Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 24 : Si Merah


__ADS_3

“Jadi, udah siap buat bertarung lagi?” Hartino bertanya.


Semua orang mengangguk dan terlihat bersemangat, sementara Alka hanya tersenyum, diam-diam dia mengamati Aditia dengan tatapan yang dalam.


Lima orang dengan kemampuan hebat ini akhirnya memiliki satu visi dalam hidupnya, yaitu, membantu ‘mereka’ yang tersesat untuk pulang dan membantu semua orang untuk lepas dari belenggu ghaib yang jahat, Aditia tidak sendiri lagi, dia sudah memiliki para pelindung yang tangguh, dia merasa bahagia, dia sangat bersyukur, ayahnya meninggalkan orang-orang hebat bersamanya.


Semua orang pamitan, seperti biasa, anak-anak orang kaya tersebut dijemput mobil mewah orang tuanya, sementara Aditia harus mengendarai kembali angkot ayahnya, saat berpamitan, Alka mengantar Aditia sampai ke angkotnya.


“Makasih ya, Ka.” Aditia berkata.


“Mau berapa kali sih bilang gitu, lagian ini bukannya karena aku saja, adik-adik yang lain juga berusaha untuk membantumu, kau harus banyak berterima kasih sama mereka, mereka tetap di sisi kita walau tahu, kita bukan orang normal.” Alka tersenyum.


“Kita dan adik-adik bukan orang normal semua, Ka.” Lalu mereka tertawa.


“Besok ketemu warung teteh ya, anak-anak aku kasih tahu nanti, ketemu di sana aja.”


“Nggak mau di jemput aja?” Aditya bertanya.


“Nggak usah, kelamaan.” Aditya lupa bahwa Alka memiliki kemampuan lain, dia bisa berpindah tempat dengan cepat.


“Ok, pulang ya.” Aditya kembali pamit.


Alka hanya mengangguk.


“Nggak takut sendirian di hutan gitu?”


“Mereka yang takut sama aku.” Alka menjawab asal saja.


“Mau aku cariin tempat yang …. “


“Lebih layak? Dit, aku lebih suka tempat sunyi begini, punya tetangga itu repot.


Aditya lupa bahwa, ayahnya bahkan telah puluhan tahun membujuk Alka untuk hidup normal, tapi Alka menolak, dia lebih suka menyendiri, dia takut kalau dia marah, bisa membuat celaka orang, seperti sebelumnya.



Pagi sekali kami bertemu di warung Teteh dekat kuburan, tempat pertama kali Aditya dan Alka bisa ngobrol. Jarni, Ganding dan Hartino datang, lagi-lagi dengan mobil mewah mereka, Alka memanggil mereka dengan sebutan adik-adik.


“Teh, kopi biasa, buat berempat ya.” Hartino berteriak memesan minuman untuk mereka, Aditya iri karena Hartino memesan tidak untuk dirinya, kebersamaan mereka, bahkan membuat saling tahu apa minuman kesukaan, sepertinya tempat ini sering dijadikan titik pertemuan.


“Jadi, ngapain nih kita?” Hartino bertanya.


“Dit, jelasin ke mereka.” Alka terlihat makan bakwan, dia hanya selalu makan jenis gorengan itu.


“Jadi, terakhir kan kita gagal ya bawa pulang tuh Setan Merah, makanya sekarang, aku sama Alka mau kita usaha lagi mulangin dia.”


“Siap Kak Alka, kita mesti gimana nih?” Ganding bertanya.


“Tanya ke Adit, dia kan ketuanya.”


“Hah?” Aditya tidak siap untuk menerima predikat tersebut.


“Ya, selama ini kamu kan selalu ngusahain pemulangan itu sendirian, jadi udah jagoan dong. sekarang waktunya mulai belajar kerjain bareng, bagi-bagi kerjaan.”


“Wah, biasanya kita diperintah Kak Alka, sekarang ada pemimpin baru, berarti pemimpin yang bayar makanan dan minuman hari ini ya.” Hartino menembak Aditya.


“Supir angkot masih aja dipalak!” Aditya keberatan.


“Dibecandain itu Aa’, warung ini punya Hartino.” Si Teteh memberikan kopi mereka dan mengatakannya.


“Ok, jadi begini, kita nggak mungkin menjemput ‘mereka’ itu secara paksa, akan terlalu beresiko seperti kemarin.”


“Betul tuh.” Ganding menimpali, sementara Jarni seperti biasa, hanya bermain dengan ular di tangannya dan mendengar dengan seksama.


“Jadi, kita harus ngapain?” Hartino bertanya.


