Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 498 : Mulyana 3


__ADS_3

“Belum saatnya, nanti kalau dia sudah cukup dewasa, aku ingin dia benar-benar melihat mereka dengan mata terbelalak, terbiasa dengan bau busuk mereka dan kelakuan jahilnya, aku ingin Mulyana tidak takut lagi.”


“Apa itu tidak terlalu Kejam Drabya?”


“Kejam? Bukankah dunia ini juga kejam padaku? dunia milik siapa yang paling kuat, aku ingin anak-anakku kuat, sangat kuat hingga bisa menundukkan mereka, para khodam dan Karuhun. Kau tidak lupa kan, kalau musuh kita sangat amat banyak, kalau kita lemah, maka habislah kita.”


“Baiklah, kita berburu malam ini, tapi kau harus ingat kalau ... kau juga tidak baik-baik saja.”


“itu kutukan, para Kharisma Jagat yang tidak memilih jodoh adat, akan menjadi orang yang lemah karenanya.” Mitos tentang jodoh adat di waktu ini masih sangat kental, karena Ayi belum lahir dan belum menghabisi Mudha Praya dan para anteknya.


Mereka berdua, tuan dan khodamnya berburu, mereka akan menyelesaikan kasus, katanya di suatu jalan yang baru saja dibangun, sering terjadi kecelakaan, makanya Drabya dan Abah hendak meneliti kasus tersebut.


Kecelakaan tentu bukan tabrakan antara kendaraan dengan kendaraan atau kendaraan dengan manusia, ingat ini masih tahun 60 sampai 70anm, di mana kendaraan ada, tapi tidak banyak orang yang sudah memiliki.


Karena sampai tahun 80 atau 90an saja, moda transportasi dengan bantuan binatang saja masih banyak, kita bicara tentang delman, bukankah kalian sekarang juga masih melihat, transportasi dengan bantuan kuda itu? Tentu sudah bukan transportasi lagi, tapi lebih ke arah rekreasi.


Tapi kecelakaan itu sering terjadi jika saja kuda yang biasanya jinak, menjadi lebih liar. Lalu jika orang berjalan tiba-tiba dengan anjing peliharaannya, anjingnya juga menjadi menggila, maka ada beberapa orang yang menjadi korban, bisa jadi terinjak kuda, tergigit anjing atau bahkan terlindas delman.


Para binatang menjadi lebih agresif ketika melewati jalan itu.


Menurut kitab yang pernah disusun oleh ayahnya Drabya, bahwa hewan peliharaan memiliki indra keenam, yang membuat mereka bisa merasakan kehadiran hantu. Mereka juga yakin bahwa hewan lain di seluruh dunia dapat memprediksi bencana alam dan peristiwa tak menyenangkan lainnya.


Maka jika ada sensitivitas yang terjadi pada binatang itu pasti karena ada yang mereka lihat di sana, apakah mungkin, ada jiwa-jiwa tersesat di sana, mengingat bahwa tugas sebagai pengantar jiwa telah diwariskan nenek moyang mereka.


Seperti setiap Kharisma Jagat memiliki kemampuan untuk melihat, mendengar dan menangkap makhluk halus, seperti jin dan ruh tersesat, maka mereka juga mengemban tugas masing-masing. Maka keluarga besar dari nenek moyang Aditia, tugasnya adalah untuk menjemput ruh yang tersesat.


“Kau merasakan sesuatu Bah?” Drabya bertanya.


“Ya, aku merasakan ada aktifitas ruh di sini, tapi … terlalu kecil, sama seperti penghuni di rumah-rumah warga, tidak mengganggu, hanya berbagi tempat tinggal saja.”


“Maksudmu, tidak akan ada yang bisa mencelakai siapapun di sini? Dia hanya sedang berbagi tempat tinggal?”


“Ya, aku pikir begitu.” Abah terlihat yakin, Drabya lalu melihat sekitar, dia juga merasakan yang abah rasakan, makanya dia memastikan.


“Baiklah, ayo kita pulang, sudah terlalu malam.”


Lalu mereka berdua pulang, begitu sampai rumah, dugaan Drabya bahwa rumah sudah sepi, sehabis sesi latihan yang cukup menguras emosi, itu salah, terjadi kegemparang di rumah, Aep mengamuk, istrinya bahkan terlihat terbaring di lantai, lalu ke mana Mulyana, kenapa dia menghilang, sedang Aep terlihat sedang makan sesuatu di tempat sampah.


