Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 480 : Nyebrang 12


__ADS_3

“Hah?” Istrinya bingung, karena ini tidak biasa, kenapa petugas kelurahan sibuk urus hal seperti ini? lalu dia melihat dua orang berpakaian seperti pegawai negeri berdiri di belakang Wak Eman, maka benar, ini adalah petugas dari kelurahan.


“Suami saya sedang istirahat, bisa besok aja nggak, lagian sudah malam.”


Wak Eman kembali menepuk bahu istrinya akang dan berkata, “Kami butuh ketemu akang sekarang juga, sekarang juga ya.” Mendengar perkataan dan tepukan Wak Eman, istrinya itu lalu diam, pandangannya kosong dan dia hanya masuk ke dalam, diikuti semua orang, tak lama suaminya keluar dari kamar, istrinya memaksa akang untuk mau bertemu dengan Ganding, Jarni dan Wak Eman.


Mereka mulai bertanya.


"Kalian siapa?" si akang bertanya.


"Mereka ini petugas dari keluarahan, bertanya soal kamu Kang, dijawab aja ya." Eman mengarahkan agar suami yang tidak dominan ini menjawab, sementara istri dari Akang tersadar, tapi sudah terjebak, tidak bisa lagi menahan agar suaminya berbicara.


"Apa yang terjadi pada malam itu, Pak?" Ganding bertanya.


"Malam itu ...."


"Si Jaka yang ajak suami saya Pak, si Jaka tuh emang gitu, bebal, dia itu ...."


"Saya bicara dengan suami ibu, bisa tolong biarkan dia menjelaskannya?" Ganding menatap wanita itu dengan mata yang tajam, wanita itu terkejut dan diam.


"Malam itu ... ma-malam itu ...," Akan melihat kearah istrinya, dia takut salah ngomong, istrinya terlihat memelototi akang.


"Malam itu Jaka yang ajak saya untuk lewat sana." Dia berbohong.


"Begitu, baiklah, tapi kenapa arah jalan motor anda ke arah jalan persawahan itu seperti yang istri anda katakan sebelumnya? sedang arah jalan Kang Jaka malah menjauhi jalan persawahan itu?" Ganding bertanya persis seperti pertanyaan semua orang.


"i-itu ... i ... itu ... itu, karena ... karena saya ...."


"Kang, anda tahu, kalau anda berbohong, satu nyawa orang jadi taruhannya, kami ke sini diutus untuk membantu desa ini dari serangan ghaib yang mungkin terjadi karena kelalaian anda dan juga Kang Jaka, sekarang anda malah menutupi kejadian yang sebenarnya, kalau terjadi apa-apa dengan Kang Jaka, maka anda bisa saja kami jebloskan ke penjara."


"Kenapa bisa dipenjara? salah saya apa?" Akang bertanya, istrinya juga bingung.


"Pembunuhan." Ganding berkata dengan nada yang sangat serius.


"Kenapa bisa pembunuhan Pak?" Istrinya kali ini yang terlihat kasar, dia bertanya dengan nada yang tinggi.


"Kalau Kang Jaka ketemu dalam keadaan tak bernyawa, lalu anda adalah orang terakhir yang bersamanya, Polisi takkan percaya kalau kalian diculik setan, mereka akan tetap menganggap bahwa bukti kalau kau adalah orang terakhir yang bersamanya, maka kau akan langsung jadi tersangka.


Siapa yang akan percaya kalau kalian pergi ke sawah itu dan terjebak di sana, kalau mayat dari Kang Jaka ditemukan, orang akan mengira, kau membunuhnya, lalu menyembunyikan mayat Kang Jaka, setelah itu kau pura-pura pergi ke tempat di mana kau ditemukan, agar orang percaya kau telah disembunyikan setan di jalan persawahan itu, karena menurut kejadian dulu-dulu begitu kan?

__ADS_1


Tapi coba tebak, apakah polisi akan percaya? apalagi mengingat kalian tidak berhubungan baik dengan istri dari Kang Jaka, bisa saja dia memajukan masalah ini sampai pengadilan. Maka celakalah kalian." Tentu Ganding hanya menakutinya saja, menjadikan seseorang sebagai tersangka, tentu tidaklah mudah, karena harus ada bukti, walaupun akang orang terakhir yang besama Jaka, tapi jika tak diketemukan bukti penyerangan berupa sidk jari dan sebagainya, maka sulit menjadikannya, tersangka, Ganding hanya menebak, dia tak mengerti soal itu.


