Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 95 : Dia Lagi 5


__ADS_3

Agus dan Sugiarto Pemilik hajat Pesugian dan Penglaris sudah diamankan, mereka sudah ditangkap Polisi, tentu dengan bukti-bukti yang ada, Pak Dirga akan mengurusnya mengenai pasal yang akan dikenakan pada mereka berdua, tapi yang pasti, istri-istri Agus akan mendapatkan warisan secara merata, sehingga mereka akan tetap bisa bertahan hidup, mengenai ibu hamil, katanya dia akan merawat bayinya, Aditia fikir pasti karean harta warisan dari Agus dia berubah fikiran, dasar manusia.


Saat ini Hartino dan Ganding sedang mengamati rumah seseorang.


HENDARNO SI PELAKU PELET


Namanya Hendarno, biasa dipanggil Hendar, dia adalah seorang pemuda yang berwajah biasa saja, berperawakan tidak terlalu tinggi untuk ukuran lelaki, lulusan SMA dan hanya bekerja sebagai buruh pabrik.


Sudah menikah dengan Ratih, anak Pak Lurah, jelas pernikahan mereka pada awalnya ditentang oleh keluarga Ratih, mengingat banyaknya orang yang sudah meminang Ratih sebelumnya dengan jabatan tinggi pada instansi pemerintahan dan juga berwajah tampan, Ratih bilang ingin fokus pada kuliah dan bisnisnya.


Sedang Hendar adalah orang yang kagum pada Ratih, awalnya dia tahu diri, bahwa Ratih tidak mungkin dia dapatkan, tapi saat Ratih menjadi salah satu pemegang saham dari pabrik tekstil tempat dia bekerja, Hendar menjadi lupa diri, kebaikan Ratih yang dianggap adalah perlakukan istimewa, cara Ratih selalu menyapanya setiap bertemu, pernah makan siang pada satu meja yang sama di kantin pabrik dan keramahan-keramahan Ratih lainnya yang membuat dia salah paham.


Dia berfikir Ratih suka padanya, Ratih membuka pintu untuk hubungan lebih lanjut, akhirnya Hendar memberanikan diri melamar Ratih pada ayahnya, hari itu adalah hari paling kelam bagi Hendarno karena disadarkan oleh kenyataan.


“Saya dan orang tua ke sini bermaksud melama anak Bapak, Ratih.” Hendar secara terang-terangan mengatakan maksudnya, saat itu dia membawa dua orang tuanya ke rumah Pak Lurah dengan naik angkot, sungguh kepercayaan diri yang luar biasa.


“Kau Hendar kan? Salah satu buruh di pabrik yang Ratih dan temannya miliki itu?” Pak Lurah bertanya.


“Iya Pak, betul.” Hendar masih tersenyum seolah memang lamarannya akan diterima.


Pak Lurah tertawa terbahak-bahak, Hendar tidak dapat membaca apa arti tawa itu.


“Ratih, sini Nak.” Pak Lurah memanggil anaknya.


“Ya Pih, kenapa?” Ratih ke ruang tamu dan kaget begitu melihat Hendar, dia tidak sadar Hendar datang bersama dua orang tuanya.


“Hendar, ada apa? Apakah ada masalah di pabrik?” Padahal hari ini adalah hari libur, Ratih bingung, kenapa Hendar bisa ke rumahnya, dia takut terjadi sesuatu dengan pabrik.


“Ini loh Tih,” Pak Lurah masih tertawa terus, “ anak ini ke sini mau melamar kamu, ini makanya bawa dua orang tuanya, kamu yang suruh dia datang?”


“Hah! Enggak! Kamu udah gila Hendar! Saya nggak pernah nyuruh kamu datang untuk melamar, astaga Hendar! Kamu bikin saya malu!” Ratih benar-benar terkejut sampai melupakan etika sebagai seorang manusia, apalagi Hendar membawa orang tuanya.


