Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 218 : Misteri Jembatan 5 tamat


__ADS_3

Hartino memasuki ruangan kerja istrinya Syahrul. Lais yang masuk belakangan langsung menutup pintunya agar tidak ada yang masuk lagi setelah mereka.


“Kena!” Hartino memegang tangan lelak itu, lelaki yang menjadi tersangka atas pembunuhan Syahrul sekaligus mantan teman kerja Syahrul.


“Ka-kalian!” Lelaki itu kaget, dia berusaha untuk pergi dari sana, tapi ditahan oleh Hartino.


“Kau mau kemana?” Hartino menahan badannya agar tidak kabur, sedang istrinya Syahrul hanya terdiam.


“Aku mau keluar, kalian ini punya hak apa untuk menahanku.” Lelaki itu marah.


“Kami punya hak, apalagi Polisi.”


“Tidak! jangan!” Lelaki itu memohon, mimik mukanya berubah jadi ketakutan.


“Kenapa kau takut, kau tak salah bukan?” Hartino mengujinya.


“Tentu saja aku tidak bersalah!”


“Lalu kenapa takut!” Hartino memaksa.


“Kalian semua bisa diam!” Istrinya Syahrul akhirnya berdiri, dia mendekati Hartino lalu melempar lembaran kertas yang cukup tebal ke hadapan wajah Hartino, “dia melindungi ini! kalian ini apa? depkolektor kah? Sampai begitu memaksa untuk kami mengakui apa yang tidak kami lakukan!”


Hartino memungut salah satu kertas lalu membacanya, ‘PREMI ASURANSI’.


Lais mengambil satu-persatu lembaran kertas itu, lalu merapihkannya dan membaca secara garis besar lembar demi lembar.


“Ini asuransi milik Syahrul, istrinya adalah ahli warisnya, karena mereka masih terikat pernikahan ketika Syahrul menikah.”


“Oh! Jadi kalian beruda bermaksud klaim asuransi milik Syahrul untuk kalian berdua nikmati, kalian berdua benar-benar!”


“Har!” Lais mendorong Har agar dia berdiri di belakangnya saja. Hartino kali ini benar-benar sudah keterlaluan.


“Jelaskan, kami  bukan depkolektor, bukan pihak asuransi, bukan Polisi, bukan pula pers, kami berbohong, kami adalah orang yang menangani hal ghaib, jembatan itu menjadi angker karena suamimu masih di sana, bertahan.”

__ADS_1


Istri Syahrul jatuh terduduk, dia tidak menyangka suami yang dia cintai sekaligus dia benci masih tidak diterima bumi.


“Kami bertemu dengannya, dialah yang membuat celaka para pejalan kaki dengan melempat atap jembatan itu, kami bermaksud membawanya ‘pulang’ agar jiwanya tenang, tapi belum bisa karena masih ada yang belum terselesaikan, kami harus membantunya. Makanya, aku mohon, ceritakan apa yang kalian berdua lakukan? aku yakin kalian berdua tidak selingkuh, pasti ada yang bisa dijelaskan di sini bukan?” Lais mencoba untuk mengorek informasi dengan cara yang lebih lembut, menjelaskan kelemahanmu agar membuka pintu keterbukaan lawan untuk ikut mengungkapkan kelemahan mereka, teknik menginterogasi yang jauh lebih baik dari Hartino, karena Lais tidak terpengarui oleh asumsi yang salah.


“Baiklah, kau harus ceritakan apa yang terjadi malam itu.” Istrinya Syahrul berkata pada lelaki itu.


“Tapi akan bahaya, kau butuh uang ini untuk membayar hutang.”


“Aku sudah lelah, biarlah, jika ini bukan hakku juga, maka aku akan seperti biasa kerja keras.”


“Tapi Syahrul sudah berusaha agar kau hidup nyaman.” Lelaki itu mencoba membujuk entah apa yang mereka bahas, Hartino dan Lais belum paham.


