Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 367 : Kemala 16


__ADS_3

“Kau ... siapa?” Aditia bertanya, karena seorang pria muncul setelah tusuk kondenya hancur.


“Aku ... Raja dari Kesultanan Cirebon.” Pria itu berkata.


“Oh! Kau ... kau Raja yang ditusuk matanya oleh Rajima?” Alka mengingat itu.


“Rajima ... selirku yang jahat itu!” Raja itu berkata dengan sedih.


“Ya, dia!”


“Raja, kau tahu ... kalau kau disekap di tusuk konde itu?” Ganding tiba-tiba bertanya.


“Ya aku tahu.”


“Raja boleh kau ceritakan apa yang terjadi padamu hingga kau disekap di tusuk konde itu?” Ganding meminta penjelasan kali ini.


“Kalian siapa?” Raja itu akhirnya bertanya.


“Kami ... gimana yang jelasinnya?” Ganding bingung.


“Kami adalah sekumpulan orang yang membantu manusia untuk terlepas dari masalah ghaib, saat ini kami sedang menghadapi masalah Rajima yang merasuki Kemala, karena kutukanmu menempel pada Rajima, maka Kemala terkena imbas kutukan itu juga, dia sudah menikah tiga kali dan tiga-tiganya meninggal dunia.” Aditia menjelaskan.


“Ya, aku memang mengutuknya, aku mengutuknya agar tidak akan ada lelaki yang menyentuhnya dan semua lelaki yang mendekatinya akan merasakan sakit yang aku rasakan.


Tapi bagaimana mungkin dia merasuki seseorang, apakah dia telah mati? bukankah dia berhasil kabur, belakangan aku tahu kalau dia telah bersekutu dengan musuhku! Orang yang menyekapku di tusuk konde itu.” Raja itu bertanya karena menyadari ada yang aneh.


“Musuhmu, siapa?” Aditia penasaran.


“Jawab dulu pertanyaanku.”


“Oh ya, Rajima tidak mati, dia ngilmu, ilmu yang diambil kemungkinan ilmu hitam, dia bersekutu dengan jin yang bernama Dewi Sundarwani, bertapa cukup lama hingga jiwanya lepas dari tubuh dan akhirnya menjadi jin seperti gurunya.”


“Bodoh, memang dia bisa berubah menjadi jin, sedang dzat penciptaannya saja sudah tidak sama, kalian juga bodoh, bisa percaya.” Raja itu tertawa.


“Apa maksudnya kami bodoh?” Aditia tidak terima.


“Pertama, seorang manusia, tidak bisa menjadi jin hanya karena bertapa, tapi jika jiwanya telah keluar dari tubuh, maka orang itu telah mati dan jiwanya kemungkinan, sepertiku ....”


“TERSESAT!” Semua orang berteriak.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin kita nggak ngeh soal ini?!” Ganding berteriak karena baru sadar.


Dzat pembentuk manusia adalah tanah lalu ditiupkan ruh, sedang dzat pembentuk jin adalah api, jelas manusia yang terbuat dari tanah, tidak bisa merubah dirinya menjadi api, jika jiwanya bisa berkelana, maka dia adalah jiwa tersesat yang harus dipulangkan!


Kawanan baru sadar.


“Tidak heran kalian tersilap, karena mungkin legenda ini terlalu lama untuk kalian cerna, terlalu tua untuk kalian pahami. Aku melihat cara pakaian kalian berbeda, pasti zaman sudah berubah, berarti aku sudah mati sangat lama.”


“Ya, Raja, kau mati sudah ratusan tahun.”


“Sudah lama sekali ya.”


“Raja ceritakan, apa yang terjadi hingga jiwamu bisa tersekap di tusuk konde itu?” Aditia mengingatkan kalau raja telah hutang cerita pada mereka.


Raja lalu dibawa ke ruang tamu dan mereka semua duduk di sofa, hanya agar suasananya lebih santai.


