Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 136 : Saba Alkamah 21


__ADS_3

Ambulans telah sampai di rumah sakit besar di desa sebelah, rintik hujan masih saja terus membayangi semua desa.


Alka dan ibunya di rumah sakit sekedar menungu otopsi, tentu saja, pasti hasilnya adalah meninggal karena luka bakar, apa yang mereka lakukan di sini hanya sebagai sebuah formalitas saja. Selain itu, di desa tidak ada yang bisa menangani mayat dengan luka bakar seratus persen.


Alka terus saja terdiam, ibunya menangis dan terus memegang Alka dengan erat, dia tahu, di titik ini mereka tidak boleh terpisah karena sedikit saja terpicu, tidak akan ada yang tahu apa yang mampu Alka perbuat.


Dalam hati ibunya dia tahu, bahwa anak angkatnya bukan manusia biasa, dia selalu saja mengingkari itu dan tidak akan pernah mau percaya bahwa Alka adalah anak sial.


Hasil otopsi keluar, Pak Kades bilang, bahwa hasilnya benar bahwa penyebab kematian adalah luka bakar yang tiba-tiba, kedua mayat tersebut langsung di rapihkan dan juga dimasukkan ke dalam peti, karena sudah dalam keadaan yang tidak mungkin hanya dikafani saja, maka memilih peti sebagai tempat peristirahatan terakhirnya adalah keputusan terbaik.


“Ibu, Alka mau pipis, Alka pergi sendiri saja ya. Ibu harus mengurus ayah bersama Pak Kades kan?” Ibunya mengangguk dan membiarkan anaknya ke kamar mandi sendiria, kamar mandi itu sangat dekat, ibunya masih bisa lihat saat Alka masuk ke kamar mandi.


Begitu sampai ke kamar mandi, Alka terdiam, dia menangis dan jongkok menutup matanya.


“Kenapa Ayah tidak mengajakku? Kenapa harus Ayah yang pergi?” Alka bertanya tapi wajahnya tetap ditutup dengan kedua tangannya.


“Dingin Ayah, dingin sekali tangan ayah.” Alka akhirnya menatap ke arah depan, di mana dari tadi ayahnya selalu mengikuti mereka dari mulai mereka masuk rumah sakit ini.


Ayahnya datang dengan wajah yang sangat bersinar, wajah yang Alka lihat tidak pernah berubah, sejak dia mengingat dirinya sebagai seorang ayah yang sangat baik, ayah angkat yang bahkan jauh lebih menyayanginya daripada ayahnya sendiri, ayah yang entah di mana.


“Ayah, Alka ikut ya?” Alka sesegukan, tangis yang dari tadi dia tidak bisa keluarkan karena rasa sakit yang dalam hingga rasanya menangis terlalu lemah untuk rasa sakit itu.


Ayahnya menggeleng, ayah yang hanya berwujud ruh itu tidak berkata apapun, hanya memegang kepalanya sebagai usapan terakhir, Alka pernah diberitahu bahwa jika ruh bisa tembus, tapi kenapa ayahnya tidak tembus saat mengusap kepala Alka, Alka merasa mungkin karena dirinya memang benar berbeda.


“Alka ingin ikut bersama Ayah, Alka takut.”


“Pergi ... ibu ... pergi!” Ayahnya hanya berkata seperti itu dengan suara yang tercekat, sepertinya ayahnya kesulitan untuk bicara. Alka tidak mengerti, nanti dia akan tahu setelahnya, bahwa ruh ayahnya adalah ruh yang harus segera kembali kepada Tuhannya, sehingga dia tidak diperkenankan untuk menyelesaikan apa yang belum selesai.


Namun karena rasa sayang dan cintanya pada anak angkatnya, membuatnya bersikeras menampakkan diri pada Alka, beruntung Alka bukan manusia biasa, dia bisa melihat ruh ayahnya yang masih berkeliaran, walau tidak mampu berkomunikasi karena ruh ayahnya bukan ruh penasaran, kebaikannya menjadikan ruh itu kembali ke Tuhan dalam keadaan baik.


