
“Kalau begitu, kita besok akan ke taman bermain di kota ini ya, taman bermain terbesar di seluruh kota di negeri ini, kau sudah pernah ke sana?”
“Belum, aku mana punya waktu, kau tahu kan, aku dan timku juga sama seperti kalian, menangani kasus, walau tak seberat kalian, karena timku hanya menangani kasus sederhana seperti kerasukan, tetap saja waktuku tercurah ke sana, karena Aki Dadan selalu memintaku berlatih terus, padepokan akan diturunkan padaku kelak.” Ami sedih karena dia juga kehilangan masa kecil yang indah saat bermain, waktunya sama seperti kawanan, hanya berlatih untuk menolong umat manusia.
“Kalau begitu, besok kita ke sana, kita semua, bagaimana?”
“Aku juga?” Kak Behra yang sedang hamil bertanya.
“Ya, kau juga, kan nanti tak perlu naik wahana, Kak. Hanya ikut saja dan lihat kami bermain.”
“Oh maksudmu jaga tas, Har?” Behra pura-pura kesal, padahal dia hanya bercanda.
“Tidak begitu Kak, hanya ingin pergi bersama orang-orang yang selalu sibuk ini, untuk bersenang-senang sedikit.”
“Har, kau siapkan semua ya, kita liburan sehari besok ke taman bermain itu.” Alka memerintahkan.
...
“Wah aku tidak menyangka taman bermain ini besar sekali, bahkan dari pintu masuk, kita harus masuk jauh ke dalam lagi untuk bisa mencapai taman bermain ini.”
“Ami, kau tak tahu kalau di tempat ini begitu banyak wahana yang bisa kau nikmati, bukan hanya di sini, karena tempat ini sangat luas, kalau tidak salah luasnya adalah 500an hektar.
Awalnya tempat ini hanyalah perumahan bergaya vila yang terbengkalai, itu saat masih jaman Belanda abad ke 18 sampai 19 ketika negara kita dulu di jajah. Tempat ini dulu akhirnya ditinggalkan oleh orang Belanda itu, karena cuaca yang selalu tidak baik dan airnya asin, maklum ini kan dekat laut, saat itu mungkin pembangunan sanitasi dan sumber air belum secanggih saat ini.
Tempat ini memiliki banyak objek wisata, sebentar aku ingat-ingat dulu, ada 12 atau 14 objek wisata gitu, banyak banget kan? itu sih yang terakhir aku baca, nggak tahu apakah ada informasi tambahan belakangan ini.” Ganding menjelaskan dengan bangga, seolah taman bermain ini miliknya. Semua orang mendengar dengan seksama, seolah Ganding sedang menjelaskan kasus, kebiasaan karena mereka selalu harus memperhatikan rincian informasi dari Ganding, agar tak salah langkah, tapi kan ... ini bukan kasus, bukan juga study tour, kenapa mereka masih saja patuh untuk mendengar ocehan bocah jenius itu.
“Nding, satu lagi, di sini juga ada cerita legenda, soal seorang perempuan yang katanya dibunuh lalu dibuang di suatu jembatan di daerah tempat wisata ini, arwah wanita itu akhirnay selalu mengganggu siapapun yang melewati jembatan itu.
“Oh ya, si manis jembatan itu ya?” Alisha menimpali perkataan suaminya.
“Apa masih perlu kita membahas taman bermain ini seperti membahas kasus? Kita mau bermain, bisakah lebih fokus untuk melakukan ini?” Sudah tahu dong, siapa yang bicara begini?
“Iya Kak, sorry, kebiasaan.” Hartino sadar, mereka seharusnya menikmati moment ini tanpa membahas apapun soal perghaiban.
“Kau mau naik apa?” Aditia bertanya pada Alka.
“Aku temani Kak Behra saja, aku tidak terlalu suka naik wahana.”
“Kau bicara apa? aku tidak perlu ditemani, aku jaga tas kalian saja, aku akan menikmati hari ini dengan tidur di bawah sinar matahari yang menyengat ini, tas kalian akan aman, siapa yang berani mencuri tas yang dijaga Karuhunku.” Behra memaksa Alka untuk bermain wahana.
