Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 125 : Saba Alkamah 10


__ADS_3

 


 


“Baiklah, anakku akan memeriksa ke rumah sakit, sebutkan rumah sakitnya, kami akan ke sana bersama kalian,” ayahnya meutia berkata. Suasana sudah semakin panas, makanya ayahnya Meutia turun tangan.


“Baik, kalau begitu besok, kita bertemu di rumah sakit besar di kota, kami akan menunggu kalian di sana sehabis dzuhur, kalau kau tidak datang, aku akan membuat kalian menyesal, kami sudah kehilangan putra kami yang sekarang entah ada di mana, kami takkan rela kehilangan cucu kami lagi,” ayahnya berkata. Dia terlihat sangat amat marah.


Setelah keluarga Haris pergi, Meutia buru-buru bicara pada ayahnya.


“Apa yang Ayah lakukan? apa kau ingin aku celaka? ini bukan bayi Haris.”


“Meutia, kamu tidak punya siapapun lagi sebagai sandaran, kita bisa manfaatkan keadaan ini.”


“Maksud Ayah?”


“Keluarga Haris memang bukan keluarga yang kaya raya, tapi mereka punya cukup uang untuk menajga kehidupan kita kelak, aku tahu kau punya simpanan emas, tapi anak ini, jika kita akui sebagai anak Haris, maka kemungkinan dia bisa jadi ladang uang.”


“Oh, aku mengerti, kita bisa jadikan anak ini sebagai alat untuk memeras keluarga Haris?”


“Ya, betul, mengenai rumah sakit, aku akan minta tolong bantuan Bidan Erni, dia bisa membantu kita di sana, mereka yang pilih rumah sakit, kita yang atur orangnya.” Ayahnya Meutia memang beruntung punya pacar simpanan seorang oknum Bidan, jadi dia bisa saja meminta bantuan untuk kejahatan bersama anaknya.


Hari berganti, waktu untuk bertemu di rumah sakit tiba, begitu mereka sampai, disambut oleh keluarga Haris, lalu mereka masuk untuk mendaftar pemeriksaan kehamilan, sudah ada Bidan Erni yang menerima mereka, Rumah sakit ini memang tidak terlalu familiar cara pendaftarannya, karena jaman dulu tidak terlalu baik sistem pendaftaran sampai pemeriksaannya, jadi Bidan Erni bisa menyelinap, dia dibantu oleh oknum Perawat lain yang dia kenal.


Meutia mendaftar dilayani oleh oknum Perawat yang sudah dibayar oleh ayahnya Meutia untuk pura-pura menjadi admin, lalu setelah itu oknum Perawat yang menyamar menjadi admin itu mengantar Meutia dan keluarga Haris serta ayahnya Meutia ke suatu ruangan yang paling ujung untuk diperiksa, sebenarnya itu adalah ruangan yang tidak terpakai lagi karena dulu digunakan sebagai laboratorium, tapi sekarang dijadikan tempat pemeriksaan dadakan oleh oknum rumah sakit yang dibayar keluarga Meutia melalui Bidan Erni.


Saat masuk ada seorang Dokter yang terlihat sangat profesional, dia seorang wanita.


“Halo, silahkan duduk, ini ramai sekali mau cek cucunya ya?” Dokter itu berkata dengan lembut.


“Iya Dok, tolong periksa menantu saya ya, saya mau tau apakah dia hamil.” Ibunya Haris berkata sembari menerobos tubuh Meutia dan ayahnya, dia terlihat bersemangat.


“Kalau begitu, mari ke sini, kita cek dulu ya, tensi dan berat badannya. Sus, tolong cek ya.” Perawat bayaran itu segera memeriksa Meutia seperti biasanya.


Setelah cek dan semua baik-baik saja, Meutia diminta berbaring ke ranjang pemeriksaan, lalu setelah dia berbaring, bagian perutnya dibuka yang melihat ini semua hanya ayah Meutia dan ibunya Haris. Sementara yang lain tidak ikut, karena Meutia harus membuka perutnya.


Dokter itu lalu memeriksa denyut jantung bayi, terdengar seperti sebelumnnya tapi Dokter itu sengaja tidak terlalu mendekatkan alatnya agar detak jantung itu terdengar samar, kalau ibunya Haris curiga bisa bahaya.


“Ini benar menantu ibu hamil ya, lalu keadaan anaknya juga sehat, denyut jantung juga sudah sesuai dengan umur janin,” ucap Dokter gadungan itu.


“Jadi benar menantu saya hamil, Dok?”


“Ya, hamil Bu, bayi dan ibu sehat, kalau berdasarkan hitungan dari haid terakhir, usia kandungan adalah sepuluh minggu.” Dokter itu meyakinkan ibunya Haris.