Maka dari itu, hanya dua kata yang mampu ayahnya sampaikan, Alka lima tahun memang cerdas jauh dibanding anak seumurnya, makanya setelah mendengar pesan itu, Alka mengangguk lalu memeluk ayah angkatnya dan keluar dari kamar mandi.


Ibunya terlihat masih terpukul karena terakhir kalinya melihat mayat suami yang selalu bersamanya, menenamani dan melindungi dia dan anaknya.


“Alka udah pipisnya? yuk kita pulang, kita akan ikut ambulans ya, ayah sudah selesai dipetikan.”


Alka menganggung dan mereka bergerak ke mobil ambulans untuk pulang.


Perjalanan pulang masih terus saja di basahi oleh rintik hujan.


Satu jam mereka sampai rumah, begitu sampai rumah, tidak ada satu tetangga pun yang membantu meyiapkan semua keperluan untuk menyambut mayat ayahnya, semua tetangga menutup pintu tidak ingin membantu.


Alka marah, dia menatap satu persatu rumah tetangganya, dalam hati, Alka berharap, bahwa setiap orang yang menutup mata, akan merasakan sakit, sama seperti yang ayahnya rasakan.


Hanya ada satu pelayan setia mereka, dia sudah menggelar karpet menyambut mayat tuannya, menYEdiakan makanan alakadarnya saja dan juga teh serta kopi.


“Kita langsung menguburnya saja Pak, kita mau kubur suamiku dibelakang rumah saja, tempat itu sudah kami persiapkan untuk pemakaman keluarga Pak.” Ibu angkatnya Alka berkata pada Pak Kades yang masih terus menemani mereka, dia juga membawa beberapa orang untuk membantu.


“Saya pamit ya Bu, selanjutnya dua orang anak buah saya akan membantu untuk menggali, saya akan meneruskan perjalanan ke rumah utusan saya mengantar jenazahnya kembali ke keluarga.”


“Iya Pak, terima kasih sekali ya, karena masih tetap membantu kami, kalau tidak ada Bapak, entah apa kami masih bisa bertahan.”


“Bu, tenang saja, saya akan lanjutkan usaha Bapak untuk kepindahan kalian, tapi tunggu dulu dengan sabar ya, karena saat ini kita harus tenang dulu, kalau gegabah bisa bahaya untuk keselamatan kalian berdua.”


“Baik Pak Kades, saya akan menuruti apa yang Pak Kades perintahkan, yang terpenting adalah, Alka bisa selamat Pak.”


“Saya akan usahakan itu, karena sudah janji.”


Pak Kades lalu pergi mengantar utusannya yang turut menjadi korban bersama dengan ayah angkat Alka.


Tanah di belakang rumah digali, dua orang anak buah Pak Kades membantu untuk menggali kuburan untuk ayah angkat Alka.


Alka berdiri di samping peti ayahnya tanpa tangisan, dia memegang peti itu dengan kedua tangannya menatap ke depan, menatap kuburan yang telah digali.

__ADS_1


Setelah tanah itu selesai digali dan tanah itu menjadi kuburan, petinya dikubur, nisan ditegakkan dan bunga ditabur, ibu dan Alka berdoa untuk pertama kalinya, mendoakan ayahnya, yang kemarin masih memegang dan memeluk Alka dengan kedua tangan yang hangat. Ruh yang sedari tadi terus bersama mereka, akhirnya kembali kepada Tuhannya.


Alka makan ditemani ibunya, dia memaksa anaknya makan karena sedari padi dia belum makan, padahal dia sendiri belum juga makan, Alka minta ibunya makan bersama, dia baru mau makan. Dengan terpaksa ibunya makan bersama di satu piring.


“Ayah bilang, aku harus pergi.”


“Kenapa Nak?”


“Ayah bilang aku harus pergi Bu.”


“Ya, kita akan pergi, kita akan pindah ke kota.”


“Bukan Bu, ayah bilang Alka harus pergi, pergi dari ....”


“Dari apa Nak?”


“Dari Ibu.”


“Maksudnya ....” Ibunya berdebar, hal yang paling dia takutkan disampaikan oleh anak kesayangannya.


“Ayah bilang, aku harus pergi dari Ibu.”