“Selidiki dulu asal-usul si merah itu, baru kita cari cara terbaik membujuknya, berdasarkan pengalamanku, mereka punya masa lalu yang berat, akhirnya membuat mereka tertahan di dunia ini.”


“Ok, jadi kita harus mulai dari mana?” Hartino kembali bertanya.

__ADS_1


“Hartino bantu kita dengan menyelidiki melalui website, Jarni dan Ganding coba selidiki dulu pemilik gedung, kontraktor, pokoknya semua yang berhubungan dengan gedung itu.”


“Har, cari di deep web aja, biar ketahuan tuh urband legend muncul dari mana, jangan cari di web standar.” Alka menambahkan.


“Wah, Alka tahu soal deep dark web?” Aditya terlihat kagum.


“Wah, kamu fikir kakak kami ini gaptek gara-gara rumahnya di gua dalam hutan?” Hartino membuat Aditya malu, karena meremehkan Alka.


“Har! Jangan bercanda, dah, kita mulai ya.”


“Lah terus, kalian berdua ngapain?” Hartino meledek lagi.


“Kami akan ke gedung itu lagi.”


“Berdua aja?” Ganding bertanya.


“Iya.” Aditya menjawab.


“Hati-hati orang ketiga setan loh.”


“Salah kamu, yang ketiga, keempat, kelima, setan semua, kan di gedung itu nggak cuma satu jenis.” Mereka semua tertawa, seolah mengolok setan membuat mereka senang.



Jarni dan Ganding mendapatkan informasi dari mantan pengelola gedung miring itu, tempat di mana Si Merah itu bersaramg, sebenarnya dia sudah ada ketika gedung itu belum dibangun, sebelumnya gedung itu tentu hanya lahan kosong.


Tapi bukan kuburan seperti rumor yang beredar, hanya tanah lapang yang tidak dibangun pemukiman karena ada perkebunan, walau akhirnya perkebunan itu tidak subur, bergantilah menjadi tanah lapang yang luas.


Lalu pemiliknya berganti, pemilik baru memutuskan untuk dibangun menara, sekarang orang selalu bilang itu adalah menara miring karena bentuknya yang memang terlihat miring, bukan disengaja tapi murni karena pembangunan yang salah.


Saat awal dibangun, narasumber inilah yang mengurus semuanya, mulai dari kontraktor sampai management.


Namanya Pak Abdul,  umurnya hampir menginjak tujuh puluh tahun, tapi ingatannya sangat bagus.


"Untung bapak mau angkat telepon dari kita." Ganding basa-basi.


"Saya juga kaget, masih ada yang bisa menemukan nomor telepon saya."


"Itu juga susah Pak dapetnya, seperti yang saya bilang di telepon Pak, kami mau tahu asal usul wanita berbaju merah itu, kalau dari sepengetahuan Bapak.”


“Sudah lama sekali ya, sudah sekitar 30 atau 40 tahun lalu, saat saya mulai mencari investor menggarap tanah itu.”


Pak Abdul menerawang jauh, rumahnya sungguh asri, walau agak jauh dari kota, tapi sangat besar, dia memiliki perkebunan jagung yang cukup subur.


Saat ini sudah pukul 5 sore, sulit mencari alamatnya, makanya Jarni dan Ganding kesorean.


“Ada kesulitan Pak, ketika akan membangun gedung itu?” Ganding bertanya.


“Sebelum itu, boleh saya tahu, kenapa kalian begitu tertarik dengan gedung itu?” Hal yang sebenarnya wajar ditanyakan oleh Pak Abdul, karena tiba-tiba dia dihubungi terkait gedung itu.


“Begini Pak, orang tua kami tertarik dengan gedung itu, tapi karena banyak rumor tentang keangkerannya, jujur, keluarga kami akhirnya mundur, saya sih, lebih tertarik dengan sensasi horornya, daripada ditutup, mening dibangung untuk wahan horor saja Pak, pasti laku dan menjanjikan profit yang tinggi.” Ganding mengarang cerita, Jarni tersenyum karna tidak bisa tertawa.


“Kalau begitu, sebaiknya, urungkan rencana kalian” Bersamaan dengan perkataan Pak Abdul itu, angin tiba-tiba kencang hingga membuat pintu rumah itu tertutup dengan kencang, Pak Abdul terlihat mengelus dada.


“Mereka masih menghantui saya.” Pak Abdul akhirnya sedikit tenang dan berbicara.


Jarni dan Ganding terlihat tidak suka, mereka melihat beberapa makhluk itu mendekati rumah, Jarni keluar dan mengeluarkan bisa ular dari tangannya, bisa itu membuat bau mereka tersamarkan, banyak dari makhluk itu tidak suka bau mereka, ada juga yang suka, tapi biasanya yang suka karena berusaha memanfaatkan untuk sesuatu yang tidak baik.


