
“Kau suka bermain congklak?” Tanya seorang wanita dengan pakaian aneh, dia bertanya pada seorang anak yang berumur 8 tahun. Bermain congklak sendirian.
“Ya, aku suka main congklak, tapi ibu sama ayah nggak suka.”
“Kenapa, kok nggak suka?”
“Nggak tahu, ibu sama ayah sukanya berkelahi, aku nggak suka ibu dan ayah selalu berkelahi, aku sukanya main congklak.”
“Kalau begitu, mau kutemani, main congklak?”
“Memang boleh?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu temani aku, ayo kita bermain.” Anak itu sangat suka mendapatkan teman bermain yang baik, walau pakaiannya aneh dan wajahnya berbeda, tapi tidak masalah, yang penting dia suka main congklak, itulah yang ada dalam pikiran anak perempuan itu.
“Nak, ayo masuk, sudah magrib.” Ibu dari anak itu memanggil, sedang anaknya, masih sibuk bermain di halaman.
“Nanti Bu, aku main dulu.” Anak perempuan itu menolak ibunya, dia memperhatikan wanita yang menemaninya bermain, karena dia sedang giliran jalan saat ini.
“Nggak, udah magrib, nggak boleh main di luar.” Ibunya mendekati anaknya dan hendak menariknya masuk.
“Besok main lagi ya.” Anak itu berkata, sedang ibunya bingung.
“Kamu ngomong sama siapa?”
“Sama ....” Anak itu terlihat bingung, karena wanita itu tiba-tiba hilang, sedang sebelum dia menengok ke arah ibunya, wanita itu, yang menemaninya main masih ada.
“Siapa?”
“Temen mainku.”
__ADS_1
“Iya, siapa? ibu nggak lihat siapa-siapa.”
“Ada kok Bu, tapi mungkin dia sudah pulang. Kan ibu suruh aku masuk tadi, makanya dia pulang.”
“Siapa?” Ibunya mulai naik pitam.
“Namanya ... Rajima.”
Ibunya terdiam, nama yang cukup familiar, tapi entahlah pernah dengar di mana.
“Udah masuk yuk, nanti keburu magrib, masuk sekarang.” Ibunya memaksa anak itu masuk.
“Sejak saat itu, Rajima menempel padaku, tidak pernah melepaskanku sama sekali.” Ibunya Kemala sedang menceritakan kisah lalu, saat dia pertama kali melihat Rajima. Ketika itu, dia masih berusia 8 tahun.
Kawanan membawa ibunya Kemala ke markas ghaib, karena tidak ingin dilihat oleh siapapun setelah menjemput ibunya Kemala di tempat yang dia tentukan sebelumnya, tentu pembicaraan ini tanpa Kemala.
“Ketika itu, apakah para suamimu meninggal?”
“Lebih parah, pernikahanku selalu batal, terhitung, sudah lima kali aku gagal menikah, saat itu, umur 20an belum menikah itu, suatu aib, dibilang perawan tua, ditambah, sudah lima orang pria meninggal dunia karena hendak menikahiku. Satu atau dua orang bisa dikatakan kebetulan, tapi ... jika sampai lima kali, maka tak heran, jika aku dijuluki si calon pengantin pencabut nyawa.
“Lalu, bagaimana lahir Kemala?” Aditia bertanya.
“Aku pergi ke orang pintar, dia dukun termasyur di kota kami, setiap dukun yang aku datangi, mereka selalu gemetar, ketakutan dan tidak mau membantuku, hingga suatu hari, aku bertemu seorang wanita tua, dia menghampiriku, itu adalah waktuku yang sangat berat, aku hendak bunuh diri di suatu jembatan karena tidak kuat, tidak kuat dengan takdir aneh itu.
Nenek tua itu berpakaian lusuh seperti pengemis, menggunakan tongkat dari batang pohon yang ditebang sendiri sepertinya, dia mencegahku bunuh diri, dia berkata seperti ini.
