
“Pah.” Istri Pak Ari mencium tangan suaminya ketika sudah sampai rumah, Pak Ari terlihat kelelahan, Istrinya membawakan tas dan juga sepatu suaminya untuk ditaruh, memberikan teh hangat, lalu duduk untuk sekedar ngobrol sebentar menemani suaminya beristirahat sejenak sebelum mandi.
“Mah, gimana tadi, Bi Iyem datang?” Pak Ari bertanya.
“Datang, bantu-bantu Mamah, kerjanya bagus, cuma nggak mau nginep aja.”
“Iya, kan Papa udah bilang dia nggak mau nginep.”
“Iya, kalau nginep, kan, jadi lebih enak aja, kalau malam-malam butuh apa, dia bisa bantu.”
“Kan, kalau malam ada Papah.”
“Kalau Papah lembur gimana?”
“Kenapa emang, Mamah nggak berani sendirian?”
“Nggak kok, kan, ini tempat baru, jadi kalau ada yang bisa diajak ngobrol lebih enak.”
“Yaudah, Papah juga kan belum lembur.”
“Iya-iya, Mamah siapin makan malam ya, Papah mandi dulu.” Iya sebentar Mah, masih terasa capeknya.
Lalu istrinya Pak Ari bergegas ke dapur dan menghangatkan makanan untuk Pak Ari.
“Akbar, jangan lari-lari.” Terdengar dari depan Pak Ari meminta Akbar jangan lari-lari.
Pak Ari terlihat kesal karena Akbar tidak mendengar perkataan ayahnya, dia masih saja bolak-balik lari-lari.
Istrinya perlahan berjalan mendekat kembali ke ruang tamu, dia mengintip, suaminya sedang menatap lurus ke depan, benar, Akbar sedang lari-lari bulak-balik.
“Akbar! Jangan lari-larian! Udah malem!” Pak Ari berteriak lebih kencang.
Akbar berhenti berlari dan menatap lurus ke arah istri Pak Ari, karena terkejut, istri Pak Ari jatuh dan membuat Pak Ari buru-buru mendekatinya.
“Mah, kenapa? kok jatuh? Kepeleset?” Pak Ari bertanya sambil mendekatinya.
Tapi istrinya Pak Ari masih saja menatap ke depan dengan tatapan ketakutan, Akbar masih menatap lekat pada mamahnya. Istrinya Pak Ari menunjuk ke arah Akbar, suaminya yang berusaha membantu membangunkan.
“Kenapa sih Mah, si Akbar kenapa?” Pak Ari melihat ke arah Akbar yang masih menatap lekat pada mamahnya.
“Dia … bukan Akbar.” Setelah mengatakan itu, istrinya Pak Ari mengubah arah tunjukan tangannya dari arah depan ruang tamu, ke arah kiri, yaitu arah meja makan.
Pak Ari ikut jatuh, dia melihat anaknya sedang makan di sana sambil baca buku. Saat dia melihat lagi ke arah ruang tamu dimana dia melihat anak lelaki mirip anaknya, ternyata sudah hilang, tapi ada jejak suara tertawa khas anak kecil dan angin dingin berhembus yang tertinggal dari sana.
“Pah, Mah, kenapa?” Akbar bertanya dari meja makan, dia melihat ke dua orantuanya jatuh.
“Nggak apa-apa, Nak.” Istri Pak Ari mencoba menutupinya karena tidak ingin melibatkan dia dalam hal menakutkan seperti ini.
“Pah, mandi dulu, kita bicarakan nanti ya.” Istrinya bangun dan berusaha bersikap tenang.
“Iya Mah, tapi, Papah buka pintunya ya.”
“Hah? Terserah deh.” Ternyata menghadapi ini, seorang lelaki kuat seperti Pak Ari juga bisa takut.
“Akbar sayang, bobonya sama Mamah ya.” Istrinya Pak Ari berbicara pada anaknya dan Pak Ari bergegas untuk mandi. Dia takut anaknya diganggu, makanya dia mau anaknya tidur bersamanya dan Pak Ari.
