Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 171 : Aditia 31


__ADS_3

Kasus ritual sesat itu sekaligus menjadi pembuka jalan bagi Mulyana untuk perlahan mendelegasikan tugasnya, karena penyakit itu semakin lama semakin menggeogoti tubuhnya.


Api santet yang telah Mudha Praya berikan pada Mulyana terasa semakin menyakitkan.


Dalam satu tahun Mulyana harus bolak-balik rumah sakit berkali-kali. Tidak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan penyakitnya.


“Pak, apakah kau yakin masih mau meneruskan latihan ini?” Alka bertanya. Hari ini adalah sore hari seperti biasanya, dimana Mulyana kebetulan punya waktu untuk melatih murid-murid yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.


Yang lain sedang istirahat setelah latihan panjang.


“Ka, Alka tahu kan, Alka bisa merasakannya kan?” Mulyana bertanya tentang api yang bersemayam dalam tubuh Mulyana.


“Kita bisa mengusahakan pengobatan, tapi Bapak berhenti dulu menyelesaikan penjemputan.” Alka terlihat sangat khawatir.


“Alka kematian itu bagian dari takdir, Bapak bisa apa jika memang tidak bisa selamat dari serangan yang satu ini?” Mulyana menunjuk dadanya yang selalu terasa panas, sakit dan sesak dalam waktu bersamaan, “Walau kita usahakan tapi ajal telah dekat, sementara tugas penjemputan berhenti, bukankah itu lebih sia-sia bagi umur Bapak? Walau sakit, anggap saja ini tabungan untuk Bapak di sana kelak.”


“Pak.”


“Alka harus kuat, kau punya lima adik yang harus dijaga.”


“Lima?” Alka bingung.


“Aditia dan Dita bagian keluarga kita Alka, kelak kau yang jaga mereka.”


“Jadi aku boleh bertemu tuan?”


“Bagaimana caranya kau mampu melindungi mereka tapi tidak bertemu dengan mereka? satukan kawanan dalam waktu yang tepat Ka, kau yang memilih waktunya, jika memang sangat bahaya, kau diizinkan untuk bertemu dengan Adit.”


Hari ini adalah tahun 2015 keadaan Mulyana semakin hari semakin memburuk, beberapa kali muntah darah tanpa diketahui oleh keluarga atau anak-anak angkatnya. Bisa dibilang keadaan Mulyana saat ini dalam tahap sekarat.


Tapi karena Mulyana seorang pejuang sehingga dia masih saja bisa bertahan, walau dalam kesakitan yang sangat.


Aditia sudah berumur delapan belas tahun, dia baru kuliah semester satu, walau beberapa kali ikut ayahnya untuk ‘penjemputan’ tapi dia belum pernah melakukannya sendiri, tidak juga mengharapkan warisan berupa Karuhun yang kelak akan dia emban sebagai seorang Kharisma Jagat.

__ADS_1


“Dit, bisa bicara sebentar.” Sudah seminggu ini ayahnya tidak keluar kamar, karena dia harus istirahat total setelah keluar dari rumah sakit, dia tidak bisa menarik angkot seperti yang istrinya selalu tahu, dia ingin berbicara serius dengan anaknya.


“Ada apa Yah?” tanya Aditia.


“Dit, ibu sama Dita kemana?” Ayahnya ingin semua aman dulu sebelum dia bicara lebih dalam.


“Lagi ke pasar Yah, ini kan pagi, katanya hari ini bahan makanan udah pada abis, jadi mereka berdua ke pasar.”


“Baiklah, duduk siini Nak.” Aditia disuruh duduk di samping ayahnya, di tempat tidur kayu itu.


“Dit, Aditia tahu kan pekerjaan ayah selain narik angkot? Ayah juga melakukan ‘penjemputan’”


“Ya, Adit kan sering ikut.”


“Dit, dengar baik-baik sekarang ayah akan jelaskan silsilah keturunan kita sebagai Kharisma Jagat.”


“Kharisma Jagat?”


