
Dia berada di sana dengan tubuh kecilnya, tidak pernah tumbuh menjadi wanita dewasa selayak umurnya, karena tubuh itu telah hilang bersama umurnya yang berhenti.
Perempuan itu dipisah paksa dari keluarganya, dijadikan budak, perlahan lupa tentang hidupnya, keluarganya dan jati dirinya.
Aditia mendengar tangis putus asa anak itu karena itu adalah panggilan tugas pertamanya sebagai penjemput tanpa angkot jemputan.
Begitu melihat kebaikan Aditia yang tidak pernah dia rasakan di desa itu, dia menjadi tahu mana baik dan jahat. Makanan dan minuman yang disajikan oleh Yahnaweja, adalah makanan buruk, perempuan kecil itu tahu bahwa Yahnaweja hendak mencelakai Aditia, walau dia tidak benar-benar tahu tujuannya adalah untuk membuat Aditia lupa keluarganya.
Perempuan kecil itu tahu sungai dan tumbuhan adalah makanan yang baik untuk Aditia karena Yahnaweja melarang semua orang minum dari sungai dan makan dari kebun itu. Apa yang Yahnaweja berikan adalah keburukan dan apa yang Yahnaweja larang adalah kebaikan, perempuan kecil itu tahu.
Aditia datang ke desa itu tidak dijebak, tapi memang sebuah takdir. Dialah yang akhirnya membawa pulang anak itu, kembali ke rumah. Walau tidak dalam wujud jasad sekalipun, tapi dalam wujud jiwa dan ketenangan bagi ibunya.
“Jadi benar bahwa anak saya sudah tiada?” Ibu itu bertanya, air matanya tidak pernah kering.
“Iya benar.”
“Dia ada di sini?” ibu itu bertanya.
“Ya, dia disampingmu dan sedang memelukmu.”
“Apakah aku bisa menguburnya dengan baik.”
“Kami tidak menemukan jasadnya.” Aditia menyesal mengatakanya, tapi itu adalah kenyataan, entah di mana tubuh itu.
“Baik, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisakah aku melihatnya, sekali saja?” Ibu itu terlihat semakin putus asa.
“Tidak, karena tidak baik memaksa mata batinmu terbuka dengan kondisi fisik yang lemah.” Aki Dadan menjawab.
“Kalau begitu aku harus apa?”
“Katakan apa yang ingin kau katakan, dia mendengarmu.” Aditia memberi jalan keluar.
“Baiklah, anak ibu yang cantik, anak ibu yang baik, ibu tidak pernah melupakanmu, ibu tahu kalau kau itu anak yang sangat membanggakan. Kami tidak pernah sehari pun berhenti mencarimu. Ayahmu telah tenang di sana setelah berjuang tidak pernah kehilangan harapan menemukanmu, kau bisa menyusulnya dan bahagia di sisi Tuhan. Ibu tidak akan lagi menangis, ibu akan menjalani sisa hidup dengan mengenangmu yang berjuang mencari jalan pulang.
Ibu ikhlas, ibu melepasmu dan tidak akan menyesal lagi karena takdir kita hanya bersama selama beberapa tahun saja. Tapi kamu membuat hidup kami begitu bahagia saat kamu bersama kami, Nak.
Cinta kasih kami takkan berhenti, kami tidak akan pernah lupa bahwa ada anak kecil manis yang baik hatinya telah lahir di rumah ini dan sekarang ibu izinkan kamu pergi.”
Perempuan kecil itu menangis mendengarnya, wajahnya begitu bersinar. Aditia mengulurkan tangan dan berkata ... .
“Ayo waktunya kita ‘pulang’” Anak itu menyambut tangan Aditia dan berjalan bersama Aditia, meninggalkan ibunya dengan jawaban yang telah dia cari selama dua puluh tahun lebih, melambaikan tangan walau tidak terlihat dan keikhlasan ibunya membuat langkah anak itu menjadi ringan.
“Dit, apa kamu merasa baik-baik saja?”Aki Dadan bertanya.
“Aku hanya sedih Ki.”
“Anak itu?”
“Ya, kenapa harus dipisahkan dengan orang tuanya?”
“Kelak dia membantumu terlepas dari desa itu kan. Mungkin memang tujuan hidupnya hanya sampai disitu, takdir rahasia Tuhan Dit.”
“Ya, aku tahu itu Pak.”
