Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 366 : Kemala 15


__ADS_3

“Kita sudah mendapatkan tusuk kondenya, kan?” Hartino memastikan, mereka semua sudah ada di markas ghaib, sedang Ganding sudah siuman, diperdaya oleh Rajima saat ‘kosong’ karena khodamnya turun ke sungai untuk mencari tusuk konde.


“Ini.” Aditia memperlihatkan tusuk konde itu.


“Dia langsung merebutnya dariku, kupikir dia yang kesurupan, taunya Ganding.” Alka tertawa, karena saat diminta paksa tadi, di cukup kesal. Karena Aditia langsung merebut tusuk konde itu. Ternyata Gandinglah yang kesurupan, Aditia takut kalau tusuk kondenya dipegang Alka, maka Rajima bisa dengan leluasa menyakiti Alka, pasti Rajima berani pada Alka, karena Alka adalah jin dengan kelas yang paling rendah, kasihan Alka, di mata manusia dia orang rendahan, sedang di mata jin dia juga sangat rendah.


Tapi jika tusuk konde itu dipegang Aditia, maka Rajima takkan berani menyerang Aditia, karena dia adalah kerabat dekat Seira, Ayi Mahogra saat ini.


Walau dalam hatinya Rajima telah sangat ingin mengganti posisi Ayi, sebagai ratu para Kharisma Jagat. Tapi jauh dilubuk hatinya, dia tahu, bahwa menjadi Ayi Mahogra bukanlah pilihan, tapi penunjukan alam. Sedang dia saja menyangkal dirinya yang seorang manusia menjadi jin laknat yang dibenci Tuhan karena melanggar perintahnya.


“Kau lupa, tidak ada yang bisa merasukiku?” Aditia menyombongkan dirinya. Tapi sebagai Kharisma jagat memang sulit merasuki dirinya, karena umumnya, Kharisma Jagat memiliki karuhun yang sudah berumur ratusan tahun, jadi tidak mudah menembus barikade karuhun yang menjaganya itu.


“Ya, aku lupa, karena kau bersikap lain daripada biasanya.”


“Lalu bagaimana kalian tahu dengan cepat kalau Ganding bukan dirinya?” Alka bertanya lagi.


Ganding masih terlihat kesal karena tubuhnya disusupi dengan mudah, tapi Rajima bukan jin biasa, jadi tidak bisa dibilang sesuatu yang merendahkan juga.


“Dia memaksa Aditia menikahi Kemala, memanggil Jarni dengan sebutan yang tidak lazim dan memiliki tatapan yang aneh, jelas itu bukan Ganding yang kami kenal.” Aditia menjawab.


“Baiklah, taruh tusuk kondenya di atas meja ini, Alka menunjuk meja yang ada di tengah mereka, meja bundar yang cukup tinggi tapi tidak terlalu besar, setelahnya Alka duduk bersila dan mengucapkan mantra.


Tidak lama kemudian datanglah kepulan asap yang membuat udara menjadi dingin, sangat dingin hingga membuat mereka cukup menggigil.


Rupanya kalau Dewi itu muncul, suhu turun menjadi sangat drastis, kemarin bertemu di jembatan udara dingin menyebar karena ruang terbuka, tidak sedingin ini, sedang saat ini mereka ada di ruang tertutup, sehingga hawa dingin terjebak di ruangan itu, mereka merasa sangat kedinginan.


Dewi datang dengan tubuh cantiknya, bukan nenek tua yang renta membawa tongkat.


“Jadi ... kalian mendapatkan tusuk kondenya?” Dewi itu bertanya.


“Kami mendapatkannya.” Alka menunjukkan tusuk konde itu ada di atas meja.


“Maka apa yang kalian dapatkan dari tusuk konde itu?” Dewi bertanya lagi.


“Tusuk konde ya tusuk konde, memang mendapatkan apa Dewi?” Hartino bertanya.


“Kau Kharisma Jagat kan? seharusnya kau bisa merasakannya.” Dewi bermain teka-teki lagi.


Aditia mengambil tusuk konde yang berbentuk bunga anggrek bulan itu, merasakannya dengan sepenuh hati, gagal, tidak terasa apapun.


“Kalian tidak punya teh atau semacamnya?”


“Kopi mau Dewi?”


“Aku dan warga desa sebrang jembatan itu tidak meminum kopi lagi, kami tidak ingin kehadiran kami terdeteksi, kami sekarang minum teh sebagai gantinya.” Dewi mengingatkan.


“Oh ya, teh melati mau?” Alisha menawarkan, dia memang yang pandai meracik makanan atau minuman.


