
“Apa maksudmu? Kenapa dia memanggilku begitu? panggilanku Nola, bukan Oyin.” Nola menolak dan tidak ingin percaya tentang apa yang dipaparkan Melati, bahwa ibunya yang membuat Melati meninggal dunia dan bahwa Bobby kemungkinan ayahnya.
“Zulkarnain adalah nama keluargaku, pasti ada alasan kenapa ayahku memalsukan nasabmu, pasti ada alasan.” Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, potongan-potongan yang terlihat oleh Aditia adalah potongan yang tidak bisa diuraikan secara gamblang, apa yang menjadi pemikitan ayahnya Bobby atau kakeknya Nola hingga memalsukan identitas.
Nola sudah sedewasa ini, pasti semua dokumen akhirnya dipalsukan agar semua tertutup rapat, mulai dari akta lahir hingga kartu keluarga. Pasti ada oknum yang membantu keluarga itu untuk memalsuknan dokumen, pada umumnya, dokumen dipalsukan untuk mengelabui orang banyak, tapi pada kasus Nola, dokumen justru dipalsukan untuk mengelabui pemilik dokumen itu sendiri.
“Jadi kau benar ayahku?” Nola bertanya sekali lagi.
“Kau punya tanda lahir, itu ada di bahu sebelah kanan bagian belakang, tahi lalat yang sangat kentara, apa aku benar?” Bobby bertanya, tentu dia tahu, karena itu anaknya.
“Ka-ka-kau benar, aku tak pernah menunjukkannya pada orang lain karena memang tempatnya tersembunyi, hanya kakek dan nenekku yang tahu.”
“Tentu saja aku tahu, aku yang mengadzanimu, aku yang memandikanmu untuk pertama kalinya karena ibumu masih terlalu lemah untuk memandikanmu dan semua orang ketakutan memandikanmu, saat itu tubuhmu kecil sekali, kau lahir lebih awal memang, walau tidak prematur, berat badanmu hanya 2,5 kg saja, sangat kecil. Kakek dan nenekmu menangis karena takut kau kenapa-kenapa, tapi aku menguatkan semua orang, bahwa anakku, anak yang kuat dan sehat.
Kau itu dulu sangat cengeng, menggemaskan dan tidak mau diam. Bayi yang sangat cantik dan menggemaskan.
Anakku ....” Bobby hendak memeluk Nola, Nola hanya diam saja karena tidak mengerti, dia tidak kekurangan kasih sayang sema sekali, kakeknya yang dia pikir ayahnya memberikan semua kasih sayang yang dia punya, kakek dan neneknya selalu bilang bahwa mereka sulit memiliki anak, hingga akhirnya lahirlah Nola setelah usia mereka cukup tua. Nola tidak pernah curiga soal itu, karena apa yang dikatakan oleh kakek neneknya sangat masuk akal, semua orang bisa saja terlambat memiliki anak. Apalagi kedua orang tua Nola yang sebenarnya adalah kakek dan neneknya sangat menyayangi Nola, jadi Nola tidak pernah berpikir yang aneh-aneh, apalagi merasa janggal.
“Aku melihat seorang perempuan yang dirawat di rumah sakit jiwa, dia terus saja memanggil namamu Bobby.” Aditia tiba-tiba berkata.
“Wanita di rumah sakit jiwa yang suka meamnggil nama Bobby, itu ... anak angkat orang tuaku. Aku sering mengunjunginya dulu, sebelum aku kuliah, ayah dan ibuku sering membawaku ke sana, katanya itu adalah kakak angkatku, dia ditaruh di sana karena sakit jiwa, orang tuaku merawatnya dulu, tapi karena dia sering mengamuk dan membahayakanku, jadinya dia ditaruh di rumah sakit jiwa.” Nola menjelaskan.
“Jadi istriku sekarang di rumah sakit jiwa?” Bobby bertanya.
“Kemungkinannya begitu.” Aditia dengan berat mengatakannya.
“Sebentar, maksudmu ... ibuku gila dan ayahku arwah gentayangan!” Nola tiba-tiba bertanya dengan nada yang cukup keras.
