Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 250 : Hestia 14


__ADS_3

“Kami harus melepas segelnya, karena tempat itu harus dibersihkan, proyek ini nilainya besar, aku akan membayarmu tiga kali lipat.”


“Segel itu sudah rusak sejak ditemukan tubuhnya, makanya ketika ada seorang lelaki dengan tanggal lahir yang sama denganmu mengambil air di sumur itu, dia bisa keluar menampakkan dirinya. Segel yang aku buat sangatlah kuat, tapi karena jasad itu ditemukan maka segelnya rusak.”


“Pantas beredar berita tentang hantu Suminah, ternyata karena itu.”


“Kalian sudah lama sekali tak mengunjungiku, sekarang tiba-tiba datang hanya karena butuh. Aku mau lima kali lipat.”


“Baiklah, lima kali lipat, aku butuh kau untuk segera menghapus segelnya segera.”


Nicko dan Darmin bersama dukun itu bergegas ke kampung, mereka mengendap di tengah malam untuk menghapus segelnya.


Begitu tiba, tidak ada siapapun di sana, Nicko merinding karena dia merasa ada yang mengawasi, melihatnya dari dalam sumur.


Dukun itu mengucap mantranya, mengambil beberapa tetes darah Nicko dan juga darahnya, membakar kertas yang berisi mantra, setelah itu dia membacakan ritual, begitu segelnya dilepas, maka ruh Suminah bisa jadi bebas, mereka juga membawa botol kaca untuk mengurung ruh Suminah di sana.


Dukun itu terus membaca mantranya, air di dalam sumur perlahan bergoyang, perlahan, lalu mulai menimbulkan gulungan air mirip ombak dalam tempat sempit di sumur itu.


Air naik karena gulungan mirip ombak itu, semakin naik, gulungan itu membentuk tubuh wanita yang terlihat memakai gaun putih panjang yang telah terkoyak dan lusuh, gaun putih itu panjang hingga tak terlihat ke bagian bawah sumur.


Mata dari wanita itu memerah melihat kedatangan orang yang paling dia benci, orang yang telah merenggut nyawanya.


Tapi dia tak mampu melakukan apapun karena ruhnya telah disegel didalam sumur.


Segel itu dikendalikan oleh dukun ilmu hitam yang memiliki ilmu tinggi.


Dukun itu membuat Suminah menunduk dalam berdirinya, ruh itu masih berada tepat di atas sumur.


“Masuk ke dalam botol.” Dukun itu berkata, dia memerintah Suminah untuk masuk ke dalam botol. Suminah menatap Nicko dengan tatapan tajam, Nicko tidak melihat itu, karena dia tidak bisa melihat Suminah, Darmin juga sama.


“Lepaskan aku, rasanya sakit.” Suminah mengeluh, dia rupanya terus merasakan sakitnya dipukuli, lalu dimutilasi serta di gugurkan secara paksa, hingga janinnya keluar dengan alami karena kematian. Sakit itu tak pernah berhenti setiap harinya, karena ruh itu disegel.


“Masuk ke dalam botol!” Dukun itu memerintah, Suminah terdiam, dia harus menanggung penderitaan bahkan setelah tubuhnya dikubur di dalam tanah.


Jiwa Suminah mulai bergerak ke arah botol yang dibawa dukun, saat hampir masuk, tiba-tiba sebuah cambuk mencengkram tubuh Suminah, sementara di leher dukun itu telah di sentuh oleh sebuah benda yang terasa tajam.


Cambuk itu menarik tubuh Suminah, hingga kembali ke dalam sumur, ular mini menutupi sumur itu agar Suminah tidak kabur dan dukun itu tidak bisa menangkap Suminah, tiga orang lain bersiap untuk menghajar Nicko dan Darmin yang tiba-tiba mengeluarkan senjata tajam.


Alka melihat itu menjentikkan jarinya, dia membuat semua orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, karena ini perkampungan, kalau terjadi perkelahian di sini, bisa sangat bahaya untuk penduduk, ada dukun hitam yang bisa saja menyerang dengan ilmu busuknya, bisa saja ilmu itu malah nyasar ke pemukiman warga.


Alka membuat semua orang berpindah ke hutan terdekat, setelah semua orang berpindah, Alka berlutut, karena lemas, dia memang belum pulih, Aditia melihat itu perhatiannya teralihkan.

__ADS_1


Dukun ilmu hitam itu memanfaatkan kesempatan dan memelintir tangan Aditia lalu menendangnya, dia mengucapkan mantra memanggiil bala tentara jin yang menjadi peliharaanya. Ada lima jin yang bertubuh besar di belakang dukun itu, sementara Nicko dan Darmin masih berkelahi dengan Ganding, Lais dan Hartino.


Jarni tidak dipindahkan karena dia harus menjaga sumurnya, menjaga Suminah tepatnya.


