
“Sebelumnya makasih ya karena kalian sudah berkumpul.”
“Dit, sejak kapan kita pakai basa-basi kayak gini?”
“Sejak kau suka menyembunyikan sesuatu.” Aditia mengingatkan Ganding tentang rasa marah yang masih dia rasakan.
“Dit, ini.” Hartino memberikan sebuah dokumen.
“Apa ini?”
“Latar belakang Kemala.” Hartino menjawab.
Aditia menyunggingkan senyum karena mendapatkan apa yang dia inginkan sebelum diberitahu pada kawanan.
Berarti kawanan bekerja bahkan tanpa mereka komunikasi, Alka hanya terdiam, melihat betapa manjanya Kemala pada Aditia, dia duduk di sampingnya cukup dekat hingga bagian lengan saling menyentuh.
Lebih parahnya, Aditia tidak merasa terusik.
“Jadi, bagaimana orantuanya sekarang?” Aditia bertanya.
“Buka halaman 3, kalian ada foto ibunya Kemala? Kalau ada, kau bisa samakan dengan perempuan itu, lalu buka halaman 6, kau akan lihat wajahnya saat ini.”
Aditia membuka halaman tiga, lalu membuka telepon genggamnya dan memperlihatkan pada Kemala, kalau foto ibunya yang didapatkan dari panti asuhan, dengan foto yang Hartino dapatkan, itu mirip, memang orang yang sama.
“Dit ...,” Kemala memegang lengan Aditia, tanda bahwa dia juga setuju itu ibunya, Alka terlihat kesal dan hendak maju untuk membuat tangan yang terlingkar itu lepas dari tuannya.
Tapi Alisha menahan Alka dengan memegang tangannya, Alisha berbisik, “Dia memang cantik, tidak hanya Aditia yang lembut padanya, semua lelaki di sini terlihat lembut padanya. Kalau kau kelepasan, aku dan Jarni bagaimana? Kita akan bertarung dengan jin berusia ratusan tahun, kau mau markas ini dibumihanguskan?”
“Aku tidak tahan melihatnya!” Alka membalas bisikan Alisha.
“Pergi dari ruangan ini atau dari markas ini kalau perlu. Jauhi hal yang menyakitimu. Akan kubalas Aditia untukmu, sekarang keluar dari sini.”
Alka mengikuti nasehat Alisha, memang Alisha saat ini bisa lebih mengerti Alka dan tahu cara menasehatinya, kalau Jarni belum cukup dewasa untuk mengerti, Alisha pinya jam terbang yang cukup tinggi, wajah jika dia lebih dewasa. Tapi bukan berarti dia bisa terbang. Kalian mengerti kan?
Alka keluar, Aditia sempat melirik saat Alka keluar.
“Dia harus bertemu dengan Ajimantrana, karena urusan perbatasan antara jin dan manusia, tidak harus meminta izinmu bukan!” Tepat kena sasaran, Aditia terlihat melotot pada Alisha. Nama itu membaut dada Aditia tertohok, jin tampan yang memiliki ilmu itu adalah lelaki yang paling Aditia hindari namanya.
Dia melepas genggaman Kemala, itu membuat Kemala sedikit kesal, lalu beranjak ke luar mengejar Alka.
“Kau mau ke mana?” Aditia bertanya, mereka ada di luar markas, tapi belum keluar gerbang.
“Ada urusan.” Alka bingung mau jawab apa.
“Apa perlu bertemu dengannya, sedarurat itukah, sampai kau harus meninggalkan kasus?”
“Ajimantrana?” Alka terdiam dan baru teringat, tadi katanya Alisha akan membalas Aditia, darimana dia tahu soal Ajimantrana, oh ya, dulu dia kan profiling semua kawanan untuk bisa masuk ke kawanan dengan mulus, wajar dia tahu semua seluk beluk kawanan.
“Jadi?” Aditia bertanya lagi.
“Harus aku temui, karena darurat!” Alka menjawab sekenanya.
“Tidak bisa, kau harus tetap pada kasus ini.”
“Tidak, ini bukan kasus kita, ini kasusmu, kau tidak bertanya pada kami apakah kami setuju mengambil kasus ini, kau yang begitu penasarannya pada wanita itu, maka kau urus sendiri masalahmu.”
“Tidak bisa! Kau tidak boleh pergi.”
__ADS_1
“Atas dasar apa aku tidak boleh pergi?” Alka menantang.
