Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Again 42 : Putri Sukandar


__ADS_3

Nama Polisi itu adalah Pak Sukandar, dia adik tingkat Pak Dirga, mereka dulu sempat pendidikan bersama, Pak Dirga sebagai senior, tidak heran Pak Sukandar begitu menghormati Pak Dirga.


Tapi Pak Dirga mohon ijin tidak bisa ikut ke rumah adik tingkatnya untuk ikut membantu, karena dia harus tetap di Jakarta, karena pekerjaan, dia tidak bisa ijin lama-lama, tugas Negara menanti.


Alka datang bersama Jarni, hanya berdua, sedang Ganding dan Hartino menunggu Aditia, dia belum juga sadar, Alka merasa penasaran, dia tidak bisa melihat apapun tentang penyakit putrinya Pak Sukandar, karena cemas, dia akhirnya memutuskan untuk ikut ke rumah Pak Sukandar hari itu juga.


Begitu sampai, istrinya Pak Sukandar langsung menyambut mereka dengan teh hangat dan gorengan buatan rumah. Wajah istrinya Pak Sukandar sangat ramah, tipikal ibu rumah tangga yang sabar.


“Dimana putrinya, Bu?” Alka bertanya.


“Ada, di kamarnya.”


“Namanya siapa?” Alka tadi belum sempat bertanya.


“Bening, Adila Bening.” Manyanya menjawab, ada raut kesedihan saat mengucapkan kata itu.


“Boleh saya menemuinya?” Alka bertanya lagi.


“Ini jam berapa?” Mamanya bertanya pada si suami dan setelah mendapat jawaban, dia sedikit lega.


“Kenapa?” Alka masih bertanya.


“Kalau jam segini, Bening masih seperti anak pada umumnya, yuk, kalian bisa lihat dia.” Mamanya Bening menuntun kami ke dalam rumah, kamar bening ada di dekat ruang tamu, berhadapan dengan kamar orang tuanya, sebelum ke kamar itu, mereka melewati ruang tamu.


Begitu pintu dibuka, Bening sedang main dengan bonekanya, anak cantik dengan rambut panjang, tapi tubuhnya, kurus sekali.


Alka mendekati, ada wangi yang tidak bisa dia jelaskan, wangi bunga? wangi pandan? Entahlah, wangi itu belum pernah Alka cium, yang jelas, wangi.


“Halo Bening, Kak Alka boleh ikutan main nggak?” Alka bertanya dengan hati-hati kepada Bening yang duduk membelakangi mereka.


Saat mendengar Alka masuk dan dia melihat mamanya, dia berlari dan memeluk erat wanita itu, terlihat takut melihat kedatangan orang asing.


“Dia trauma Mbak Alka, karena banyak dukun yang datang sebelumnya, dia jadi selalu ketakutan saat melihat orang asing.”


Alka melihat tubuhnya gemetar, benar-benar takut.


“Bening, Kak Alka bukan dukun, Kak Alka temannya Mama dan Papa, cuma mau menengok Bening saja, katanya Papa, Bening sakit, makanya Kakak ke sini.” Alka menatap Jarni, dia ingin Jarni memeriksa sekitar, Jarni hanya menggeleng, dia tidak melihat apapun di kamar anak ini, lalu Alka menggerakkan kepala, maksudnya agar Jarni memeriksa di luar, Jarni mengangguk.


Mamanya Bening, menggendong anaknya yang baru berusia 7 tahun itu, tubuh kurusnya membuat dia mudah digendong.

__ADS_1


Mamanya menaruhnya di tempat tidur, Alka duduk di samping kirinya, sedang mamanya di samping kanan.


“Bening suka boneka?” Alka mencoba mendekatinya.


Bening hanya mengangguk.


“Kalau begitu, Bening pasti suka ini.” Alka membalik tangannya, yang tadinya kosong, tiba-tiba ada sisir kecil yang terbuat dari kayu, sungguh cantik, Bening tersenyum dan mengambil sisir kecil itu, dia lalu berlari mengambil bonekanya, duduk kembali di antara mama dan Alka.


Dia lalu bernyanyi sebuah lirik lagu.


Apruwa Bayang


Apruwa Bayang


Apruwa Bayang


Kalamun Bogang Dhipan


Karad Bedhawangan


Bening terus mengulang syair itu, mamanya menangis.


“Dia tidak mau bermain dengan anak lain, sehari-hari hanya ingin bermain dengan boneka saja, dia bernyanyi terus, itu saja.


Jarni kembali, dia menggeleng, artinya tidak menemukan apapun, Pak Sukandar masih di ruang tamu menunggu.


“Kita bicara di luar ya.” Alka keluar bersama Jarni, mamanya masih menemani Bening, tidak lama kemudian dia keluar dan menutup pintunya.


Masih terdengar suara Being bernyanyi, bahasa yang tidak dipahami, itu bahasa Sunda kuno, Alka saja tidak mampu mengidentifikasi bahasa tersebut.