Di bawah jembatan, tempat aku hendak bunuh diri itu, ada sebuah tusuk konde berbentuk bunga anggrek bulan yang terkubur di bawah jembatan, di dalam air sungai yang mengalir, tusuk konde membuat air yang ada di atasnya menjadi sangat beracun bagi pasangan yang hendak menikah, mitosnya, jembatan itu membuat siapa saja yang melewatinya, akan kesulitan untuk mengikatkan jodoh masing-masing jika dilewati oleh sepasang kekasih atau suami istri. Yang belum menikah akan putus, yang sudah menikah akan cerai.
Aku mendengarkan kisah itu dengan seksama, nenek itu berkisah kembali, katanya ....
Kalau aku ingin menikah dan berkeluarga, maka aku harus mandi di bawah sungai itu, bertelanjang, setelah itu aku harus langsung berhubungan intim dengan seorang pria agar tubuhku tidak suci lagi.
__ADS_1
Tentu aku menolak, karena aku merasa nenek tua ini orang gila, tapi dia bahkan tahu, kalau aku sudah gagal menikah selama lima kali, dia bilang, ada Rajima dalam tubuhku tanpa kau sadari telah mengizinkannya masuk ke dalam tubuhku saat kecil dulu, aku tidak tahu, bahwa kesediaanku untuk bermain congklak dengannya, dijadikan penerimaan perjanjian agar dia bisa menempel terus pada tubuhku dan membuat kutukan raja yang dikenakan terhadapnya, menimpaku juga.
Maka akhirnya aku percaya, pada suatu malam, aku meminta temanku untuk melakukan ritual itu, mandi di sungati yang terkubur tusuk konde itu, dengan keadaan tanpa benang sehelai pun, lallu temanku ... dia ... kuizinkan menodaiku, kami melakukannya di semak-semak, hanya agar kesucianku terenggut dan membuat Rajima jijik dengan tubuhku.
Setelah ritual itu berhasil aku lakukan, kami berpisah, aku tidak menyangka, bahwa hubungan intim yang kami lakukan, malah membuahkan benih di dalam rahimku.” Ibunya Kemala menangis, berat untuknya mengingat kejadian itu, saat itu, rasanya ingin mati, ibu dan ayah telah tiada karena menanggung malu, sedang dia tak memiliki siapapun untuk bersandar, ditambah seorang anak di rahim. Sungguh memilukan nasib ibunya Kemala,
“Lalu? Kemala lahir, aku menitipkannya di panti asuhan, niatku, hanya sampai keadaan mentalku pulih kembali dan juga soal keuangan, karena setelah Rajima keluar dari tubuhku, entah kenapa, kekayaan keluargaku habis tak tersisa, aku miskin dan tidak berpendidikan cukup untuk melamar pekerjaan yang layak, memiliki bayi, sungguh tidak mungkin dapat aku lakukan, pasti bayi itu akan menderita.
Tapi, aku memang ibu yang jahat. Setelah melahirkan, aku bekerja sebagai pelayan restoran, aku bekerja dengan tekun, karena inginku cuma satu, mengambil kembali Kemala ke dalam pangkuanku, tapi ... tapi ... lalu pemuda itu datang, dia sangat tampan dan kaya raya, aku tidak menyangka pemuda itu meminangku setelah tidak sengaja pertemuan kami di restoran tempatku bekerja itu, dia kebetulan makan siang di restoran itu dan melihatku, katanya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kami berpacaran hanya tiga bulan saja, dipertemukan dengan orang tuanya yang sangat berwibawa, membuatku takut, takut kalau aku jujur, bahwa aku memiliki Kemala, mereka pasti menendangku jauh dari anaknya, karena mereka keluarga tersohor, orang yang sangat terhormat, mana mungkin mau bermenantukan seorang wanita yang tidak baik, wanita murahan yang percaya ritual itu hingga hamil dan menelantarkan anaknya.