"Wah, saya nggak bunuh dia, saya malam itu hanya tidak sengaja saja, saya pun dibuat nyebrang sama setan di jalan persawahan itu, saya yang salah memang karena ajak Jaka untuk lewat sana, tapi saya nggak maksa, saya cuma bilang jalan itu nggak jauh, bensin saya juga sedikit, jadi saya nggak mau jalan muter, saya nggak maksa kok, tapi Jaka aja yang akhirnya terbujuk untuk ikut lewat sana." Akhirnya dia mengaku, kalau dialah yang memiliki ide pertama kali untuk lewat jalan angker itu.


"Suami saya nggak salah, dia cuma tidak percaya soal jalan itu, lagian kami orang susah, untuk beli bensin dan makan sehari-hari aja berat, jadi tolonglah, suami saya nggak salah dan nggak ada niat untuk celakain temannya." Istrinya kali ini merendah dan mulai ketakutan.


“Jadi, kau tidak ingat?” Ganding bertanya lagi.


“Aku tidak ingat. Aku ingat semua kejadian, kecuali apa yang kami lihat di sana.” Akang menjawab dengan sungguh-sungguh.


“Berarti sama seperti korban lain, tak ingat apa yang dilihat.” Wak Eman berkata, dia sedari tadi hanya melihat saja apa yang terjadi dan terkagum dengan cara Ganding membuat pasutri ini ketakutan dan akhirnya memih jujur.


“Lalu apa yang kau ingat terakhir kali saat sebelum akhirnya keluar dari jalan persawahan itu?”


“Yang aku ingat, selama kami mencari jalan keluar, Jaka selalu di depan, aku di belakang, bensinku habis duluan. Lalu saat sebelum aku akhirnya keluar dari jalan itu, aku melihat kabut, kabut itu menghalangiku melihat Jaka, setelah kabut menghilang, untuk pertam kalinya setelah entah berapa lama, aku melihat kendaraan lain, aku lega, tapi tubuhku terasa sangat amat lemas, hingga akhirnya aku terjatuh, beberapa orang menolongku, lalu mereka membawaku ke kantor Polisi setelah aku ceritakan semuanya.”


“Berati Kang Jaka masih di sana, sendirian ya. Saat kau di sana, baik kau dan Jaka, apakah kalian tidak merasa lemas?” Ganding bertanya lagi.


“Tidak, kondisi tubuh kami terasa seperti saat kami pertama kali lewat jalan itu, perasaan kami memang tidak sampai-sampai, tapi kami memiliki harapan bahwa jalan itu akhirnya akan habis.”


“Lalu kenapa kalian tak berboncengan? Maksudku, seharusnya kalau Jaka ikut motormu, mungkin kalian akan segera keluar dari sana bukan?”


“Kami tidak kepikiran, bahkan kalau diingat-ingat, kami tidak banyak bicara, kecuali kami merasa lelah, kami berhenti sebentar lalu mulai mengendarai lagi, kami benar-benar tidak kepikiran hal lain, rasanya seperti ....”


“Kesirep?” Ganding menebak.


“Ya, itu dia, kami merasa pikiran kami sangat kosong, yang kami lakukan hanya jalan terus saja.”


“Jadi kalian tak merasa lelah ataupun lapar ya?”


“Tidak sama sekali, bahkan tak ingat apapun, kami hanya ingat harus keluar dari jalan itu dengan cara mengendarai motornya, terus berjalan, terus sampai akhirnya mungkin kami keluar dari jalan itu.”


“Baiklah, aku pikir, dariku sudah sampai di sini saja Wak, selanjutnya aku mohon, jangan membuat keributan, apalagi dengan istri Kang Jaka. Suamimu sudah kembali, kau mungkin tenang, sedang Kang Jaka? Suaminya masih di sana, kalau kelamaan, siapa yang jamin Kang Jaka masih hidup?” Ganding memperingatkan, istrinya lelaki itu hanya menunduk saja, dia memang tipikal wanita yang menyebalkan di lingkungan, sangat kerasa kepala walau uang juga sering jadi masalah.