“Dit, ini berarti tugas penjemputan pertamamu yang berhasil kau selesaikan, kau membebaskan begitu banyak jiwa dalam tugas pertama ini, Aki bangga padamu. Tapi sayang ....”
“Kenapa Ki?”
“Besok Dirga akan menjemputmu untuk pulang.”
“Aku udah boleh pulang?”
“Ya, kau senang sekali, padahal baru sebentar Aki latih.”
“Bukannya Aditia tidak suka dilatih Aki, tapi Aditia sudah rindu rumah, Ayah, Ibu dan Dita. Ingin bertemu mereka.”
“Iya, Aki mengerti. Oh ya, soal pernikahan adat, apakah kau sudah mendengar soal itu?”
Aditia terdiam.
“Kami bukan keluarga yang suka memaksa, tapi Ami adalah hakmu dalam adat perkharisma jagatan ini. Kau boleh menikahinya kelak, atau menikah dengan pilihanmu. Aku adalah kawanan ayahmu yang tidak pernah memaksa jodoh adat. Aku menyukaimu murni karena kemampuan dan budi pekertimu makanya aku ingin kau menjadi keluarga. Tapi aku ingin ini tidak menjadi bebanmu.”
“Ki, Adit masih remaja, belum saatnya membicarakan pernikahan, Ami cantik, tapi ... Aditia belum memikirkan itu, Aditia hanya ingin banyak belajar dari banyak guru, dari Aki dari Ayah bahkan Pak Dirga.
Adit ingin menjadi sehebat ayah, sekuat Aki dan sesabar ibu. Adit ingin menjadi anak yang dibanggakan, baru kelak memikirkan soal percintaan, menurut Adit masih terlalu jauh membicarakan itu.”
“Baik, seperti Aki bilang tidak akan memaksa, tapi kelak jika kau merasa Ami adalah jodohmu, kembalilah ke sini, Aki akan selalu menerimamu, semoga saat itu, Ami belum menikah.”
“Baik, Adit akan selalu ingat itu. Terima kasih Ki.”
Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk istirahat dari segala kepenatan yang sangat misterius.
__ADS_1
...
“Dit, udah di packing bajunya?” Pak Dirga bertanya, Aditia sudah membawa tas ranselnya. Mereka ada di ruang besar tempat semua orang melakukan kegiatan tidur, makan dan berdiskusi.
“Udah pak, ayo pulang.” Aditia berjalan ke depan dan kaget.
“Dit!”
“Ayah!!!” Aditia berlari dan memeluk ayanya, ayahnya ada di sini ikut menjemput.
“Ayah makasih ya udah jemput Aditia ke sini.”
“Iya Dit, Aki Dadan cerita soal kamu ke desa itu, apakah benar kau akhirnya bisa membuat semua jiwa yang terjebak bebas? Sendirian?”
“Iya ayah, tidak, tidak sendirian, ada sesosok yang membantu mungkin jin baik, tapi Aditia tidak bertemu dengannya, karena Adit pingsan.”
“Siapa jin itu?”
“Tidak tahu, semua yang aku tanya bilang lupa pada bentuknya dan dia tidak memperkenalkan namanya.”
“Oh begitu. Baiklah, sekarang kamu ke jeep Pak Dirga dulu ya, taruh tasmu, ayah mau pamit dulu sama Aki.”
“Iya Yah, Ki, Adit pulang ya, terima kasih udah mau latih Aditia, udah mau cari Adit pas ilang dan maaf atas semua kesalahan yang Aditia buat.” Aditia salim ke Aki Dadan dan masuk ke Jeep Pak Dirga.
Sementara Mulyana berbicara dengan Aki Dadan.
“Siapa yang membantu Adit di desa itu?”
“Entah, aku bahkan tidak pernah bisa mendeteksi desa itu karena jin pemilik desa itu sungguh sangat kuat dibantu dengan banyaknya dukun yang bersekutu, dijaga oleh iblis perempuan keturunan dukun jahanam.”
“Mungkin Alka, Karuhunnya.”
“Karuhun sementara itu?”
“Ya, karena kalau seperti yang kau katakan bahwa Aditia yang merasa dirinya kalah lalu menang, satu-satunya yang bisa membalik keadaan hanya Karuhunnya, karena Karuhun dan tuannya adalah satu kesatuan. Perjanjian apapun akan mengakui itu.”
“Ya, tapi bagaimana dia menemukannya?”
