
“Aku sudah di sini, aku akan berusaha membantu kalian, aku akan coba menahan serangan, sementara kalian bisa menyerang.” Aep tiba-tiba keluar dari dalam rumah, dia baru selesai berlatih.
“Ep, terima kasih!” Drabya berkata dengan sedih.
“Aku harap dari sini ayah paham, kalau uang dari upeti itu bahkan tak bisa menolong kita saat ini kan?” Mulyana mengatakan hal menyakitkan untuk terakhir kalinya, dia benar bahwa uang tak penah mampu menjadi penolong yang sempurna.
Mereka semua pergi ke balkon rumah itu dan melihat ke luar, sungguh tidak pernah mereka melihat makhluk sebanyak itu sedang berdiri mengelilingi rumah.
Semua terlihat dengan berbagai bentuk, ada begitu banyak bola api yang melayang, begitu banyak pocong yang berdiri dengan kaki masih terikat tali, berwajah rusak dimakan belatung, mereka tidak melompat, hanya menatap, seperti menunggu aba-aba dari seseorang untuk menyerang.
Ada kuntilanak dengan berbagai versi, ada setan-setan kecil yang berlarian sementara di mulutnya keluar cairan seperti darah.
Ada sesosok tinggi besar yang menatap dengan tajam pada balkon rumah itu, seolah tahu kalau ssasarannya di sana, tubuh besarnya paling mencolok diantara yang lain, bahkan jarak yang jauh itu terlihat jadi dekat karena tubuh besar itu.
Jin khodam dengan badan besar itu dari seluruh tubuhnya keluar cairan yang begitu banyak berwarna hitam, setiap kali cairan itu mengenai tanah, maka keluar asap dari tanah itu, tak terbayang betapa panasnya cairan yang dikeluarkan oleh seluruh tubuhnya.
“Banyak sekali.” Aep berkata, “apa setiap malam selalu sebanyak ini?” Aep bertanya.
“Ya, hampir setiap malam, tapi yang terbesar, itu baru muncul beberapa waktu ini.” Mulyana menjawab.
“Aku akan mulai duluan.” Drabya lalu turun dari balkon dengan melompat, ya melompat dari balkon, tentu saja untuk Drabya yang memang memiliki banyak Khodam dan Karuhun hingga melompat dari atas balkon bukan hal yang sulit baginya.
Drabya mulai menghajar mereka satu persatu, sedang Sabdah Zaid berlari hendak ikut menghajar, sementara Mulyana bersiap untuk membaca mantra penundukkan, karena dia harus membuat Sabdah Zaid menjad khodamnya.
Aep yang melihat ayahnya sudah bertarung, dia ikut turun dengan meloncat dan menahan setiap serangan, Aep suka keadaan ini, karena dia bisa melampiaskan semua yang dia rasakan, marah, kecewa dan sedih karena kehilangan, dia membantai semua makhluk yang dia liat.
Bola api berterbangan di kepala Drabya dan Aep. Drabya menangkap bola api itu dengan tangannya lalu menginjak bola itu hingga apinya padam, setelah apinya padam, barulah terlihat bentuk dari bola api itu, ternyata sebuah kepala yang gosong, setelah diinjak oleh Mulyana, kepala itu musnah.
Aep melakukan hal yang sama, tapi langsung dilempar kembali kepalanya, “Panas! Aku pikir tak panas.” Aep memang sudah sedikit mendapatkan kembali kekuatannya, tapi bukan berarti dia sekuat Drabya yang bisa sangat ugal-ugalan dalam bertarung.
Drabya fokus dan masih terus menebas semua musuhnya tanpa ampun, umur yang tua membaut Drabya menjadi cepat lelah, tapi kekejamannya sungguh mengerikan.
__ADS_1
Aditia terus fokus membaca mantra, mantra ini haruslah dia terus baca dan begitu Sabdah Zaid mendekat, dia harus segera mendekatinya, setelah mendekati, dia harus segera memperlihatkan kekuatannya yang tinggi di dalam mantra yang dibaca agar Sabdah takluk dan mau menjadi khodamnya.
Aditia sangat percaya diri karena saingannya adalah seorang kakek tua yang staminanya pasti tak sebaik milik Mulyana.
Mantra penaklukan ini pernah digunakan oleh Ayi Mahgora saat akan menyelamatkan Malik ketika jiwanya disekap oleh para tetua karena dia terus melawan dan menyembunyikan Ayi dari para tetua.
