
Sekolah diliburkan selama beberapa hari, Mulyana dan Aep menghabiskan waktu di rumah saja tanpa pergi bermain, karena ibu tetap memberi mereka banyak pelajaran di rumah, Aep dan Mulyana memang suka sekali belajar, bagi mereka saat sedang diajarkan oleh Rahman dan kawan-kawan, rasanya seperti diajari oleh adik kelas tentang pelajaran yang mereka sudah lewati begitu lama.
“Aku tidak suka saat pura-pura bodoh, kenapa sih harus pura-pura bodoh?” Mulyana bertanya pada ibunya. Tak lama kemudian Drabya datang setelah dari luar, ini malam pertama saat sekolah diliburkan.
“Karena kalau kalian memperlihatkan kecerdasan kalian, pasti sekolah akan langsung membuat kalian jadi terkenal, misal dengan mengikuti banyak lomba, semakin kalian terkenal akan semakin bahaya, makanya kau meminta ibumu menitah kalian untuk pura-pura bodoh dan bersikap sewajarnya anak-anak seumuran kalian.” Drabya yang menjawab.
“Aku juga muak saat harus menerima Rahman sebagai orang yang mengajariku, dia itu pintarnya biasa saja, tapi sudah merasa paling hebat, lagian kenapa kamu juga tidak membelaku saat Rahman menghina atau mengajak bertengkar? Kau selalu menjadikanku lelucon untuk mereka.” Mulyanam arah pada Aep.
“Karena aku kenal kau, mereka tidak, makanya aku bohongi tentang dirimu, aku tidak perlu menjelaskan kepada mereka tentang seberapa hebatnya dirimu, karena kamu memang hebat, biarkan mereka tenggelam dalam keyakinannya, aku sih senang melihat mereka tersesat dalam tipuan kita.” Aep tertawa mengatakan itu, Drabya dan ibunya juga sama, karena Mulyana terlalu serius, dia tidak suka dianggap bodoh, anak cerdas memang tidak suka dipandang sebelah mata, tidak heran.
“Kalian bisa tertawa, sementara aku harus dibodohi.” Mulyana tetap merajuk.
“Sudah jangan merajuk, kalian besok pergilah jalan-jalan, suka kan kalau ke taman kota, katanya sedang ada komidi puter, ibu akan menemani kalian.” Drabya memberi izin mereka untuk keluar.
“Kami kan sudah besar, kenapa ibu harus ikut?” Aep inginnya hanya pergi berdua dengan adiknya saja, karena dia juga ingin main tanpa pengawasan, dibanding terlihat bodoh, Aep lebih tidak suka dengan cara ibu yang suka berlebihan menjaganya, cara ibu menjaga Aep dan Mulyana sangatlah berbeda, ibu terlalu berlebihan jika itu soal Aep, sedang soal Mulyana, ibu tidak terlalu mengikat.
Mungkin karena bagi ibu, Aep adalah anak pertama tempat dia melakukan kesalahan saat akhirnya menerima Aep sebagai anaknya.
Mungkin banyak hal yang ibu sesali saat mengasuh Aep, hingga cara mengasuhnya disempurnakan saat melahirkan Mulyana. Tak heran saat ini ibu jauh lebih ketat saat menjaga Aep.
“Kamu tidak suka aku ikut?” Ibu bertanya dengan wajah sedih.
“Kau membuat ibuku sedih.”
“Nggak kok Bu, bukan begitu, aku hanya ingin sesekali saja Bu, aku ingin pergi berdua saja dengan adikku, di taman kota itu pasti banyak teman kami yang berkunjung juga, aku ... malu.”
“Kau malu punya ibu sepertiku?” Ibunya terlihat mulai kesal.
“Tentu saja tidak, mana mungkin aku malu memiliki ibu yang sangat cantik dan baik hatinya,” Aep berusaha memperbaiki suasana hati ibunya, “aku malu karena dianggap anak mama!” Aep mengemukakan apa yang dia rasakan.
“Kau kan memang anak mama.” Mulyana malah meledek.
“Aku anak ibu, bukan anak mama!” Aep kesal.
“Yasudah aku tidak ikut, tapi aku antar kalian saja, lalu aku akan bertemu temanku di tempat makan terdekat, dalam dua atau tiga jam aku akan jemput kalian lagi, jadi kalian harus tahu waktu mainnya, mengerti tidak?” Ibunya bertanya.
“Iya!” Aep berkata paling lantang.
Malam tiba dan mereka semua akhirnya beristirahat, saat sudah di kamar dan kasurnya, Mulyana teringat sesuatu, dia dan Nando harusnya ke perpustakaan sekolah hari ini, tapi tidak jadi karena sekolah libur, wah, besok ke taman kota, besok Mulyana akan mencari cara untuk pergi dari taman kota dan pergi ke perpustakaan terdekat, kalau tidak salah, di dekat taman kota itu, ada perpustakaan yang cukup besar milik negara, kepala Mulyana penuh dengan strategi agar besok dia bisa pergi ke perpustakaan tanpa Aep tahu, karena kalau kakaknya tahu, pasti dia akan melarang Mulyana untuk mencari tahu, padahal Mulyana sudah sangat penasaran dengan apa yang diucapkan anak perempuan itu saat menabrakkan kepalanya ke pintu kelas yang terkunci.
