
Dasim adalah salah kegagalan Mulyana yang membuat Mulyana menjadi lebih pendiam, dia sudah membuat sahabatnya menjadi orang yang keluarganya bercerai, itu membuat Mulyana sempat mengurung diri selama 3 hari tanpa keluar kamar.
“Yan, ada tamu nih.”
“Bilang aja aku nggak ada, aku capek mau istirahat.”
Mulyana menolak tanpa membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu.
“Aku cuma ingin bicara Yan.” Suara seseorang membuat Mulyana yang sedang tiduran seperti biasa, dia memang menghabiskan waktu dengan tidur saja.
“Ga, maaf aku tidak tahu kau yang datang.”
“Memang siapa lagi yang mungkin datang ke sini? kan kau tahu, teman-teman kita itu tak ada, hanya Dirga teman kuliah kita yang tahu rumah ini.” Aep terlihat kesal dengan kelakuan adiknya yang kekanakkan. Waktu kecil saja, sok dewasa, “yasudah, kalian ngobrol yang santai, nanti aku minta bibi buatkan minuman dan makanan untuk kalian, Ga, tolong sadarkan adikku ya, dunia ini tak berhenti karena gagal sekali, dia itu kan manusia, pasti ada aja gagalnya.” Aep sang kakak yang sangat perhatian dengan caranya.
Pintu kamar ditutup lalu Dirga duduk di tempat tidur Mulyana, Mulyana masih tidur menghadap tembok, membelakangi Dirga.
“Aku bohong kalau aku baik-baik saja Yan, aku juga ingin orang tuaku kembali seperti dulu, saling mencintai, tapi aku tahu kalau ini bagian dari keserakahan ayahku, dia yang menanam benih kebusukan pada rumah tangganya, membuat istrinya juga menanggung hutang janji yang membuat tubuh dan jiwanya jadi sakit karena jin busuk itu.
Kau tidak perlu merasa bersalah, kau sudah sangat berusaha, tidak ada temanku yang sebaik dan setulus kau Yan, kau yang membantuku tanpa imbalan apapun, selalu mencari cara agar bisa membuat rumah tangga orang tuaku selamat, tapi ... ini takdir Yan, kadang tidak bisa kita sentuh karena ada hutang yang harus ayahku bayar, atas janjinya, keserakahan yang dia bawa dalam rumah tangga, usaha yang membuat usaha orang lain jadi bangkrut, bukankah itu juga hutang dosa yang harus ayahku tanggung Yan? Jadi ... aku beruntung, tahu ini sebelum mengambil alih usaha ayahku, jadi aku bisa terhindar dari dosa lanjutan orang tuaku.
Kalau tidak berteman denganmu, mana aku tahu ayahku adalah pemuja iblis Yan.”
“Ada kalanya kita tak perlu tahu sesuatu, hanya agar hati tentram Ga, harusnya dari awal kita tak berteman. Setidaknya, orang tuamu masih serumah dulu, tapi sekarang? Mereka bercerai dan pisah rumah, sekarang kau tak merasakan kehadiran ayahmu lagi kan?” Mulyana terus meratapi diri, dia merasa orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada orang tua Dirga.
“Ya, kau benar, dia bahkan menolak untuk membiayai kuliahku lagi.” Dirga mengatakannya dengan wajah sedih.
Mulyana bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Dirga.
“Kau serius, dia menjadi lepas tanggung jawab? Biasanya pria memang begitu, dari banyak pengalaman yang aku dengar, lelaki yang pergi dari rumah, akan merasa rumah yang dia tinggalkan adalah bukan tanggung jawabnya lagi, biasanya dimulai dari tidak lagi menafkahi lalu sepenuhnya lepas tanggung jawab, aku akan coba bujuk ayahku untuk membiayai kuliahmu, dia pasti punya cukup uang untuk ....”
Dirga tertawa mendengar perkataan temannya, “Kau lupa kalau aku memang tak ingin kuliah jurusan ini?”
Mulyana bingung, “Maksudmu?”
“Aku justru bersyukur dia tak mau membiayai kuliahku, jadinya aku tidak perlu meneruskan kuliah dan ....”
“Dan kau bisa masuk ke Kepolisian!” Mulyana baru ingat cita-cita Dirga, banyak hal membuatnya hilang fokus.
