliki energi yang berbeda, makanya aku tidak bisa mengenali kau sebagai sesuatu ruh, tapi sebagai entiti seperti kita semua, karena kemampuanku melihat ruh sejelas melihat manusia, makanya akhirnya aku tidak mampu mengenalimu sebagai ruh, tapi sebagai manusia, karena kemampuan melihat ghaib dengan terang benderang. Itulah kami, para Kharisma Jagat. Jadi, kau bukan bagian dari kasus, kau menemukanku untuk melepas rantai dari kakekmu di sekolah itu, lalu aku menemukanmu sebagai sahabat yang memberiku banyak pengalaman, kau itu adalah hal berbeda yang Tuhan berikan padaku sebagai pelajaran, aku menangani masalahmu, bukan bagian dari kasus, tapi bagian dari persahabatan.”


“Wah, lucu ya, Yan. Kau tak bisa melihatku sebagai ruh dan aku lupa kalau aku telah tiada, kita sama-sama bodoh ternyata, tapi aku kagum pada sosokmu yang kulihat sekarang, kau sangat amat hebat dan berwibawa di sini.”

__ADS_1


“Ya, sekarang, dulu mah aku kejar-kejaran sama makhluk di sini, kau tadi melewati terowongan itu kan? terowongan yang menghubungkan alam ghaib dan alam manusia? Mereka nih, para makhluk ghaib yang tinggal di dunia ghaib ini, sering menggunakan tubuhku untuk menyebrang, aku kesal sekali, karena setiap malam banyak makhluk ghaib keluar dari tubuhku.


Bahkan merasuki kakakku, sungguh menyebalkan. Tapi waktu itu aku dilatih ayahku untuk terus berani menghadapi mereka, bukannya malah lari. Lalu perlahan aku berani karena latihan terus dan berhasil menutup gerbang itu.”


“Menutup gerbang itu? tapi tadi gerbangnya terbuka!” Nando berhenti dari jalannya dan menunjuk gerbang Mulyana yang masih terbuka.


“Tenang-tenang, terbuka pun, tak bisa sembarangan makhluk masuk dan keluar, kecuali kuizinkan, karena sesi latihan untuk mengunci gerbangnya hanyalah sebuah latiha, aslinya, gerbang itu aku kendalikan, dulu aku tak bisa mengendalikannya, jadi banyak makhluk ghaib yang seenaknya masuk dan keluar, tapi setelah aku latihan mengunci gerbang itu, maka aku juga latihan untuk mengendalikan gerbangnya, kau lihat saja, tak ada yang berani mendekati gerbangku kan? karena kalau sampai ada yang berani dekati, aku akan tahu, aku bisa menendang mereka menjauh, makanya ga ada yang berani, tapi tak berani bukan berarti tak menunggu kesempatan untuk bisa masuk, maka akhirnya mereka berdiri saja di sana, menunggu kesempatan.”


“Aku makin kagum padamu, Yan. Andai takdir hidupku lebih panjang, aku ingin sekali menjadi sahabatmu, menemanimu menolong sesama, andai aku mengenalmu lebih awal.” Nando terlihat sangat kecewa.


“Itu dia, koordinatnya sudah ketemu, sudah ada yang menunggumu di sana.”


Nando terlihat kecewa karena perjalanan mereka sangat singkat.


“Tidak bisakah aku tetap disampingmu, Yan? sebagai Karuhun?”


“Tidak bisa Nando, karena kau ini bukan dari kalangan jin, kau ini ruh yang tersesat, kau harus segera ‘pulang’ ketika tubuhmu sudah dikubur. Jalan terbaikmu, menunggu di depan sana, kau harus segera ke sana, jangan ragu lagi ya, kau itu anak baik, sekarang tugasmu di dunia sudah selesai, takkan ada lagi kakek bejatmu yang bisa mencelakai dan tidak ada ayahmu yang tidak bisa melindungi, kau sekarnag akan tahu, betapa nikmatnya kasih sayang Tuhan.”


“Ya, Yan. Aku harap kau akan mendapatkan seorang sahabat yang bisa mendampingimu menyelesaikan tugas, tentu bukan kakakmu, karena dia satu darah denganmu, jadi sudah pastidia akan berkorban, sama sepertimu berkorban untuknya.


Maksudku adalah orang lain, yang tak sedarah, tapi sangat loyal dan mampu setia padamu, jika kau menemukannya, ingat aku ya, ada doaku pada kehadiran orang itu.” Doa ini kelak akan dikabulkan Tuhan, Mulyana akan memiliki Dirga sebagai orang luar yang sangat setia dan mampu dipercaya, bahkan Dirga menjadi orang yang dapat diandalkan oleh Aditia, anak Mulyana, mungkin kehadiran Dirga adalah buah dari kebaikan Mulyana pada Nando.


“Terima kasih Nando, sudah menjadi sahabat baikku, walau pertemuan kita singkat, tapi sungguh berkesan. Karena kita sudah melalui cukup banyak pengalaman yang seru, di perpustakaan, di sekolah dan di rumahmu. Aku akan ingat semua yang telah kita lalui, kelak kuceritakan pada anak cucuku.”


“Yan, sampai jumpa di akhirat kelak, akan kuceritakan pada Tuhan, bagaimana sahabatku baik sekali, mau berusaha hingga akhir untuk mengantarku ‘pulang’ aku akan menjadi saksi di hadapan Tuhan, betapa sahabatku adalah orang baik.

__ADS_1


Jangan lupakan aku ya, Yan. Aku akan selalu ingat bahwa kau adalah sahabatku yang dapat dipercaya dan percaya aku, terima kasih karenmu aku tahu, orang-orang seperti kita tak selalu buruk, kita bisa menolong orang, kau punya kesempatan itu dan aku tidak.”


“Punya kok, kau menolongku menjadi orang yang lebih baik lagi, selamat tinggal kawan, aku akan merindukanmu.” Mulyana tak sadar meneteskan air mata melihat Nando akhirnya berjalan menyusuri koordinat yang sudah ditemukan, seorang malaikat memberi tanda, bahwa sudah disiapkan tempat yang sangat baik untuk Nando, anak kecil yang sabar melindungi keluarga dan memperjuangkan keadilan dengan menghukum orang yang memfitnahnya. Kisah tentang Nando tak pernah ada di catatan Bapak, karena kisah ini selesai, Aditia dan kawanan tidak pernah tahu kisah ini, tapi kalian tahu karena aku ceritakan, jangan ceritakan pada kawanan ya, biar jadi rahasia kita saja ... janji?


__ADS_2