
Kakak membaca mantra, gelang itu mulai mengikat tangannya, lalu perlahan terasa panas, itu tanda bahwa energinya sudah tersalur pada gelang itu dari tubuh kakak, sedang Aditi dan kawanan bersiap, karena kedatangan adik pasti akan menimbulkan huru hara.
Dupa kesukaan Adik sudah dinyalakan, dupa yang tidak pernah keluar kamar, sedang dupa yang dipakai mami untuk mengusirnya dulu itu dupa yang berbeda, dupa yang dipakai kakak untuk membuat adik murka juga.
Mantra terus dibaca oleh kakak, hingga akhirnya ... terdengar suara.
BI TOGLOMOOR BAINA
(ayo kita main)
NADTAI TOGLOOCH
(bermain denganku)
NAMAIG DAGARAI
(main denganku)
BI TOGLOMOOR BAINA
(ayo kita main)
NADTAI TOGLOOCH
(bermain denganku)
NAMAIG DAGARAI
(main denganku)
Kakak gemetaran, dia takut tapi dia tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk lari, sesosok gadis yang umurnya bahkan terlihat lebih tua dari kakak, dengan kepala terbelah pada bagian tengah itu duduk dihadapannya, dia tidak terlihat seperti adik karena bertumbuh lebih cepat, tapi kakak tahu, itu adiknya.
“Cici ....”
Aditia dan yang lain sedang memusatkan tenaga untuk melumpuhkan anak itu, tapi sayang, begitu dia melihat kawanan, dia langsung menyerang kawanan dengan dengan menyemburkan energi hitam pekat dari seluruh tubuhnya.
Kawanan terlempar ke luar kamar, semua keluar kamar kecuali kakak.
Pintu kamar lalu menutup lagi dengan kencang, Aditia dan kawanan buru-buru berlari ke pintu dan hendak membukanya, tapi pintu tidak bisa dibuka.
Padahal pintu itu tadi dikunci dari dalam saat mereka akan melakukan ritual, lalu kawanan terlempar ke luar kamar membuat pintu itu rusak, harusnya pintu itu sudah tidak bisa terkunci lagi, karena rusak.
Tapi aneh, pintu itu terkunci.
Alka berteriak memanggil adik agar dia tidak melakukan apapun pada kakak dan yang lain berusaha mendobrak pintunya, tapi tidak bisa.
“Anak ambar itu yang mengunci pintu ini dengan kekuatan ghaibnya, aku tidak tahu kalau dia punay kekuatan sebesar itu sampai bisa memukul mundur kita, padahal kita sudah menghimpun kekuatan yang kemarin mampu menghancurkan tusuk konde itu, tapi sekarang kita malah dipecundangi.” Hartino kesal.
Mereka terus mencoba mendobraknya tapi tidak berhasi.
Tidak ada pintu lain di sana, bahkan jendela saja dipaku, itu dilakukan dulu agar mencegah anak ambar ingin keluar dari kamar itu.
Alka duduk di hadapan pintu itu dengan caa bersila, dia membaca mantra, itu adalah mantra pelumpuh kekuatan ghaib, tapi bukannya pintu terbuka, malah Alka yang batuk dan muntah darah.
Aditia menghampirinya dan menarik Alka.
“Kau tidak apa-apa?” Aditia mendudukkannya di sofa, di samping Alisha yang masih berada di dalam pagar ghaib yang dibuat oleh Jarni.
__ADS_1
“Dia kuat sekali, dia dapat kekuatan dari mana?” Alka heran, karena kekuatan itu terlalu besar hingga tak sanggup ditembus oleh kawanan.
“Nding coba telepon Babah, siapa tahu dia punya mantra yang bisa melumpuhkan anak ambar.” Aditia memerintah, Ganding patuh.
[Ini siapa? bukannya ini HP Babah?] Ganding berbicara dengan seseorang di sebrang sana, dia heran karena yang mengangkat telepon seorang perempuan, bukan Babah.
[Saya anaknya, maaf ayah saya ... tidak bisa menerima telepon.]
[Tolonglah Ci, kami butuh sekali, ini kami butuh sekali karena ada urusan hidup dan mati.] Ganding membujuk, dia memanggil Ci untuk tanda menghormati saja.
[Itu masalahnya, ayah saya ... ayah saya ....] Wanita di sebrang sana menangis, lalu telepon diambil alih oleh asisten Babah yang ternyata adalah menantunya.
