Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 182 : Hotel 10


__ADS_3

"Kau benar-benar akan biarkan anakmu mati di sana?" Aditia tahu Alka sudah tidak fokus, dia takut Alka malah akan melakukan kesalah, baru saja di dapat maaf dari Ayi Mahogra, kalau sampai melakukan salah lagi, bisa jadi kali ini Alka akan celaka dan Ayi akan bertindak lebih keras.


"Kau tahu, bahwa anakmu saat ini sedang sakit kan?" Ganding berkata. Dia punya trik yang lain.


"Apa maksudmu?"


"Terlalu lama kau ragu, maka mungkin dia akan menderita semakin lama. Bukankah kalian punya penyakit yang sama? kelainan jantung?" Ganding berkata.


"Tidak! Maya tidak sakit sepertiku!"


"Apakah hubungan kalian merenggang sampai kau tidak tahu anakmu sakit?" Ganding semakin menabur bumbu di dalam hidangan yang panas ini.


Haryadi terdiam, dia dan semua anaknya memang tidak terlalu sering bertemu, mereka sibuk dengan urusan masing-masing, Hariyadi tidak tahu bahwa putrinya sedang sakit.


"Tanyakan Dokter keluargamu sekarang, apakah benar anakmu sehat?" Ganding tahu, orang kaya seperti dirinya dan juga Haryadi punya Dokter keluarga.


Hariyadi buru-buru menelpon Dokter keluarga dan dalam waktu sepuluh menit, dia terlihat semakin kalut.


"Bagaimana mungkin kau punya penyakit yang sama denganku di umur yang masih muda ini, Nak." Hariyadi memeluk anaknya.


"Ambil segera keputusanmu, tapi jika itu keputusannya untuk melepas perjanjian, kau harus mengajak kami." Ganding memberi penawaran.


"Untuk apa?"


"Karena aku tahu, setan wanita 713 itu takkan membiarkanmu untuk melepas perjanjian, kami akan menjaga dan memasikan kalian semua keluar dari lembah itu." Ganding memberikan penjelasan.


"Baiklah, aku akan menjemput anakku."


"Tidak! percuma, kalau kau hanya menjemput anakmu, karena tidak akan ada yang bisa keluar dari Lembah Aru selain menghancurkannya." Ganding memang berbohong, karena sebenarnya Maya tidak ada di sana, Maya ada di dunia ghaib yang dipagar oleh Alka sehingga kehadirannya tidak bisa dideteksi, Maya aman.


Hariyadi mengeluarkan sesuatu, benda itu adalah sebuah keris yang cukup besar dengan gagang berwarna emas.


"Aku sudah lama sekali tidak melakukannya, kita harus ke tempat di maan aku membuka perjanjian."


"Dimana?" Ganding bertanya.


"Atap."


Hariyadi dan lima sekawan ke atap, Teddy dan beberapa pegawai termasuk Supri si Security ikut ke atap menjaga tubuh-tubuh yang masuk ke dalam Lembah Aru.


Mereka semua sudah di atap, Hariyadi lalu mengeluarkan kerisnya, menggores tangannya dengan keris, lalu meneteskan darah itu pada lantai yang mereka pijak di atap itu.


Saat darah menetes, perlahan demi perlahan, atap itu berubah menjadi lapangan yang cukup luas, ada tenda-tenda yang sederhana, persis seperti yang Selly lihat pada saat dia lepas raga gan bertemu centeng. Lima sekawan tahu, mereka sudah masuk ke dalam Lembah Aru.


Sementara yang dilihat Teddy dan yang lain adalah tubuh-tubuh itu ambruk karena lepas raga, kecuali Alka, dia menghilang secara tiba-tiba, karena Alka memang memiliki dzat jin pada tubuhnya, jadi dia tidak perlu lepas raga.


Semua orang bingung, tapi sebelumnya mereka telah diperingati dan mengerti tentang apa yang akan dilakukan id sini.

__ADS_1


Teddy dan yang lain menunggu dengan sabar.