Drabya lalu mendekati anaknya, memegang ubun-ubun, membaca mantra, lalu keluarlah sesosok anak kecil dari tubuh Suraep.


Drabya menangkapnya, dia menggunakan tali ghaib untuk mengikat leher anak itu, anak yang mengejar Mulyana tadi.


“Kenapa kau bisa keluar dari tempat itu?” Drabya bingung, lalu Abah pergi ke kamar Mulyana, tepat seperti dugaan Abah, Mulyana ada di sana sedang tertidur.


“Dia tak ada di sini.” Abah berteriak berkata dengan khawatir.


“Dia di mana!” Drabya tak kalah khawatir.


“Aku tidak tahu, aku tidak bisa merasakan ruhnya ke mana!”


“Oh tidak, apakah kau pikir dia ….”


“Ya, sudah pasti, dia pemanggil. Dia mengeluarkan jin peliharaanmu dengan jiwanya tanpa dia sadari, lalu dia memanggil siapapun dalam jangkauannya, tubuhnya memang sulit dirasuki, tapi bisa jadi ….”


“Terowongan untuk jin yang dia panggil!” Drabya kesal karena tak sadar itu.


“Anak yang sangat istimewa, pantas saja kelak dia akan menjadi orang yang hebat.”


“Di mana jiwa anakku sekarang?”

__ADS_1


“Dia akan kembali, kalau kita beruntung, tapi kalau tak beruntung, kita harus mencarinya, masuk ke dunia ghaib.” Abah berkata degan serius.


“Baiklah, kita tunggu saja ya, tunggu sampai dia kembali, sampai  besok, bantu aku membereskan rumah.” Drabya dan Abah lalu membereskan semua yang berantakan di ruang tamu, lalu membersihkan tubuh Aep yang penuh sampah.


Ada kain penuh darah, rupanya ibunya Mulyana sedang datang bulan, dia membuang kain bekas pakainya setelah dibersihkan, tak ada bekas darah di sana, sudah bersih, tapi bau darah itu membaut apa yang merasuki Aep menciumnya walau sudah bersih, rupanya Aep tadi mengemut kain itu. Menjijikan sekali.


Bagi istri Kharisma Jagat yang juga Kharisma Jagat akan paham, jika mereka sedang datang bulan, maka seharusnya kain yang bekas mereka pakai dan tidak digunakan lagi, harus dikubur, karena para Kharisma Jagat memiliki peliharaan jin yang dipuasakan dari kotoran, untuk membuat jin itu tidak lagi buas.


Tapi karena istrinya Drabya bukanlah Kharisma Jagat, maka dia tidak dia tidak paham, meski sudah diberitahu berkali-kali, tidak paham apa yang menjadi begitu berbahaya.


Beruntung Aep yang terasuki hanya menyantap kain bekas darah haid ibunya, bukan milik tetangga, bisa jadi hal yang akan menggemparkan kalau mereka sampai tahu siapa keluarga Drabya.


Karena selama ini, mereka hanya menganggap Drabya hanya sebagai orang kaya yang biasa saja, tidak terlalu mencolok.


Setelah jam 10 pagi, Mulyana akhirnya bangun, dia bingung, kenapa ayahnya ada di kamar, sementara ibu dan kakaknya tidak ada, biasanya yang ada di kamar itu, kakaknya, mereka masih tidur bersama, tapi kemana kakaknya?


“Ayah, kakak mana?”


“Kakakmu sedang ke rumah sakit, dia sakit.”


“Tapi, kenapa ayah nggak temenin kakak?”


“Kan udah ada ibumu, kita bicara dulu, Nak. Yuk, sambil sarapan. Kau cuci dulu mukamu, lalu kau sarapan ya. Ibumu sudah masakkan nasi goreng, Nak.”


“I-iya ayah, tapi ... kenapa ayah tiba-tiba ingin bicara? Apa karena aku tidak solat subuh?” Mulyana takut, sudah cukup lama dia tidak solat, karena entah kenapa dia selalu kesiangan. Kata Aep, dia tak bisa dibangunkan, jadinya Aep solat sendiri. Sementara ayah solat di masjid, sedang ibunya solat sendiri di kamar.


“Kau tidak solat subuh sudah berapa lama?” ayahnya bertanya.