“Ya! kau benar! Aku sudah mendaftar untuk ujian dan tak sabar untuk memulai pendidikan, aku sangat tidak sabar untuk segera memulai.” Dirga sangat senang, terlihat dari matanya yang berbinar.
“Kau sungguh bahagia, Ga?” Mulyana tersenyum melihat wajah senang itu.
“Tentu saja ini mimpiku, Yan. Sekalipun tetap saja perceraian itu tak aku syukuri, tapi aku jadi paham, kemana Tuhan hendak membawa kehidupan kami.”
“Lalu ibumu bagaimana? Nafkah kalian bagaimana?” Mulyana kepikiran lagi.
__ADS_1
“Tenang saja, pengadilan sudah menyuruh papaku untuk menafkahi kami, dia tak memenuhi itu, tapi ... mamaku ternyata sangat pintar, sebelum papaku meninggalkan rumah, dia sudah menyembunyikan beberapa sertifikat aset milik mereka, ada beberapa rumah dan tanah, ada juga buku tabungan yang mama sembunyikan.”
“Papamu tidak marah dengan apa yang dilakukan mamamu?” Mulyana penasaran dan sedikit lega.
“Marah lah! lelaki itu kesal karena kerja kerasnya disembunyikan istri yang bahkan tak memasak untuknya, tapi mamaku pintar, dia mengancam akan mengajukan ke pengadilan harta goni gini, papaku tahu, kalau mamaku sampai mengajukan harta gono-gini, maka kemungkinan tempat usahanya juga terancam, karena sesuai hukum di negara kita, harga yang didapatkan setelah pernikahan adalah harga bersama dan ketika bercerai, harus dibagi dua, maka untuk cari aman, papaku akhirnya mengalah.
Mama akan jual beberapa asetnya, untuk kelangsungan hidup kita, papa sempat menolak tanda tangan akta jual belinya, tapi mama kembali mengancam, jadinya sudah ada 1 aset yang berhasil terjual, mama sekarang buka restoran, baru dirintis, tapi kubantu, aku pastikan mamaku takkan pernah menjalani cara yang sama seperti yang papaku lakukan.
Makanya aku turut ikut merencanakan bisnis ini dengan mama. Aku sampai lupa mamaku memang jago masak, sekarang masakannya dinikmati banyak orang, papaku pasti menyesal.”
“Kau menceritakan kehancuran keluargamu dengan sumringah begitu.” Mulyana kesal, karena sudah tiga hari dia menyesali kegagalannya, si Dirga malah senang.
“Lagian kau aneh, setelah kuberitahu orang tuaku bercerai malah ilang, padahal sudah kutunda beritahunya sampai hampir dua bulan, hanya agar kau tak merasa bersalah, tapi begitu aku beritahu malah depresi, tiga hari nggak keluar kamar, sudah berlalu Yan, sudah dua bulan ini mereka bercerai dan kami baik-baik saja, ibuku malah sekarang lebih sehat dan bugar, tidak tidur terus, dia malah terlihat lebih cantik dan segar karena bekerja, kadang ... perceraian memang langkah yang baik Ga, supaya kita bisa melanjutkan hidup lebih baik, walau tidak selalu.”
“Ga, makasih ya udah datang dan mau menceritakan ini semua.”
“Aku yang makasih, karena kau datang ke rumahku, menjadi sahabatku, maka aku sekarang siap untuk cita-citaku, sekarang aku cuma mau menjalani usaha bareng ibuku, tetap menunggu sampai pendidikan Kepolisian dan tentu saja, menjadi bagian dari sejarah orang yang memiliki indera keenam sepertimu, sahabatku, Mulyana yang lemah hatinya karena perceraian orang tua orang lain.”
“Kau menyebalkan! Masa hatiku lemah!”
“Hei, sebagai rasa terima kasih, aku ke sini sebenarnya ada tujuan lain.” Dirga ingat sesuatu, tapi bersamaan dengan datangnya bibi membawa es limun dan juga mie goreng, makanan dan minuman paling favorit untuk tamu dekat seperti Dirga.
“Makasih ya Bi.” Dirga berterima kasih dan mengambil nampan, lalu pintu kamar ditutup lagi.
“Kau tahu kalau ... terjadi gonjang-ganjing di tempat pelatihan swasta itu, tempat kau menemukan perempuan dipersimpangan.”