Ibunya Haris terlihat sumringah, dia sudah membayangkan mendapat cucu, karena dia sampai saat ini belum punya cucu, walau kakaknya Haris dua orang sudah menikah, tapi belum juga dikaruniai anak, jadi bisa dibilang, anak Meutia dianggap cucu yang dinanti. Kasihan sekali, mereka ditipu oleh wanita licik dan ayahnya.


Lalu mereka keluar dari ruangan itu dan berjalan ke luar, ayahnya Meutia lalu mengajak semua keluarga ke rumahnya untuk berembug.


Begitu sampai rumah mereka duduk dan mulai berdiskusi, sikap keluarga Haris menjadi lebih tenang.


“Karena kalian sudah tahu anak saya hamil cucu kalian, maka kami tidak bisa menghindar lagi, aku sudah menasehati Meutia, walau dia benci ayah dari anak ini, tapi mempertemukan dan mengakui keluarga ayahnya adalah hal yang wajib Meutia lakukan.”


“Betul sekali Pak, kami sangat bersyukur untuk bayi itu, kami akan menerima bayi itu dengan sukacita.”

__ADS_1


“Tapi maaf Bu, kalau ibu meminta bayi ini untuk kalian rawat, kami tidak bisa, karena bayi ini adalah milik ibunya, ayahnya sudah hilang, jadi tidak diperbolehkan anak ini diambil dan diasuh oleh orang selain ibunya.” Ayahnya Meutia mulai melancarkan ide jahatnya.


“Baik, kami takkan memaksa Meutia untuk memberikan bayi itu, tapi izinkan kami memperhatikan anak itu dan ibunya, kami ingin anak itu lahir sehat dan ibunya juga baik-baik saja.” Ibunya Haris terlihat sangat senang dan tidak sabar menunggu kelahiran cucunya.


“Kalau begitu, ada hal yang harus kalian penuhi jika ingin ikut mengurus anak ini kelak.”


“Hal yang harus kami penuhi?” Ayahnya Haris curiga dengan arah pembicaraan ini.


 


 


“Ya, kewajiban yang harusnya Haris penuhi, tapi tidak dia penuhi, dia hilang entah kemana dan Meutia harus menanggung bayi ini sendirian, aku sudah menanggung anakku dengan baik selama ini sendirian, aku tidak ingin anakku menjadi sepertiku, ikut menanggung biaya anaknya sendirian, karena kehamilan ini membuat bisnis kami turun, makanya tadinya kami berniat menggugurkannya, walau Meutia sempat tidak setuju.”


“Kalau ini masalah uang, maka kami tidak keberatan membiayai kehamilan, persalinan dan kebutuhan anak itu kelak.” Ibunya Haris tidak ragu mengatakan itu, sementara ayahnya Haris terlihat sangat kesal istrinya berkata begitu.


“Baik, kalau begitu saya ingin kalian mengirim uang bulanan mulai bulan ini untuk kebutuhan Meutia dan anaknya, kalau kalian tidak sanggup, tidak masalah, tapi jangan harap ketemu cucu kalian kelak.” Ayahnya Meutia begitu tidak tahu malu melontarkan permintaan itu.


“Kami akan mengirimkan uangnya, kami akan kirim sesuai permintaan anda.” Ibunya Haris tidak meminta izin dari suaminya, dia hanya menuruti saja, Meutia tersenyum sinis, satu keluarga bodoh lagi yang dia bisa keruk uangnya.


“Kalau begitu, baiklah, terima kasih karena hari ini sudah memeriksa kandungan anak saya.” Ayahnya Meutia mengusir secara halus tapi cukup kentara.


"Ayah, bagaimana mungkin Bidan Erni tadi menyamar menjadi Dokter, dia benar-benar bisa diandalkan."


Meutia tertawa terbahak-bahak memuji calon ibu tiri yang dia belum sadari.


"Ya, betul, dia memang banyak membantu."


"Untung Ayah kemarin tidak membunuh dia, Ayah memang selalu benar."


"Ayah, andai ibu masih ada, dia pasti bisa membantuku seperti Bidan Erni ya." Meutia tertawa-tawa, dia menemukan sosok ibu di Bidan Erni, tentu Bidan Erni memang sengaja menonjolkan itu.


"Ya. Kau tidurlah, istirahat, kau harus menjaga anak itu dengan baik."


"Iya Ayah." Meutia lalu pergi ke kamarnya.


Ayahnya Meutia memastikan Meutia tidur lalu dia pergi menemui Bidan gadungan itu.