“Tidak tahu, mungkin sekitar 1 minggu, tapi aku udah usahain bangun Yah, nggak tahu kenapa susah banget bangun.”


“Yaudah, kamu cuci muka dulu lalu makan ya.” Ayahnya tidak ingin melanjutkan lagi permasalahan solat itu, karena dia sudah tahu jawabannya.


Mulyana juga mencoba mengingat-ingat, apa kira-kira hal yang membuat ayahnya terlihat menahan amarah dengan ketenganan itu. Mulyana tidak paham, ini bukan kemarahan, justru ini adalah perasaan bangga yang ditahan.


Mulyana selesai, dia lalu ke meja makan, ayahnya bahkan telah menaruh nasi goreng di piring makannya, lalu ada telur ceplok dan emping. Mulyana yang suka sekali sarapan seperti ini hanya mampu menelan lidah, rasa takut menguasai pikirannya.


“Mulyana makan sini.”


“Iya Ayah.” Mulyana menjawab dengan lemas, dia tetap makan, tak ingin semakin membuat ayahnya murka.


Sementara Mulyana makan, Drabya terus memperhatikannya, sesekali dia mengendus lalu dia berbicara dengan abah melalui batin, karena kalau dia di luar tubuh, pasti Mulyana bisa melihatnya.


Mulyana selesai makan, lalu dia mencuci piringnya. Keluarga mereka terbiasa untuk mencuci piringnya sendiri setelah makan.


Lalu Mulyana kembali ke meja makan, dia semakin ketakutan, karena ekspresi ayahnya semakin serius.


“Yana duduk di sini lagi, ayah mau bicara.”


Lagi-lagi perkataan itu, kenapa dan apa yang membuat ayahnya begitu ingin bicara dengannya? Itu menakutkan.


“Yana kalau tidur, suka mimpi?” Drabya bertanya.


“MImpi? Mimpi apa?”


“Ayah nggak tahu, mimpi itu cuma Yana yang tahu.”


“Aku ...,” Mulyana mencoba mengingat-ingat, “oh ya, aku ingat, aku sering mimpi aneh Yah, di dalam mimpi aku melihat begitu banyak orang berlari, mereka berusaha masuk ke suatu tempat, Yana nggak tahu tempat apa itu, tapi itu adalah tempat yang mungkin banyak makanan karena orang-orang itu seperti kelaparan.”


“Tempat apa itu Yana?”

__ADS_1


“Tidak tahu, tapi yang Yana ingat, tempat itu ada gerbangnya, warna gerbangnya kuning emas yang sangat bersinar, aku sampai silau, aku mau ikut berlari, tapi nggak bisa, soalnya aku mental terus.”


“Mimpi itu berulang?”


“Ya, pernah berulang tiga hari, tapi sekarang sih enggak, aku nggak pernah mimpi lagi, nggak mimpi apapun ayah.”


“Iya Nak, jadi itu namanya adalah ... lepas raga Nak, kau lepas raga dan begitu banyak jin atau ruh tersesat yang ingin keluar dari dunia ghaib melalui tubuhmu, Mulyana tau nggak, Aep sakit karena gerbang di tubuhmu terbuka, seorang jin kecil yang ada di tempat ghaib yang ayah buat itu, tempat pelatihanmu, keluar dari tempat ayah karena menggunakan tubuhmu sebagai terowongan.”


“Aku tidak mengerti ayah, kenapa tubuhku sebagai terowongan? Apakah aku orang yang jahat ayah, karena selalu mencelakai kakakku?”


“Tidak Nak, kau tidak jahat, hanya takdir kita saja yang keras, makanya kau harus kuat Nak, agar kakak dan ibumu tidak celaka lagi, sekarang mereka dirawat, maaf ayah berbohong tadi karena takut kamu histeris.


Sekarang kau mau kan, bantu ayah?” Drabya bertanya pada anak kecil yang masih begitu ketakutan.


“Aku mau bantu ayah, tapi bagaimana caranya?”


“Nanti malam, saat kau tidur, lalu kau bermimpi lagi, kau akan ....”


Mulyana mengangguk-angguk tanda paham dengan apa yang Drabya katakan.


“Tapi ayah, bagaimana jika aku tidak bermimpi?”


“Kau akan bermimpi Nak, aku pastikan itu, kau akan bermimpi malam nanti.”


...