“Kau mimpi, tidak mungkin ayahmu menyuruhmu pergi dariku, aku harus menjagamu, kalau kau jauh dariku, bagaimana aku bisa menjagamu.”


“Aku akan menuruti kemauan ayah.”


“Kapan dia bilang padamu? tidak mungkin dia menyuruhmu pergi dariku!”


“Ibu tahu kan, bahwa aku berbeda! aku berbeda dari sejak lahir, kau menyangkal terus, aku bisa melihat mereka.”


“Alka dengar Ibu, Alka harus ....”


“Alka melihat ruh ayah, Alka bertemu ayah dan ayah bilang pergi dan ibu, itu pasti maksudnya pergi dari ibu, ayah tidak ingin Alka mencelakai ibu seperti Alka mencelakai ayah.”


Alka beranjak dari meja makan, dia kembali ke kamarnya, petir kembali bersautan, Alka marah, sangat marah, tidak pada siapapun, tapi pada dirinya, dia mulai percaya, bahwa dirinya adalah seorang anak sial, dia membuat semua orang di sekitarnya celaka, maka dia benar-benar harus pergi, tapi bagaimana caranya? Dia bingung, tidak mungkin kabur tanpa ketahuan ibunya, ibunya mengawasi sangat ketat, apalagi Alka sudah mengutarakan niatnya untuk pergi tadi.


Maka Alka akan menyusun rencana.


...


Beberapa hari terlewati, semua baik-baik saja, walau warga masih saja tidak ingin mendekati keluarga Alka, Alka dan ibunya bahkan telah kesulitan makan, pelayan mereka ikut kesusahan, tapi masih tetap bersama, ibunya sangat berterima kasih karena masih ada orang baik yang masih percaya pada mereka.


“Bu, Alka tidak lapar.”


“Makan Nak, makan walau rasanya tidak enak.”


Mereka hanya makan sayur bening hasil kebun yang masih tersisa, karena kebun kecil belakang rumah mereka rusak akibat hujan yang deras, dengar-dengan semua warga mengalami hal yang sama.


Ibu angkatnya Alka masih punya uang, tapi sayang tidak ada yang mau menjual bahan pangan pada keluarga Alka, bahkan pelayannya, mereka benar-benar membuat Alka dan ibunya mati perlahan.


Beruntung hasil kebun mereka masih ada.


“Alka sudah kenyang.”


“Tapi Alka belum makan apapun sedari pagi.”


“Ibu juga.”


“Nak, Ibu orang dewasa, ibu tidak perlu terlalu banyak makan, kamu masih anak-anak, jadi kamu harus banyak makannya, walau sekedarnya saja, maafkan ibu ya Nak.”


“Bu, Alka mau ke kamar saja ya.” Alka beranjak dari meja makan dan kembali ke kamar, dia tidak lapar, dia juga bingung, dia tidak terlalu lapar padahal dari kemarin siang tidak makan dengan benar.


Sementara keadaan ibunya semakin lemah setiap harinya.

__ADS_1


“Bu Lurah, ada apa Bu?” Suara ibunya menyambut tamu dari luar, Alka buru-buru lari dan menguping di balik pintu.


“Bu, saya mohon, berhenti meminta bantuan pada suami saya.” Terdengar ibu lurah menangis, dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang kejam mungkin, tapi hal mendesak membuatnya berbuat kejam seperti itu.


“Maafkan saya Bu.”


“Pak Lurah kecelakaan kemarin, untuk suami saya masih hidup hanya kakinya patah, itu pasti karena ... karena ....”


“Bu, saya mohon, Ibu orang baik, jangan kotori mulut ibu dengan julukan jahat pada anak yang masih sangat kecil.” Ibu angkatnya Alka mencegah ibu lurah berkata bahwa Alka anak sial.


“Maaf, tapi saya mohon, bahkan suami saya terlihat sangat lemah dan mungkin saja kami akan dikucilkan jika suami saya masih membela kalian.”


“Maafkan saya Bu, saya akan segera pindah yang jauh dari desa ini, membawa anak saya.”


“Seharusnya kau meninggalkan dia saja di hutan, seperti dulu kau menemukannya, kau tidak tahu siapa dia, siapa ayah ibunya, kau bisa jadi celaka juga. Lihat wajahmu, sangat pucat. Kau seharusnya menyerah saja.”