“Ya, Aditia dan ayah adalah seorang Kharisma Jagat, Kharisma Jagat adalah setiap orang yang memiliki dan mampu mengendalikan Karuhun yang merupakan bangsa jin yang menjaga kita secara turun temurun dari nenek moyang kita dulu. Bisa dibilang, kita yang mendapatkan warisan jin pelindung. Dengan turunnya jin pelindung, maka turun juga tanggung jawab yang harus kamu emban. Dalam garis kita, maka tugasnya adalah ‘penjemputan’. Seperti yang Aditia tahu, penjemputan tidak selalu mudah, kadang kita harus mencari dulu akar permasalahan kenapa mereka tidak mau dan tidak bisa ‘pulang’ kepada Tuhannya. Sampai sini Aditia paham?”


“Statusmu memang diangkat lebih cepat, seharusnya kau menjadi Kharisma Jagat setelah aku meninggal, tapi karena aku tidak menikahi jodoh adatku, maka kau terancam Nak, atas alasan itu, kami membuat status Kharisma Jagatmu lebih cepat, mengenai Karuhun, kau tidak memiliki Karuhun, Karuhunmu akan turun padamu setelah aku tiada.” Mulyana terpaksa berbohong, dia tidak akan beritahu kalau Alka adalah Karuhunnya, dia ingin selama mungkin menunda pertemua dua orang itu sampai Karuhun Aditia yang sebenarnya turun pada Aditia. Sehingga efek Lanjo pada Alka akan terkikis setengahnya dan ritual penyembuhan bisa segera dilakukan.


“Kalau begitu aku tidak ingin Karuhun terlalu cepat Yah. Aku ingin kau hidup lebih lama lagi.” Aditia menampik alasan Mulyana bicara serius seperti ini adalah untuk mempersiapkan ketiadaannya.


“Dit, dengar ayah baik-baik, Ayah tidak tahu sampai kapan Ayah bisa bertahan dari penyakit ini, makanya ayah akan berikan ini lebih awal.” Mulyana memberikan sesuatu yang dibungkus kain berwarna emas, bungkusan yang tidak terlalu besar.


Aditia menerimanya dan membuka bungkusan itu, itu adalah keris mini yang akan menjadi warisan pusaka dari Mulyana yang kelak merupakan senjata andalan yang paling ditakuti jin-jin jahat yang hendak mencelakainya.


“Yah, ini apa?”


“Dia bernama Cundrik, keris kecil ini bukan sembarang keris yang bisa kau gunakan menusuk orang, ukurannya memang kecil dan tidak terlihat tajam. Tapi jangan sekali-kali kau gunakan untuk menusuk jin tak bersalah, karena sekali kena, dia bisa membunuh jin atau jiwa yang tersesat. Kalau kau salah bunuh, maka kau akan menerima hukuman. Sama seperti hukum di negeri ini, maka dunia ghaib pun memiliki hukum, tapi bedanya, hukum di sana sama seperti dunianya yang tidak terlihat, hukumnya juga banyak yang tidak tertulis, tapi kau akan merasakannya pada tubuhmu dan hidupmu.”


“Yah, kenapa harus Adit yang pegang senjata ini? bukankah senjata Ayah hanya ini saja, lalu ayah akan menggunakan apa untuk ‘penjemputan’?”

__ADS_1


“Ayah akan mendampingimu Dit, perlahan kita akan melakukannya hingga kau bisa melakukannya sendiri, jika kelak ...,” Mulyana batuk, “jika kelak aku tidak mampu lagi melakukan penjemputan serta mendampingimu lagi, maka kau harus melakukannya sendirian. Ini adalah amanah dari ayah yang harus kamu laksanakan, nak.” Mulyana menatap Aditia dengan sangat sedih, dia merasa bersalah, beban yang dipikul pasti berat, tapi anak-anak Kharisma Jagat memang harus lebih kuat dari anak lainnya.


“Adit nggak mau kalau Ayah ngomong gitu lagi, Adit akan pegang amanah ini, tapi Adit nggak suka ayah ngomong tentang kematian.”


“Dit, tentang jodoh adat, yang dulu mungkin kau pernah dengan dari Aki Dadan, bahwa kau dan cucunya telah dijodohkan secara adat, itu tidak perlu kau pikirkan, karena sama seperti ayah menikahi ibumu, maka kau berhak memilih jodohmu, jodohmu adalah apa yang Tuhan kehendaki, bukan segelintir orang paksakan.”


