Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 187 : Sesat 2


__ADS_3

"Ayolah, mau sampai kapan kau akan menyekapku seperti ini?" tanya jin itu. Dia terikat dengan benang ghaib yang sangat tajam. Bergerak sedikit habis dia.


"Aku akan lepaskan saat kau beritahu aku, sejak kapan kau menyamar menjadi Har?"


Rupanya jin itu disekap oleh Alisha, saat dia mengancam akan mengadukan kejadian pemukulan terhadapnya kemarin itu. Tadinya Icha akan melepaskannya, tapi dia jadi semakin penasaran, kenapa Hartino harus menyuruh jin menyamar, apa yang dia lakukan? Apakah ini karena bisnis mamanya yang harus dia bantu?


Alisha percaya bahwa jalan ghaib bisa lebih lancar kalau urusannya dengan bisnis, seperti mengancam lawan atau membuatnya sakit melalui jalur santet agar kasus mamanya Hartino menang.


Tapi Alisha merasa bahwa mamanya Hartino terlalu jujur untuk memilih jalan itu.


"Kau tidka berniat memberitahuku juga hari ini? Baiklah, kau akan tetap berada di sini."


Alisha keluar dari sebuah gudang di antah berantah.


Dia berkendara dan akhirnya sampai di rumah.


Tahukah kalian, ada sebuah negeri bernama Negeri Kamerun. Letaknya di Afrika Tengah.


Tidak, aku tidak membahas tentang letak geografis atau perekonomian suatu bangsa.


Aku ingin memberitahu kalian bahwa negara itu memiliki ilmu perdukunan yang cukup tinggi.


Bahkan katanya mereka punya persatuan dukun yang menyelidiki tentang fenomena ghaib berbagai negara.


Bahkan mereka pernah berseteru dengan Kharisma Jagat karena sembarangan mengirim jin yang serakah di tanah Pasundan.


Ya, di sanalah gadis itu belajar. Belajar tentang apa itu yang tidak terlihat.


Bagaiaman seseorang bisa melihat dan yang lainnya tidak.


Dari negara Kamerunlah Alisha belajar, bahwa untuk bisa mengerti dunia Hartino, dia harus tenggelam dalam ilmu yang sesat.


Kenapa dia tidak belajar di Indonesia, Negeri tercinta yang sudah pasti memiliki ilmu perdukunan yang lebih gila.


Karena dia bertemu dukun-dukun yang salah seoanjang belajar di sini.


Dukun-dukun itu tidak membuatnya mampu melihat mereka yang tak terlihat seperti yang dilihat Hartino.


Saat kecil Alisha mengira Hartino bermain saat dia terlihat berbicara dengan angin. Tiada siapapun sebagai lawan bicara, hingga moment ini terjadi.


ALISHA SMP


Dari kejauhan Alisha melihat Hartino sedang berdiri di belakang gudang sekolah. Mereka satu sekolah tapi beda kelas. Sekolahnya orang-orang kaya.


"Sudah kubulang jangan ganggu kamar mandi wanita! Kau ini susah sekali dibilangin, mau kau kutaruh di botol!" Suara Hartino cukup keras. Dia merasa aman di sana karena biasanya tak ada orang.


Dia lupa bahwa Alisha adalah Penguntit.


Alisha tertawa tertahan, dia merasa Hartino lucu sekali. Lalu Alisha penasaran dia bicara dengan siapa.


Alisha mendekat dan berusaha melihat siapa orang yang berbicara dengan Hartino. Tepat saat dia bisa melihat ke balik punggung Hartino, Hartino sadar Alisha ada di belakangnya, lalu Hartino berbalik dan tidak lama kemudian, daun pintu gudang seperti dibanting.

__ADS_1


Alisha terdiam.


"Angin itu Cha, angin." Hartino yang kaget dengan kedatangan Alisha mencoba menenangkannya.


Tapi Alisha yakin, itu bukan angin. Pintu itu jelas tertutup saat dia lewati tadi. Mana ada angin yang bisa membuka pintu lalu membantingnya.


"Har! Kamu bicara dengan siapa tadi?" Alisha masih terlihat pucat karena kaget.


"Tidak ada, aku hanya sedang mencoba menghapal dialog untuk presentasi nanti."


"Kau bohong, presentasi apa yang membahas kamar mandi wanita? Jelas kau sedang memperingati orang, atau ... sesuatu." Alisha tanpa sadar menangis, dia ketakutan.


"Ngomong apa sih Cha!" Hartino mendekatinya dan berusaha menenangkannya.


"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, tanaman itu tiba-tiba bergerak setelah kau menyadari aku datang, tanaman itu seperti tertubruk sesuatu, lalu setelahnya hendela gudang itu terbuka dan pintunya dibanting!" Alisha menjelaskan apa yang dia lihat.


Har kaget, larena jin yang baru saja dia tegur itu memang kaget dengan kedatangan Alisha, lalu mencoba kabur melewati tanaman dipot yang cukup tinggi di depan Har, setelahnya masuk jendela yang ada di belakang gudang, tepat sebelah Hartino. Dan entah kenapa, terakhir jin itu membanting pintu.


Itu adalah pengalaman pertama Alisha bertemu dengan mereka yang tak terlihat. Alisha lemas dan sangat pucat.


Hartino menemaninya di unit kesehatan sekolah.


Alisha terdiam, orang-orang bilang keadaan seperti ini bisa dibilang sawan.


"Cha, minum teh dulu baru tidur." Hartino menguspa kepalanya.


"Apa setan itu bakal ke sini?" Alisha bertanya.


"Kok kamu bisa yakin?"


"Ya buat apa ke sini? Setan nggak suka tempat terang. UKS ini kan terang dan terawat."


