Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 309 : Bus 404 (12)


__ADS_3

“Kita akan baik-baik saja masuk ke hutan ini?” Bobby bertanya.


“Kenapa kau takut sekali masuk hutan?” Aditia tiba-tiba bertanya.


“Karena teman kami banyak yang … mati di sini.” Bobby berbisik, sementara tangannya masih menggenggam Nola.


“Kalian tidak akan mati.” Lagi … Aditia menambahkan kata itu di dalam hatinya.


“Kita akan ke mana?” Alka bertanya, dia sungguh tidak melihat apapun, pun tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Aditia.


“Ke tempat di mana mereka harus bertemu dan saling sadar.”


Aditia terus mengarahkan mereka bertemu Melati. Harus bertemu, hingga mereka bisa memaksa diri untuk mengingat, siapa mereka sebenarnya dan untuk apa mereka masih di sini.



“Masih belum berhasil?” Malam terus bergerak menuju dini hari, sedang Samidi masih belum berhasil menarik Melati untuk datang, dia sudah hampir kehabisan tenaga lagi.


“Belum, kalau emang akhirnya tidak bisa, kita harus menjeputnya ke sana.”


“Maksudnya, kita masuk ke dunia ‘mereka’?” heru bertanya.


“Ya, kita harus masuk.”


“Tapi itu terlalu berbahaya bukan? kalau kita akhirnya terjebak seperti Arif dan Melati gimana?” Winda keberatan.


“Kalau kami masuk, harus ada yang berjaga, menjaga pintunya agar kami bisa menemukan jalan pulang, kau harus berjaga.”


“Apa! itu lebih menakutkan karena aku akan berjaga sendirian gitu?” Winda takut.


“Kau jadinya mau gimana? Ikut masuk ke dalam bersama Pak Samidi atau di sini berjaga, salah satu dari kita harus ikut dan yang lainnya berjaga.” Heru kesal.


“Aku ikut saja bersama Pak Samidi, aku tidak ingin sendirian di sini, terlalu menakutkan, lagian kalau ada apa-apa kau akan menjaga kami kan?” Winda memastikan.


“Ya, aku akan berjaga, kalau begitu Pak Samidi akan pergi masuk ke sana sekarang?” Heru bertanya.


“Ya, kita duduk bersila, yang masuk hanya sukma kita saja, tubuh kita akan dijaga oleh Heru, dia akan memanggil kita begitu ikatan ini putus.”


Samidi mengikat Winda dan juga dirinya, itu adalah tali yang diambil dari orang yang dikubur setelah tiga hari, tali pocong itu diikat di ibu jari kaki Winda. Ini namanya masuk kea lam ghaib dengan membawa energi dari tali pocong itu, setelah tali itu putus, tali yang mengikat antara kaki Pak Samidi dan Winda, mereka harus kembali, caranya, menarik tali itu, hingga sukma mereka ikut tertarik, makanya salah satu  dari mereka harus berjaga, agar pintu masuk dan keluarnya bisa tetap terbuka.


Winda duduk bersila, ikut membaca mantra, lalu perlahan mereka terdiam, artinya mereka telah masuk ke dunia ghaib itu.


Winda terbangun, dia kaget karena ini adalah hutan yang dia dan Pak Samidi duduk bersila, tapi entah kenapa keadaannya berbeda, hutan ini jadi lebih gelap, tak ada suara bising motor dari jauh seperti di kampus, terlalu sepi dan sunyi.


“Pak, kita harus ke mana?”


“Winda jangan jauh-jauh dariku ya, ingat kita harus tetap bersama, agar saat tali itu ditarik, kita bisa kembali lagi.” Samidi mengingatkan lagi Winda langsung memegang lengan Samidi seperti anak yang ketakutan hilang di pasar.


“Ingat ini juga, apapun yang kau lihat, walau kau ketakutan, jangan sampai terpengaruh, sekali kau hilang, aku mungkin takkan bisa menjemputmu, karena masuk ke dunia ini tidak bisa seenaknya.”


“Iya Pak.” Winda mengerti.

__ADS_1


Mereka lalu berjalan, tidak memanggil, karena terlalu berbahaya, saat berjalan, Samidi dan Winda melihat seoran nenek berjalan di hadapan mereka, nenek itu bungkuk dengan kain jarik sebagai rok dan kebaya sebagai bajunya.


“Pak, kita tanya nenek itu aja, siapa tahu lihat Melati dan Arif.” Winda memberi usul.