“Oh jadi itu yang dimaksud jodoh adat, baiklah Yah, Adit akan biarkan takdir Tuhan mempertemukan Adit dengan jodoh yang telah digariskan.” Aditia senang dalam hati, karena didalam hatinya telah ada seorang gadis yang sangat cantik, dia adalah atlet panahan yang sangat cantik, mereka telah berteman cukup lama, Aditia belum berani mengungkapkan isi hatinya karena belum yakin Alya akan menerimanya. Makanya dia menunda pengakuan cinta sampai dia yakin, sementara itu, dia mendekati Alya sebagai teman saja.


Tentu kelak dia akan menyesal pernah kenal dan mencintai gadis yang salah dan serakah itu, kerusakan yang gadis itu timbulkan sungguh sangat buruk.


“Karuhun itu bernama Abah Wangsa, dia akan menemuimu dalam mimpi, tapi karena kau dari lahir telah terbuka mata batin, maka kau akan langsung mampu beradaptasi tanpa salam terlebih dahulu seperti Kharisma Jagat muda lainnya, karena salam sapa telah kau lewati sejak kau dinobatkan menjadi Kharisma Jagat sejak hari pertama kau lahir.


Abah Wangsa akan mendidikmu dalam melakukan penjemputan, dia mungkin keras, tapi percayalah, dia tidak akan mencelakaimu, dia akan membantu tugasmu atas keberkahan yang Tuhan berikan.”


“Ayah, apakah kau merasa sangat kesakitan, hingga menyerah?” Aditia tidak mendengar semua dengan jelas wejangan itu, karena dia jauh lebih takut kehilangan ayahnya, penopang hidupnya.”


“Dit, dengar, umur itu milik Tuhan, maka Ayah hanya bersiap. Tubuh Ayah sudah sangat lemah, maka dari itu Ayah mulai mempersiapkan semuanya, Nak.”


“Yah, Adit akan berusaha menjalankan amanah Ayah.” Aditia mengakhiri percakapan itu dengan dan akhirnya keluar kamar ayahnya karena ibu dan adiknya sudah pulang dan mereka tidak ingin pembicaraan itu akan terdengar oleh mereka berdua.


...


“Dit kenapa sih, kok murung gitu?” Alya memberikan air mineral yang dia beli, mereka sedang istirahat dari mata kuliah.


“Nggak apa-apa Al.” Aditia tersenyum dengan lembut pada wanita yang sangat dia sukai.


“Dit, kalau ada masalah cerita ya, kita kan sahabat, aku pasti bantu kok.” Alya menepuk bahu Aditia, gerakan yang paling Aditia sukai dilakukan oleh wanita yang terlihat sangat cantik bagi Aditia ini.


“Iya Al, makasih ya.” Aditia meminum air mineral yang Alya bawa.


“Dit, temenin latihan ya, hari ini nggak narik gantiin bokap kan?” Alya meminta ditemani lagi.


Ini yang Aditia takjub pada Alya, dia tidak memandang Aditia yang hanya seorang anak supir angkot bahkan harus ikut narik karena ayahnya yang sakit.

__ADS_1


Alya tetap mau dekat dengannya, bagi Aditia apa yang Alya lakukan adalah sesuatu yang sangat Aditia hargai karena saat itu bagi Aditia Alya sangat tulus, tidak seperti wanita cantik lain yang ada dikampus ini. Aditia memang terkenal tampan juga di kampus, tapi sayang karena dia miskin, maka wanita cantik enggan dekat dengannya, Aditia juga tidak terlalu fokus pada wanita-wanita itu, tapi direndahkan tentu membuat Aditia kesal.


Setidaknya itu yang Aditia yakini tentang Alya ketika itu, padahal kita semua tahu, Alya bukan perempuan yang pantas untuk si Kasep, dia telah melihat bahwa Aditia adalah orang yang berbeda sejak awal, karena dia adalah tumbal terakhir, maka melihat makhluk tak kasat mata adalah sesuatu yang sudah sangat biasa bagi Aditia. Matanya terlatih melihat manusia biasa dan manusia yang istimewa seperti Aditia. Walau ketika itu Alya tidak tahu apa manfaat yang akan dia dapatkan dari Aditia, tapi Alya tahu, Aditia bisa dimanfaatkan kelak dengan keistimewaannya.


__ADS_2