“Aku mohon, aku lelah, jelaskan pada mereka, karena mereka berdua takkan melepaskan kita, terlepas dari benar atau tidaknya Syahrul masih di jembatan itu, aku tidak perduli, aku lelah.” Istriny memohon agar lelaki itu mau jujur.


“Kalian berdua benar-benar akan membuat wanita ini semakin menderita. Tapi baiklah, aku juga lelah dengan menutupi ini semua.


Pertama, aku tidak membunuh Syahrul, tidak juga berselingkuh dengan wanita ini, dia adalah istri sahabatku, aku juga sudah menikah dan pernikahanku bahagia. Aku, Syahrul dan istrinya sudah bersahabat sejak kami masih sekolah, kami bertiga sahabat yang sudah sangat lama.


Tanpa dia sadari dia telah menjelma menjadi lelaki yang kasar dan sangat membenci hidupnya sendiri.


Berjalannya waktu dia menjadi pemabuk berat dan berhutang banyak karena judi. Istrinya sangat mencintai Syahrul, dia memaafkan Syahrul walau telah banyak menyakiti dan membuat dia harus bekerja dua kali lipat lebih banyak untuk melunasi hutang Syahrul.


Kantor juga memecatnya karena kinerjanya semakin menurun, dia datang terlambat, tidak bisa menyelesaikan tugas karena alkohol mempengaruhi otaknya dan tentu saja para penagih hutang itu membuatnya tidak mampu fokus.


Kantor memecatnya, beruntung, sebelum dia dipecat, aku dan Syahrul memilik asuransi jiwa yang kami urus mandiri.


Setelah dipecat dan membuat istrinya babak belur karena mabuk berat secara tidak sadar memukuli istrinya, malam itu Syahrul ....


Dia menghubungiku dan mengatakan membutuhkan bantuanku. Aku mendatanginya di jembatan itu, dia bilang dia akan membuat istrinya hidup lebih tenang dengan uang asuransi itu.


Dia bilang akan bunuh diri agar uang asuransinya cair, tapi aku bilang bahwa uang asuransi tidak akan cair kalau dia bunuh diri, karena salah satu batalnya klaim asuransi adalah bunuh diri.


Maka Syahrul bilang, dia sudah merencanakan semuanya, di atas jembatan tempat dia loncat itu kami berbicara untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Syahrul bilang bahwa dia sudah meminum alkohol, tidak ada CCTV di sekitar sini yang bisa membuktikan dirinya bunuh diri. Maka kemungkinan asuransi itu cair tinggi. Karena, ketika Syahrul dinyatakan meninggal karena kecerobohan akibat minum alkohol maka hal itu tidak dapat dikatakan bunuh diri, tapi kecelakaan.


Tidak perlu otopsi untuk memastikan bahwa ada kadar alkohol dalam darahnya, itu bisa menjadi bukti valid bahwa dia meninggal dalam keadaan mabuk dengan kadar alkohol tinggi.


Syahrul sudah memikirkan semuanya, aku membujuknya malam itu, ketika dia naik ke atas pegangan jembatan itu, aku mencoba menariknya dan memohon agar dia berhenti, aku bahkan bersumpah akan membantunya untuk mendapatkan pekerjaan baru dan membantunya untuk rehabilitasi dari kecanduan.


Tapi Syahrul bilang bahwa depkolektor lebih membuatnya takut dan juga dia sangat malu menghadapi istrinya yang sangat dia cintai tapi malah dia pukuli sampai babak belur.


Aku tetap berusaha menariknya, tapi sayang, karena hari itu hujan jadi tubuhnya lebih licin akibat air hujan, aku tidak bisa menyelamatkannya, tekadnya sudah bulat, dia jatuh karena sengaja, dia jatuh dalam niat yang sangat mulia, ingin istrinya jadi lebih nyaman.


Aku menghindari kalian karena aku takut kalian dari pihak asuransi yang sedang mencari bukti tentang bunuh dirinya Syahrul, karena jika itu terbukti maka klaim asuransi Syahrul akan batal, sebagai ahli waris istrinya tidak akan mendapatkan apapun.