"Jadi, bagaimana?"


"Aku sudah mengambil sebagian emas dari gudang penyimpanan Meutia, ini kau ambil, jual lalu belilah tanah yang kau mau."


"Kau benar-benar lelaki yang hebat, aku akan membelinya, ini juga akan menjadi kediaman kita bertiga kelak."


"Betul, dia sudah mulai luluh padamu, tidak salah aku memilihmu menjadi kekasihku."


"Kau mau mampir dulu ke rumah?"


"Memang suami dan anakmu tidak ada?" Ayahnya Meutia bertanya.


"Tidak ada, suami tidak berguna itu dinas ke luar kota, anakku sedang ke rumah nenek dan kakeknya untuk beberapa hari."


"Kalau begitu aku akan mampir ke rumahmu."

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya ke rumah Bidan Erni dan melakukan maksiat yang paling dibenci oleh Tuhan.


Maksiat yang sudah mereka lakukan berkali-kali.


...


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kehamilan Meutia terlihat semakin membesar, perutnya besar bukan karena janin yang berkembang, tapi karena kain-kain yang ditambahlan ke dalam perutnya.


Hal aneh ini tidak bisa ketahuan oleh keluarga Haris, karena mereka pasti akan curiga dengan kehamilan yang tidak membuat perut semakin membesar.


"Ini uang dari ibu mertuamu, dia bilang besok kau harus diperiksa ke rumah sakit lagi." Ayahnya Meutia memberikan sejumlah uang yang cukup banyak untuk bulan ini, tidak terasa kehamilan Meutia sudah menyentuh angka delapan bulan, tinggal sebulan lagi anak itu akan lahir.


"Ayah, kau atur saja uangnya, aku tidak minat mengurus itu, aku hanya ingin kau menyediakan semua keperluanku, makan dan juga perlengkapan dan peralatan melahirkan kelak."


"Iya anakku, aku akan menyiapkan semuanya untukku."


"Tapi Ayah, kenapa akhir-akhir ini aku sangat rindu sekali dengan tuan?"


"Berhenti memikirkan dia, dia hanya seorang jin tidak berguna, kau harus hati-hati, begitu melahirkan kita harus bersiap, anak itu tidak boleh jauh darimu karena kalau anak itu jauh darimu, maka celakalah kita, Darhayusamang akan mencelakai kita."


"Ya Ayah, mungkin ini hanya bawaan hamil saja, aku hanya merasa ingin bertemu dengannya."


"Sekarang kau makan dulu, lalu berjemur, tunjukan pada tetanhga kau sedang hamil anak Haris, toh gosip itu sudah menyebar, dukun urut gila itu bisa menjadi hal menguntungkan bagi kita juga, karena dia, sekarang uang keluarga Haris bisa mengalir ke kita juga."


"Betul, kita memang selalu beruntung Ayah."


Mereka tidak tahu bahwa terkadang kesenangan adalah cobaan yang sengaja Tuhan berikan untuk membuat manusia berpikir dan berlaku sesuai perintah Tuhan, tapi mereka malah semakin terlena dan merasa dirinya mampu berbuat apapun yang menyebabkan kerusakan.


Meutia dan ayahnya tidak tahu bahwa masa depan baik milik orang-orang baik.


"Bu Meutia udah berapa bulan itu, keliatan besar ya." Seorang tetangga menegur Meutia yang sedang berjemur sedikit jauh dari rumahnya.


"Sudah delapan bulan Bu."


"Oh, hati-hati ya, kaga baik-baik kandungan karena kalau lahir dibulan genap itu bisa bahaya untuk anaknya."


"Iya Bu, makasih ya." Seandainya bisa semudahbitu mencelakai anaknya, tetangga itu tidak tahu bagaimana kerasnya Meutia ingin menciptakan bahaya untuk janin ini, tapi selalu gagal. Itu adalah apa yang Meutia pikirkan dalam hatinya.


Si tetangga tiba-tiba ingin memegang perut Meutia tapi Meutia dengan sigap memegang perutnya dan berpura-pura kram.


"Aduh maaf Bu, perut saya kram, saya pulang dulu ya." Meutia buru-buru pulang, dia tidak mau tetangga itu curiga, karena tidak pernah berhasil memegang perutnya.


Hamil yang aneh, kenapa perutnya tidak membesar sama sekali, Meutia terus berjalan ke rumahnua yang tinggal beberapa langkah, Meutia kaget, langkahnya terhenti.


"Di-dimana ini? Kenapa gelap?!" Meutia berteriak.


"Kau tidak rindu padaku?" Suara itu, suara yang sangat dia kenal menyapa.


"Tuan ...."


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2