Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 140 : Saba Alkamah Akhir


__ADS_3

Semua pintu tertutup, Alka melihat sekeliling, gelap, rumah yang tadi terlihat sangat terang benderang menjadi gelap dan berantakan, pasti karena kejadian sebelumnya yang membuat rumah itu berantakan. Saat itu Alka dan ibunya pergi melalui pintu belakang untuk sampai ke jalan besar, warga desa yang telah berhasil masuk paksa, membuat rumah itu berantakan, buku-buku, bangku dan meja semua tergeletak berantakan.


Alka menangis, dia tidak takut, tentu saja gelap adalah temannya saat ini. Yang membuat dia sedih adalah, rumah penuh kenangan itu sungguh telah hancur, ayah dan ibu yang merawatnya sedari kecil, sudah tiada, orang-orang yang dulu dipercaya, telah menjadi orang yang hampir membunuhnya.


Sekarang, bahkan setelah menjadi setan, mereka masih saja terus mengincar Alka, Alka sudah tahu, bahwa pasti si pemimpin itu menjadi setan penasaran karena dibunuh dengan kejam oleh seorang anak berumur lima tahun.


Seorang pria gosong yang berperawakan tinggi besar perlahan menghampiri Alka, dua orang yang sebelumnya telah meniru ayah dan ibu Alka berada di belakangnya. Dari belakang mereka, muncul lebih banyak lagi sosok gosong yang jelas, ingin memburu Alka.


“Ikut kami ke neraka!” teriak pria yang paling tinggi dan besar itu, pasti karena dosanya yang besar, makanya arwah mereka tidak diterima Tuhan.


Alka mundur, dia memang memiliki kemampuan untuk mengalahkan, tapi tidak mereka semua, karena terlalu banyak, mengingat sudah begitu banyak nyawa yang Alka habisi saat itu.


Alka mundur dan berlari mencari pintu yang mungkin sebenarnya masih bisa dia dobrak untuk keluar. Jendela tidak mungkin karena ibunya selalu memasang teralis rapat pada jendela itu, jadi kemungkinan keluar dari jendela tidak bisa.


Para setan penasaran yang berwujud gosong itu terus berusaha menggapai tubuh Alka, saat berhasil menyentuhnya, Alka merasakan panas yang sangat menyakitkan, seperti tersiram air panas, tubuhnya melepuh karena sentuhan itu.


Sebenarnya setan tidak akan mampu membunuh seorang manusia, tapi Alka adalah manusia yang berbeda, pembentukan tubuhnya itu terdiri dari jin dan manusia, sehingga itu menjadi keuntungan bagi para arwah yang tentu saja bisa menyakitinya karena pembentukan tubuh Alka yang setengah-setengah itu.


Alka terus melawan, di titik ini, Alka tidak punya senjata, senjata itu belum dia miliki, cambuk yang biasa dia gunakan kelak belum menjadi senjatanya.


Alka terus melawan dengan semua kekuatan yang dia miliki, seperti melompat lebih tinggi dari manusia biasa, memukul lebih keras dan kekuatan dorongannya yang lebih kencang dari manusia biasa.


Alka ingat, bahwa pintu belakang itu seharusnya tidak bisa ditutup rapat karena telah rusak saat kemarin dia dikejar. Tapi sialnya, untuk menuju dapur, dia harus melewati kerumunan setan gosong itu, tapi itu patut dicoba, karena kalau dia diam saja, Alka akan berakhir dengan menjadi teman setan itu di neraka.


Begitu bisa menangkap Alka, mereka pasti akan mencabik-cabik tubuh Alka yang bisa disentuh karena dia setengah jin yang bisa dilukai oleh makhluk tak kasat mata.


Alka mulai menciptakan strategi cara kabur yang paling aman. Dia menciptakan kemungkinan-kemungkinan dan juga resikonya. Secara tidak sadar, Alka telah melatih ilmu strateginya dari kasus pertamanya ini, tentu sendirian.