“Boleh lah.” Alisha akhirnya ke dapur untuk menyiapkan teh itu.


Sementara Aditia mencoba merasakan lagi tusuk konde itu, masih tidak terasa apapun.


“Gimana? ada apa di dalamnya?”


“Aku tidak merasakan apapun.”


“Kalian sepertinya hanya gerombolan keroyokan ya? tapi tidak tahu caranya berperang dengan strategi yang baik.”


“Maksudnya Dewi?”


“Tidak, hanya berceloteh saja.”


Alisha keluar dengan teh hangatnya, Dewi mengambil teh itu dan menyeruput teh dengan anggun duduk di sofa yang ada di sana.


“Teh yang sangat enak, kau pandai meracik teh. Kau tak ingin khodam? Kulihat kau kosong, mau aku ....”

__ADS_1


“Tidak Dewi, mohon maaf, lebih baik Alisha kosong saja, dia bisa belajar ilmu ghaib dari Alka, tapi tidak perlu khodam. Kami tidak mau memperbaharui perjanjian apapun.” Hartino yang menjawab, dia memang mempercayakan soal Alisha pada Alka, kalaupun harus memiliki Khodam, harus Alka yang pilihkan, jika masih belum Alka sarankan, maka Alisha tidak perlu melakukannya. Mengingat setiap khodam bawaan setelah dewasa atau bukan keturunan, pasti meminta imbalan dari perjanjian seperti Esash. Berbeda dengan karuhun atau khodam dari lahir, mereka memang menjaga seperti keluarga dan perjanjian dibuat dari nenek moyang, diulang hanya karena turunan.


“Baiklah kalau kau memang tidak tertarik, aku hanya menawarkan saja, pribadimu terlihat sangat anggun dan kuat.” Dewi itu memuji Alisha.


“Tidak perlu repot-repot Dewi, aku tidak ingin mempelajari ilmu hitam lagi, sudah cukup.” Alisha menjawab dengan tulus.


Aditia masih juga tidak mendapatkan energinya.


“Masih belum terasa apapun!” Aditia kesal.


“Dit, berapa tangan yang kau punya?” Dewi yang masih menikmati tehnya bertanya.


“Dua tanganlah, memang ada yang punya banyak?”


“Hmm, kalau begitu, kau tahu kan kata-kata ini, gotong royong?”


“Gotong royong?” Aditia bingung, namun Ganding langsung mengerti.


“Maksudnya lakukan bersama Dit!” Ganding lalu meminta semua orang memegang tusuk konde itu, agar bisa merasakan energinya bersama, Aditia tersenyum, karena perkataan Ganding masuk akal.


Lagian ini Dewi kenapa pakai teka-teki segala, seharusnya dia langsung memberitahu saja, apa yang harus mereka lakukan!


Mereka bersama mengumpulkan energi pada tusuk konde itu dan merasakan energinya.


Berusaha terus menerus, mereka lemas ....


“Tidak terasa apapun.” Semua orang kecuali Alisha lemas, dan hampir terjatuh.


“Aku sudah tiga kali melakukan ini dan kalian baru sekali langsung lunglai, menyebalkan!” Aditia kesal, ternyata kawanan lemah sekali.


“Aku sudah bilang kalau kalian memang jagoannya keroyokan, tidak tahu cara strategi perang, sudahlah, aku lelah melihat kebodohan kalian.


Beritahu aku jika kalian sudah tahu apa rahasia di balik tusuk konde itu.” Dewi lalu menghilang, bersamaan dengan hilangnya hawa dingin dan suhu di ruangan juga berangsur menghangat.


“Dia malah pergi, lagian tinggal kasih tahu aja susah banget, emang beda kalau urusannya sama nenek-nenek, sukanya main-main. Benar kata orang rupanya, kalau semakin tua, orang kembali ke sifat kanak-kanaknya.”


“Ini namanya ilmu cocoklogi, kau tidak tahu ya? belajarmu kurang lama berarti.” Hartino ngeyel.


“Apa katanya? Keroyokan? Strategi perang? Itu apa sih?” Aditia bertanya.


“Aku coba cari beberapa referensi strategi perang deh, setelah itu aku akan minta Ganding pelajari.” Hartino memberi ide.


“Kok aku yang pelajari, kau kan yang cari?” Ganding protes.


“Yang jenius kan kau, kalau aku yang baca, mungkin satu minggu lagi aku baru ketemu jawabannya. Begitu juga dengan yang lainnya.”


“Har, kau saja yang bodoh, kami mah tidak.” Aditia kesal dikatakan bodoh.