...


Aditia, Alka, Alisha dan Hartino sudah di jalan persawahan itu, saat mereka masuk ke jalan itu, terasa ada yang aneh.


Aditia berjongkok menyentuh aspalnya, lalu tersadar.

__ADS_1


“Kita sudah masuk.” Aditia memberitahu, karena suasana menjadi lebih gelap dari sebelumnya, tepat setelah mereka menginjakkan kaki di jalan persawahan itu.


Mereka telah masuk ke dunia lain, dunia di mana jalan dan sawah itu tidak benar-benar ada.


“Kita cari Jaka?” Alka bertanya pada Aditia.


“Ya, kita cari dia dulu.”


Mereka lalu berpencar, dua ke arah kanan dan dua lagi ke arah kiri, Aditia mewanti-wanti, jika mereka harus bertemu di titik yang sama, agar Aditia bisa mengeluarkan mereka semua, karena hanya Aditia yang bisa menutup dan membuka pintu ghaib.


Alka dan Aditia berjalan, mereka menyusuri jalan sembari melihat sawah-sawah itu.


“Kata ayah apa? perhatikan sawahnya, kira-kira, apa yang ada di sawah itu?” Aditia bertanya pada Alka. Mereka masih menyusuri jalan itu.


“Aku tidak merasakan apapun pada sawah itu, justru aspalnya yang bermasalah, kau merasakan itu juga kan?” Alka bertanya lagi.


“Ya, aku merasakannya, tapi ayah tak mungkin asal tulis, pasti ada jawabannya. Aku jadi ingat kasus Nona, wanita penghuni rumah tua yang terbengkalai, yang hanya ingin bersama anaknya, dia dibunuh oleh nyonya rumah yang berselingkuh dengan adik suaminya.”


“Oh ya, kasus itu! aku ingat, saat itu, aku dan Jarni memperhatikanmu dari jauh, itu salah satu kasus yang kau tangani sendiri bukan?” Alka jadi ingat kasus itu, Aditia tetap dibiarkan sendirian saat itu, karena memang sebelumnya tak pernah ada agenda menemuinya, menemuinya saat itu adalah hal yang Alka pikir takkan terjadi.


Tapi tragedi mata ghaib Aditia yang tertutup karena hukuman membunuh jiwa yang tersesat, akhirnya membuat kawanan terpaksa menemui Aditia.


“Ya, kasus itu ayah tulis Nona, aku tak paham, aku pikir ayah memanggilnya nona karena dia adalah perempuan, tapi ternyata namanya Nona, ayah pasti sangat sibuk hingga menulis dengan singkat saja. Seperti kasus di jalan persawahan ini.”


“Kira-kira saat itu, saat bapak berusaha menyelesaikan kasus ini, apakah Paman Aep juga membantunya? Aku penasaran kalau bapak dan paman Aep bersama-sama memburu jiwa, pasti sangat keren, aku tidak pernah bertemu paman Aep sebelumnya, tapi aku yakin, dia orang baik.”


“Ka, paman Aep itu memiliki wajah yang teduh dan tutur kata yang sopan, walau aku hanya baru bertemu beberapa kali, aku mengingat wajahnya dengan sangat baik, dia orang yang hangat dan baik hati.” Aditia menjelaskan.


Tanpa sadar, mereka berjalan melewati kabut, asik mengobrol membuat mereka tak sadar, telah berada di tempat yang jauh sekali.


“Awas!!!” Aditia menarik tangan Alka, karena dia baru sadar, mereka tiba-tiba sudah di jalan besar, begitu mereka melangkahkan kaki ke arah kabut dan melewatinya, jalanan berubah, hampir saja Alka tertabrak motor, mereka memang muncul secara tiba-tiba, hingga membuat pengendara motor hampir saja menabraknya, dia bahkan berteriak sumpah serapah pada Alka dan Aditia lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


“Ini di mana?” Aditia bertanya, karena ini bukan desa itu.


“Kita ....”


“NYEBRANG!”


Mereka berdua sadar akan hal itu, mereka berdua telah keluar dari jalan persawahan itu dan menyebrang entah ke jalan mana. Sudah tidak lagi berada di desa itu.

__ADS_1


__ADS_2