“Mungkin ini alasannya kau terjebak di bus itu, mungkin karena ayahmu rindu dan selalu membayangkan wajahmu, hingga akhirnya kau dan dia berada di frekuensi yang sama, di mana waktu dunia kita dan waktu dunia ghaib berada di satu garis lurus, bertemu tanpa sengaja karena keinginan kuat atau karena takdir.
Diibaratkan seperti jarum jam, angka 1 adalah waktu kita manusia biasa, dan angka 11 adalah waktu mereka dunia ghaib, diantara dua waktu ini ada angka 12. Angka ini bisa jadi pintu untuk masuk ke dunia ghaib bagi manusia biasa, atau makhluk ghaib masuk ke dunia kita.
Bus itu berada di antara dua dunia karena dipanggil dan tidak dipulangkan lagi, jadi kemungkinan ketika jarum jam di angka 12, kau berada di waktu itu, berdiri menunggu bus untuk pulang, lalu ayahmu Bobby, melewati angka 12 itu yang harusnya tidak terlihat olehmu, tapi karena daya tarik menarik hubungan antara ayah yang rindu dan anak yang mungkin sedang dalam keadaan lemah entah karena apa, maka ketika mereka kebetulan berada di satu waktu, yaitu di angka 12, yang seharusnya mereka tidak bsia saling lihat karena perbedaan zona, tapi karena daya tarik menarik inilah mereka berada di satu titik yang sama, yaitu zona diantara keduanya.
Nola akhirnya masuk ke bus itu dan bertemu dengan zona yang tidak putus, seperti yang kalian ceritakan sebelumnya. Kalian terus berputar.”
“Nola, aku tahu ini berat, bagiku ini bahkan aneh, rasanya kemarin baru saja aku telepon ibumu, bilang bahwa kami semua akan study tour keluar kampus, tapi sekarang kami ternyata hanya arwah yang terus saja berputar pada waktu yang sama belasan tahun, bahkan anak perempuan yang bahkan masih sangat kuingat jelas wangi bedaknya ketika aku cium, sudah berubah menjadi wanita dewasa yang sangat amat cantik, wanita yang kuat.
Kau ingat, kau yang membuat kami akhirnya keluar dari bus itu dan melewati waktu yang terus saja berputar. Kami akhirnya bisa bertemu dengan kalian semua dan tahu apa tujuan dari ini semua, walau akhirnya begitu banyak penyesalan.
Aku malah bersyukur, tidak ingat tentang kejadian, dimana kami semua terpanggang, kalau ingat itu pasti kenangan yang sangat menakutkan.”
“Oh, pantas ketika kau kirim foto padaku beberapa waktu lalu, aku tidak melihat ayahmu dan teman-temannya, tapi yang aku lihat adalah bola api, itu karena aku melihat mereka dengan mata orang awam.” Winda tiba-tiba berkata karena ingat kejadian beberapa waktu lalu.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak bilang bahwa yang kau lihat adalah bola api bukan orang yang aku pikir sama denganku, terjebak di bus itu?”
“Karena kami takut kalau kau akan histeris dan ketakutan, kau bilang bahwa kau bahkan merasa aman dengan mereka dan percaya pada mereka, makanya aku hanya memberitahumu bahwa kau sedang masuk ke zona waktu yang salah, itu alasanku meminta kau jangan beritahu mereka bahwa kalian semua terjebak di dunia ghaib, aku takut kalau akhirnya mereka akan menyerangmu.” Winda menjelaskan.
“Aku takkan menyerang anakku sendiri, bahkan sebelum tahu dia anakku, aku sudah sangat ingin melindunginya.” Bobby berkata.
“Maafkan pacarku ya Mel, aku benar-benar menyesal dia harus melakukan ini padamu.”
“Ya, kita semua pada akhirnya dipertemukan karena Nola hilang, akhirnya anakmu yang membuat kita semua bertemu Bob, Ren.”
“Kalau begitu, Bobby dan yang lain ikut aku, termasuk kau Melati. Sedang Samidi dan Winda kembali ke tempat kalian, aku akan memulangkan kalian semua ketempat semestinya.