“Yasudah, jangan ribut, Ganding cepat pelajari bersama Hartino, tusuk kondenya taruh di meja itu, kita cari jawabannya dari kitab yang ada di sini, siapa tahu ada maksud dari perkataan dewi itu.” Alka meminta yang lain untuk melakukan hal yang lebih berguna daripada berdebat.


Semua setuju dan bersiap untuk mencari jawaban.


Ganding dan Hartino di ruang tamu, mencari data melalui internet, sedang sisanya di ruang kitab mantra.


Mereka sibuk mencari yang diperlukan.


Alisha keluar dari ruang kitab dan masuk ke dapur, dia masak untuk yang lain, karena dia ingat, mereka belum makan.


Setelah satu jam, akhirnya makanannya sudah jadi, dia lalu berteriak pada semua orang untuk makan di meja makan.


“Wah, masak apa?” Hartino bertanya.


“Masak nasi goreng, yang cepet ya.” Alisha menyajikan nasi goreng untuk semua orang, lalu semua makan dengan lahap.


Setelah 10 menit makan, hampir semua orang selesai makan, Alisha menatap mereka satu persatu, Ganding terlihat menguap, disusul oleh Hartino, lalu Alka, Jarni dan terakhir Aditia.

__ADS_1


Setelah menguap, satu persatu mereka tertidur, sangat lelap, sungguh lelap hingga tak sadar ....


“Tidur yang nyenyak ya.” Alisha setelah berkata begitu, dia pun ikut jatuh dan tertidur, dari tubuhnya keluar sosok yang semua orang kenal, Rajima!


“Di sini kau rupanya, wahai tusuk konde! Kemari kau, aku pemilik kau sebenarnya.” Rajima mendekati tusuk konde itu dan hendak mengambilnya, namun saat tangannya menyentuh tusuk konde itu, tiba-tiba tubuhnya terpental.


“Kurang ajar! Sudah dipasang pagar rupanya, kapan? Bukankah tadi hanya diletakkan saja? Tapi kenapa sekarang aku tidak bisa menyentuhnya?” Rajima bingung, karena tidak ada pagar ghaib yang terlihat, pun tadi saat dia menyelinap, tak ada yang terlihat membuat pagar ghaib.


Rajima terus berusaha mengambilnya, karena dia tak ingin lepas dari Kemala, dia tahu tusuk konde ini mungkin saja jawaban untuk melemahkan kutukan itu sekaligus dirinya, walau dia tak benar-benar tahu kenapa hal itu bisa terjadi.


Tapi sekeras apapun Rajima mencoba, dia tak bisa mengambilnya.


“Rajima, berhenti di situ, kau mungkin bisa menidurkan mereka dan khodam yang lain, karena umurmu sangat tua, kami selalu kalah, tapi untuk mengantisipasi banyak hal, aku keluar dari tubuh Aditia secara berkala, maka tinggalkan tusuk konde itu, ada ataupun tidak ada aku, kau tidak akan bsia mendapatkannya.” Abah Wangsa ternyata sudah keluar dari tubuh Aditia sejak tadi, sedang khodam yang lain ikut tidur, karena Rajima dalam tubuh Alisha sudah memberi obat tidur dan mantra tidur bagi khodamnya pada nasi goreng yang dia masak. Alisha satu-satunya manusia yang kosong, makanya dia bisa dirasuki dengan mudah.


Rajima menatap Abah Wangsa dengan tajam dan pergi begitu saja, menghilang bersama hembusan angin.


Abah Wangsa membangunkan semua orang termasuk para khodam, mereka bangun dan terkejut karena tidur tergeletak.


“Rajima menyusup ke markas kita, kalian harusnya hati-hati, karena markas ghaib ini nggak aman jika lawannya Rajima, aku dan Mulyana mmebuat markas ini dengan ilmu yang kami miliki, hingga terpagar ghaib dan tidak terlihat, tapi bagi jin yang sangat tua, seperti Rajima, tidak sulit menyusup, karena ilmu jauh lebih tinggi dan tua dariku dan Mulyana.


Kalian harus segera mengusirnya dari tubuh Kemala dan juga membuat dia lemah. Karena akan berbahaya bagi kita semua kalau dia masih memiliki tubuh Kemala untuk mengumpulkan energi dan juga masih dengan ilmu yang tidak bisa dikendalikan.”


“Bah, kami mengerti, tapi kami belum menemukan jawaban dari pertanyaan Dewi.”


