Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 40 : Mess 8


__ADS_3

Alka bersiap membuat Kajiman keluar dari persembunyiannya, dia memgeluarkan cambuk, menyabet cambuknya ke lantai. Seketika suara gemuruh membuat semua yang ada disitu menutup kuping, karena suara dari cambuk Alka menakutkan.


Beberapa orang di luar merasa terkesima dengan kemampuan Alka.


Saat menunggu ada sesosok anak kecil berlari, dari kamar ke ruang tanu, tempat Alka dan kawan-kawannya berada.


Ruang tamu yang masih dengan karpet pengajian.


"Kakak, sakit." Kajiman menyamar menjadi Akbar, suaranya persis seperti Akbar. Yang lain bersiap menangkapnya, tentu tidak akan terkecoh dengan penampilan anak kecil itu.


Ganding berlari hendak menangkapnya, saat ganding hendak menangkapnya, Kajiman berubah menjadi istri Pak Ari, beberapa detik kemudia berubah lagi menjadi Pak Ari. Dia menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan.


Siapapun yang mendengarnya pasti merasa ngeri dengan suara aneh itu.


Ganding masih memeluk Kajiman yang terus berubah wujud, saat dia hendak menarik tubuhnya mendekati Alka, kajiman memegang leher Ganding dan mengangkatnya ke atas.


"Anak kecil, mau main sama aku?" Ganding memegang lehernya, panas dan sesak.


Alka berlari sambil menyabet-nyabet cambiknya dia menyabet tubuh Kajiman, satu kali tidak berefek apapun, dua tiga kali akhirnya Kajiman melepas cekikannya dan berubah wujud menjadi Jarni, Jarni berhadapan dengan perwujudan dirinya. Dia sempat lengah dan terkejut, hampir saja lehernya kena seperti Ganding, tapu Alka berhasil menyabet Tangan Kajiman, dia berubah lagi menjadi Hartino, Hartino tertawa karena merasa melihat dirinya sendiri.


"Har!" Aditia memperingatkan.


"Sorry." Hartino berlari dan memegang perwujudan dirinya, Jarni melepas ular-ular ghaib kecil dari kedua tangan, untuk menyerang Kajiman. Tapi gagal, ularnya lemas dan kembali lagi.


[Bahkan untuk ular-ularku bau busukmu tidak tertahankan.] Jarni berkata dalam hati.


Alka masih terus mencoba mendekati Kajiman. Sambil terus tidak putus asa terus menyabet-nyabet cambuknya


Kajiman tertawa dan berteriak, dia meledek lima sekawan. Benar bahwa dia musuh yang tangguh.


"Ka, ijinin gue keluar!" Aditia berteriak, Alka mengabaikan.


Semua berusaha terus mengejar setan licin ini, walau rumah ini tidak terlalu luas, berlari berputar mengelilingi rumah ini membuat mereka kehabisan energi.


Aditia kesal setelah satu jam cuma berputar di rumah ini. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar, Ganding melihat itu memaksa Aditia masuk lagi.

__ADS_1


"Mau sampai kapan mereka begitu?!" Aditia kesal karena disuruh mundur oleh Ganding.


"Gue ambil buku Bapak ya, lu tunggu sini, bantu kita cari solusi dari buku bapak, ngerti?!" Aditia mengangguk mendengar Ganding berteriak.


Setelah mengambil buku Pak Mulyana di angkot Ganding berlari dan memberi buku itu pada Aditia.


"Cari yang cepet, gue takut Alka kalap, itu lebih bahaya dibanding Kajiman. Gue nggak mau mereka melihat bentuk Jin Alka." Ganding berkata dengan pelan.


"Hah? wujud Jin Alka?"


"Udah cepet jangan banyak mikir." Ganding ikut bergabung hendak menangkapn Kajiman, sementara Aditia membuka lembar yang dia fikir belum baca utuh, pada menit ke lima bas dia menemukannya.


Mengambil keris lalu Aditia merobek telapak tangannya dan membiarkan darahnya bercucuran di keris itu.


Berlari dan meminta Alka menahan Kajiman, semua bersiap, Kajiman tertangkap, dia jatuh, Aditia lalu berlari hendak menusuk jantungnya dengan keris itu.


Saat sudah hampir kena, Kajiman menahan tangan Aditia dan membalik tangannya hingga perut Aditia tertusuk kerisnya sendiri.


Tidak hilang akal, di detik yang sama Aditia membasuh wajah Kajiman dengan darah wangi dan panasnya itu, Kajiman berteriak, kali ini dia terlihat kesakitan, walau dia tidak akan mati dengan cara seperti itu tapi setidaknya dia menjadi lemah.