“Tapi Kak, maaf aku menyelak, Heru menunggu tantenya untuk bertemu, izinkan mereka bertemu Kak.” Tiba-tiba Winda berkata, tujuan mereka ke hutan ini memang untuk menemukan Nola, Arif dan Melati, maka rasanay kurang adil jika Heru tidak bertemu dengan Melati tantenya.
“Heru? Apa maksudmu?” Melati baru sadar, karena semua sibuk dengan penjelasan masing-masing dia sampai tidak bertanya kenapa Samidi di sini.
“Heru keponakanmu, saat ini dia juga seumuran denganku, dia yang meminta Pak Samidi untuk mengantar kami ke hutan ini, memanggilmu.” Winda menjelaskan.
“Heru memintaku untuk menjemputmu, dia mengancamku, dia rupanya tahu siapa yang mencelakaimu, dia dan keluargamu mencariku ke mana-mana, hingga akhirnya setelah ebrtemu, aku pikir dia akan menjebloskanku ke penjara, tapi ternyata tidak, dia hanya memintaku untuk menunjukan jasadmu, agar ibunya bisa kembali sehat. Tidak hilang akal lagi. Aku tobat Melati, aku ingin membantu tanpa imbalan, aku hanya ingin menebus kesalahanku.”
“Kakakku!” Melati terguncang.
“Ya Tante, ibunya Heru terguncang saat kau hilang, katanya sampai sekarang, dia bahkan masih mengira kau hidup, dia kadang bertanya kau di mana, kenapa belum pulang.” Winda menceritakan penggalan cerita yang sempat Heru ceritakan.”
“Samidi dan Winda kembali ke tempat mereka masuk, sisanya tetap ikut aku termasuk Nola dan Arif, aku akan membawa bus itu semua ke dunia kita untuk mempertemukan Melati dan Heru.
Begitu kau dan Samidi sudah kembali ke tubuh kalian, bawa Heru ke pinggir jalan, nanti aku yang mencari kalian membawa bus itu untuk membawa Melati menemui Heru, hanya itu yang bisa aku tawarkan, katakan itu pada Heru.
Setidaknya, kelak, tubuh Melati akan kita temukan dan ibunya Heru bisa disembuhkan, aku dan Alka akan membantu untuk menyembuhkannya.” Aditia memberikan solusi.
“Baik, aku rasa itu yang terbaik.”
Lalu semua orang pergi sesuai perintah Aditia, Aditia dan yang lain masuk lagi ke dunia ghaib untuk mnegejar bus itu. Walau Aditia agak kesal karena entah kenapa dia tidak bisa merasakan kehadiran bus itu di mana, seharusnya mereka sudah keluar dari kampus ini, kalau pun iya, itu akan merepotkan sekali, karena Aditia akan meminta kawanan untuk kembali dahulu sebentar saja, agar Heru bisa bertemu dengan tantenya.
...
“Kau dengar sesuatu Nding?” Hartino bertanya.
“Iya langkah kaki yang berdegum.” Ganding menjawab.
“Jarni, kau di dalam bus saja ya, aku dan Hartino akan lihat, sepertinya penguasa di sini ingin bertemu, kita hanya bertiga, tidak ada pemimpin kita, akan sangat berbahaya kalau kau keluar, aku takut dia ... menyerang kita.”
Hartino keluar bersama Ganding, benar saja, dari kejauhan mereka melihat kawanan monyet neraka sedang berlarian, mereka monyet yang gemuk-gemuk berwarna hitam dan selutuh tubuhnya memercikan api, sungguh mengerikan, sambil berlari mereka berteriak khas suara monyet tapi lebih nyaring.
__ADS_1
Mereka terlihat sangat amat banyak, lalu di paling belakang, terlihat bayangan hitam dan sangat besar, sangat amat besar. Hingga besarnya melebihi pohon beringin, suaranya langkah kakinya berdegum, itu membuat Hartino dan Ganding bahkan sedikit ngeri, karena mereka hanya berdua saja.