“Karena ... karena ... kau itu kawanan! Kau tidak boleh meninggalkan barisan hanya karena orang lain!”
“Lalu ... kenapa kau melakukannya? KAU ITU KAWANAN, KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN BARISAN! Lalu kenapa kau pergi dan mengambil kasus sendirian, ini sudah kedua kalinya Dit, kau kecewa padaku dan Ganding, lalu apakah kami ini hanya pesuruhmu, mengikuti apa kata hatimu, sedang hati kami tak kau hiraukan? Kau tuan kami!”
“Kalian terlalu banyak menyembunyikan hal-hal penting padaku, seolah tidak percaya.”
“Lalu apakah itu menjadi landasanmu meninggalkan kami?”
“Aku tidak meninggalkan kalian, aku hanya butuh waktu.”
“Kalau begitu, saat ini, aku juga butuh waktu.”
“Untuk apa! apa salahku hingga kau butuh waktu?”
“Kau mengambil kasus sendirian dan hanya karena butuh kami kau datang. Maka minggir, aku sedang butuh waktu.” Alka berjalan, Aditia memegang tangannya.
“Kau pergi, maka aku takkan memaafkanmu!”
“Kenapa! apa salahnya membantu seorang teman!” Alka berteriak.
“Teman! Dia tidak menganggapmu teman, dia inginkan dirimu!”
“Bukan urusanku ataupun dirimu, dia yang ingin aku, sedang aku tak ingin dia! maka bukan urusan kita keinginannya bukan?”
“Tapi bisa saja kau goyah! Mungkin saja kau akan bersamanya dan meninggalkan kawanan.”
“Aku tidak mudah goyah Dit, kalau memang semudah itu menggoyahkanku, maka aku sudah bersamanya sejak lama, mengingat dia tak main-main saat berkorban untukku, tapi apa! aku tetap sibuk mengurusmu dan keluargamu, memantau kalian dari jauh!” Alka kesal mendengar ini.
“Jangan pergi, aku mohon.” Aditia tetap menggenggam tangan Alka.
“Jadi alasannya Kemala? Dia itu client kita, korban yang harus kita urus!”
“Maka bagiku, Ajimantrana adalah keluarga.”
“Kau pergi, aku benar-benar akan menggunakan kuasaku!”
“Kau gunakan kuasamu pada Kemala saja, dia butuh kau, dia butuh sandaran, bersandar di bahumu, butuh kau gendong saat pingsan dan butuh memegang tanganmu saat merasa lemah. Sedang aku, bahkan aku mampu menggendongmu, aku tidak butuh kau. Dia jauh lebih butuh dirimu dibanding aku.”
“Kau benar-benar tidak membutuhkanku?”
“Tidak, aku tidak butuh kamu.”
“Kalau begitu kenapa kau marah saat Kemala memegang tanganku dan bersandar pada lenganku, kau sedang cemburu?”
“Entahlah, tapi kalau mau tahu rasanya, aku bisa tunjukan, bagaimana jika aku melakukan hal yang sama seperti yang Kemala lakukan padamu?”
“Maksudnya?”
“Memegang lengan Ajiamantrana, bersandar di lengan Ajiamantran, digendong Ajimantrana dan ....”
“Diam kau!” Aditia mengeluarkan kerisnya, wajahnya memerah, Alka mengeluarkan cambuknya, semua orang keluar melihat itu, mereka langsung melerai.
Kalau mereka menikah, sungguh berbahaya sekali dua orang ini, bisa jadi mereka akan masuk pengadilan berkali-kali bukan karena KDRT, tapi karena saling menyiksa.
“Kalian berdua nih dua orang dewasa loh, kenapa sih kok bisa-bisanya bertarung kayak gini!”
__ADS_1
“Belum!” Alka dan Aditia berteriak.
“Dit, kau berani menyerang kakakku, kami takkan tinggal diam.” Semua kawanan di pihak Alka, walau Aditia adalah pemimpinnya, tapi soal keberpihakan, tentu saja, Aditia akan kalah.
Kemala melihat itu, langsung berada di sisi Aditia, tentu saja, itu akan membuat Aditia sudah pasti menang.
Kemala kembali memegang tangan Aditia yang tidak berusaha ditampik oleh Aditia, melihat itu Alka semakin kesal.
Alka hendak melanjutkan pergi.
“Kau pergi, aku akan membuat keributan di tempat Ajimantrana!” Aditia kembali mengancam.