“Tapi Bu Ratih, Ibu sangat baik terhadap saya, cuma sama saya, sama Buruh lain tidak, sama lelaki lain di kantor juga tidak, kita bahkan pernah makan siang bersama Bu, Ibu suka sama saya kan, Bu?”


“Heh, Hendar! Kamu nih kelewat pede atau gimana sih? Anak saya itu yang ngelamar semua Sarjana, Pengusaha dan Pegawai Negeri dengan jabatan tinggi, kamu cuma buruh, lulusan SMA, wajahmupun pas-pasan, tahu diri lah! Mana mungkin anak saya suka sama laki-laki model kamu! Mereka yang jauh lebih tampan dengan segudang prestasi saja dia tolak, apalagi kamu!” Pak Lurah kesal karena mendengar Hendar menuduh Ratih suka padanya.


“Hendar! Saya baik sama kamu, karena kita satu kampung, saya kenal orang tuamu, karena orang tuamu suka disuruh Papi untuk nukang di sini, ibumu pun pernah kami bayar untuk bantu masak, saya baik padamu seperti saya baik pada tukang kebun saya, supir saya dan semua pembantu saya! Soal makan siang bersama, itu karena tidak ada meja kosong yang tersisa, hanya meja di hadapanmu yang kosong, kita juga tidak makan berdua, kita makan beramai-ramai, karena itu meja panjang, kau ini sedang mimpi atau sedang berkhayal, aaku tidak pernah sedikitpun menaruh hati padamu, kedatanganmu ini membuatku malu!”


Ratih berdiri dan hendak pergi meninggalkan Hendar yang malu pada semua hinaan ini, terlebih kedua orang tuanya yang sebelumnya sudah memperingatkan bahwa Ratih tidak mungkin suka padanya, kedua orang tuanya sudah mencegah tapi Hendar tetap memaksa, walau ragu dan takut, kedua orang tuanya akhirnya setuju dan datang.


“Hei Ratih! Sombongnya dirimu! Sombong sekali kalian, uang membuat kalian menjadi jahat pada orang miskin seperti kami, aku memang salah karena salah paham, tapi jelas kau terlalu menghina aku dan keluargaku, maka aku berjanji, aku akan membuatmu menikah denganku dan tidak ada satu pun pria yang mau menikah denganmu!” Hendar pergi setelah mengatakan sumpah itu, orang tuanya dia geret keluar, sedang Ratih dan papinya tertawa, mencemooh sumpah Hendar.


“Nak, sudahlah, cari yang lebih sepadan denganmu, mereka bukan dari kalangan kita Nak.” Ibunya Hendar menasehati, mereka sedang menunggu angkot, bodoh sekali Hendar merasa dirinya sempat merasa di atas angin karena sedikit kebaikan Ratih, sudah sepercaya diri itu, untuk pulang saja dia naik angkot, sedang di rumah Ratih, berjejer mobil mewah beberapa unit, Hendar benar-benar merasa marah, terhadap Ratih, juga terhadap Tuhan, kenapa dia dihadapkan pada kenyataan seperti ini.

__ADS_1


“Aku akan membuat perempuan sombong itu bertekuk lutut di kakiku dan orang tuanya memohon padaku menikahi anaknya.” Hendar masih saja mengulang perkataan itu.


Waktu berlalu, Hendar masih bekerja di pabrik, walau dia sering di cemooh, entah bagaimana, cerita tentang Hendar yang datang melamar ke rumah Ratih itu tersebar dan menjadi olok-olokan bagi dirinya, dia bertahan terus sampai satu waktu, dia akhirnya pindah kerja, pindah ke tempat yang jauh lebih baik, sebagai kurir dari perusahaan batu bara.


Dia pindah pekerjaan setelah memastikan bahwa Ratih kena pengaruh pelet yang dia berikan pada makanan dari kantin, dia tahu makanan apa yang selalu dipesan Ratih, dia menaruh peletnya di makanan itu, karena pelet maupun santet selalu berhasil jika ditaruh di makanan.