"Tun Tujab Jadiningsajat!


Tun Tujab Jadiningsajat!


Tun Tujab Jadiningsajat!!!!"


Ada kepulan asap yang keluar, setan perempuan 713, ternyata namanya adalah Tun Tujab Jadiningsajat. Nama yang cukup unik dan tidak diketahui maknanya.


"Kau membawa komplotan? apakah kau ingin berkhianat!" Setan perempuan itu telihat jauh lebih besar di dunia yang dia ciptakan, tubuhnya dua kali lipat manusia biasa, pakaiannya juga terlihat sangat berbeda dari yang lima sekawan lihat saat bertarung di dunia manusia.


Pakaiannya berwarna hitam yang menjuntai begitu panjang dari bahu hingga kaki. Selendang dipinggang tidak kalah panjangnya, bahkan panjangnya sampai menutupi hampir semua permukaan tanah yang dia pijak dengan tubuh yang tinggi besar itu.


"Kenapa kau menangkap anakku?" Tanya Haryadi pada Tun.


"Alka mengeluarkan cambuknya, semua orang megeluarkan senjata, Hariyadi mundur, lima sekawan sengaja tidak memberi waktu untuk jin itu menjawab pertanyaan Hariyadi, sekali-kali menipu jin rasanya menyenangkan.


Mereka mulai menyerang Tun, Tun tentu jauh lebih kuat di sini, terlebih dia punya pasukan Jepang yang telah menjadi ruh itu.


Alka mennyabet kepala Tun sembari melayang, Aditia menancap dadanya dengan keris mini yang begitu tajam sementara Ganding dan Hartino terus mencoba menyerang dengan senjata mereka, menusuk di beragai sisi. Tun tidak mau menyerah, dia terus menghalau serangan itu, anehnya setiap serangan yang berhasil dilakukan pada tubuhnya, luka itu dengan cepat menghilang dan membuat Tun semakin kuat.


"Dia kebal di dunianya, keluarkan semua khodam." Alka memerintah, karena hanya dia yang tidak punya khodam.


Semua khodam yang terlihat sudah tua keluar, mereka bertarung dengan jumlah yang lebih banyak


Tun kewalahan, maka dia memanggil pasukan yang selalu dia jamu dengan para korban pegawai wanita di hotel itu.


Alka dan yang lain gantian kewalahan.


"Adit ikut aku, kita akan mencari Selly dulu dan membawa semua wanita itu ke atap, sisanya tetap bertarung." Alka memberi aba-aba. Semua orang mengangguk walau sembari menahan serangan dari berbagai sisi.


Aditia menarik Hariyadi yang jongkok ketakutan untuk keluar melalui pintu darurat, mereka menyisir hotel, persis seperti yang Selly lihat, bahwa pintu darurat itu tetap ada walau atap telah berubah menjadi lapangan yang luas dan berbeda dari atap hotel.


Mereka terus mencari Selly dan semua wanita-wanita yang dikorbankan.


"Seharusnya Selly lebih sadar dari semua orang yang ada di sini, karena kehamilannya, membuat dia tidak bisa diambil sempurna, kita panggil namanya Dit."


"Selly! Selly! Selly!" Aditia dan Alka berteriak dengan kencang memanggil Selly.


"Kenapa kalian hanya memanggil Selly, bagaimana dengan anakku!" Hariyadi protes.


"Anakmu pasti kehilangan kesadaran seperti yang lain, dia takkan mendengar kita memanggil karena dia tidak sedang hami. Kau seharusnya ikut membantu memanggil Selly karena dia bisa jadi bersama semua wanita itu."


Hariyadi patuh, dia juga akhirnya berteriak memanggil Selly.


Selly yang sedang tertidur, akhirnya bangun, dia masih di Lembah Aru, dia ada di tempat semula saat sedang tertidur sebelum lepas raga.

__ADS_1


"Aku di sini! Aku di sini!!!" Selly berteriak, dia mendengar ada yang memanggil namanya walau sayup-sayup.