“Nggak mau, Akbar mau bobo di kamar sendiri.” Akbar menolak.
“Akbar denger Mamah, ini kan rumah baru, Akbar nggak takut?”
“Nggak, ngapain takut? Kemarin aja Akbar tidur sendiri berani.”
“Emang Akbar nggak denger apa-apa?”
“Denger apa?”
__ADS_1
“Kayak suara-suara aneh gitu.”
“Enggak, Akbar mau bobo di kamar sendiri aja, sempit kalau bobo sama Mamah.” Akbar menolak dan istrinya Pak Ari tidak bisa membujuk lagi.
“Yaudah kalau gitu, Akbar Mamah temenin bobonya di kamar Akbar ya.”
“Nggak! temen Akbar nggak suka kalau ada Mamah atau Papah di kamar Akbar.”
“Temen Akbar? Maksudnya?”
“Mah, Akbar ngantuk, Akbar tidur duluan, sendiri aja ya, Mah.” Akbar lalu bergegas lari untuk masuk ke kamar, istri Pak Ari merasa ada yang aneh, siapa teman yang dia maksud?
“Makan dulu Pah.”
Pak Ari sudah selesai mandi dan berpakaian, istrinya menunggu Pak Ari untuk makan malam.
“Iya Mah, masak apa?”
“Ayam goreng sama sayur sop.”
Pak Ari mengambil piring yang sudah terisi nasi dari tangan istrinya dan mengambil lauk serta sayurnya.
“Pah, ini hari keempat kita tinggal di sini, selama itu Mamah merasa ada yang aneh.” Istri Pak Ari sebenarnya tidak ingin mengeluh, tapi barusan saja kejadian yang membingungkan mereka terjadi.
“Papah tahu, tapi akan sulit untuk pindah, Mah. Anggap saja, ‘dia’ hanya ingin berkenalan.”
“Iya, Mamah juga nggak minta pindah, tapi Mamah merasa ‘anak itu’, bukan hanya ingin berkenalan, Mamah merasa ada sesuatu yang menakutkan ketika dia muncul dalam wujud Akbar.”
Lalu Istrinya Pak Ari menceritakan semua kejadian yang dia alami, mulai dari gelas yang dia cuci berubah posisi dan ‘Akbar’ yang membanting pintu saat pulang tadi siang.
“Kita harus apa Mah?”
“Kita kan semenjak pindah belum adain selametan, gimana kalau kita undang Ustad, lalu adain pengajian di sini Pah?”
“Oh iya, bener juga, semenjak pindah kita belum selametan, nggak kepikiran sih Mah, sekalian kenalan ama tetangga.”
“Iya Mah, Papah setuju.”
“Yaudah lanjut makannya, Pah, lalu kita istirahat.”
…
Pak Ari sudah berangkat kerja, Bi Iyem baru saja datang, sementara Akbar sedang bermain dengan beberapa anak tetangga di halaman. Untuk seorang anak kecil, beradaptasi pada lingkungan baru terkadang lebih mudah.
“Bi, temenin saya ke rumah Pak RT ya.”
“Loh, belum lapor pindahan, Bu?”
“Udah kalo lapor pindah, mah. Saya mau adain selametan di rumah ini.”
“Pengajian bu?”
“Iya.”
“Kenapa, Bu?”
“Kok kenapa, saya dan suami, kan, baru pindah, rumah ini juga lama nggak ditempatin, jadinya saya mau pengajian aja, biar adem tempatnya dan kita betah.”
“Emang ada rencana tinggal lama, Bu?”
“Ya nggak tahu, kan Pak Ari baru dimutasi.”
“Nggak takut, Bu?”
“Kamu dari kemarin ngomong takut, takut mulu, emang ada apa, sih?” Akhirnya istri Pak Ari penasaran.