“Kau tanya saja sendiri.” Samidi bukannya meminta tolong, dia malah bersembunyi, Winda ikut saja, karena dia takut.


Saat nenek itu lewat tepat di depan mereka, ternyata matanya bolong, tidak lama cucu nenek itu yang bermata bolong juga terlihat berjalan mengikutinya dari belakang, Winda terkejut, dia menutup mulutnya karena tidak sengaja mengeluarkan suara saat  terkejut tadi.


“Diam kau.” Samidi memperingatkan, terlambat, nenek itu sadar ada orang lain.


Dia berhenti dari kegiatan berjalannya, lalu dia melihat keadaan sekitar, Winda dan Samidi ada di balik pohon belakang nenek dan cucunya itu.


Samidi dan Winda masih bersembunyi dan memastikan tak ada suara sama sekali, hingga akhirnya nenek bermata bolong itu meneruskan jalan, Winda dan Samidi terlihat lega.


Mereka hendak meneruskan jalan, tapi Winda merasa bahwa tasnya tertahan sesuatu, saat dia hendak menarik tas itu tanpa melihat ke belakang, dia terkejut.


“Kak, main yuk.” Winda berteriak, karena ternyata tasnya di tarik oleh seorang anak bermata bolong pada bagian bawahnya, Winda berteriak hingga menarik perhatian nenek bongkok bermata bolong itu juga.


Dia yang tadinya sudah meneruskan jalan jadi berhenti, tadi saat jalan dia terlihat kesulitan karena tubuh ruhnya yang bongkok, tapi entah kenapa melihat ada manusia, dia langsung tiba-tiba bisa berlari tetap dengan tubuh ruh bongkoknya, dia mendekati Winda, sementara Samidi terus menarik Winda agar dia tidak hilang.


Anak setan itu tetap memegang tas Winda.


“Lepas! Lepas! Lepas!” Winda terlihat histeris, nenek itu dihadapan Winda, mata bolongnya mengeluarkan darah yang muncrat ke wajah Winda, Winda semakin histeris.


“Kak … main yuk.” Anak itu masih saja terus meminta main bersama, Winda ketakutan dan masih histeris, karena bau amis dari darah yang ada di wajahnya lama kelamaan wajahnya terasa panas dan seperti terbakar, akibat semburan dari mata nenek itu.


Samidi sekarang menjadi target berikutnya dari nenek itu, tapi belum juga darah itu kena ke tubuh Samidi, dia mengeluarkan keris berukuran sedang, keris itu lalu dihujamkan pada ubun-ubun nenek itu, setelahnya nenek itu jatuh, cucunya juga melepas pegangannya pada tas Winda dan menangis melihat neneknya terkapar.


Samidi melihat ke belakang, arah lari mereka sudah tidak jelas lagi, karena berusaha lepas dari nenek mata bolong itu, saat melihat ke belakang, Samidi melihat mereka dikejar oleh monyet-monyet berukuran besar dan juga banyak. Suara itu khas sekali, seperti monyet yang sedang saling bersorak-sorai, mendapatkan mangsa untuk dihabisi.


“Itu apa Pak?” Winda bertanya.


“Monyet pemangsa jiwa, mereka lahir dari api neraka, mereka akan memakan jiwamu jika sampai tertangkap.” Samidi lari dengan lebih cepat, tadinya dia memegang Winda, tapi karena monyet itu semakin dekat dan dia takut terkejar, makanya dia akhirnya melepaskan pegangan pada Winda dan berlari mendahului.


“Pak! Pak!” Winda memanggil dan mempercepat larinya, agar tidak tertangkap, hingga jarak dia dan monyet itu semakin dekat, Winda jatuh, monyet dibelakangnya siap untuk menangkapnya, satu langkah lagi tangannya terbakar karena begitu


tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar seperti petir. Suara itu membuat  Winda urung terpanggang dari tangan monyet setan itu.


Winda terdiam dan ketakutan, dia ditarik oleh seeorang.


“Winda!”


Winda kenal suara itu.


“Nola!” Winda menangis dan  memeluk Nola, dia menangis sejadinya.


“Kok bisa di sini?” Nola bertanya.


“Aku mau jemput kamu, aku dan Pak Samidi mau jemput kau dan Arif, kami tadi di hutan sebelum masuk ke dimensi ghaib ini Nol.” Winda masih memeluk Nola, dia sungguh takut tadi, bisa saja kalau mereka terlambat, Winda sudah menjadi daging panggang.


Alka meminta semua orang untuk mundur, monyet-monyet neraka ini sebenarnya tidak sulit di hadapi, tapi jangan sampai terkena tubuh mereka, karena panasnya seperti terkena api dan akan menjadi luka bakar.