“Oh ya, Dit pada tahun 1949 Jenderal Soedirman memimpin serangan umum, beliau memimpin perang gerilya dalam melawan Belanda, yang pada saat itu berhasil melumpuhkan Indonesia dan bahkan telah menangkap presiden dan wakilnya.


Selama perang ini berlangsung, Jenderal Soedirman bahkan harus berpindah-pindah bersama para kawanan yang terdiri dari TNI dan juga rakyat, bahkan pernah menelusuri hutan untuk bertahan hidup dan melawan.


Hingga puncak perang ini berlangsung, yaitu pada tanggal 1 maret 1949, akhirnya perang gerilya dilakukan, Jenderal Soedirman bersama TNI dan juga rakyat bersetu memukul mundur Belanda.”


“Ok, lalu hubungannya dengan kita apa?” Aditia bingung, yang lain juga, tidak ada yang mengerti dengan maksud Ganding.


“Gotong royong jadi salah dampak paling signifikan yang rakyat Indonesia rasakan, mereka jadi tahu, kalau kita gotong royong, maka kita pasti bisa mengalahkan musuh, sebesar apapun kekuatan musuh.”


“Nding, bisa dibuat summary aja nggak? gua bingung.” Hartino mengeluh.


“Logo gotong royong adalah ... saling berpegangan tangan! Jadi!”


“Oh! Ya, kau benar!” Aditia dan yang lain langsung mendekati tusuk konde itu, karena mengerti maksud Ganding.


Aditia berdiri paling depan, Hartino dan Ganding di belakang Aditia, mereka sama-sama memegang bahu Aditia dengan tangan kanan.


Lalu di belakang Ganding dan Hartino, Alka memegang Bahu Ganding dengan tangan kanan, sedang Jarni memegang Hartino dengan tangan kanan juga.


Alisha tidak ikut karena dia tidak memiliki kekuatan ghaib.


Setelah itu, mereka bersiap.


Hal pertama yang mereka lakukan adalah, mengumpulkan energi tertingginya masing-masing pada tangan kanannya, lalu menyalurkan energi itu pada orang yang mereka sentuh dengan tangan kanan itu, hingga energi itu tersalurkan, setelah merasakan energi kawanan yang masuk ke dalam tubuhnya, mata Aditia berubah menjadi keemasan, dia tidak pernah merasakan energi yang sebegitu tingginya masuk ke dalam tubuh ini, seperti memiliki kekuatan berkali-kali lipat.


Lalu setelah yakin energinya sudah cukup, maka dia langsung memegang tusuk kondenya, menyalurkan energi yang sangat besar itu, seketika ... tusuk konde hancur! Berkeping-keping, setelah hancur berkeping-keping, ada cahaya berkilauan yang membuat mata kawanan menjadi silau.


Mereka menutup mata dan setelah cahaya itu hilang, muncul sosok lelaki yang terlihat berwibawa. Namun matanya ... kedua mata lelaki itu terlihat terluka dengan cukup parah.


“Kau ... siapa?!” Aditia bertanya.


Catatan Penulis :


Udah tahu dong siapa sosok itu? ingat, masalah utama belum ada jawaban ya, ayo silahkan menebak-nebak, aku suka kalau kalian berspekulasi bersama, rasanya terbawa pada kenangan belasan tahun lalu saat aku masih SMA, ketika ada mata pelajaran yang mengharuskan kita membentuk kelompok lalu mengumpulkan bahan untuk presentasi, di mana ajang presentasi menjadi ajang berdebat dan kelompokku selalu menjadi pemenngnya (maap sombong).


Bahkan beberapa teman SMAku pernah mengeluh, kalau aku jahat karena membantai setiap presentasi mereka dengan pertanyaan yang tidak ada di buku.


Aku selalu menikmati ajang perdebatan itu, walau akhirnya aku dimusuhi, tapi tak masalah, karena saat ujian, mereka akan tiba-tiba merasa menjadi sahabatku.


Aku terbiasa dimanfaatkan, tapi mereka tak tahu, siapa mafia sebenarnya. Aku mengatur nilai satu kelasku, memastikan aku selalu rangking pertama dan siapa saja yang aku izinkan mendapat nilai bagus atau tidak, dari mana? Dari caraku membagi contekkan.

__ADS_1


Ya, aku memang jahat, karena perlu jahat untuk menghadapi orang jahat. Karena aku tidak mampu menjadi baik pada orang yang menjahatiku. Itu kelemahanku.


Makanya kalau ada yang menghina karyaku, tak pernah aku biarkan, karena semua orang pasti bisa membedakan, antara mengkritik, menghina atau mau menjatuhkan.


__ADS_2