Raja memulai cerita, “Hari itu, adalah hari yang sangat kelam, mataku sudah cacat, aku tidak bisa melihat sama sekali, karena selirku sudah menusuk mataku hingga buta sempurna, dia kabur setelah aku kutuk.


Ratuku mengucilkan aku dan dia menggantikan kepemimpinanku, satu hal yang tidak aku kira sama sekali, bahwa dari sekian banyak orang-orangku, yang aku hindari karena kucurigai sebagai orang yang mungkin mengkhianatiku, ratu adalah satu-satunya orang yang tidak aku duga akan menjadi pengkhiantnya.


Pasti dia telah tergoda oleh Dewi laknat itu, dia memang pandai merayu dan membuat orang menjadi marah atas hal-hal yang sebelumnya mereka terima.


Aku sulit marah padanya, walau kemudian tahu, kalau ratu ikut andil mencelakaiku, karena aku tahu, dia menahan sakit yang dalam atas semua pernikahanku dengan para selir itu.


Aku sudah pasrah dan ikhlas, aku menyesal karena telah mempercayai Rajima dan memasukkan malapetaka di kerajaanku, andai aku lebih bijaksana saat itu.


Aku pikir penderitaanku sudah yang paling tinggi, tapi aku salah.


Dewi laknat itu datang padaku, dia lalu menawarkan apa yang dia tawarkan juga pada Rajima, sebuah keabadian dengan menjadi jin, tapi aku sudah tahu segala tipu daya dewi itu, maka aku menolak, dia tidak menerima dan akhirnya kami bertarung, tentu saja aku kalah, karena aku buta.


Pada serangan pertama melalui Rajima aku kalah karena terlena dengan kecantikan Rajima.


Lalu pada serangan kedua yang dilakukan oleh Dewi Sundarwani itu, aku kalah karena telah buta, sedang para khodam yang aku miliki telah di tawan oleh Sundarwani untuk dijadikan budak di kerajaan baru yang dia dirikan tepat di kerajaanku.


Aku mati dalam pertarungan itu, lalu jiwaku ditawan oleh Sundarwani di dalam tusuk konde itu.” Raja itu menjelaskan panjang lebar.


“Ini aneh, bukankah tusuk konde itu telah langsung disembunyikan oleh Rajima di bawah sungai itu?”


“Nding, jangan lupa ini ... Rajima mengubur tusuk konde itu atas petunjuk dari Dewi Sundarwani bukan? artinya ....”

__ADS_1


“Dewi Sundarawani jadi tahu lokasinya, karena Rajima patuh, dia menyembunyikan sesuai arahan Sundarwani, lalu setelah disembunyikan di sana, di sungai yang tepat berada di bawah jembatan yang memiliki kutukan pemutus hubungan itu, Dewi mengambil kembali tusuk kondenya, setelah meyakinkan Rajima bahwa tusuk konde itu akan membawa sifat yang sama seperti yang melekat pada tubuh dan jiwa Rajima, yaitu bersifat terkutuk! Kutukan dari raja yang menempel!” Ganding mendapatkan benang merahnya.


“Padahal ... tusuk kondenya adalah penyeimbang, secara sederhana, tusuk konde itu semacam penawar untuk ‘bisa kutukan’ yang ada di jiwa Rajima yang telah lepas dari tubuhnya. Penawar ini lalu disembunyikan lagi di sungai itu.” Aditia melanjutkan.


“Betul! Kemungkinannya seperti itu.” Raja hanya berasumsi seperti yang lain, karena pikiran Dewi Sundarwani hanya dia yang tahu bukan?


“Tapi ... soal kutukan jembatan itu bagaimana? kenapa jembatan itu masih menanggung kutukan darimu, Raja?” Alisha bertanya.


“Namamu siapa? kau cantik sekali.” Tiba-tiba raja berkata begitu.


“Hei! dia istriku!” Hartino sewot, hampir dia melepaskan senjata untuk bertarung, bisa-bisanya istrinya dipuji jiwa tersesat, tersesatnya tidak main-main lagi, sudah ratusan tahun!


“Maaf, kukira kau belum menikah.” Raja meminta maaf.