“Jadi bagaimana Mbak Alka?” Pak Sukandar bertanya.


“Saya dan Jarni sudah memeriksa semuanya, tidak ada yang menumpang, tidak ada kiriman dan juga tidak ada yang aneh-aneh, saya tidak bisa melihat apapun, apakah sudah periksa ke Psikiater? Apakah dia mungkin mengalami tindakan kekerasan dari orang terdekat?”


“Sudah, Psikiater, medis dan dukun, saya sudah membawanya kemanapun, Mbak. Nihil, tidak membaik sama sekali.”


“Kapan waktu terburuknya?” Alka bertanya.


“Setelah Magrib, dia akan mulai aneh.” Pak Sukandar menjawab.

__ADS_1


“Ceritakan dari awal.” Alka meminta penjelasan.


“Kejadiannya sekitar 6 bulan yang lalu, begini ceritanya ….”


 


 


6 bulan lalu


Malam itu hujan deras, Bening tidur sendiri di kamarnya, dia sudah punya kamar sendiri karena sudah besar, dia anak tunggal, orang tuanya sudah berusaha untuk memberikan adik, tapi tidak kunjung diberikan Tuhan, maka mereka pasrah.


Hujan itu lebat beserta saut-sautan gemuruh yang membuat telinga takut mendengarnya, Mamanya buru-buru menghampiri Bening di kamar, karena takut anaknya sedang meringkuk ketakutan di kamar.


Saat dia membuka pintu, ternyata Bening tidak ada di kamarnya. Dia berlari ke dapur, kosong, tidak ada orang, lalu dari arah kamar mandi, dia mendengar suara air, buru-buru dia lari ke kamar mandi.


“Ning, pipis?” Mamanya berteriak, tidak ada jawaban, tapi masih terdengar suara kran air yang dibuka.


“Ning!” Mamanya meninggikan suara, siapa tahu anaknya tidak dengar karena suara petir dan hujan yang besar itu.


Masih tidak ada jawaban, mamanya mencoba membuka pintu kamar mandi tiba-tiba lampu kamar mandi gelap, tidak ada seorangpun di sana, kran air masih menyala, mamanya mencoba mematikan kran air dalam keadaan gelap, saat tangannya menggapai kran, dia kaget ….


Mamanya Bening merasa tangannya dipegang oleh ‘sesuatu’, sesuatu itu telrihat seperti tangan yang menghitam dalam kegelapan.


Rasanya dingin sekali saat tangan itu menyentu tangan mamanya Bening, dia loncat karena kaget dan terjatuh.


Lalu lampu kamar mandi menyala, benar, tidak ada orang di sana.


Saat dia akan bangun, dia melihat Bening sedang memperhatikannya dari belakang, tapi ada yang aneh, wajahnya, tersenyum melihat mamanya jatuh.


“Ning! Bantu Mama Nak.” Dia mengulurkan tangan berharap dibantu berdiri oleh anaknya, tapi Bening tidak menggubris, dia malah berjalan, mamanya kaget, tidak seperti biasanya dia begitu.


“Ning, mau kemana? Udah malam, hujan.” Dia berteriak memanggil sambil berusaha bangkit, anaknya sudah di luar, dia ternyata tidak ke kamar tapi ke luar, padahal hujan lebat dan petir bersautan.


“Ning!” Mamanya heran melihat Bening mandi hujan sembari menari dan bernyanyi, tapi entah bernyanyi apa, liriknya tidak dimengerti olehnya, kelak lirik itupun tidak akan dimengerti oleh siapapun.


Bening masih terus mandi hujan, menari dan bernyanyi, mamanya berusaha terus memanggilnya, sampai di saat terasa sudah keterlaluan, mamanya berniat menyeret anak itu kembali masuk, karena ini sudah malam, papanya masih dinas, jadi dia takut kalau Bening akan sakit karena kedinginan.


Mamanya berlari menghampiri anaknya, dia jadi ikut kehujanan, dia menarik tubuh anaknya, tapi berat sekali, tubuh itu tidak bergeser sedikitpun, mamanya merasa ada yang salah, dia lalu menoleh ke belakang di mana anaknya berada, karena saat dia hendak menyeret anak itu, dia tidak melihatnya dengan seksama.

__ADS_1


Bening tersenyum dengan tatapan menyeramkan, wajahnya pucat, dia tertawa dengan pelan dan mulai bernyanyi lagi, kali ini dia menyeret tubuh mamanya dengan satu tangan, tubuh wanita dewasa itu ambruk dengan satu hentakan dari seorang anak kecil berusia 7 tahun.


Mamanya Bening hendak melepas pegangan dari tangan anaknya, tapi terlambat, anak itu lalu menarik tubuh mamanya untuk mengikuti tariannya, mamanya kesakitan tapi anak itu tetap menari dan bernyanyi.


__ADS_2