“Oh ya, ada apa?”
“Pemilik tempat itu, meninggal dunia.”
“Hah? kok gonjang-ganjing, kan udah tua banget, wajarlah kalau meninggal dunia. Pak Badrun kan?”
“Iya Badrun, bukan itu maksudku, meninggalnya sangat tidak wajar!”
“Tidak wajar gimana?” Mulyana menjadi penasaran.
“Tiga hari sebelum meninggal, Badrun menggila, dia berlarian di lapangan itu dengan ... tanpa busana!”
“Telanjang!” Mulyana kaget.
“Ya, dia berlari berjam-jam, semua orang bilang kalau dia kehilangan akal karena penyakit tua, apa tuh penyakitnya?”
“Demensia?”
“Ya itu dia, setiap kali dia berlari berjam-jam, tak ada yang bisa menahannya, karena tubuh itu kuat sekali, walau sudah tua, tapi kan dia mantan Polisi dengan jabatan tinggi, tentu pelatihan yang dia lakukan sangat banyak hingga membuat tubuhnya sangat kuat berstamina walau telah tua.”
__ADS_1
“Lalu?”
“Setelah tiga hari, dia kena serangan jantung dan meninggal dunia, tergeletak tepat ... tepat di mana kuburan dangkal wanita itu ditemukan.”
“Hah? kau tahu cerita wanita yang ditemukan di lapangan itu?”
“Ya, kau tahulah aku masih ikut pelatihan supaya lancar masuk Kepolisian, jadi cerita itu langsung heboh begitu Badrun berulah dengan berlari tanpa busana.”
“Wah ini sih kacau.”
“Yan, kau harus segera bantu keluarga pak Badrun, kasihan.”
“Kasihan kenapa? bisa saja benar ini karena demensia atau rasa bersalah, bukan karena perempuan itu.”
“Bukan Badrunnya, sekarang yang berlari terlanjang adalah ... anak lelakinya!”
“Hah? kau serius?” Mulyana kali ini terkejut.
“Kau terkejut juga kan?” Dirga bersemangat, Mulyana juga, karena kasus ini memang belum selesai.
“Ini pasti ada hubungannya dengan perempuan itu, ini adalah fenomena ghaib, karena biasanya kalau kena ke ayah dan anak, karena sesuatu yang salah hingga takkan putus sampai ... anak cucu!”
“Tuh kan Yan, ayolah kita bantu keluarga itu.”
“Tapi kan, keluarga itu salah, maksudku ....”
“Kau siapa hingga menilai orang salah dan benar?” Aep tiba-tiba masuk.
“Kau menguping?”
“Kalian bicara seperti pakai toa masjid, jadi aku tahu lah apa yang kalian bicarakan.”
“Ya kan Ep, kita nggak boleh menilai orang, itu mah ranahnya Tuhan.” Dirga ikut membela Aep.
“Ingat, statusmu sebagai Kharisma Jagat itu tidak pernah ada syarat, bahwa yang kau boleh tolong hanya orang yang kau anggap baik, orang jahat nggak boleh dibantu, ingat kau itu diberi keberkahan untuk orang-orang yang bermasalah dengan hal ghaib, titik, kau hanya bantu pecahkan kasusnya lalu sisanya Tuhan yang atur, kalau ayah tahu kau begini, bisa habis kau sama ayah, nolong orang kok pilih-pilih, besok kau maunya pasti nolong orang kaya aja.”
“Heh, sembarangan itu mulut, mana mungkin aku begitu!”
“Ya makanya, selesaikan tugasmu yang kali ini, berusaha saja dengan sungguh-sungguh, sisanya soal gagal dan berhasil, bukan kau yang tentukan, kau hanya berusaha menggunakan kemampuanmu sesuai pada tempatnya.”
“Ya, ya, bawel! Yasudah, Ga, yuk kita ke sana, aku perlu untuk menggali informasi lagi, sekalian bertemu dengan keluarganya Badrun dan wanita itu, kita kan belum tahu asal-usulnya.” Mulyana bangun dan hendak ganti baju.
“Yan, kita makan mi dulu boleh nggak?”
“Astaga, oh iya! Yaudah kita makan dulu.” Mulyana dan Dirga akhirnya makan mi dan es limun yang dua-duanya sudah dingin itu.
__ADS_1