“Apa yang terjadi Pak? kenapa mereka mengejar Bapak?” Ganding bertanya.


“Kau melihat mereka?” Pak Abdul kaget karena akhirnya ada orang yang mungkin bisa percaya apa yang dia lihat dan rasakan.


“Maksud Bapak, mereka yang sedang menuju ke sini?” Ganding sedikit menyombongkan diri.


“Kalian benar melihat mereka juga?”


“Untuk saat ini Bapak bisa tenang, karna bisa ular yang Jarni sebar itu, menyamarkan bau kita, jadi kita bisa tenang saat ini.”


“Baik, sepertinya saya bisa percaya kalian, saya akan menceritakannya dari awal gedung itu masih menjadi lahan kosong.”

__ADS_1


Tahun 1993


Pak Abdul mengusahakan agar proyek pembangunan bergaya arsitektur Eropa itu segera berhasil, dia melobi para pemilik tanah agar bersedia menjual tanahnya, karena saat ini kontraktor dengan nama besar sudah setuju untuk membangun gedung tinggi, gedung tinggi pertama di daerah itu saat ini, rencananya gedung itu akan dibangun 20 lantai, gedung tertinggi pertama di kawasan tersebut.


“Ayolah Pak Roni, bantu saya, sebagai ketua Lurah, Bapak pasti bisa mendesak mereka untuk menjual tanahnya, bukankah harganya sudah sesuai? Dan juga seperti perjanjian kita Pak Roni, 20 persen permeternya, bukankah itu cukup untuk membangun beberapa rumah di kampung istri Bapak?” Pak Abdul kembali membujuk Lurah Roni untuk memaksa warganya bersedia menjual tanah tersebut.


“Begini Pak, 6 orang orang ini adalah satu keluarga besar yang sulit dibujuk, mereka orang kaya tidak terpengaruh dengan jumlah yang kalian tawarkan.” Pak Roni mengeluh, dia masih tidak mampu membujuk keluarga Mardiah untuk menjual tanah mereka.


“Bisa pertemukan saya dengan mereka Pak? saya akan mencoba berbicara.” Pak Abdul yakin, jika dia bisa membujuk keluarga Mardiah.


“Baik, saya akan menyuruh anak buah saya membuat janji dengan mereka, begitu sudah dapat, saya  akan kabari Pak Abdul segera.”


“Baik Pak, saya tunggu ya.”


Lalu Pak Abdul pergi dari rumah Pak Lurah, dia benar-benar harus segera melancarkan proses proyek ini, karena dana yang dikeluarkan oleh pemilik, tidak tanggung-tanggung, puluhan Milyar sungguh proyek yang tidak lepsa begitu saja.



Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya keluarga Pak Mardiah setuju untuk bertemu.


Pak Abdul dan Pak Roni bertemu di rumah Pak Mardiah.


Saat masuk ke rumah itu, seluruh keluarga Pak Mardiah hadir.


Saat itu usia Pak Mrdiah sudah 60 tahun lebih, anak-anaknya yang berjumlah 5 orang yang kesemuanya laki-laki itu, sudah menikah semua, mereka akhirnya membangun rumah berdampingan, sementara Pak Mardiah dan istrinya tinggal di rumah anak terakhir.


“Jadi maksud tujuan kami ke sini adalah untuk membicarakan tanah itu Pak Mardiah, saya langsung membawa Pak Abdul, beliau adalah orang yang menjadi perantara antara calon pemilik gedung dan juga kontraktor, beliau bisa dibilang tim sukses dari pembangunan gedung tinggi pertama di kawasan ini.” Pak Roni membuka pembicaraan.


Mereka duduk di ruang tengah rumah anak terakhir Pak Mardiah, rumahnya besar dan terlihat mewah, pada tahun ini rumah dengan perabotan mewah adalah hal yang jarang.


“Pak Roni bukannya sudah tahu, bahwa tanah itu bukan tanah kami, tanah itu tanah leluhur, di mana tanah itu tidak diperkenankan oleh leluhur kami untuk dijual.” Pak Mardiah berkata dengan santun tapi langsung pada intinya.


“Tapi Pak, sayang tanah itu kosong terbengkalai begitu saja. Kita bisa memanfaatkannya, kita bisa membuka lapangan kerja bagi banyak orang, pertama karena pembangunan gedung tinggi itu, kedua karena kantor-kantor yang akan mengisi ruang-ruang di gedung itu. Bukankah ini hal yang baik? Leluhur Bapak pasti senang jika kita melakukan hal baik itu.”