“Ka, kamu baik-baik saja?” Aditia menarik Alka yang tubuhnya perlahan stabil.


“Ya aku nggak apa-apa.” Alka agak heran karena dia tidak semarah biasanya saat Aditia dihajar seseorang, masih merasa kesal tapi intesitarnya sangat rendah, dia tersenyum, karena menyangka mungkin perlahan telah sembuh.


Aditia mengeluarkan kerisnya, karena tadi dia hanya menggunakan belati, keris tak berguna untuk tubuh manusia, sekalipun dia dukun, keris mini Aditia hanya berlaku untuk jin, sedang untuk manusia, itu hanya keris tumpul.


Alka mulai menyabet jin-jin yang menjadi sekutu dukun itu, jin yang berumur cukup tua dan sangat kelam, menakutkan.


“Ka, tuker.” Aditia meminta tuker senjata, karena kalau Aditia memakai keris, maka dukun itu bisa saja selamat, keris tak berguna bagi tubuh dukun itu. Tapi kalau cambuk Alka masih sangat berguna bagi tubuh manusia yang telah terpengaruh sihir yang kuat.


Alka menangkap keris yang Aditia lempar dan Aditia menangkap cambuk yang Alka lempar, mereka mulai bersenang-senang.


Sementara Aditia menangani dukunnya, Aditia bertarung dengan Abah Wangsa yang masih ada di dalam tubuhnya, dia menendang dukun itu, tapi berhasil mengelak. Dukun itu menyabet wajah Aditia dengan selendang, wajah Aditia terasa panas saat kena sabetan dari selendang itu, selendang berwarna merah.


Dukun itu bukan sembarang dukun, kemungkinan dia telah berguru ke banyak jin tua dan juga sosok legenda, lawan yang seimbang.


Aditia tahu bahwa jika dia terus menyerang tanpa strategi, maka wajah tampannya akan menjadi wajah gosong karena selendang itu.


Aditia melepas Abah Wangsa, dia meminta Abah Wangsa mengalihkan perhatian dukun itu, Abah Wangsa yang ilmu beladirinya jauh lebih tinggi, tentu saja berhasil membuat dukun itu kewalahan, saat Abah Wangsa memukul dukun itu di bagian wajah, Aditia mengincar perutnya, lalu saat Abah Wangsa memukul kakinya, Aditia mengincar wajahnya, dukun itu benar-benar kesakitan, beberapa kali cambuk Alka yang dipegang Aditia mengenai dirinya, hingga tubuhnya penuh dengan goresan, sementara jin-jin itu sudah dihabisi Alka dalam hitungan menit.


“Kami? Kami tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah, kau harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kau perbuat!” Aditia menunjuk dukun itu.


“Kau! kau menjebak kami bukan?” Nicko yang sadar akan wajah Aditia dan Alka berkata.


“Ya, tentu saja. Sekarang kau yang harus dipenjara, karena sudah cukup Deden selama ini membayar atas apa yang dia lakukan, diam saat Suminah akan dibunuh, dia sudha membayar dengan dipenjara selama ini. Sekarang waktunya kalian yang bertangung jawab!” Aditia berkata dengan tegas.


“Kau tidak punya bukti! Kenapa kami harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak kami lakukan!” Nicko masih mengelak.


“Akan terbukti, dengan keberadaan janin yang kau keluarkan secara paksa itu, hingga membuat Dokter yang telah mengotopsi bahkan tidak tahu pernah ada janin di sana.”


“Percuma, karena janin itu sudah kami kubur dan saat ini, janin itu pasti telah lenyap dimakan oleh belatung di dalam kubur.”


“Mantra Anindyamentari, tidak bisa digunakan, jika janin telah tiada, mantra itu bisa digunakan, jika janin masih ada secara utuh, naluri ibu, walau  telah berbeda alam, dia masih tetap berusaha menjaga anaknya, walau masih berupa janin.


Kau taruh di mana janin itu, dukun laknat?” Aditia membuat Nicko kaget, karena dia pikir selama ini janin itu telah musnah.


Dukun itu terdiam, kelicikannya ketahuan juga. satu-satunya bukti masih ada di tangannya.

__ADS_1


“Apa benar, janin itu masih ada?” Nicko bertanya pada dukun yang sama-sama terikat sepertinya dan Damin.


“Mantra itu takkan berfungsi jika janin telah hilang atau tiada, maka aku harus mempertahankan janinnya agar mantra segelnya bisa berfungsi pada ibu janin itu. Ini mantra kuntilanak yang paling termasyur, mujarab, aku tidak harus memberitahu kalian kan bagaimana aku mengunci Suminah di sumur itu, aku hanya bisa menggunakan janinnya untuk membuat dia tunduk.”