Kalau dia melawan satu persatu, tentu akan kehabisan tenaga, maka cara apa yang paling mungkin membuatnya mampu menggapai pintu belakang?


Alka mengambil taplak meja yang berada di dekatnya, melilit taplak meja itu ke bagian tangan kanannya, mengambil semua kain yang dia lihat, kain gordeng dirobek dan dililit ke tangan kiri lalu kedua kakinya. Setelah merasa cukup, dia lalu mulai membulatkan tekad.


Selama dia mempersiapkan menutupi tubuhnya dengan semua kain yang dia temukan, tentu mereka juga berusaha menyerang Alka, tapi Alka masih bisa menghalau satu dua orang.


Kau tahu, prinsip perang adalah, kalau kau tidak mampu melawan sendirian, maka kau harus mencari kawan untuk membantumu.


Tapi saat ini Alka sendirian, maka tidak ada cara lain selain, membuat musuh menjadi kawan.


Alka lalu mencari makhluk yang paling tinggi itu dan melompat ke atas tubuh gosong itu, dia menahan, beberapa bagian tubuhnya ternyata masih kena percikan panasnya walau tangan dan kakinya telah ditutupi dengan kain taplak meja dan gorden yang berserakan tadi.


Tapi dia menahannya dan memukul kepala tubuh gosong itu, tubuh gosong yang kaget karena ALka tiba-tiba memanjat tubuhnya membuat dia berlarian ke segala arah agar bisa melepaskan Alka. Hal ini adalah apa yang Alka maksudkan, dia ingin tubuh gosong itu menjadi tunggangannya untuk sampai ke bagian belakang rumah.


Dia terus melakukan serangan pada kepalanya dan mengarahkan arah larinya ke belakang. Semua tubuh gosong itu berlomba mengagapai Alka, tapi kesulitan. Itu alasannya Alka memilih ketua dari kumpulan mantan manusia jahat ini untuk ditunggangi. Alka perlu tubuh tinggi pemimpin makhluk itu untuk bisa mencapai lokasi yang kemungkinan pintunya rusak.


Berhasil, dalam waktu singkat Alka mampu mengarahkan setan gosong itu ke pintu belakang. Tepat seperti dugaannya, pintu itu rusak, jadi dia bisa pergi melalui pintu itu.


Alka melompat dengan cekatan begitu setan gosong itu membelakangi pintu belakang. Alka berlari sekencang mungkin, tapi selama dia lari, dia dikejar oleh mereka, setan-setan gosong yang ingin membawanya ke neraka.


Selama dia lari juga, dia sadar, semua rumah di desa itu kosong, gelap, tak ada satupun orang. Siapa yang mau tinggal di desa angker begitu. Warga yang selamat dari serangan Alka, memilih lari dari desa itu.


Alka tidak terlalu perduli, walau ada ada satu orang saja, pasti tidak akan mau membantunya.


Alka berlari kembali ke hutan, saat Alka menginjakkan kakinya kembali ke hutan, setan itu berhenti mengejarnya.


Tentu saja, setiap jin memiliki daerah kekuasaannya masing-masing, hutan adalah tempat yang paling aman saat ini, karena Alka tidak dianggap ancaman, sedang ruh gosong itu dianggap penyusup, makanya tidak berani masuk ke hutan.


Alka memang telah mempelajari dunia jin tanpa sepengetahuan ayahnya, dia sedikit banyak tahu tentang jin itu dari makhluk tak kasat mata yang dia lihat setelah petir itu menyabar tukang tenda, mata batinnya semakin tajam dari yang sebelumnya hanya selalu dia abaikan semenjak mengerti melihat apa yang tidak dilihat orang lain.


Alka kembali ke guanya dengan lemas, kelelahan lari dan tubuhnya terasa panas. Dia lepaskan kain yang tadi melindungi kaki dan tangannya.


