
Aditia terbangun sementara yang lain sedang duduk, menikmati singkong rebus dan teh hangat.
"Dit, udah bangun, buset itu keringet banyak bgt, makan yuk." Ganding mengajak Aditia untuk bangun dan sarapan.
Adiia bergabung dan sebentar melupakan mimpinya.
Alka memberikan teh hangat pada Aditia dan singkong rebus.
"Jadi ini bener kalau di sini sudah tidak angker lagi Dit, Nding?" Budiman merasa sudah dekat dengan kawanan jadi mereka dijamu dan disapa dengan santai.
Sembari menikmati sarapan Budiman rupaya ingin menggali informasi.
"Iya Pak, udah tenang saja, sekarang sudah tenang, tapi perkara angker mah, namanya kuburan pasti ada satu dua kejadian, tapi nggak akan bikin orang celaka." Ganding menjawab dengan pasti.
"Nding, tapi aku penasaran, apa yang membuatmu condong mengatakan bahwa bagian Dasim itu adalah jin yang sengaja merusak rumah tangga orang, darimana asumsi itu?" Aditia bertanya di tengah sarapan mereka.
"Oh iya, aku juga penasaran." Alka berkata sambil meminum tehnya.
"Itu semua karena laporan yang kita himpun Dit."
"Lah, kan, materi yang kita dapat sama Dit. Kok lu bisa nangkepnya beda?"
"Karena elu selalu berpatokan pada suami, lu ga terlalu fokus ke omongan istrinya."
"Emang apa Nding omongan istrinya? Bukannya rata-rata mereka takut sama suaminya karena terbayang wajah pocong-pocong itu?" Aditia bingung.
"Ya betul, perubahan sikap Dit, kuncinya."
"Perubahan sikap gimana?" Aditia masih mencari benang merahnya.
"Semua istri korban termasuk Sasa, mengatakan hal yang sama seperti yang Jarni ceritakan, bahwa suami mereka berubah sikapnya, kau ingat itu kan, Dit?"
"Tentu saja, lalu?"
"Kau masih belum sadar juga?"
"Sadar apa Nding?"
"Kalau ada perubahan sikap, dari baik menjadi jahat, artinya adalah suami-suami mereka itu dulunya baik, berubah menjadi jahat. Lalu ketika istrinya bilang baik, makanya aku percaya suami mereka memang baik."
__ADS_1
"Nding, tapi masa dari hal itu aja jawaban kami bisa sangat tepat, bahkan sampe ke pernikahan setan-setan itu. Ayolah kasih aku jawaban yang cerdas."
"Dit, kadang nggak perlu jawaban yang cerdas tapi jawaban yang masuk akal. Mungkin ada terbsesit sedikit di hati lu bahwa mungkin istrinya bohong bilang baik, atau bisa saja suaminya pembohong, biasanya keyakinan seperti ini datang dari pengalaman pribadi.
Makanya ketika istrinya bilang kalau suami mereka berubah, kau tidak terlalu percaya, karena dalam keyakinanmu, bisa jadi, suaminya memang begitu dari awal, berbohong soal sifat aslinya. Makanya keyakinanmu mempengaruhi pendapatmu. Kau mengeleminasi pendapat istrinya dan menjadikan jawaban suaminya sebagai sesuatu yang valid.
Jadi dalam pemikiranmu, rumah tangga mereka memang tidak baik-baik saja, si suami menunjukan sifat aslinya yang sedari awal ditutupi dari istri.
Sedang aku, aku percaya bahwa setiap istri memiliki sisi yang mampu menilai suaminya secara objekif. Mereka akan mengatakan yang sebenarnya jika dalam keadaan ketakutan.
Seperti Sasa, dia akhirnya tidak fokus pada ketakutannya begitu Alka dan Jarni membersihkan Sasa di markas.
Seperti yang kita lakukan pada rumah-rumah korban itu, istri mereka menjadi tentram saat kita tanyai mengenai kejadian yang mereka alami di sini.
Ketika dalam keadaan tenang dan sadar itulah, kesaksian seseorang adalah sebenarnya-benarnya.