Makanya berhati-hatilah atas makanan pemberian orang, apalagi makanan itu jelas dari orang yang tidak suka pada kita, kasus Hendar, Ratih tidak tahu kalau pelet itu sudah masuk ke tubuhnya.


Saat Hendar mengundurkan diri, Ratih mulai berubah, dia sering marah-marah, uring-uringan, malas datang ke kantor senang menghina orang dan yang terakhir, tidak suka mandi.


Akibat itu semua, dalam waktu enam bulan saja, Ratih menjadi gadis yang berbeda, dia tidak lagi cantik, wangi dan terlihat cerdas, dia menjadi gadis bau, berantakan dan bodoh, setiap kali dia bertemu orang, dia akan bertanya, apakah orang itu melihat Hendar dimana.


Orangtuanya akhirnya tahu, kalau Ratih sudah kena pelet Hendar, mereka tidak ingin meminta Hendar menikahi Ratih, mereka malah mendatangi dukun lain, sayang Alya jelas lebih hebat, tandingannya adalah Aditia, makanya Hendar menang.


Berbalik dengan keadaan Ratih, Hendar setelah menjadi kurir selama tiga bulan, dia akhirnya diangkat menjadi Marketing, kemampuannya menjual sungguh membuat perusahaan langsung menjadikannya anak emas, dia diangkat menjadi Supervisor hanya dalam waktu tiga bulan berikutnya, tentu, ada peran Alya dalam kenaikan jabatan ini.


Hendar menjadi lelaki yang jauh lebih rapih, wangi dan memakai mobil saat pergi kemana saja.


Tiba waktunya hampir satu tahun keadaan Ratih lebih parah lagi, dia menjadi gila, tidak ada satupun lelaki yang ingin menikah dengannya dan Ratih hanya selalu mengucapkan satu nama, HENDAR ... HENDAR ... dan HENDAR ....


Papinya sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, setelah mendengar keluarga Hendar yang menjadi lebih baik karena Hendar yang bekerja di perusahaan batu bara, akhirnya papinya Ratih memutuskan untuk datang ke rumah Hendar yang sudah berbeda, walau berdiri di tanah yang sama, tapi sudah menjadi megah, sulit dipercaya, hanya butuh waktu satu tahun, keadaan Hendar berubah.


Papinya Ratih datang bersama istrinya, saat dia datang, dia disambut dengan baik oleh orang tua Hendar, walau mereka dulu dihina, tapi orang tua Hendar tidak pernah dendam, mereka tetap hormat pada Pak Lurah.


“Oh iya Pak, boleh.” Lalu Hendar keluar setelah dipanggil oleh ibunya.


“Ada apa kalian kemari?” sungguh perlakuan yang tidak pernah disangka dari Hendar di rumah mewahnya.


“Nak Hendar, saya kemarin soal Ratih.”


“Ratih, siapa itu?”


Pak Lurah kaget karena Hendar pura-pura tidak kenal, padahal jelas, pasti Ratih menjadi gila karena pelet darinya.


“Kau tidak usah pura-pura tidak kenal anakku, kau dulu datang melamarnya, tapi kami menolak, sekarang anakku gila, pasti kau yang melakukan pelet padanya!” Pak Lurah menunjuk mukanya.


“Turunkan jarimu atau aku akan memanggil Polisi agar kau ditangkap karena berani mengganggu ketentraman di rumahku!” Hendar mengancam.


“Kau!” Pak Lurah akhirnya menurunkan jarinya dan duduk dengan tenang lagi.


“Kenapa kau sekarang kemari? Apa karena sudah tidak ada anak orang kaya, pemuda penuh prestasi dan tampan yang ingin bersama anakmu lagi?” tanya Hendar dengan menghina.


“Hendar, Ratih hanya ingin bersamamu.”

__ADS_1


“Tapi aku sudah tidak ingin bersamanya lagi.”