[Babah koma, tadi dia ... diserang entah oleh siapa, kami memang punya banyak musuh dukun, tapi entahlah, ini serangan yang cukup brutal, Babah koma.] Menantu yang juga asisten di tempat prakteknya itu lebih tegar, dia menjelaskan apa yang terjadi dengan Babah, menantunya itu sepertinya tidak punya ilmu ghaib, makanya tidak tahu kalau ....
Ganding menutup telepon genggamnya dan berlari ke arah Aditia dan Alka yang ada di sofa, sementara Jarni dan Hartino berada di depan pintu.
“Babah Koma!” Ganding berkata dengan khawatir, Jarni dan Hartino akhirnya mendekati mereka di sofa ruang tamu.
“Sekarang aku tahu darimana kekuatan yang dia dapatkan itu, dia sudah mengalahkan Babah, kemungkinan dia mengambil energi dari Babah yang tentunya sangat kuat.
Makanya dia bisa sekuat ini, tapi bagaimana mungkin Babah bisa dikalahkan jika kekuatannya saja tinggi sekali, masa iya anak ambar semudah itu mengalahkannya.” Aditia bingung tapi yakin bahwa yang menyebabkan Babah koma adalah anak ambar, instingnya mengatakan itu.
“Setiap manusia, punya titik lemah Dit, bisa saja kan dia selama ini memang mengincar Babah, menunggu waktu lemahnya, semua dukun ataupun orang sakit punya titik lemahnya.” Ganding mengingatkan.
“Kalau begitu kita harus apa?” Jarni yang biasanya tidak suka bicara akhirnya bertanya dengan nada yang sangat kesal.
“Kita harus melakukannya, bukankah lantai dua itu selalu ada dupa yang mantranya berbeda, dupa yang paling tidak disukai oleh adik?” Adiita bertanya hanya untuk memastikan.
“Ya, kau benar Dit.” Ganding menjawab.
“Aku akan memasukkan dupa itu dari celah pintu bagian bawah, adik benci bau dupa itu, dia pasti memilih untuk keluar dari kamar, dengan begitu kita bisa menyelamatkan kakak.” Aditia berlari ke kamar lantai dua, dia menemukan setumpuk dupa yang belum dinyalakan, dia ambil dupa itu dan turun lagi ke bawah.
Dia mencari korek api di dapur, setelah ketemu, Aditia kembali lagi ke depan kamar anak ambari tu, dia menyalakan dupanya dan melempar dupa itu dari celah pintu paling bawah.
Setelah melemparnya, Aditia dan kawanan menghimpun lagi kekuatan dan hendak membuka pintu dengan cara ghaib, yaitu kekuatan tenaga dalam bersamaan.
Tapi belum juga tangan Aditia menyentuh pintunya, tiba-tiba pintu terbuka.
Aditia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu itu dengan kekuatan ghaib bersamaan.
Kakak keluar dari pintu itu dengan membawa tabung yang berisi manusia mini.
Kakak terlihat sangat lemah, dia menangis dan menghampiri kawanan.
“Dia sudah masuk ke dalam tabung ini begitu kalian lempar dupanya, pintu terbuka, ini ambil, segera antar dia pulang agar dia tidak mengacau lagi.” Kakak menyodorkan tabung manusia mini itu pada Aditia.
Lalu setelahnya dia pingsan.
Aditia, Ganding dan Hartino menggotong kakak ke sofa agar dia bisa istirahat.
“Bagaimana dengan tabung itu? apakah benar terisi?” Ganding bertanya pada Alka yang sekarang memegang tabung itu.
“Iya aku merasakan energi dari anak itu di dalam tabung ini, bahkan wanginya juga tercium.” Alka berkata dengan yakin.
“Kalau begitu, aku, Jarni, Hartino dan Alisha akan pergi untuk memulangkan adik ke tempat yang seharusnya.” Ganding berkata, Alka setuju dan memberikan tabung itu.
Sementara Alka dan Aditia menunggu kakak bangun sebelum nanti pamitan, takut kalau kakak depresi, jadi harus diberikan pengertian.
__ADS_1
Perlu waktu setengah jam untuk kakak bisa bangun, setelah bangun, kakak lalu duduk di sofa itu, Alka menatapnya dan bertanya, “Kamu nggak apa-apa? ada yang sakit?” Alka bertanya. Kakak hanya menggeleng.
“Hanya lemas saja.” Kakak menjawab.
“Kalau begitu, kau harus istirahat, mau kuantar ke kamarmu?”
“Iya tolong ya, kamar tamu saja, jangan kamar lantai 2 karena aku sementara ini memang tidur di kamar tamu, karena susah untuk naik turun.” Kaki dan tangannya kakak, masih sakit bekas luka operasi, tapi sudah bisa jalan sendiri, walau agak tertatih.