Malam tiba, Mulyana dan Drabya bersiap, Mulyana bingung, karena kasur yang dia biasa tiduri dilepas dari tempat tidurnya, karena tempat dia dan kakaknya tidur adalah sebuah tempat tidur yagn terbuat dari kayu di mana triplek besar menjadi alas yang ditahan oleh jajaran kayu di tempat tidur berbahan kayu itu.


Tapi sekarang, kasurnya dilepas, ditaruh di tengah-tengah ruangan kamarnya. Di sekeliling kasur itu ada lilin aneh berwarna hitam, baunya juga tidak enak.


“Ayah, kenapa kita harus melakukan ritual?” Mulyana bertanya, karena dia taku lilin adalah alat utama ritual ayahnya, walau dia tak tahu kenapa lilin itu berwarna hitam.


“Ya, kita akan melakukan ritual, kemungkinan kau tak ingat mimpimu, karena ada jin atau ruh tersesat yang sengaja menutup mata, kuping serta ingatanmu dari mimpi itu.


Hal biasa yang dilakukan jin jahat, mereka ingin agar kau tidak ingat membiarkan mereka semua keluar dari dunia ghaib untuk menyebrang ke dunia kita, karena kalau sampai kau ingat, tentu kau akan berbicara denganku dan aku akan ...,” Drabya masih mempersiapkan semuanya, setelah siap dia lalu menghinotis anaknya untuk tidur dengan mantra, setelah tertidur, Drabya lalu memanggil abah untuk keluar.


“Kau mencium wangi itu juga kan?” Drabya bertanya pada abah.


“Jelas sekali, dia telah masuk ke dunia ghaib yang luas, dunia dimana jin dan ruh yang tersesat itu tinggal, ada wangi dan jejak dari kepalanya, di atas kepala itu terlihat sesuatu yang gelap, seperti awan yang mendung, sudah jelas, dia baru saja masuk ke sana.”


“Bah, aku akan buka mata batinnya secara sempurna di tempat itu, dia akan melihat sosok-sosok yang dia katakan orang itu, sebagai sosok yang sebenarnya, mungkin dia akan histeris ketika melihat mereka, apakah dia bisa melewati apa-apa yang membuatnya takut?” Drabya agak ragu.


“Kalau kau ragu, muridmu akan jauh lebih ragu, kalau tidak yakin, jangan buka mata batinnya di dunia ghaib itu, biarkan jin dan ruh tersesat memainkan ingatan anakmu dan seenaknya menggunakan tubuh anakmu sebagai terowongan yang bisa membuat mereka keluar dan masuk antara dua dunia.”


“Aku tidak ingin anakku diperalat, aku akan biarkan dia menyelamatkan dirinya di sana sendirian, walau aku ragu dia mampu, tapi aku tahu, dia punya kemampuan yang sangat tinggi.”


“Aku akan mendidiknya langsung kelak, kau tenang saja.”


“Tapi kan, aku belum mangkat, kenapa kau ingin melatihnya?”


“Karena dia bukan anak biasa.”


“Baiklah terserah kau saja, sekarang aku akan memulai ritualnya.”


Drabya duduk di luar lingkaran lilin hitam yang mengelilingi kasur itu, dia membaca mantra Grema Hala matanya batinnya yang dikerjai akan terbuka di sana, dia akan melihat yang dia anggap orang-orang yang menerobors masuk tempat yang menyimpan banyak makanan itu sebagai makhluk yang sangat menakutkan.


Setelah mantra diucapkan, Mulyana terbangun, tapi aneh, kenapa dia berada di suatu tempat, begitu banyak orang yang hendak masuk ke suatu tempat, Mulyana kali ini melihat ke arah gerbang itu dnegan seksama, lalu dia berbalik lagi untuk melihat mereka yang hendak menerobos masuk.


Betapa terkejutnya Mulyana karena semua orang itu berubah menjadi bentuk-bentuk yang mengerikan, mereka sangat ... banyak dan mengerikan!

__ADS_1


Dia berlari agar bisa sampai duluan ke gerbang itu, dia harus melakukan perintah ayahnya, dia harus lebih dulu sampai sana, karena kalau dia terlambat, makhluk mengerikan yang selama ini dia anggap orang-orang normal, ternyata bukan manusia, dia sangat takut, jadi larinya sangat cepat, dia harus sampai di gerbang itu duluan.


__ADS_2