Efek panas tidak hilang karena Alka memiliki tubuh jin yang bisa diserang oleh ruh dan makhluk halus lain.


Alka duduk di gua, dia sempat tertipu dengan suara panggilan itu, dia tahu sekarang, ruh itu masih bertahan di desa untuk membawanya ikut ke neraka, dia tidak mau, dia takut.


Tapi kenangan yang mereka tipukan tentang orang tuanya membuat dia sedih.


Kenapa harus hanya sebuah tipuan, senyuman ayahnya, kehangatan ibunya, rumah yang terang dan nyaman.


Sedang ini hanya gua saja.


Alka tertidur, setidaknya, tidurnya akan tenang.


...


[Di-dimana ini?] Alka bertanya dalam hati, kenapa terasa dingin sekali, seperti di ... sebuah tepi pantai. Ada suara ombak dan kakinya terasa menyentuh pasir, gelap.


“Saba Alkamah.” Seseorang memanggilnya dari belakang.


Alka bersiap, serangan sebelumnya membuat dia harus lebih waspada, anak lima tahun itu sungguh luar biasa.

__ADS_1


“Tenang, aku bukan musuhmu, mungkin akan menjadi kawanmu.” Seorang kakek-kakek menyapanya dari belakang, pakaiannya serba putih, tidak memakai sandal sebagai alas, tapi kakinya menapak pada pasir.


“Dimana ini?”


“Pantai.”


“Kenapa aku di sini?”


“Kau dipanggil,” jawab kakek itu.


“Oleh Aki?”


“Bukan, tapi, oleh seseorang yang bersikeras agar kau tetap hidup, padahal dua dunia memburumu.”


“Apakah aku memang harus mati?” Alka bertanya dengan sedih.


“Mati dan hidup, itu urusan Tuhan. Apakah kau merasa bersemangat ketika menghadapi gerombolan gosong itu?” tanya Aki itu lagi.


“Tidak, aku lelah.”


“Lelah tapi kau menang padahal jelas kalah jumlah.”


“Aku takut Aki.”


“Takut wajar, tapi kau tidak menyerah, dia suka itu.”


“Dia? siapa?”


“Yang bersikeras untuk menjagamu agar kau tetap hidup.”


“Siapa itu?”


“Tidak perlu tahu, yang kau perlu tahu, kau akan diselamatkan oleh seorang pria, namanya Mulyana, cepat atau lambat dia akan datang padamu. Dia akan melatihmu menjadi manusia yang lebih bermanfaat, itu adalah penebusan dosa.”


“Apakah aku manusia?” tanya Alka dengan polos.


“Tentu saja kau manusia, tapi bukan manusia biasa.” Aki tertawa.


“Lalu Aki siapa?”


“Aku? aku hanya kurir penyampai pesan.”


“Hidup baik? Apa itu hidup baik? semua makhluk punya cobaannya masing-masing.”


“Apakah aku bisa bertemu orang-orang yang menyayangiku lagi?” Alka kecil dengan polos bertanya.


“Tidak tahu, hanya Tuhan yang tahu itu.”


Ketika Alka akan bertanya lagi, tiba-tiba gelap, Alka terbangun. Lagi-lagi hanya mimpi.


Hari terlewati, Alka tetaplah gadis gua yang tinggal di hutan.


“Alka keluar hutan, dia kaget, karena ternyata ada dua orang lelaki Alka pikir mereka berdua sedang mencari kayu bakar. Alka mundur, dia tidak ingin ketahuan tinggal di gua jadi dia bersembunyi lagi.


“Kau yakin dengan proyek ini?” seorang lelaki berkata, mereka cukup dekat dengan gua Alka hingga Alka bisa mendengar perkataan mereka.


“Ya mau apa lagi? dana sudah turun, material sudah dibeli, kita harus tetap bangun rumah-rumah itu.” Jawab seorang yang lain.