Aku berusaha membantunya mendapatkan apa yang Syahrul usahakan sampai membuatnya harus bunuh diri, tapi sayang, istrinya ini tidak mau menerima asuransi yang telah disiapkan untuknya, istrinya ini bilang bahwa dia tidak ingin konpensasi itu, dia sangat membenci Syahrul ketika dia tahu Syahrul bunuh diri karena dirinya.


Selingkuh? Kalian gila! Istrinya Syahrul ini sangat setia, dia wanita yang menemani Syahrul sampai akhir hayat, sampai Syahrul meninggal dunia, dia menjadi sangat membenci suaminya karena kalah pada keadaan, sedang dia sama sekali tidak pernah menyerah, istrinya ini tidak pernah sekalipun menyerah pada Syahrul. Makanya dia sangat benci uang asuransi itu. Aku membujuknya menerima uang itu tapi sampai saat ini aku tidak berhasil.”


Hartino terdiam, ini adalah skenario yang tidak pernah terpikir olehnya, bahwa ada wanita bodoh yang bertahan untuk suami seperti Syahrul atas nama cinta. Apakah benar seperti yang Lais katakan, bahwa cinta bisa saja sangat besar.


“Aku tidak ingin uang itu, aku ingin hidup tenang bukan hidup nyaman dalam kebohongan, itu uang haram, karena jelas, saat meninggal Syahrul sadar dirinya berniat bunuh diri, kalau memang itu kecelakaan aku ikhlas, tapi itu bukan kecelakaan, aku tidak sudi menerima uang itu.” Istrinya buka suara, wajah teduhnya membuat Lais mendekatinya dan memeluknya, dua wanita itu menangis sesegukan.


Setelah istrinya agak tenang, Lais lalu mencoba mengemukakan pendapatnya.


“Kau pasti matah karena suamimu menyerah, kau saja yang habis dipukuli tidak menyerah, tapi tidak kah kau lihat, betapa cintanya besar padamu? dia menyerah karena merasa tidak mampu menemukan jalan lain, kau tahu, deritanya melihat orang yang kau cintai, disakiti olehmu sendiri. Suamimu bukannya menyerah karena kalah, justru dia ingin menang, makanya dia menyerahkan hidupnya untukmu. Bunuh diri tidak baik, itu tidak benar dilarang oleh Tuhan, tapi tidak ada obat untuk cinta.


Kau benar, uang itu uang haram, jangan terima, tapi maafkanlah suamimu, aku tahu sekarang, dia belum ‘pulang’ karena lupa apa yang terjadi dalam hidupnya, aku tahu kenapa dia merangkak karena rasa sakit jatuh dari ketinggian itu dan aku tahu, jika kalian berdua bertemu dan saling berpamitan, mungkin Syahrul akan ingat tentang hidupnya, lalu menjadi siap untuk ‘pulang’ sedang dirimu ... dirimu mampu memaafkannya dan kembali menjadi wanita yang tegar dan kuat.


Seiring berjalannya waktu kau akan lupa dan ikhlas. Kelak jika itu terjadi, kau akan jauh lebih tenang.” Lais terlihat sangat lembut dan bijaksana, Hartino tidak bisa berbuat apa-apa karena dia hampir saja membuat tuduhan palsu dan memfitnah orang.


“Aku akan menemuinya, aku sangat ingin menemuinya.” Istrinya berkata masih dengan uraian air mata.


Mereka berjalan ke jembatan untuk mengakhiri apa yang Syahrul mulai dan membuatnya bisa pulang dengan tenang.


Mengenai kehidupan istrinya Syahrul, Lais akan memastikan bahwa dia kelak akan hidup lebih baik, Lais akan membantu istrinya Syahrul untuk melunasi hutang, memberi pekerjaan yang lebih layak. Perempuan dengan kesetiaan yang tinggi, pantas menjadi pegawai kepercayaannya.

__ADS_1


__ADS_2