Kalaubsoal setan-setan yang dinikahi mah, udah ketebak pas lelaki tua itu duduk di depan, dia pasti penghulu, lalu untuk menikah akn butuh mahar, apalagi sih yang disukai setan selain energi kelam manusia?"
"Aku mengerti Nding, maafkan aku karena aku tidak menggunakan intuisi tapi menggunakan keyakinan pada kasus ini. Keyakinan yang salah."
Semua orang mengerti maksud keyakinan yang salah itu adalah karena Aditia sempat terguncang saat tahu ayahnya membohongi keluarga mereka selama ini.
Makanya keyakinan ini membuat Aditia salah memberikan jawaban dalam kasus ini, karena dia tidak percaya pernikahan korban-korban itu harmonis, yang dia yakini para suami memang jahat dan sifat asli mereka keluar saat sehabis menjadi korban.
Jadi tidak heran kesimpulan Aditia adalah rumah tangga mereka tidak baik-baik saja karena sang suami jahat, menutupi sifat aslinya untuk membodohi istrinya. Maka Aditia percaya bahwa, jin tua itu jin baik yang hendak menolong.
Padahal kebalikannya.
Tapi kawanan tidak mau membicarakan ini karena ini urusan pribadi mereka, ada Budiman di sana yang merupakan orang luar.
Makanya tadi Ganding hanya menggunakan kata keyakinan berdasarkan pengalaman.
"Jadi benar kalian telah mengusir pemimpinnya ya, kalian pemuda-pemudi yang sangat hebat." Budiman memuji.
"Biasa saja Pak, ini karena kami kebetulan dikasih berkah saja sama Tuhan dengan kemampuan lebih.sudah itu saja.
"Saya terima kasih sekali lagi loh." Budiman sungguh-sungguh.
Kawanan pamit, setelah sebelumnya ikut menyumbang dana untuk membangun rumah Budiman agar lebih layak dan memberikan santunan untuk pendidikannya kelak.
__ADS_1
Semua orang merasa lega karena merasa bahwa kasus janur kuning telah selesai.
Tapi berbeda dengan Aditia yang kepikiran lagi dengan mimpinya.
Kawanan sekarang ada di angkot milik Mulyana. Aditia diam saja tanpa kata, jujur soal mimpi tadi, dia tidk tenang.
"Dit, kamu kenapa?" Alka bertanya, dia duduk di samping kemudi, Ganding dan Jarni duduk di belakang.
"Aku mimpi soal abah. Dia belum masuk ke ragaku setelah kemarin sempat mencegah aku menghampiri jin tua malam di mana istri Budiman kesurupan itu."
"Abah Wangsa hilang?" Alka terkejut.
"Iya, dalam mimpiku dia berlari, semakin aku kejar, dia semakin menjauh."
"Apa hal ini pernah terjadi sebelumnya Dit?"
"Belum, abah tidak pernh meninggalkanku satu haripun semenjak dia menjadi Karuhunku."
"Apa kalian bertengkar?"
"Tidak, percakapan kami hany soal itu, aku disuruh sabar menunggu, setelah itu dia menghilang. Apa jin tua itu yang menahan abah?"
"Aku tidak tahu, kemungkinan itu tipis Dit. Karena abah bukan Karuhun sembarangan."
"Lalu Abah kemana?"
"Coba cari di buku bapak, siapa tahu abah pernah seperti ini, Karuhun kan sebarnya jin yang juga mungkin punya urusan lain, Dit."
"Iya, nanti aku cari kenapa."
"Dit, jangan terlalu khawatir ya, mungkin abah hanya pergi sementara saja, dia pasti balik, dia adalah Karuhun yang amat sangat hebat."
"Makasih ya Ka, aku sungguh khawatir, takut kalau dia dicelakai oleh jin lain."
"Iya Dit, tennag saja, kami semua di sini akan selalu dikung kamu."
Sementara di tempat lain, ada seorang jin dengan pakaian serba putih, dia terlihat babak belur, entah karena apa.
Dia tidak berusaha meminta pertolongan karena tidak ingin keberadaannya diketahui oleh tuannya, ini adalah hutang masa lalu.
__ADS_1