Ketika itu Ayi melakukan dengan karembo hejonya, karena karembo itu menunjukkan teritori, ketika salah satu Karuhun diselimuti karembo hejo, maka Karuhun itu otomatis akan menjadi miliknya, kepemilikan itu tak akan bisa disangkal, karena Karuhun paling suka dengan tingkat ilmu yang paling tinggi, lagi pula, siapa yang memiliki ilmu lebih tinggi dibanding ratunya Kharisma Jagat?
Karuhun siapa yang menolak jika saja jelas karembo hejo telah menyelimutinya, maka mereka pasti bersedia menjadi miliki Ayi Mahogra.
Berbeda pada zaman Drabya, dia membuat mantranya sendiri yang terus diuji berulang, hingga akhirnya berhasil.
Mantra itu berisi semua perjanjian ghaib bagi semua jenis khodam, mantra itu adalah undangan untuk masuk ke tubuh si penembang mantra, sembari membaca mantra, maka si penembang mantra juga mengeluarkan semua kemampuannya untuk menarik perhatian Karuhun atau khodam yang hendak ditundukkan.
Sama seperti Karuhun, khodam juga harus memiliki ketertarikan hingga ingin masuk ke tubuh dari penembang itu sendiri, karena tertarik untuk masuk tubuh yang sudah dimantrai penaklukan.
Saat melihat Sabdah Zaid sudah semakin dekat, Mulyana ikut turun, dia melihat Drabya mulai terluka, ada semakin banyak bola api yang menyerangnya, sedang Aep, dia terlihat sudah mulai tersungkur karena diserang dari segala arah.
Mulyana begitu meloncat langsung berlari untuk semakin dekat dengan Sabdah Zaid, dia menembang mantra tanpa henti dan menyerang Sabdah agar dapat perhatiannya, tapi begitu tangannya Mulyana terkena cairan hitam dari Sabdah Zaid, tangan itu langsung terasa seperti terbakar.
Tembang mantra terus dibunyikan tapi tetap saja tak satu kali pun Sabdah terlihat tertarik untuk melihat Mulyana, Mulyana sudah kelelahan karena bertarung sesaat dengan Sabdah rasanya seperti berjam-jam, Mulyana tak bisa menyentuh Sabdah sedikitpun karena cairan itu.
Saat dia fokus pada serangannya, Drabya berteriak karena melihat Aep tumbang, Aep sudah dikerubuti, tubuh penuh luka itu terlihat sedang dijilati oleh para musuh, setiap jilatan dari makhluk tak kasat mata itu membuat Aep kesakitan, perih karena luka itu semakin menganga.
Drabya berlari mendekati Aep untuk mengusir para makhluk yang hendak membunuh Aep, karena kalau dibiarkan, Aep bisa mati dengan mengenaskan.
Teriakan Drabya membuat Mulyana hilang fikus hingga akhirnya tubuh Mulyana ditangkap oleh Sabdah, Mulyana berteriak dengan sangat histeris karena dipegang tangan Sabdah yang penuh cairan hitam panas itu membuat tubuh Mulyana seperti terbakar, seluruh tubunya perih.
Drabya terjepit, anak pertamanya mengerang kesakita karena luka dijilat oleh para makhluk jahat itu, sedang anak keduanya berteriak histeris karena tubuhnya terasa terbakar karena ditangkap Sabdah yang berutuh raksasa itu.
Tak memiliki cara lain, Drabya ikut menembang mantra agar Sabdah bisa tertarik dengan tubuhnya, Mulyana terkejut, karena dengan tubuh lemah itu, tak mungkin Drabya bisa bertahan menahan ruh Sabdah masuk tubuhnya, dia bisa mati bahkan sesaat setelah Sabdah masuk.
__ADS_1
Mulyana menangis karena tahu, ini adalah waktu di mana Drabya tidak lagi dianggap orang yang kuat, era kajayaan Drabya telah selesai, ayahnya terlihat tak memiliki kekuasaan sama sekali dengan tubuh lemah itu hingga harus mengorbankan diri.
Aep yang paham juga dengan rencana pengorbanan Drabya menangis dan ikut membaca mantra penaklukan, karena tak ingin ayahnya mati mengenaskan.
Betapa indahnya pengorbanan tiga orang lelaki ini, mereka saling menjaga dan paham, bahwa akhirnya hanya keluargalah yang mampu saling menjaga, bukan upeti atau para dukun yang telah dijadikan sekutu itu. Kemana mereka? tak ada satupun yang datang untuk menolong Drabya, bahkan banyak para pembelot, ini jelas langkah yang salah yang Drabya pilih.