"Benar begitu?" Alisha bangun dan memegang tangan Hartino.


"Sudah, minum teh dulu baru kamu tidur. Aku nggak akan ninggalin kami. Tidur yang tenang."


Alisha akhirnya percaya dan memaksa dirinya tidur.


Setelah Alisha tidur dan terlihat nyenyak, Hartino tahu itu karena dari dengkuran halusnya.


“Maafin Har ya Cha, Har nggak maksud buat kamu ketakutan kayak gini.” Hartino mengelus kepala kekasih hatinya. Walau mereka tidak pacaran, Har memang memiliki tempat yang khusus untuk gadis cantik ini.


Har lalu menemaninya tidur hingga ada petugas kesehatan yang menggantikannya.


Mulai saat itu Hartino sangat berhati-hati sekali jika dia berkomunikasi dengan jin, dia akan pastikan tak ada Alisha. Dari situ juga dia tahu, bahwa Alisha tidak cocok dengan dirinya yang begitu penuh masalah ghaib. Alisha begitu ketakutan, padahal hanya melihat sekelebatan. Bagaimana jika akhirnya dia tahu kalau Hartino lebih dari itu. Bertemu jin adalah makanan sehari-harinya.


Hartino takut Alisha akan celaka, ditambah lagi, jika dia menikahi Alisha kelak, tidak menutup kemungkinan dia akan tetap menggunakan jasa jin pengganti. Karena dengan mental Alisha yang rapuh seperti itu, Hartino takkan pernah jujur tentang dirinya yang menangani kasus ghaib bersama Mulyana.


Sementara Hartino juga pasti cembutu jika melihat Alisha tidur dengan jin yang menyerupainya, bukan dirinya.


Hingga Har memutuskan menjauhi Alisha, dia tidak lagi selalu bersamanya.

__ADS_1


Alisha bingung, Hartino yang selalu perhatian. Tidak pernah ada kata tidak dari Hartino jika Alisha yang meminta. Tapi sekarang berbeda, Hartino menjadi cuek, dan tidak perdulian pada Alisha lagi. Alisha sedih.


Alisha masih terus berusaha untuk mendekati Hartino lagi, mereka sekolah di tempat yang sama, lalu kuliah bersama. Hingga Hartino akhirnya mengenalkan pacarnya.


Pacar yang dia tipu, Hartino hanya menggunakannya untuk mengusir Alisha. Cara paling sakit yang Hartino pilih untuk berpisah.


Hartino bahkan diam-diam datang ke bandara saat Alisha memutuskan untuk melanjutkan S1nya yang terputus ke Australia. Hartino sedih berpisah dengan kekasih hatinya, tapi ini yang terbaik untuk Alisha, karena Alisha harus bahagia, walau sakit kelak jika melihatnya bersama wanita lain.


Hartino juga sejak saat itu, memutuskan untuk tidak mau mencintai siapapun lagi, dia juga bertekad tidak akan menikah kecuali dengan wanita yang mengerti dirinya.


Hartino terkenal plaboy, dekat dengan banyak wanita. Dia sengaja bersikap begitu, agar kelak tidak akan ada lagi wanita yang mau mendekati si playboy ini.


Hartino tampan, kaya dan supel. Dia memiliki banyak teman wanita dan pria yang suka berdekatan dengan Hartino. Dari luar Hartino adalah sosok yang riang dan sangat suka bergaul.


Dari dalam hati, ada seorang anak perempuan kecil yang sangat dia cintai, anak itu sulit sekali makan dan cenderung menangis jika dipaksa melakukan apa yang dia tidak sukai.


Tapi Hartino tidak mampu menjadikannya pelabuhan terakhir.


...


“Kak, lu kenapa sih?” Hartino dan yang lain masih asik berdiskusi tentang banyak kasus di wilayah sebrang.


“Aben nggak ke sini-sini mampir.”


“Aben yang suka jadi aku?” Hartino bertanya.


“Iya, kamu nyuruh dia di rumah? Ngapain? Kan kamu nggak perlu terlalu pakai pengganti, karena kita sudah besar dan bisa pergi di luar batas toleransi orang tua lagi.” Alka bingung.


“Aben aku mintain tolong, tapi itu tiga hari lalu Kak, emang dia belum pulang? Setahuku dia selalu pulang tepat waktu.”


“Jadi kau juga terakhir melihatnya tiga hari lalu?” Alka mulau merunut kronologi, mereka terlalu biasa untuk mengerjakan ini.


“Iya, apa dia diculik?” Hartino lumayan takut.


“Siapa yang mau nyulik jin Har.” Alka kesal karena Hartino kurang cerdas.


“Ya bisa aja, musuh kita gitu.”


“Tapi Aben itu bukan jin yang bisa dimanipulasi Har, dia bilang salah, maka salah, Aben tidak akan mudah terpedaya.” Alka membela Aben.


“Ya aku tahu, tapi apalagi jawaban yang mungkin? Masa dia dibegal, atau dirampok, lebih nggak masuk akal sih.” Hartino menyepelekan Alka.


“Kita cari dia?” Alka bertanya.


“Ya, ayo.” Alka lalu memimpin barisan keluar goa, saat hendak keluar, dia melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Tapi saat mereka hampir sampai di luar gedung, tiba-tiba Aben datang, dia terlihat sangat santai.


“Ben!” Alka langsung bertanya banyak dan mereka mengurungkan niat untuk menyerang.


“Aku nggak apa-apa kok. Udah kamu santai aja,” Aben berkata, dia terlihat baik-baik saja memang. Saking baiknya Alka melihat ada yang jaggal.

__ADS_1


Apakah Aben sedang diancam?


__ADS_2