“Apakah jika hal ini menimpa anak Ibu, kau akan menyerah? kau akan meninggalkannya di hutan? kau akan membiarkannya mati sendirian dan ketakutan?”


“Tentu saja tidak, ibu macam apa aku?”


“Lalu apakah hanya ibu kandung yang berhak untuk mencintai anaknya lebih dari hidupnya sendiri? Mungkin aku tidak melahirkannya, tapi aku merawatnya selama lima tahun ini, singkat memang, tapi dia memberiku semua hal yang tidak bisa aku rasakan sebelumnya, kehangatan pelukan bayi, tawa riang yang membuat hari sulitku jadi indah dan semua tingkah polahnya yang sangat manis. Aku ibunya! Takkan sejengkal pun aku pergi untuk meninggalkannya.”


“Kau sudah kuperingati, semoga kau bisa selamat kali ini, padahal mungkin ini kesempatan terakhirmu untuk bisa hidup.”


Bu Lurah pergi tanpa pamit dengan sopan, dia pergi begitu saja, wanita yang dulu sangat ramah, selallu memberi Alka mainan, uang, buah-buahan dan berkata bahwa Alka adalah anak yang membawa keberuntungan, sedang sekarang, dia bersikeras Alka membawa sial.


“Sudah berapa kali Ibu bilang, jangan menguping!” Ibunya kesal mellihat Alka berdiri dibalik pintu dengan wajah sedih.


“Ibu aku ....”


“Kembali ke kamar jika kau ingin melihatku bahagia dan senang.”


Alka berlari dan membanting pintunya, dia marah ibunya tidak mau mendengarnya, ibunya benar-benar telah teguh ingin terus bersamanya.


Rasa sayang membuat anak lima tahun itu bukannya bahagia malah begitu ketakutan, takut satu-satunya orang yang paling dia sayang saat ini, yang paling dia takut kehilangan, akan ikut celaka.


Tapi Alka hanya anak berumur lima tahun, dia hanay anak yang tak berdaya.


Menurutnya saat itu ... padahal, dia bisa melakukan lebih jauh dari itu nanti.


“Nak bangun, Nak.” Ibunya membangunkan Alka dengan tergesa-gesa, dia terlihat sangat panik.


Alka bangun dan melihat ke jendela, sudah gelap.


“Kenapa Bu?”


“Cepat bangun! kita harus pergi sekarang, kita harus pergi, tidak perlu bawa apapun, tidak perlu baju sekalipun, cepat pakai sepatumu, kita harus pergi sekarang!” Ibu angkatnya mengatakan itu dengan sangat panik, bahkan dia terlihat sesak nafas, rasa khawatir apa yang membuatnya begitu ketakutan.


Alka bangkit dari tidurnya lalu memakai sepatu yang ada di kamar, dia mengikuti ibunya yang tidak membawa apapun dari rumah ini, hanya Alka yang dia pegang erat, saat membuka pintu depan dengan sangat pelan, langkahnya terhenti.


Alka ditarik ke belakang tubuhnya, dia menutupi Alka dengan sempurna dari serombongan orang yang tiba-tiba sudah berada di depan rumahnya, mereka membawa obor, tadi tidak terdengar apapun di dalam rumah, makanya ibunya ingin segera membawa Alka pergi dari desa ini, tapi dia terlambat.


Semua warga desa sudah berkumpul di depan rumahnya dengan mengendap tanpa suara, menangkap basah dua orang anak dan ibu yang saling melindungi itu seperti maling.


“Bakar! Bakar! Bakar iblis kecil itu!” teriak seorang lelaki, lelaki yang ibu angkatnya kenali, lelaki itu dengan lantang meneriaki kata kejam itu, lelaki itu ....


__________________________________


Catatan Penulis :


Pasti kalian bilang aku jahat, kok aku selalu gantungin, kalau aku nggak gantung, besok kalian nggak mau mampir, besok kalian nggak berkunjung, biarlah kalian kesal sedikit tapi kita tetap saling bersilaturahmi.


Selamat malam.

__ADS_1


__ADS_2