Alka melihat Aditia yang masih digenggam Kemala, lalu dia akhirnya menghilang dengan wujud jinnya.
Itu membuat Aditia tidak bisa mengejarnya.
“Aku akan buat perhitungan pada jin pria brengsek itu.” Aditia hendak pergi ke angkotnya, Kemala ditinggalkan.
Hartino dan Ganding berlari dan memukul tengkuk Aditia, Aditia pingsan, dia digendong oleh Hartino dan dibawa ke kamar.
Sementara Kemala bingung harus apa, karena dia tidak menemukan solusi, malah terjadi pertengkaran dua kekasih, itu semakin membuat kemala iri.
“Kuantar kau pulang ya.” Hartino menawarkan bantuan.
“Kemala, kau mau diantar suami orang!” Alisha menatap Kemala dengan tatapan tajam, sementara Hartino tidak sadar dengan ucapannya.
“Maksudku ... bersama kau antar pulangnya, tidak berdua saja!” Hartino mencoba menyelamatkan pernikahannya.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Sudah terlalu malam berbahaya,” Jarni berkata, dia dari tadi hanya diam saja, “aku dan Alisha yang akan mengantarmu, Alisha akan menyetir.” Alisah setuju, Hartino terlihat keberatan.
“Kalian perempuan semua, itu terlalu berbahaya.” Hartino mencoba membujuk.
“Siapa yang bisa mencelakai kami selain Kemala? Begal mana yang berani menyentuhku dengan ular ini dan seorang wanita yang menguasai banyak ilmu beladiri? Terlebih, apakah Rajima akan diam jika ada yang mau mencelakai Kemala?” Jarni melotot pada Hartino, mereka harus bergegas mengantar Kemala, karena Jarni tahu, jika saja Ganding ada di sini, dia juga pasti akan ikut untuk membujuk mereka semua mengantar Kemala. Perempuan ini memang malapetaka bagi mata lelaki.
Tidak dapat dipungkiri, Kemala memang sangat teramat cantik, wanita saja merasa nyaman melihat wajahnya, apalagi lelaki.
Itu membuat Jarni, Alisha dan Alka ketar-ketir.
Kemala setuju dan mereka akhirnya jalan bertiga dengan mengendari mobil mewah milik mereka dengan tipe Jeep. Alisha mengemudi, dia memang pandai mengemudi mobil besar.
“Ada baiknya, kau tidak perlu menghubungi Aditia lagi Mala, kami akan bantu selesaikan kasus, kau tidak perlu ada di lokasi kami.” Alisha berkata tanpa memperhalus bahasanya. Kemala duduk di bangku belakang kemudi.
“Kenapa aku tidak boleh ada di lokasi?” Kemala ini bodoh atau menikmati puja-puji dari setiap laki-laki, Alisha kesal mendengarnya bertanya.
“Kau tidak lihat keributan apa yang kau timbulkan di makas kami?” Alisha menjawab.
“Apakah Aditia setuju jika aku tidak ada di markas?”
“Buat Aditia, bukan kau yang penting, baginya kau hanya korban yang kasusnya harus ditolong, kau jangan terlalu terlena dengan kebaikannya, dalam hatinya cuma ada Alka. Tidakkah kau lihat, betapa murkanya Aditia saat dia mendengar Alka akan bertemu lelaki yang paling dicemburui olehnya?” Alisah semakin kasar.
“Aku juga tidak berharap dia akan mementingkanku, tapi aku tahu dia hendak menolong, aku hanya tidak ingin tidak tahu diri saja, jauh dari kasus ini namanya tidak sopan bukan?”
“Aku bertemu banyak wanita, tapi kukira kau yang memang paling tak tahu diri, mungkin karena mereasa cantik makanya merasa pusat poros dunia?”
“Aku tidak merasa begitu.”
__ADS_1
“Sok polos, padahal khodammu itu jin laknat!” Alisha kesal dan akhirnya kelepasan.
“Cha, udah cukup, kita antar dia pulang, sudah itu saja.” Jarni mengingatkan, Alisha akhirnya diam, Kemala juga, dia menahan tangis dalam hatinya, karena tidak terima kalau dia dianggap tidak tahu diri dan menggoda lelaki, dia hanya ... senang bertemu dengan pria yang perhatian, karena selama ini, dia selalu sendirian, bahkan setelah menikah dua kali, para pembantu dan pegawainya bukanlah keluarga, jadi tidak bisa diandalkan sejauh ini. Seperti Aditia menawarkan bantuan.