...
“Ketemu lagi di sini ya, jangan terlambat, aku tak mau menunggu kalian terlalu lama, ingat jam kalian harus kembali ke tempat ini.” Ibunya mengantarkan dua anak jejaka yang diizinkan bermain, karena belum ada telepon genggam, makanya mereka akhirnya hanya bisa janjian saja, tidak bisa berkabar melalui sambungan telepon.
“Kau mau naik wahana itu?” Aep meledek Mulyana, karena ada Komidi Putar yang sederhana dengan lampu yang begitu banyak hingga kesan megah dan meriah bisa dilihat oleh para pengunjung.
__ADS_1
“Kau saja, memang aku anak kecil.”
“Tentu saja kau masih kecil, merasa sudah dewasa kau ini?” Aep kembali meledek.
“Kau kali yang mau naik, lagian ... kau tak takut, lihat wahana ini penuh dengan anak-anak dengan wajah rusak.”
“Kau mau kuhajar!” Aep kesal karena dia hanya bisa melihat jika ayahnya bukakan mata batin, jika tidak, mata batinnya perlahan pudar, jadi dia tak bisa melihat sejelas Mulyana. Mungkin ini dikarenakan Aep tak ikhlas jika tubuhnya melihat hal-hal ghaib, apa yang dia tak begitu sukai, makanya perlahan kemampuannay juga semakin tumpul, padahal dia telah dilatih Drabya dengan sangat intens sejak sudah bisa bicara. Namanya bakat, memang berbeda, sedang Mulyana hanay butuh waktu beberapa tahun, kemampuannya menguasai alam ghaib berkembang pesat.
“Aku tidak sedang bercanda, aku memang melihatnya, banyak sekali.”
“Kenapa mereka ada di sini?” Aep jadi penasaran.
“Kau ingin tahu juga? biasanya kau malas mendengar, kenapa sekarang ingin tahu?”
“Hanya tidak suka saja, kalau banyak anak kecil yang menjadi ... ruh gentayangan.” Hati Aep memang sangat hangat.
“Mau kutanyakan pada anak yang sedang bermain komedi puter itu? dia terlihat paling kecil diantara semua anak ruh anak kecil di tempat ini.” Mulyana menawari kakaknya jawaban, Aep mengangguk, rupanya dia benar-benar penasaran.
Mereka berjalan ke arah Komidi Putar itu, mereka berdua terpaksa bayar untuk ikut naik wahana, tak banyak yang naik, karena ini sudah malam, taman kota ini memang baru buka pada sore hari hingga malam saja.
Mulyana duduk di salah satu kuda-kudaan yang tersedia, walau tubuhnya sangat besar hingga kuda-kudaan itu terlihat kecil saat dinaiki Mulyana, mereka tetap naik. Tapi di antara Aep dan Mulyana ada satu kuda yang mereka biarkan kosong, itu karena memang ada ‘anak itu’ di sana.
“Hei, kau siapa?” Mulyana bertanya, anak itu tadinya diam saja menatap kosong dengan wajah pucat dan pipi yang rusak, seluruh tubuh ruhnya menghitam, seperti ... mayat yang membusuk, bajunya juga lusuh.
“Kamu bisa lihat aku?” Anak itu bertanya dengan binar mata yang sangat jelas, mungkin baru kali ini manusia yang dia lihat menyapanya.
“Apa kamu juga sudah mati seperti aku?”
“Mati? oh, kau ini ruh ya, bukan jin?” Mulyana bertanya hal yang sebenarnya dia tak perlu jabarkan.
“Ruh? Jin? Maksudnya?”
“Kau mati umur berapa?” Mulyana bertanya tanpa menjawab pertanyaan anak itu, karena dia tak mungkin menjelaskan, karena kata ayahnya, ada dua jenis ruh tak kasat mata yang bisa Kharisma Jagat lihat, pertama ruh tersesat, kedua jin, tapi terkadang banyak dari mereka tertipu dengan wujud, dikiranya jin taunya ruh tersesat atau sebaliknya.
Bahkan Aditia dan Alka dua orang yang mampu melihat lelaki yang jiwanya diikat saat tubuhnya dipelet oleh selingkuhan. Karena dia belum meninggal, ruhnya hanya lepas raga dan ditawan, ketika berhasil kabur, ruh itu akhirnya bertemu kawanan. Saat kasus itu terjadi, hanya Aditia dan Alka yang bisa meliaht jiwa itu, sedang kawanan yang lain tidak bisa melihat sama sekali, karena ruh ini jenis yang berbeda, belum mati tapi sudah lepas raga. Apakah kalian ingat kasus ini?
“Kata ibuku, dulu umurku 4 tahun.” Anak itu sedih, mungkin rindu ibunya.