“Tidak, aku tidak terlalu suka main wahana.”
“Kak! Ayolah, lagian kalau kenapa-kenapa ada Dokter Adi ini.” Hartino memaksa.
Jajat dan yang lain sudah mengantri di wahana roller coaster, Alka akhirnya ditarik oleh Aditia untuk ikut mengantri.
“Dokter Adi saja ikuta kak, kenapa kau tidak mau!” Ganding kesal.
“Yasudah.” Alka hanya tidak suka saja main wahana dan bersenang-senang berlebihan.
“Kalian tahu nggak, wahana roller coaster pertama kali dibangun di Amerika, dibangun di Coney Island itu tahun 1884, lalu ....”
“Nding, kamu bisa diem nggak?” Alisha menahan Ganding untuk berbicara lebih dalam lagi, itu sungguh membuat semua orang kesal, karena selalu disuruh berpikir mulu sama bocah jenius ini.
“Sorry.” Ganding menutup mulutnya dengna gerakan tangan seperti mengunci mulutnya.
“Kalian tahu nggak, berapa banyak kecelakaan yang terjadi di roller coaster ini, katanya ....”
“Har!!!” Yang lain berteriak, pamali mengucapkan hal buruk saat mau naik wahana, karena bisa jadi obrolan itu menjadi doa dan berlaku pada yang bercerita.
“Sorry, sorry.” Hartino juga mengunci mulutnya dengan gerakan tangan.
“Aku tidak sabar!” Alisha berjingkrak, dia sangat bersemangat.
__ADS_1
Karena ini bukan hari libur, biar banyak pengunjung, tapi tidak penuh dan antri juga tak terlalu lama, hanya butuh waktu 10 menit untuk mereka akhirnya bisa memilih bangku di kereta roller coaster itu, Alka duduk di samping aditia, Jarni di samping Ganding, Alisha tentu bersama Haritno, Ami bersama Jajat, Dokter adi? Dia bersama penjaga Ami, Dokter Adi menunjukkan ekspresi datar saja saat akan naik.
“Pakai pengamannya, pastikan sudah kencang dan kalian siap.” Suara dari operator wahana.
“Apakah kalian siap!” Operator itu bertanya.
Semua orang berteriak, siapppp!!! Termasuk kawanan dan komplotan.
Terasa sekali pengaman pada tubuh mereka sangat kencang dan erat menjaga tubuh mereka, kereta itu mulai berjalan perlahan di relnya, masih rel yang lurus, lama kelamaan kereta itu berjalan dengan lebih cepat, tepat di bagian rel yang meliuk, kereta itu semakin cepat dan membuat beberapa orang sakit kepala dan berteriak, sensasi terasa hampir jatuh itu membaut semua orang ketakutan.
Kawanan berteriak, komplotan juga.
“Brengsek! Brengsek! Brengsek! Aku mau turun, biadab wahana ini, aku ingin turun!” Alisha berteriak tepat saat roller coaster meliuk dan membuat tubuh mereka terbalik, Alisha memegang paha Har dengan sangat kencang, sementara ada seorang wanita yang tertawa begitu keras di samping Aditia, dia tertawa dengan lepas, Aditia melihatnya, dibanding berteriak, dia hanya terus memperhatikan wanita yang menurutnya sangat cantik, tidak ada yang lebih cantik dari wanita ini di matanya, apalagi sedang tertawa seperti ini, sungguh kecantikan yang terpantul sinar matahari siang ini, membaut bayangannya saja terlihat sangat cantik.
Setelah terombang-ambing di kereta roller coaster itu, mereka semua sudah hampir sampai di rel akhir.
Kereta perlahan melambat, lalu akhirnya berhenti, pengaman tubuh sudah terbuka, Alisha bangkit di tarik Hartino, pandangannya kosong, Hartino akhirnya menggendongnya untuk keluar dari wahana.
“Kau kenapa?” Ganding bertanya pada Alisha dalam gendongan belakang Hartino.