“Har, berdua doang nih.”
“Mana yang pegang kunci Adit lagi, kita nggak bisa buka pintu ghaib, gimana ini?” Hartino bertanya.
“Kita pura-pura berani aja dulu, biar mereka takut.”
“Mereka banyak, lu buta! Nggak bisa liat!” Hartino kesal, kejeniusan Ganding hilang seketika karena takut.
“Hei! ayo kita hadapi.” Jarni keluar, dia memagang ularnya, dia bersiap, semua ularnya mininya dikeluarkan, sangat banyak, hingga menutupi kakinya Jarni sampai betis, hanya itu yang dia punya.
Hartino dan Ganding juga mengeluarkan senjatanya, mereka bersiap dengan senjata masing-masih untuk menghadapi raja jin dan anak buahnya.
Walau mereka yakin akan kalah, tapi mereka tidak boleh mundur, pantang bagi mereka untuk mundur, lain cerita kalau Alka dan Aditia ada di sini, pasti mereka bisa menang.
“Siap! hidup dan mati bersama, tidak peduli halangan di depan bukan?” Hartino menyebutkan moto kawanan.
“Hidup dan mati bersama!” Ganding dan Jarni berteriak hal yang sama, lalu mereka mulai menyerang.
“Ketemu!” Aditia merasakan sesuatu, dia dan yang lain sedang berlari mencari kawanan selama beberapa waktu setelah masuk dunia ghaib, walau sulit sekali melacak mereka, sepertinya raja jin sengaja menutup areal bus itu agar bisa dia habisi.
Aditia merasakan lagi energi kawanan karena senjata kawanan mengeluarkan energi yang sangat besar, itu bisa Aditia rasakan.
“Udha ketemu Dit?” Alka senang.
“Tapi selain itu, aku merasakan energi kelam yang sangat pekat dan banyak, kita harus cepat, karena bisa jadi ... mereka sedang di serang oleh kawanan monyet dan rajanya itu!” Aditia semakin mempercepat larinya, beberapa ruh ketinggalan, tapi tetap berusaha mengejar Aditia dan Alka.
Nola tetap digenggam Bobby, Nola tidak takut pada wujud ayahnya, dia hanya ingin semakin lama bersama ayahnya.
Saat mereka sudah semakin dekat, Aditia melihat bahwa kawanan sedang di keroyok.
“Dit, jangan ikut bertarung, tidak ada abah dalam wujudmu, sekarang kau menyingkir jaga mereka semua.” Alka mengingatkan.
“Hidup dan mati bersama!” Aditia berteriak dan berlari dalam arena pertarungan.
“Dia meman sulit diberitahu, tapi itu yang aku suka, HIDUP DAN MATI BERSAMA!” Alka juga berteriak dan berlari ke pertempuran, sementara Bobby dan yang lain berlari dan berusaha masuk ke dalam bus, bus yang sebelumnya mereka sangat takuti, tapi sekarang malah mereka akan berlindung di dalamnya, mereka masuk kembali dari pintu belakang, tidak takut pada ruh gosong yang mereka lihat sedang duduk tanpa menoleh, seolah tersihir entah oleh apa. Yang mereka tidak tahu adalah kawanan menahan mereka agar tetap tenang sebelumnya dengan pagar ghaib.
Begitu sudah masuk bus, Bobby dan yang lain duduk dengan tenang. Nola di tengah antara Bobby dan Arif, dua lelaki yang sangat melindunginya.
Saat mereka sedang sibuk memperhatikan pertarungan, tiba-tiba Rendi berteriak.
“Melati hilang! Melati hilang!” Rendi berteriak, semua orang baru sadar, kalau Melati hilang, tidak ada Melati di dalam bus, mereka berusaha melihat ke luar, apakah Melati terjebak di antara kawanan monyet itu? bukankah dia memang diincar karena wanginya? Mereka sangat khawatir dan kawanan masih sangat sibuk, hingga tak bisa diberitahu soal hilangnya Melati.
__ADS_1
Maukah kalian beritahu kawanan bahwa Melati hilang?