“Karena apa? kenapa kau di sini?” Mulyana bertanya.
Anak itu hanya menunjuk pada bagian depan tempat taman kota ini dibangun.
“Jalan tol itu?” Mulyana bertanya lagi.
Anak itu mengangguk, Mulyana lalu jadi mengerti, ternyata anak ini adalah anak yang menjadi korban tumbal jalan tol itu, setiap kali Mulyana melewati tol itu, memang banyak sekali ruh yang berkumpul, mereka terlihat menumpuk di jalan tol yang baru saja selesai dibangun dan mulai dioperasikan.
__ADS_1
“Tapi kenapa kau di sini?” Mulyana bertanya lagi.
“Aku kabur dari raksasa besar yang mengawasi kami untuk tetap di jalan tol itu. Aku kecil, jadi tidka dicari.”
“Kasihan, kenapa tidak bermain dengan yang lain?” Mulyana bertanya lagi.
“Yang lain siapa? tidak ah, mereka semua punya orang tua, aku tidak, aku lebih baik sendiri Kak, karena mereka juga jahat, tidak mau menerimaku, katanya aku bukanlah jenis mereka, katanya aku harus kembali ke jalan tol itu, makanya aku tidak mau bermain dengan mereka.”
“Oh begitu, kasihan sekali, kau mau bertemu ibumu?” Mulyana tiba-tiba menawari bantuan, Aep hanya menganguk-angguk, setuju dengan Mulyana.
“Tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu ibuku di mana. Aku juga takut, kalau ibuku sudah lupa aku gimana?”
Mulyana terdiam, kenapa dia tak kembali kepada Tuhan? Kenapa dia ada di sini? bukankah tubuhnya sudah dikubur? Lalu kenapa dia masih di sini, Mulyana berpikir, apakah ini yang ayahnya katakan, jemput ruh tersesat lalu kembalikan ke tempatnya, walau tubuhnya telah terkubur, tapi jiwanya tetap berkelana dan tersesat.
“Aku harus pergi, tapi mungkin aku akan ke sini lagi lain waktu, kalau kau sudah ingin menemui ibumu, aku akan berusaha cari, tapi aku harus pergi dulu ya, aku ada hal yang harus dilakukan.”
“Iya kak, tapi sesekali datang ya, biar bisa main denganku, walau sebentar.”
“Baiklah, kapan-kapan main ya.”
Lalu Mulyana dan Aep turun dari wahana itu.
“Kau mau melakukan apa?” Aep bertanya, karena adiknya tidak memberitahu apa yang akan dia lakukan.
“Aku akan naik wahana itu, kau mau ikut, itu wahana yang aku incar sejak lama.” Mulyana menunjuk kora-kora, permainan yang sangat Aep benci, tapi Aep tahu, Mulyana suka sesuatu yang sangat ekstrim.
“Kau sajalah, aku akan mencari permainan lain, aku lebih suka bermain judi.” Aep menunjuk lempar koin pada kaleng untuk mendapatkan boneka atau hadiah lain.
“Kau ini, judi itu dosa!” Mulyana setelah mengatakannya, lalu pergi ke wahana yang dia maksud, setelah memastikan kalau Aep tidak melihat lagi, Mulyana berlari sekencang mungkin, karena dia butuh untuk pergi ke perpustakaan itu, saat dia sampai ke sana, dia melihat Nando sudah ada di sana.
Ternyata mereka sudah janjian saat terakhir pulang sekolah untuk ke sini malam ini, jika saja Mulyana tak diberikan kesempatan untuk datang ke taman kota, dia pasti sudah mengendap keluar untuk bertemu Nandi di perpustakaan ini, beruntung dia tak perlu kabur dari rumah karena izin pergi ke perpustakaan ini.
“Kau lama sekali!” Nando kesal.
“Ya, kan aku harus mencari alasan pada kakakku.” Padahal Mulyana tadi sempat keinterupsi dengan bocah di komidi putar.
“Ayo masuk.” Mulyana mengajak Nando masuk.
“Jangan lewat depan, perpustakaan sudah tutup, lewat belakang saja. Tadi aku sudah lihat keadaan sekitar, ada pintu belakang tempat satpam bulak-balik untuk memeriksa, kita lewati situ saja sambil mengendap, kalau berhasil masuk, kita bisa bebas baca buku, tapi di dalam itu gelap, kau tak takut?” Nando bertanya.
“Percayalah, tak ada gelap apapun lagi yang mampu membuatku takut, seandainya kau tahu apa saja yang pernah aku alami.” Mulyana ikut Nando, walau Nando penasaran, tapi tak jadi tanya, karena dia tahu, Mulyana takkan memberitahu, mereka akhirnya masuk ke perpustakaan itu untuk mencari makna kata yang diucapkan oleh anak perempuan yang menabrakkan kepalanya ke pintu kelas yang terkunci, Mulyana penasaran, mantra apa itu?
__ADS_1
Kalian ada yang tahu artinya? Kalau tahu, tulis komentar ya.