Alka melihat itu tiba-tiba berteriak karena murka, lalu dia melempar cambuknya, tubuhnya melayang, matanya menyala terang


Jarni berlari ke arah jendela rumah, dia menutup tirai dan mengunci pintu. Dia tidak ingin mereka melihat wujud jin Alka.


Saat tubuh Alka melayang, seliruh bajunya terlucuti, badannya berganti menjadi sisik, telinganya menghilang, matanya putih sempurna tanpa kelopak, rambutnya tergerai berwarna putih, wajahnya menjadi sangat putih dan pucat, alisnya menonjol dan berwarna senada seperti rambutnya, matanya begitu dalam selaras dengan hidungnya yang begitu mancung.


Taringnua terlihat lebih tajam dan menonjol dibanding gigi lainnya, tangannya begitu putih, kuku menjadi panjang dan runcing, dia tidak mengenakan baju lagi karena bajunya adalah sisik tebal berwrna hijau.


Setelah berubah sepenuhnya, dia turun Aditia masih memegang wajah Kajiman menahannya untuk tidak kabur.


Saat Alka mendekat, Aditia mundur, dia terkejut dan sulit mengenali Alka, dia jauh lebih berbeda.


Alka menarik tubuh Kajiman dengan satu tangannya, dia lalu menancap kuku pada seluruh tubuh Kajiman.


Kajiman histeris karena dia ketakutan, tidak pernah melihat rupa jin semenakutkan ini.

__ADS_1


Dia juga kesakitan dan lemas karena serangan membabi buta dari Alka. Aditia dipapah Ganding dan Hartino sementara Jarni berada di belakang Alka mengawasi, dia tidak takut Alka kenapa-kenapa, dia takut Alka memhunub Kajiman karena murka.


Lalu saat Alka hendak mencabut jantung ruh Kajiman, Jarni memegang tangan Alka agar dia berhenti, tapi Alka sudah tidak sadar hingga melempar Jarni jauh.


"Nding cepet!" Hartino memberi kode agar mereka berdua menghalangi Alka membunuh Kajiman karena ini akan fatal.


Tapi saat mereka mendekat, Alka kembali melempar keduanya bahkan tanpa tersentuh.


Alka menggila saat melihat Aditia ditusuk.


Melihat seluruh rekannya tumbang dan Kajiman sekarat, Aditia yang kesakitan memaksa mendekati Alka, dengan satu gerakan Aditia menubruk tubuh Alka dan memeluknya dengan erat lalu berkata sambil memaksa Alka melihatnya dengan menahan wajah Alka untuk bisa melihatnya.


"Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja." Perlahan tatapan tajam Alka berubah menjadi jauh lebih lembut.


Kajiman langsung diringkus oleh yang lain, tubuhnya diikat dengan kain kafan, penanda bahwa sukma jahat ini harus dirantai.


Mereka tidak bisa mengembalikan kepada Tuhannya karena dia sudah ditolak bumi, perbuatan kejinya semasa hidup merusak sulmanya dengan sempurna dalam artian negativ.


Jadi dia harus diikat dengan kain kafan lalu nanti dikubur di sebuah sumur keramat di tengah gunung, tentu dengan dimensi yang berbeda.


Hanya ini satu-satunya solusi agar Kajiman tidak mengganggu dan menipu manusia lagi.


Padahal dia sering menjadi alat iblis untukenggiring manusia menjadi jahil atau bodoh.


Takut bukan pada Tuhan tapi pada makhluk.


Alka masih dalam pelukan Aditia dengan wijud jinnya, Jarni buru-buru mengambil handuk dari belakang dan meminta Aditia melepas Alka, karena kalau tubuh manusianya kembali, maka dia akan tanpa busana.


Ganding dan Hartino berangkat berdua saja untuk mengubur Kajiman, Alka akan menyetir angkot untuk mengantar Aditia ke rumah skait, sementara Jarni ikut Alka.


Pantas Jarni begitu dekat dengan Alka ternyata khodam yang mengukuti Jarni sejenis denga Alka, karena Alka tidak memiliki khodam, dia berdiri sendiri karena memang keturunan jin dan manusia.


Aditia memegang tangan Alka yang menyetir dengan gemetar.


"Aku baik-baik saja, kerisku tidak setajam itu untuk manusia, tidak terlalu dalam."

__ADS_1


Alka menghapus air matanya dengan kasar dan menyetir juga dengan kasar.


__ADS_2