__ADS_1


Alka menyabet-nyabet cambuknya, dia mengerahkan kekuatan yang cukup tinggi, hingga setiap cambuk mengeluarkan suara yang menggelegar.


Monyet itu kabur, lari terbirit-birit mendengar dan melihat Alka membantai para monyet itu.


“Wah kau bukan orang biasa.” Bobby terlihat kagum. Winda dan Nola berpegangan dan Bobby tetap tidak melepas pegangan pada Winda.


“Kami memang bukan orang biasa, makanya bisa menjemput kalian. Kau, harusnya jangan ikut masuk, bahaya!” Aditia memperingati Winda yang nekat ikut masuk.


“Maaf, aku hanya tidak berani menjaga di luar sendirian, makanya aku ikut masuk.”


“Kau pakai cara apa untuk masuk?” Aditia bertanya pada Samidi, dia tadi meninggalkan Winda dan bertemu dengan rombongan Aditia duluan sehingga bisa segera berlari untuk meyelamatkan Winda pada akhirnya.


“Nunut Drubiksa.” Jawab Samidi, si mantan penjaga kampus dan juga dukun itu.


“Pakai tali pocong?” Aditia bertanya lagi.


“Iya pakai tali pocong.”


“Kau nekat sekali, lihat monyet saja lari.” Walau Aditia jauh lebih muda, tapi jelas ilmunya jauh di atas Samidi.


“Apa itu Nunut Drubiksa?” tanya Nola.


“Menumpang energi setan dari benda klenik, pintu ghaib terbuka untuk dzat yang memang peruntukannya, jin, maka ketika kau menumpang energi, seolah-olah kau pulang ke rumah, maka pintu itu terbuka, tapi mesti kau buka dengan mantra Nunut Drubiksanya.” Aditia menjelaskan.


“Kalau begitu kita bisa keluar dari pintu mereka masuk dong.” Bobby tiba-tiba memberi usul, sebenarnya bagi Aditia mudah keluar dari sana, dia tinggal membaca mantra, karena bagi Kharisma Jagat memasuki dunia ‘mereka’ memang bukan sesuatu yang sulit. Tapi saat ini keluar dari dunia ghaib bukan prioritas mereka, Aditia harus menuntaskan dendamnya dahulu.


“Tidak bisa, Nunut Drubiksa hanya bisa mengeluarkan mereka yang masuk.”


“Mereka saja masuk menumpang energi, kau mau menumpang pada yang menumpang?” Alka bicara dengan ketus.


“Kita jalan lagi, cari temanmu yang lain.” Aditia meminta semua orang mengikutinya dari belakang, termasuk Samidi, tidak ada yang menjelaskan bahwa tujuan Samidi berbeda, dia ingin menemukan Melati.


“Jadi kau pun belum bertemu Arif, Nol?” Winda bertanya.


“Belum, ini mau cari, aku saja terjebak di bus itu berkali-kali, mengulang hari yang sama entah berapa kali, sudah berapa lama aku hilang?”


“Ini hari ketiga, hari terakhir kau akan dicari sebenarnya, makanya aku nekat mencarimu di hutan ini.”


Nola memeluk Winda, karena tahu Winda takkan pernah menyerah untuk menemukannya, Winda sahabat yang bisa diandalkan.


“Makasih ya Win, maafin aku jadi buat kamu kejebak di sini juga.”


“Nggak Nol, sebenarnya aku juga merasa bersalah, karena nggak bisa melindungi kamu dan Arif, seharusnya aku bisa melindungi kalian, andai saja aku lebih perhatian, maaf ya.” Winda adalah anak pertama dalam keluarganya, dia punya beberapa adik, jadi merasa bertanggung jawab adalah salah satu sifat yang selalu dia jaga. Walau Arif, Nola dan Winda seumuran, Winda selalu lebih dewasa dibanding dua sahabatnya itu, Winda selalu merasa dia harus melindungi teman-temannya.


Mereka meneruskan perjalanan, entah apa lagi yang akan mereka temui, karena sebenarnya Aditia masih bingung dengan alasan Nola harus berada di sini. Siapa wanita itu? kenapa selalu ada dalam pandangan Aditia.


_______________________________


Catatan Penulis :


Hari ini dua part aku up ya, ganti kemarin malam nggak update, part kedua nanti malam seperti biasa. Maaf ya semalam tidak sanggup karena lelah.

__ADS_1


__ADS_2