Karena melihat ayah dan kakaknya terus menembang, Mulyana juga ikut menembang mantra, mereka terus membaca mantranya dengan keadaan disiksa, sudah habis tenaga dan telah diambang kritis, tubuh mereka sudah babak belur dan sakit tak terkira, hingga akhirnya pada satu titik Sabdah terdiam, hanya suara Aep yang terdengar, suara Drabya tak lagi terdengar, Mulyana mencari Drabya, dia telah jatuh dan tak bisa bangkit lagi, walau dia masih sadar, tapi Drabya tak bisa melawan lagi, Mulyana melihat itu, dia semakin tak berdaya, ayah yang dia musuhi, harus tumbang seperti ini tak berdaya seperti orang yang terkena serangan jantung lalu stroke tak berdaya.
Dia juga ingin terus menembang mantra sebagai perlawanan terakhir, tapi tidak bisa karena tubuhnya sudah benar-benar terasa seperti hangus, sangat perih sekujur tubuh hingga wajah, rupanya wajah Mulyana terus terkena cairan dari tubuh Sabdah.
Tapi di titik di mana hanya suara Aep yang terdengar, maka di titik itu Sabdah terdiam, perlahan tubuh Mulyana dilepas dan terjatuh di tanah, Mulyana tidak bisa bangun karena sudah lemah.
Sabdah berjalan perlahan ke arah suara yang dia dengar, mantra yang diucapkan dari tubuh seorang yang menarik perhatian Sabdah Zaid.
Saat sudah semakin dekat, Sabdah akhirnya melihat darimana suara itu berasal, walau tubuh Aep telah dikerubuti oleh para jin yang menjilat dan menarik-narik tubuhnya, Sabdah tahu, suara itu berasal dari sana.
Dengan satu tarikan, dia bisa membuat ruh para jin yang mengerubuti Aep itu terlempar hingga tubuh Aep terlihat.
Sabdah terdiam melihat tubuh sekarat yang masih terus membaca mantra dengan lantang, Sabdah terus menatapnya, dia lalu membungkuk, memastikan lagi suara itu dan ... perlahan Sabdah membungkuk, mendengar suara itu semakin dekat, terdiam dan ... secara tiba-tiba, ruh itu masuk ke tubuh Aep.
Aep yang tadinya sekarat, berteriak dengan sangat kencang, tubuhnya kesakitan seperti dipotong-potong, rasa sakit itu menembus hingga ke tulangnya, rasa sakti itu terus menjalar sampai sepertinya seluruh kulit terlepas dari daging, sakit yang tak terperi terus dirasakan Aep, dia berteriak terus menerus hingga rasanya kematian sudah di depan mata tapi malaikat pencabut nyawa tak kunjung datang.
Jin yang masuk adalah jenis jin paling kuat, tentu saja Aep kesakitan karena jin itu memaksa jiwanya diterima oleh jiwa Aep yang sedang lemah, beruntung tubuh muda itu yang dirasuk oleh Sabdah, tak terbayang jika masuk ke dalam tubuh Drabya, mungkin tubuh Drabya akan langsung tercabik.
Mulyana melihat Aep kesakitan dengan terus menggeliat berteriak ...”Lawan Ep! Tundukkan dia Ep, dia sudah masuk ke dalam tubuhmu, lawan Ep, kunci dia ke dalam tubuhmu!” Mulyana berteriak dengan sisa energi terakhirnya, Drabya yang baru sadar kalau Aep berhasil memasukkan ruh Sabdah ke dalam tubuhnya, dia berusaha untuk bangun, dia harus mengunci jiwa Sabdah yang sudah masuk itu, dia harus membantu anaknya mengunci Sabdah.
Drabya dan Mulyana menarik tubuh mereka dengan posisi tengkurap karena tak bisa bangun lagi, mereka terus menyeret tubuh mereka sendiri agar bisa mendekat pada Aep yang masih terus menggeliat kesakitan, hingga mereka bertiga akhirnya sudah saling dekat dan ....
_______________________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Menurut kalian, kenapa Sabdah mau masuk ke dalam tubuh Aep? Kenapa dia memilih Aep dan bukan Mulyana atau Drabya, karena diantara mereka walau Drabya yang paling tinggi ilmunya, tapi Mulyanalah yang memiliki tubuh siap untuk dirasuki.
Ayo tebak kenapa?