“Aku ingin membunuh operatornya, aku ingin membunuhnya! Beraninya dia membuat tubuhku hampir jatuh tadi, kau tahu, rasanya hampir mati, ususku terasa akan terburai keluardari mulut, lalu kepalaku tergencet, aku sangat ingin membunuh operatornya, kalau tadi aku tidak lemas, saat turun dari kereta itu, aku pasti sudah menghajar operatornya, turunkan aku, biar kuhabisi dia.”
Semua orang tertawa mendengar Alisha mengumpat tanpa henti karena ketakutan, mentalnya tak sekuat perkataannya, tapi tiba-tiba Alka hilang, yang laing bingung, karena kakak perempuan mereka tak ada di sana.
Saat Aditia hendak menelepon, matanya melihat pada satu tempat dan dia lega.
“Lihat kakak kalian kelakuannya.” Aditia menunjuk tempat di mana Alka berada.
Aditia lalu menghampiri Alka dan bertanya dari luar pagar tempat dia berdiri, karena dia berdiri di dalam pagar, sedang mengantri.
“Kau ngapain di sini?” Aditia bertanya.
“Aku ... aku ... ingin naik sekali lagi, rasanya sangat menyenangkan.” Alka tersenyum dengan manis, malu karena ternyata naik roller coaster sangat menyenangkan.
Semua orang menikmati waktu yang sangat menenangkan di tempat ini, taman bermain yang sangat luas dan menyenangkan, dari kejauhan seorang wanita yang sangat anggun dan gagah melihat mereka dari jauh, tentu penglihatannya terwakilkan dari para Karuhun yang dibawa oleh kawanan dan komplotan.
“Mereka berhasil lagi, aku sungguh sangat takjub.”
“Kau harus memanggil mereka ke sini Ayi.” Panglima berkata dengan suara garangnya.
“Tidak, belum saatnya.”
“Kau sedang kesulitan Ayi!” Panglima mengeluarkan suara yang begitu menggelegar.
“Mereka harus bertemu banyak kasus dulu, aku ingin mereka siap saat sampai sini, mengingat bahwa ... tempat ini begitu berbahaya untuk kita semua, jangan berkumpul hanya di satu tempat, karena membuat musuh kita mampu menghabisi kita dalam satu waktu, kalau aku kenapa-kenapa, kawanan masih bisa selamat.”
“Ayi, kau mendidik dan melatih mereka dari jauh, membantu kasus mereka tanpa mereka tahu, salah satunya ketika terowongan samaran Jarni bisa menembus mantra pengambil jiwanya Gandarwi, kau menabur bubuk mantra dari tanah gunung butir-butir, hingga akhirnya terowongan Jarni bisa masuk dibantu Bohra, kalau kau tidak menyuruh aku dan Raden datang ke sana duluan dan menabur bubuk mantra itu, tak mungkin terowongan Jarni tembus.
“Panglima dengan aku, ini masa sulit bagiku, aku tak ingin semua orang celaka lagi, aku ....”
“Ayi, kau itu orang yang kuat, kenapa kau malah menjadi takut begini?” Panglima kesal.
“Aku ingin Malik kembali Panglima, aku sangat butuh dia dibanding siapapun.”
“Ayi! Kau itu bukan hanya ibu 2 anak, tapi kau juga seorang Ratu Kharisma Jagat, kenapa kau menjadi lemah seperti ini?”
“Aku sudah kehilangan Pram! Kau pikir perjuangan kemarin tidak melukai hatiku? Aku kehilangan orang yang bahkan dia hanya meminta cintaku saja, tapi tak mampu aku berikan, sekarang kau ingin aku menghabisi setiap keturunan terbaik dari Kharisma Jagat? Aku takkan bisa hidup lagi.”
“Kau harus menyerahkan mereka cepat atau lambat, kau harus menyerahkan mereka!”
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan!” Ayi lalu meninggalkan singgasananya setelah melihat kawanan sangat bahagia.
...
__ADS_1
“Ronda malam ini kang?” pada suatu desa di dekat desa bernama Majalaya, ada sebuah rumah yang sama seperti rumah lainnya, rumah yang sudah terbuar dari bata dengan jeda lahan yang tidak terlalu luas antar tetangga.
“Iya Susi, akang ronda dulu ya.” Jaka pamitan pada istrinya.
Susi mencium tangan suaminya, bermaksud untuk salim, lalu Susi tiba-tiba terdiam.