Aku diam soal Kemala, membiarkannya di panti asuhan itu, tapi ... aku tidak putus memberikan uang untuk panti asuhan itu melalui orang lain, aku tidak ingin meninggalkan jejak, tidak boleh ada yang tahu masa laluku, pernikahanku dengan lelaki itu berjalan mulus, persis seperti yang nenek itu bilang, bahwa aku akan bisa menikah dan memiliki keluarga yang utuh serta kaya raya, hanya jika melakukan ritual itu, aku menjadi wanita terhormat, memilik suami tampan kaya raya dan anak yang baik-baik.
Soal Kemala, aku tidak pernah tahu hidupnya, karena memang tidak aku biarkan apapun merusak kebahagiaanku, tapi aku tetap bertanggung jawab untuk memberikan uang pada panti asuhan itu, aku tidak tahu, kalau Rajima mengincar Kemala setelah lepas dari tubuhku.”
“Jin itu berhasil membuat anak manusia terperangkap dalam dosa berzinah.” Ganding kesal mendengar itu. Mengingat kisah Hartino yang susah payah menikahi Alisha hanya agar tidak berzinah, karena kami menyelesaikan masalah tetap dengan koridor pasti, yaitu perintah Tuhan.
Sedang ibunya Kemala sendirian, bertemu dengan entah siapa nenek itu dan menjalankan ritual yang salah, jikapun ritual itu benar adanya, tapi selalu ada jalan lain, seperti Hartino menemukan jalan pernikahan dulu baru membuat Alisha tidak suci lagi, dia menghindari zinah.
“Lalu apakah, neneknya Kemala tidak dirasuki Rajima? Bukankah Rajima bilang kalau seluruh nenek moyang Kemala adalah sekutunya?” Aditia bertanya lagi.
“Entah, bukankah aku sudah bilang, bahwa ibuku meninggal karena sakit akibat malu memiliki anak sepertiku, si pembawa kematian, sedang ayahku menyusulnya kemudian, aku tidak tahu tentang ibuku, dia hanya pernah merasa mendengar nama Rajima, tapi entah di mana dan kapan.”
“Dit, kemungkinan air itu sungai itu memang memiliki khasiat melemahkan Rajima, makanya nenek itu tahu dan membuat ibunya Kemala mandi di air sungai itu, agar Rajima lemah, di antar waktu Rajima bisa kembali kuat lagi itu, ibunya Kemala memiliki waktu untuk membuat tubuhnya tidak suci lagi, nenek itu tahu hal yang melemahkan Rajima dan memberi jalan keluar, walau itu bukan jalan yang baik dan sangat kotor. Menyesatkan pula! Tapi dia tahu, Rajima lemah jika terkena air sungai itu, kemungkinan lain, jembatan itu juga melemahkan Rajima, hingga tidak sadar saat nenek itu memberi nasehat pada ibunya Kemala untuk ritual mandi dan berhubungan intim itu.”
“Nding, aku setuju, kita tahu bahwa tusuk konde anggrek bulan itu adalah penyebab kematian raja, maka bisa jadi kutukan menempel pada tusuk konde itu dan membuat air sungainya menjadi menyerang Rajima karena pengaruh kutukan itu, radius serangannya pada Rajima kemungkinan membuat jembatan itu juga terkena imbasnya, lalu muncul mitos itu, tentang pasangan yang akhirnya terpisah.”
“Apa kita akan menggunakan cara yang sama juga? menggunakan cara kotor itu?” Alisha bertanya, Alka memukul kepala Alisha, kesal karena ada pemikiran semacam itu.
“Tidak, kita sudah dapat cluenya kan, bahwa sungai itu melemahkan Rajima,” Alka bertanya.
__ADS_1
Semua mengangguk.
Maka ritualnya bisa kita lakukan, yang pasti, bukan ritual kotor itu.