“Raja, bisa jelaskan soal jembatan itu?” Ganding meminta semua orang untuk kembali pada permasalahan utama mereka.


“Jembatan apa?” Raja bertanya lagi karena tidak tahu soal mitos itu, maklum sebelumya dia hanya ada dalam penyekapan.


“Jembatan yang memisahkan satu desa dengan desa lain, jembatan itu memiliki mitos bahwa siapapun yang melewati jembatan itu akan berpisah dengan pasangannya, baik hubungan resmi atau hanya sekedar pacaran. Sudah banya korbannya.” Ganding menjelaskan.


“Oh ya, ini asumsiku yang biasa bermain dengan para jin, para khodamku terdahulu. Kemungkinan jembatan itu adalah tipu daya Sundarwani, bukankah banyak perpisahan itu bisa saja terjadi karena godaan dari Sundarwani atau sekutunya. Mengingat Sundarwani bisa membujuk ratu dan juga Rajima untuk mencelakaiku, berarti, dia bisa saja mencelakai orang-orang untuk membuat jembatan itu terlihat memiliki kutukan, padahal tidak.”


“Dia melakukan itu untuk apa raja?” Hartino yang tadi kesal, akhirnya tenang kembali dan bertanya.


“Untuk membuat Rajima semakin percaya, oh aku ralat, bukan hanya Rajima, tapi semua orang, termasuk kalian, dia membodohi kalian semua. Hanya agar dia bisa membuat Rajima semakin percaya tusuk konde itu sama terkutuknya seperti dia, padahal tusuk konde itu adalah kelemahannya, yang disembunyikan dewi untuk jaga-jaga.” Raja cemas, karena dia ingin segera ‘pulang’ tapi ternyata masalah dewi dan Rajima bahkan masih ada setelah waktu terlewati cukup lama. Tidak main-main, sudah ratusan tahun terlewati.


“Raja kau tidak bisa menyepelekan kami, tentu saja kami tidak mampu membaca pemikiran dewi, karena metode dan strategi yang dia gunakan berasal dari zaman yang cukup tua, tidak heran kami tidak mampu membaca situasinya.” Ganding protes dibilang bodoh.


“Lalu kenapa sekarang dewi itu membiarkan kita menemukan tusuk kondenya? Bukankah ini satu-satunya yang membuat dia tetap bisa mengalahkan Rajima kelak, kenapa dia memberikan senjata itu pada kita?” Hartino bingung dan akhirnya bertanya.


“Kau tahu kan, kalau jin itu berumur panjang, tapi bukan berarti tak punya tenggat waktu, bisa jadi, dia telah sampai pada waktu di mana dipanggil Tuhan, maka dia perlu untuk bertobat?”


“Raja, kau yang bilang sendiri, kalau dewi itu tidak bisa dipercaya dan membodohi kami semua, lalu kau sekarang bilang dia bertobat, masa sederhana itu?” Ganding kesal karena raja ini asal ngomong sekali.


“Aku bukannya plin-plan, tapi itu kemungkinan tertinggi, sedang dia sengaja menaruh tusuk konde ini sebagai kartu terakhir untuk menghabisi Rajima, dari zaman ke zaman aku sudah tahu, bahwa setiap manusia yang diberi kekuasaan akan menjadi serakah, karena Rajima dulunya manusia, maka tak heran dia pasti akan menyerang dewi yang telah memberikannya keabadian semu itu. Karena semakin tinggi kekuasannya, Rajima pasti ingin memimpin para jin, sedang Sundarwani juga menyadari hal ini, itu makanya dia mempersiapkan jiwaku yang dikurung di tusuk konde itu, hanya untuk berjaga-jaga jika kelak Rajima bertingkah. Dan ternyata benar bukan, makanya tusuk konde itu dikeluarkan dari persembunyiannya."


"Raja, lalu alasan dia memberikan tusuk konde itu pada kita apa?" Aditia mengulang pertanyaan lagi.


"Mana aku tahu, kalian tanya saja padanya!"

__ADS_1


__ADS_2