“Kalian adalah anak-anak muda yang tidak mengerti akan pesan leluhur. Kalian tidak tahu, bahwa akan ada malapetaka bagi mereka yang melanggar perjanjian.”


Pak Abdul sedikit kaget dengan kata-kata itu.


“Tapi Pak, di jaman seperti sekarang, tekhnologi sudah mulai maju, bahkan katanya beberapa tahun ke depan, kita bisa berkomunikasi melalui telepon dengan ukuran yang kecil di mana saja, masa bapak masih percaya takhayul seperti itu.”


Brak! Pak Mardiah mengebrak meja yang ada di tengah mereka, matanya tajam menatap Pak Abdul.


“Kau tidak akan pernah mengerti, betapa menakutkannya mereka, itu sebabnya, tanah itu tidak pernah berani dibangun rumah oleh kami, tidakkah kalian menyadarinya? Tanah seluas itu, tapi kami pemiliknya turun temurun tidak satupun membangun rumah di sana.” Pak Mardiah terlihat lebih kasar.


“Maksud Bapak saya adalah, tanah itu tidak seharusnya dibangun, tanah itu terlalu berbahaya kalau dijadikan gedung dengan jumlah pekerja yang banyak, kalian akan menyesal kelak, makanya kami patuh ketika tanah warisan itu, hanya dijadikan lahan kosong, bahkan jika ingin menanam di sana saja, tanah itu tidak akan membuat tanaman apapun tumbuh.” Anak pertama Pak Mardiah berkata.


“Pak, ini proyek besar, kalau saya tawarkan angka yang lebih besar, apakah bapak bersedia?” Pak Abdul mengimingi mereka dengan hal yang biasanya manusia suka, uang.


“Berapapun yang kalian tawarkan, kami akan menolak, ingat itu baik-baik.” Pak Mardiah lalu pergi meninggalkan tamunya.


Pak Abdul dan Pak Roni pulang dengan tangan kosong, tapi apakah mereka menyerah? Tentu saja tidak.


Karena sebulan setelahnya, Pak Mardiah meninggal dunia, 3 hari setelah kematiannya, anak pertama Pak Mardiah menghubungi Pak Roni, lalu terjadilah kesepakatan jual beli yang disetujui ahli waris yang berjumlah 5 orang itu.


Jelas, bahwa mereka tidak mempertahankan tradisi seperti amanah yang bapaknya ucapkan sebelum kematian, uang membuat mereka lupa, lupa tentang malapetaka tanah itu.


Proyek pembangunan segera dilaksanakan, Pak Abdul seketika menjadi orang yang kaya raya karena proyek besar itu, tapi pembangunan gedung memakan waktu sekitar 2 tahun, lebih lama dari yang diperkirakan, menurut rencana, pembangunan gedung itu seharusnya rampung dalam waktu satu tahun, tapi karena begitu banyak hal yang janggal, maka pembangunan itu harus terhenti beberapa kali.


Beberapa kejanggalannya adalah, banyak pekerja pembangunan yang tiba-tiba sakit, tiba-tiba tertimpa alat berat, tiba-tiba kecelakaan sebelum bekerja. Rangkaian kejadian itu akhirnya membuat Pak Abdul mengusulkan mengadakan ritual, walau saat tahun itu dia adalah anak muda modern, tapi kejadian-kejadian seputar pembangunan, tak ayal mengikir kemodernan yang dia anut.


Karena pada satu kali dia pernah mengalaminya, saat sedang berada di lokasi, saat itu dia memang bertanggung jawab penuh masalah pekerja pembangunan, dia melihat tiba-tiba pekerja yang sedang bekerja jatuh bersamaan, lalu seperti ditindih sesuatu dan tidak bisa bangkit lagi sambil memegang perut mereka, dia berlari mendekati para pegawai yang jatuh itu, tapi saat dia mencoba membangunkan salah satunya, dia bahkan tidak mampu menarik karena sangat berat, para pekerja tersebut akhirnya pingsan, setelah sebelumnya muntah darah terlebih dahulu.


Kejadian itu membuat Pak Abdul segera berinisiatif memanggil dukun ternama di daerahnya untuk membuat ritual, dia merasa bahwa ini langkah terbaik, agar mereka bisa berdampingan, tapi dia tidak tahu, bahwa makhluk yang mereka ajak berdampingan adalah makhluk yang sangat jahat.


_______________________


Catatan Penulis :


Yang mau tahu kisah selanjutnya soal Pak Abdul dan menara miring, jangan lupa ikutin lanjutan kisahnya ya, untuk tema gedung miring ini, aku akan buat beberapa part.

__ADS_1


Terima kasih, jangan lupa vote.


__ADS_2