“Hendar! Kau sudah membuatnya menjadi gila, sekarang kau ingin meninggalkannya!”


“Aku tidak melakukan apapun, kau punya bukti?” tantang Hendar.


“Tapi dia hanya mengulang terus namamu!”


“Mungkin dia merasa bersalah karena mengusir pemuda tulus sepertiku.” Hendar semakin membusungkan dada di depan Pak Lurah, padahal dia yang membuat Ratih menjadi gila.


“A-aku ... aku mohon Hendar, tolong anakku, temui dia.” Pak Lurah akhirnya melontarkan kata yang tidak pernah dia ucapkan pada siapapun dalam hidupnya, karena dia dari keluarga terpandang, memohon hanya untuk orang lemah dan miskin.


"Aku sudah tidka menginginkannya, banyak wanita yang ingin bersamaku, lebih cantik dari Ratih yang dulu, lebih pintar dan tentu saja kaya."


"Aku tidak akan menyusahkanmu dengan mahar, mahar apapun asalkan kau menikah dengannya."


"Aku tidak berniat menikah dengannya, apalagi menyiapkan mahar." Hendar tertawa, ibunya Ratih melihat itu akhirnya tidak kuat dan keluar dari rumah Hendar, hatinya sakit, anaknya yang cantik dan cerdas itu direndahkan.


"Baiklah, bagaimana jika mahar aku yang siapkan, menikahlah dengan anakku."


"Hmm, termasuk biaya pernikahan dan satu lagi, aku akan menikahi perempuan yang aku sukai kelak dan aku tidak akan meminta izin pada Ratih ataupun kalian, kalau kalian setuju, mari kita atur pernikahannya."


"Astagfirullah, baiklah." Air mata jatuh secara spontan di pipi Pak Lurah, dia tidak menyangka betapa rendahnya harga diri Ratih di mata Hendar, tapi menyembuhkan Ratih adalah prioritasnya.


Pernikahan dilakukan dalam waktu singkat, tanpa perayaan, pernikahan seadanya yang tidak pernah Ratih ataupun keluarganya bayangkan.


Hendar bilang sayang uangnya kalau harus dihamburkan untuk pernikahan, sebagian uang pernikahan yang diberikan dari Pak Lurah kepada Hendar, diambil oleh Hendar, makanya pernikahan sederhana ini sungguh mengecewakan, padahal uang ya g diberikan Pak Lurah lebih dari cukup untuk merayakan pernikahan yang mewah.


Setelah menikah, keadaan Ratih berangsur baik, walau tidak secantik dan seterawat dulu, tapi aura kecantikannya tetap terpancar, Hendar sangat dingin pada Ratih, awalnya, setelah itu pernikahan berjalan seperti pada umumnya.


Ratih menjadi ibu rumah tangga, sudah setahun dia menikah dan dikaruniai seorang anak.


Pernikahannya sangat baik, dia tinggal bersama mertuanya, dia menantu yang sangat disayangi dan dimanja, suaminya juga tidak pernah mewujudkan perkatannya yang akan menikah lagi, Pak Lurah tenang, setahun anaknya terlihat bahagia, menantunya memang gila uang tapi menjadi suami dan ayah yang baik, maka cukup baginya.


"Tapi pelet tetep pelet Har." Ganding yang sedari tadi mendengar Hartino bercerita penyelidikannya protes karena arah Hartino bicara terakhir adalah betapa bahagianya mereka.


"Mereka punya anak Nding, Hendar juga baik sama Ratih, mereka bahagia."


"Har, uang haram, walau lu pake buat amal, statusnya tetap uang haram, amal lu dihitung tapi uang itu tetap haram, jangan memaklumkan kejahatan hanya karema tidak ada yang terbunuh!"


"Tanya Aditia aja."


"Nggak Har, tanya Kakak!" Ganding tahu, kalau Aditia pasti luluh, kalau Alka, tiada ampun.

__ADS_1


__ADS_2