“Kang, jangan lewat sana ya.” Susi mengingatkan, karena tempat itu seharusnya tak bagus dilewati malam hari.
“Iya Susi, tenang aja, akang nggak lewat situ kok.”
“Janji loh, akang kan suka nekat, karena kalau nggak lewat situ, ke pos ronda jadi muter.”
“Iya Neng, tenang aja sih.”
“Nggak bisa tenang, ingat ya Kang, kita baru nikah, eneng nggak mau sampai akang kenapa-kenapa.”
“Cuma karena baru nikah makanya kamu takut akang kenapa-kenapa? terus kalau udah lama nikahnya, akang nggak apa-apa celaka?” Suaminya menggoda.
“Kang! Jangan bercanda ah!”
“Nggak bercanda Neng, cuma nanya ajah, yaudah ya, akang mau ronda dulu.” Suaminya beneran pamit dan akhirnya dia pergi.
Saat berkendara dengan motornya ke arah pos ronda untuk memutar, dari kejauhan dia melihat temannya yang seharusnya ikut ronda dengan dia, tapi arah motornya malah mendekati.
“Mau kemana? Jaga ronda atuh sareng abdi (jaga ronda bareng aku).” Jaka menyapa temannya itu.
“Iya, ini mau ke pos ronda, kok kamu malah lewat sini.” Temannya itu bertanya.
“Iya lah, emang kamu mau lewat sana? Kan udah malam.” Jaka mengingatkan.
“Lah muter atuh, sayang bengsin (bensin), emang kamu cecesnya (uangnya) nggak diambil semua sama istri, aku mah cuma dikasih jajan aja, lewat sana ajalah, kan berdua mah nggak takut atuh.” Temannya itu membujuk.
“Mbung ah (nggak mau ah).”
“Eh, maneh teh sieun (takut)?” Temannya mencoba memaksa.
“Sieunen lah (takut lah).”
“Da berduaan, ntong sieun nyak (kan berdua, jangan takut ya)?”
“Ih, udah ah, muter aja, yuk.”
“Maneh takut istri maneh ngambek nyak (kamu takut istri marah ya)?”
“Henteu (enggak)! Istri aing (aku) mah baik.”
“Yaudah atuh, hayu lewat sini, bedua mah jurig (setan) ge embung (nggak mau) gangguen.”
“Sok atuh (yaudah), maneh (kamu) di depan, lamun aya nanaonan (kalau ada apa-apa), aing kabur duluan.” Jaka tidak bercanda mengatakannya.
“Nyak, sok abi duluan.” Temannya itu lalu berjalan duluan dan Jaka memutar balik, mereka mulai menyusuri jalan, tentu melewati rumah Jaka, tapi istrinya tak tahu sama sekali, kalau suaminya ternyata telah melewati rumah mereka kembali dan melanggar janjinya.
Saat berjalan, jalanan semakin luas dan mereka akhirnya sudah sampai jalan besar, menyusuri jalan yang penerangannya tak terlalu banyak, karena terbentang sawah yang luas pada kanan kiri jalan.
“Buruan maneh!” Jaka berteriak, karena temannya jalan dengan santai.
“Motor aing teu bisa jalan ngebut!” Temannya berkata dengan wajah mulai khawatir, kalau sampai motornya mogok, Jaka pasti meninggalkannya sendirian, karena, siapa yang akan lewat jalan ini setelah malam, jalan ini sangat anti dilewati malam hari. Entah kenapa mereka berdua masih saja bebal melewati jalan itu.
Tiba-tiba temannya Jaka yang ada di depan memberhentikan motornya, dia mengerem dengan sangat kencang, seperti menghindari sesuatu, lalu terjatuh.
“Nanaonan maneh!” Jaka berteriak, dia berlari berusaha untuk membangunkan temannya, tapi temannya hanya terdiam duduk melihat ke arah depan, tempat di mana dia tadi mengerem dengan tiba-tiba.
Jaka jadi penasaran dan melihat ke arah yang temannya lihat, lalu mereka berdua berteriak dengan sangat kencang, karena yang mereka lihat sangat amat mengerikan ....
__ADS_1