Alka mengantarnya ke kamar tamu, dia memang tidur di sana akhir-akhir ini, karena masih agar susah naik turun tangga, jalan mendatar saja masih tertatih.
Begitu sampai kamar, Alka pamit.
“Dit, ayo kita pulang, telepon dulu papinya, supaya pulang dan juga menyuruh para pembantu untuk kembali, aku tidak mau anak itu sendirian di sini, karena dia baru saja mengalami kejadian yang mengerikan. Ditinggal berdua saja dengan adiknya yang mengerikan, dia pasti sangat ketakutan tadi, aku menyesal kita tadi meninggalkan dia berdua saja dengan anak ambar itu.” Alka berkata dengan wajah sedih.
“Itu sudah takdir Ka, yang penting kita bisa membuat rumah ini jadi lebih tenang dan menyelamatkan calon korban anak ambar itu.” Aditia menenangkan si pemilik hatinya itu.
Setelah menelpon Papinya, Aditia dan Alka benar-benar pamit pulang, kakak terlihat lelah dan hendak tidur, Aditia meminta kakak untuk menutup pintunya sebelum papi pulang dan para pembantu datang.
Setelah memastikan semua aman, Alka dan Aditia akhirnya keluar dari rumah itu.
...
“Ci, apa benar adik sudah dipulangkan?” Papi tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Kakak bangun dari tidurnya dan duduk di kasur itu, sementara papi duduk di hadapannya di kasur yang sama.
Kakak memeluk papi dan berkata, “Iya Pi, sudah pulang dia, sekarang kita nggak akan berpisah lagi Pi.” Kakak berkata dengan memeluk papinya erat sekali, papi juga memeluknya dengan erat, banyak hal terjadi yang membuat keluarga ini sangat berantakan, papi ingin yang tersisa ini menjadi bahagia, sudah banyak yang mereka lalui, papi ingin merawat kakak dengan lebih baik dan benar lagi.
“Tadi Cici pasti takut ya liat adik? Tapi Cici harus tahu kalau itu tetaplah adikmu, mau bagaimanapun rupanya.”
“Iya, aku sudah tidak takut lagi, dia hanya takut kehilangan kita, dia hanya ingin bersama kita Pi, makanya dia mau ‘dipulangkan’ dengan sukarela, karena dia tidak jahat Pi, dia hanya butuh kita.” Ada nada penyesalan dalam perkataan kakak.
“Kakak sudah mengerti ya sekarang, kalau adik memang tidak jahat, kami kemarin sangat takut kalau harus menjalani hidup dengan beban rasa bersalah, makanya kami memanggil adik kembali dan menjadikannya anak ambar.”
“Iya Pi, aku sekarang mengerti, Papi dan mami nggak salah, Cici yang salah selama ini.”
“Cici sekarang harus lebih ikhlas ya, adik sudah pulang, sekarang tinggal kita berdua aja, kita harus bahu membahu menjali hidup, mengerti ya Ci. Cici mau makan apa?” Papi melepas pelukan dan hendak meminta pembantu menyiapkan makanan, mereka berdua perlu makan, semua pembantu dan supir sudah kembali ke rumah.
“Cici mau makan nasi yang dihias ya Pi, Cici kangetn masakan mami, ingin masakan yang dulu mami suka buat pas kita mau piknik itu.”
“Nasi yang dihias? Yang dihias di dalam kotak bekal makan?” Papi bertanya.
“Tidak perlu di dalam kotak makan Pi, dihias di piring saja dulu, kan kita mau makan langsung, nggak bawa makanan itu untuk piknik.” Cici tertawa, papi juga akhirnya tersenyum, walau dia tidak bisa menemukan alasan untuk tertawa atau tersenyum saat ini.
“Ok kalau begitu, Papi mau minta bibi untuk siapin buat kita ya.”
“Tapi Pi, yang banyak ya, aku lapar sekali.” Kakak meminta supaya makanannya dibuatkan yang banyak.
“Sekarang nafsu makanmu sudah kembali? Kemarin susah sekali makan.” Papi terlihat lega, anaknya baik-baik saja.
Dia lalu berjalan ke luar kamar, papi menutup pintu, setelah pintu di tutup.
Kakak berjalan ke arah meja rias tanpa tertatih seperti orang yang habis dioperasi, lalu menatap kaca pada meja rias itu dan ....
“Sekarang kita udah bersama lagi, kita bertiga ....”
Seringai itu jelas sekali.
__ADS_1