“Lanjo, pasti lanjonya yang bereaksi saat Aditia dalam bahaya, kau tahu sifat posesif Karuhun itu membawa pengaruh pada ikatan batin tuan dan Karuhunnya.” Mulyana yakin itu Alka.
“Karuhun dengan Lanjo, tenyata ada manfaatnya juga, dia jadi bisa menyelamatkan tuannya, tapi kau tahu kan Yan, kalau Lanjo itu bisa berbahaya untuk mereka berdua, jika Karuhunnya lepas kendali, maka Aditia akan celaka.”
“Aku tahu itu lebih dari siapapun Dan, aku sudah mencoba sebaik mungkin agar mereka tidak bertemu. Tapi kali ini aku harus berterima kasih pada Alka karena menyelamatkan Aditia.”
“Ya, terima kasih sudah menerima anakku ya.”
“Ya, soal pernikahan adat aku sudah membicarakannya ke Aditia, aku tidak memaksa, tapi aku beritahu bahwa dia juga punya jodoh adat.”
“Kau ini, selalu saja begitu.” Mulyana kesal tapi dia tahu, Aki Dadan suka Aditia dan ingin dia jadi keluarga atau cucu menantu.
“Baru kali ini aku mendukung jodoh adat, kau tahu kan, kalau kita berjuang untuk menghapus itu, tapi kalau menjadikan jodoh adat sebagai alasan agar Aditia menjadi cucu menantuku, aku tidak keberatan.”
“Dadan! Kau ini, yasudah aku pamit.”
Mulyana lalu masuk ke Jeep milik Dirga, Dirga di kemudi, Mulyana di sampingnya dan Aditia di belakang. Mereka berkendara ke arah pulang dengan masuk pintu tol.
“Ga, jaga batas kecepatan ya, tol ini kurang bail.” Mulyana mengingatkan Dirga begitu mereka sampai di pintu tol dan sedang mengantri untuk membeli tiket di pos yang dijaga oleh petugas tol, pada jaman itu petugas tol masihlah seseorang yang berseragam, bukan mesin.
Saat giliran mereka, Aditia kaget.
“Kenapa?” Mulyana bertanya.
“Itu ada yang duduk di belakang petugas perempuan yang memberikan tiket barusan.” Aditia memberitahu apa yang dia lihat.
Mereka mulai masuk tol.
“Memang apa yang kau lihat Dit?” Dirga bertanya.
“Itu, seorang lelaki botak, kepalanya tidak utuh, matanya hampir keluar, telanjang dada dan kulitnya banyak terkelupas di bagian wajahnya. Dia terus berada di belakang petugas perempuan yang menjaga pos tadi.”
“Pasti korban kecelakaan tuh.”
“Sok tahu kau Ga, belum tentu.” Mulyana mencemooh.
“Maksudnya?” Dirga bingung.
“Bisa saja Karuhunnya.”
“Karuhun Yah?” Aditia seperti tertarik dengan nama itu.
“I-iya.” Mulyana lupa bahwa Aditia belum mendalami Kharisma Jagat dan dunianya, belum saatnya, itu terlalu berat kalau saat ini dibicarakan, ditambah soal Alka dengan Lanjonya.
__ADS_1
“Iya, pelindung atau penjaganya.” Mulyana menjawab singkat.
“Penjaga seperti Yahnaweja? Dia membuat semua jiwa itu terpenjara dengan maunya dan mau tuannya.” Aditia kesal.
“Bukan begitu, Karuhun adalah pelindungmu dari jin atau manusia yang hendak berbuat jahat padamu, dia akan selalu berusaha menolongmu. Jika kau baik, dia baik. Jika kau jahat dia akan ikut jahat, jadi tergantung kamu.”
“Adit punya Karuhun Yah?”
Mulyana tersedak mendengar itu, Dirga juga batuk.
“Belum, nanti kalau ayah sudah tiada, baru Adit bisa ketemu Karuhun Adit.”
“Oh begitu, kalau gitu nanti-nanti aja, nggak ketemu juga nggak apa-apa.”
“Kok gitu Dit?”
“Ya, Adit nggak mau ketemu dia cepet-cepet, karena Adit nggak mau ayah pergi meninggalkan kami untuk selamanya, biarlah Aditia tidak punya Karuhun, tapi punya ayah.”