"Bentar!" Alka berubah masuk ke wujud jinnya, pendengarannya akan lebih jauh jangkauannya.


"Gimana?" Aditia bertanya.


"Aku mendengar suara Selly, ayo cepat!"  Alka melayang, Aditia dan Hariyadi berlari mengejar Alka.


Saat mereka sudah di lantai satu, dari kejauhan ada seorang wanita yang Aditia tahu, bahwa itu Selly karena mereka bertemu dengannya saat akan check in hotel ini.


"Selly!" Alka dengan wujud jinnya membuat Selly hampir saja berlari, tapi Alka berhasil menangkapnya, Alka buru-buru berubah menjadi manusia. Wajar Selly ketakutan, di dunia yang dia tempati sekarang, banyak kejadian yang aneh.


"Kau, bukannya kau tamu hotel?!" Selly sadar itu adalah Alka dan Aditia tamu hotel yang malam-malam itu datang.


"Ya, kau benar, mana yang lain?" Alka bertanya untuk mempercepat waktu.


"Yang lain?" Selly bingung.


"Wanita lain yang mungkin kau lihat."


"Wanita-wanita penari itu?" Selly bertanya.


"Iya mungkin, pokoknya semua yang kau lihat." Alka juga tidak tahu wujud mereka di sini itu seperti apa.


"Mereka akan muncul sebentar lagi, jam-jam seperti ini mereka akan berbaris untuk menari di atap."


Gong terdengar, Selly menyuruh semua orang minggir, karena akan ada gerombolan wanita itu untuk lewat.


Tak lama terdengar suara bising, ada suara tawa, suara ngobrol lalu suara itu berhenti ketika gong ke dua dibunyikan, mereka berbaris dengan rapih dengan pakaian yang sama tapi warna-warna yang berbeda. Mereka berbaris dan berjalan dengan tatapan kosong dipandu.


Gerombolang wanita itu seperti tidak perduli dengan Selly dan yang lain, mereka terus saja jalan.


Selly dan yang lain akhirnya ikut di barisan paling belakang, untuk apa memaksa mereka naik ke atap, toh mereka akan ke atap.


Tidak lama kemudian mereka sampai di sana, begitu sampai, ternyata centeng para penari sudah di sana tapi kebingungan karena dia tidak pernah melihat Tun, dia hanya tahu bahwa ini adalah tahun 1944 dan dia mengawasi para penari untuk pasukan jepang. Begitu setiap hari yang dia lakukan, berulang, terus berulang.


Alka menarik para penari, centeng dan juga Selly untuk berdiri lebih jauh lagi. Alka berkata agar mereka di sini saja. Dia memanggil Jarni untuk membuat pagar agar centeng dan para penari diam di sana, akan lelah jika mereka akhirnya kabur lagi dan pekerjaan semakin bertambah untuk mencari para penari yang terlihat seperti anak ayam tanpa induk ini.


Alka dan Aditia hendak bergabung, tapi Hariyadi menarik Alka.


"Kemana Maya!" Alka baru ingat, tentu saja Maya takkan ada di sini. Dia memang sedang disekap oleh Alka.


"Kau bantu aku menghabisi Tun dulu, maka aku akan membantumu mencari Maya, aku tidak tahu Maya di mana. Kita harus mencari, tapi kalau kita sibuk bertarung dengan Tun, bagaimana kita bisa mencari anakmu!" Alka mencari alasan tepat.


"Aku tidak bisa membantu kalian, aku sudah tua dan dia jauh lebih kuat dibandingkan kita."


"Tapi dia pasti punya kelemahan, beritahu aku, apa kelemahan Tun."

__ADS_1


Hariyadi terdiam, dia berpikir sepertinya.


"Dulu ketika aku dikenalkan kepada Tun oleh dukun kami, Tun hanya jin cantik yang sangat baik. Tapi sekarang aku tidak mengenalnya. Aku merasa dia sudah menjadi jin jahat. Kelemahannya saat itu adalah, dia paling takut dengan ...."


__ADS_2