__ADS_1
“Gini loh Bu, kan ini rumah lama banget nggak ditempatin, kalau rumah lama kosong, biasanya yang nempatin itu tak kasat mata, begitu bu.”
“Yakin cuma itu?”
“Iya Bu, emang apa lagi?”
Bu Ari menimbang-nimbang apakah perlu menceritakannya pada Bi Iyem.
“Enggak sih, nggak ada apa-apa.” Dia memutuskan untuk tidak cerita, takutnya malah Bi Iyem nggak betah dan akhirnya meninggalkan dia sendirian.
“Yaudah, mau ke rumah Pak RTnya sekarang?” Bi Iyem bertanya.
“Iya sekarang aja.”
Lalu istri Pak Ari dan Bi Iyem pergi ke rumah Pak RT tanpa Akbar, karena dia sedang asik bermain di halaman depan dengan teman sebayanya.
Setelah sampai rumah Pak RT, istri Pak Ari mengucap salam, dibukakan pintu oleh Bu RT, lalu dipersilahkan masuk dan memanggil Pak RT.
“Ada apa, Bu?” Pak RT bertanya, untuk Pak RT sudah tidak bekerja, dia adalah pensiunan TNI, masa tuanya dihabiskan dengan mengabdi dengan desanya.
“Gini Pak, Bu RT. Saya, kan, baru pindah. Jadi, saya dan suami bermaksud mengadakan pengajian di rumah, ya sekedar selamatan karena baru pindah.”
“Oh iya, kirain ada apa.” Kata-kata yang cukup aneh, kenapa harus setegang itu Pak RT melihat kedatangan penghuni baru rumah itu.
“Iya Pak, mau minta ijin juga ngundag tetangga untuk hadir di pengajian nanti.”
“Kapan rencananya?”
“Hari kamis Pak, setelah Magrib. Jadi dua hari ini saya dan Bi Iyem siap-siap dulu keperluannya.”
“Oh iya, bisa, Ustadnya udah diundang juga?”
“Belum Pak, Bapak bisa bantu untuk undang? Kalau tidak merepotkan, ya, Pak.”
“Iya-iya bisa, nanti saya panggil Ustad Arif buat isi pengajiannya.”
“Wah, makasih banyak loh, Pak.”
“Iya sama-sama. Gimana, betah tinggal di sana?” pertanyaan yang umum ditanyakan untuk orang yang baru saja pindah.
“Betah Pak, Alhamdulillah.”
“Nggak takut?” Lagi-lagi pertanyaan itu.
“Apa yang mesti ditakutkan di sana, Pak?” Istri Pak Ari bertanya.
“Memang tidak ada yang memberitahu soal rumah itu?”
“Membertitahu apa ya, Pak?”
Bi Iyem terlihat melirik pada Bu RT dan Bu RT akhirnya paham, menepuk suaminya agar diam.
“Itu kan rumah lama banget udah nggak ditempatin, Bu, jadi ya biasanya orang takut kalau tinggal ditempat yang lama kosong. Begitu, Bu.” Bu RT memberi jawaban persis seperti yang Bi Iyem sampaikan.
“Iya Pak, nggak kok nggak takut. Minta tolong ya Pak, mohon maaf ngerepotin.”
Istri Pak Ari tahu ada yang mereka sembunyikan, tapi rasa penasarannya kalah dengan rasa takutnya, buat apa tahu kalau jadi takut dan tidak nyaman, dia berharap setelah pengajian, gangguan-gangguan dari ‘anak itu’ tidak muncul lagi.
Lalu istri Pak Ari pamit pulang bersama Bi Iyem, mereka berdua hendak menyiapkan semua keperluan untuk pengajian itu, termasuk belanja makanan untuk hantaran pulang, biasanya orang-orang menyebutnya, besek selametan.
____________________________________
Catatan Penulis :
Ada yang mau tebak siapa ‘anak itu’? apa maunya?
__ADS_1
Jangan lupa coment dan kasih vote ke AJP ya.
Terima Kasih.