“Brengsek!” Nicko tahu, bahwa jika janin itu ada, maka bukti kejahatannya juga ada. Kejahatan yang puluhan tahun ini dia tutupi, akhirnya akan terbongkar.


“Dimana kau sembunyikan janin itu?” Aditia bertanya sekali lagi.


“Kalau kau tidak mau memberitahu, aku akan membuatmu hilang akal, tapi kalau kau beritahu, aku hanya akan membuatmu kehilangan ilmu, tapi kau masih bisa menjalani hidup, di penjara tentunya.” Alka menawarkan kesepakatan.


“Kalian benar-benar sekumpulan pemuda brengsek!” Nicko berteriak.


“Kau yang brengsek, kau sudah membunuh orang, memutilasinya, mengkambinghitamkan orang, kalian benar-benar menjijikan!” Alka kesal dan menyabet Nicko dengan cambuknya, walau cambuk itu hanya berfungsi sebagai cambuk biasa saja, karena Nicko tak punya ilmu.


“Cepat!” Aditia meminta dukun itu memberitahu, dukun itu akhirnya memberitahu lokasinya.


“Percuma, karena kalau sampai janin itu ada pun, aku takkan mengaku, karena bisa saja Suminah hamil dan aku tak tahu, sementara Deden tetap menjadi pembunuhnya, dia takkan berani mengatakan yang sebenarnya, karena aku menanggung semua biaya hidup keluarganya, aku menjanjikan kekayaan bagi keluarganya, dia takkan pernah mengaku, janin itu tidak bisa menjadi bukti.” Nicko tertawa.


“Aku tidak hanya memiliki Deden sebagai saksi, aku memiliki dukun ini, Darmin dan tentu saja istrimu.”


“Apa maksudmu!” Nicko berteriak.


“Darmin, kalau kau tidak mau menjadi saksi, aku pastikan, anakmu akan ditarik dari pekerjaannya saat ini di Autralia, katanya dia seorang pengacara muda di sana, aku bisa menggunakan koneksiku membuat rumor tentang dirimu yang seorang pembunuh, itu akan mematikan karir anakmu. Tapi kalau kau mau bersaksi, aku akan membantu menutupi kasus ini dari mata dunia, hanya kau yang perlu masuk penjara bersama sekutumu ini, bagaimana?” Ganding sijenius menggunakan data yang diberikan Hartino soal keluarga Darmin dengan sangat baik.


Kelemahan Darmin adalah anaknya, dulu dia terbujuk membawa Suminah pada istrinya Nicko karena bujukan agar anaknya sekolah tinggi, sekarang, dia pasti takkan bisa menolak ancaman itu.


“Bagaimana? kau tahu kan, koneksi kami begitu luas?” Ganding mengingatkan tentang perusahaan gajah mereka.


“Baik! baiklah, tak mengapa saya masuk penjara, yang penting anakku tetap menjadi pemuda sukses di sana, keluargaku tidak tahu apa-apa, aku mohon anak-anak dan istriku tetap aman, ungsikan mereka ke luar neger.” Darmin memohon.


“Darmin, brengsek kau!” Nicko lupa kalau orang kepercayaannya punya kelemahan.


“Satu lagi, istrimu juga setuju untuk bersaksi bahwa hari itu dia bertemu dengan Suminah yang kau sekap, serta preman yang kau bayar untuk menyekap Suminah, kukira pengadilan tidak memiliki alasan lagi untuk memenjarakanmu!” Aditia mengungkapkan tentang Ganding yang telah menemui istri Nicko sebelumnya.


Mereka percaya bahwa Suminah telah hamil karena mantra itu, soal janin itu diungkapkan pada istri Nicko, istrinya yang telah tua itu takut kalau semasa akhir hidupnya dia akan sengsara karena telah membela suaminya, maka dia setuju untuk menjebloskan suaminya agar di mata publik dia akan menjadi wanita yang baik, mungkin juga jadi alasan untuknya kelak di pemilihan daerah. Istrinya Nicko saat ini memang telah aktif dalam sebuah partai di negeri ini.


Nicko telah berada di ujung tanduk, dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan.


Namun yang terberat dari semua ini adalah, bagaimana Aditia mengungkapkan masalah ini dihadapan Pak Dirga, karena dia adalah Polisi yang menangani masalah ini sebelumnya, Dokter Forensik yang dulu mengotopsi Suminah telah meninggal dunia, sehingga dia tidak mungkin bisa diminta pertanggungjawaban, sedang Pak Dirga masih hidup, dia juga akan terseret dalam masalah ini.


Terlebih, bukan soal mempertanggungjawabkannya, tapi rasa bersalah akan menggerogoti Pak Dirga yang hatinya baik, dedikasi pada pekerjaannya juga tinggi, ini kesalahan yang bisa membuatnya terpuruk dan jatuh sangat dalam.

__ADS_1


Aditia sedih soal itu.


__ADS_2