Mulyana tersentak mendengar itu, Mulayan bahagia bahwa dengan segala kesederhanaan ini, dia mampu mendidik anaknya menjadi anak yang hebat.
“Wah hujan, aneh! Kok tiba-tiba ujan gini.” Dirga menyalakan wiper depan agar bisa melihat ke depan.
“Ga, jaga jarak ya, abaikan kalau ada yang ngedim-ngedim atau klakson.”
“Iya.”
“Dan ingat, jangan ngantuk, kau harus fokus ya, aku akan membantu doa.”
“Hah? kok pake bantu doa segala, ada apa sih Yan?”
“Elu maksa lewat tol, tau kan kalau di sini tuh tol yang banyak menelan jiwa saat pembangunannya, jin juga banyak bersarang di sini. Adit lihat, itu ada kerajaan yang besar sekali terlihat dari jauh?”
“Iya Ayah, lihat.”
“Itu adalah kerajaan jin yang melakukan perjanjian dengan kami para Kharisma Jagat agar mereka tidak mengganggu manusia di tol ini, kecuali manusia yang salah dan mengganggu mereka. Kami memiliki kitab perjanjian itu.”
“Oh begitu, lalu kenapa Ayah minta Pak Dirga hati-hati, tujuan kita kan lewat aja, niatnya juga baik.”
“Karena jin itu seperti manusia, ada yang baik, ada yang jahat, jadi ada juga yang iseng. Jadi Dirga janga ngantuk!” Mulyana memukul Dirga karena dia terlihat mengantuk.
“Sorry, tiba-tibag gue ngantuk berat.”
“Udah biasa, Aditia lihat apalagi di sepanjang jalan ini?” Mulyana bertanya.
“Banyak, kerajaan yang jauh itu, kakek dan nenek yang berjalan di tengah tol itu, anak-anak kecil yang bermain di belakang mobil kita. Ramai sekali.”
“Wah, kalian bisa lihat dengan jelas?”
“Ya, karena jalan tol ini adalah pertemuan dua dunia selain laut. Jalan tol ini terlalu banyak menelan jiwa hingga dijadikan portal ghaib agar kita bisa hidup berdampingan.”
“Trus kalau yang suka lihat gitu, ada yang bilang suka tiba-tiba ada yang nyebrang, ada mobil yang ikutin dari belakang, apakah itu karena mereka yang kecelakaan juga memiliki penglihatan seperti kalian?”
“Kalau dia memiliki pernglihatan seperti kami, Ga, mereka tidak akan kaget lalu kecelakaan. Justru karena mereka itu tidak memiliki penglihatan. Bisa jadi, karena mereka melamun, melamun membuat otak seseorang masuk ke alam bawah sadar, tidur tapi mata terbuka, maka dunia ghaib dan dunia manusia bertemu. Disanalah akhirnya dia melihat ‘mereka’ dan kaget, lalu terjadilah kecelakaan.”
“Oh begitu, jadi hanya karena melamun?”
“Tidak juga Ga, bisa jadi karena dia punya niat buruk, banyak faktor, tapi yang paling utama adalah, berdoa mohon perlindungan dari Tuhan.”
“Yah, Adit boleh tidur? Ngantuk sekali.”
“Nggak boleh!!!” Mulyana dan Dirga sama-sama berteriak.
“Kenapa? kan Adit nggak nyetir.”
“Kamu nggak nyetir, tapi kamu incaran, tidak melihat itu samping kanan kiri mengejar kita, menunggu kita lengah, tahan dulu ngantukmu hingga kita keluar tol ya, Nak.”
“Iya Ayah, maaf.” Aditia menguap, dia benar-benar mengantuk. Hujan semakin lebat, suasana benar-benar sangat mendukung seseorang untuk memejamkan mata dan tertidur.
Mereka akhirnya fokus untuk bisa melewati tol ini.
__________________________________________________
Catatan Penulis :
Part Aditia akan selesai dalam 1 atau dua part, nunggu ilham dulu, eh nunggu edi, eh nunggu ide. Ya, pokoknya itulah kalian pasti tempe, eh tahu.
Aku mau kasih ilustrasi saat Aditia keluar dari Desa Gupata Kawadaka membawa semua jiwa yang tersesat pulang kepada Tuhan.
Hanya ilustrasi ya, udah tau kan ini poster dari film apa.
__ADS_1
Kurang lebih seperti ini espresi semua orang saat keluar dari desa itu.