Alka salah sangka, mereka adalah mandor dan salah satu tukangnya yang paling dipercaya.


Mereka berdua adalah dua orang yang mengatur pembangunan kembali desa, ternyata soal pembakaran rumah-rumah yang dilakukan Alka itu, sudah tersebar dengan tajuk, ‘DESA DIBAKAR OLEH ANAK IBLIS YANG KABUR’.


Tentu berita itu adalah berita yang disebarkan dari mulut ke mulut, karena koran sudah ada, tapi warga desa tidak membacanya.


Berita itu sampai ke pemerintah pusat yang akhirnya mengangkat kepala desa baru dari desa sebelah untuk membangun desa itu kembali, mengingat betapa desa itu terkenal akan kesuburan tanahnya. Makanya pemerintah pusat berusaha membangun kembali desa itu. Karena berusaha mendapatkan manfaat kembali atas tanah dari desa yang sebelumnya begitu makmur.


Kepala desa baru hanya berani tinggal selama satu malam di desa itu, karena desa itu begitu gelap, mencekam dan angker. Tapi dia dengan berani melakukan pembangunan kembali untuk desa itu.


Setelah beberapa hari berjalan, pembangunan desa gagal, banyak sekali masalah. Ada yang kesurupan dimulai satu orang lalu menjadi kesurupan massal. Ada yang jatuh sakit lalu yang lain ikut sakit. Bahkan alat-alat berat tiba-tiba rusak padahal itu adalah alat yang paling masih bagus dan beberapa masih baru.


Kepala desa baru tahu, ada yang salah dengan desa itu. Maka dari itu, dia menyuruh anak buahnya mencari jejak warga yang dulu pernah tinggal di desa itu.


Beruntung anak buah itu mendapatkan satu keluarga yang ternyata pindah ke desa sebelah yang paling dekat dengan desa mati itu.


Kepala desa memanggil kepala keluarganya dan meminta penjelasan, apa benar yang terjadi dan apa benar tentang gosip itu, bahwa desa itu dibakar oleh seorang anak iblis.


“Jadi, benar bahwa desa itu dibakar oleh anak iblis?” tanya Pak Kades.


“Hmm, maaf Pak, saya tidak bisa menceritakannya, ini adalah janji seluruh warga, untuk diam dan tidak bercerita pada siapapun apa yang terjadi pada desa kami.”

__ADS_1


“Tapi Pak, kalau kau diam saja, aku akan kesulitan membangun desa itu,” Kepala Desa membujuk.


“Pak, maaf aku takut.”


“Apalagi yang kau takutkan? Semua warga entah kemana, aku bahkan harus menyuruh anak buahku untuk mencarimu, jadi tidak perlu kau takutkan lagi, korban sudah banyak, desa juga jadi desa mati, lalu apalagi yang kau takutkan dan ingin kau jaga?”


“Tapi Pak Kades saya ....”


“Ini, bagaimana jika aku membayar informasi yang akan kau ceritakan?” Pak Kades menyerahkan beberapa lembar uang kertas.


“Tapi Pak maaf, saya belum bisa.”


“Bagaimana jika uang ini dan juga ditambah rumah yang akan aku bangunkan di desa tetangga itu? tempat kau menumpang di rumah saudaramu?”


“Baiklah.” Uang memang punya pengaruh besar, lelaki itu akhirnya setuju untuk cerita.


“Mbok, tolong bikinkan kopi dan keluarkan camilan, kita pasti akan lama di ruang tamu ini.” Pak Kades memerintahkan pelayannya untuk membawakan kopi.


“Jadi begini Pak, dulu itu ada seorang anak yang ditemukan oleh pasutri di desa kami yang kebetulan tidak ada anak. Anak itu ditemukan di hutan secara misterius, entah dari mana, entah anak siapa, tapi yang pasti, anak itu, anak yang ... apa ya kita menyebutnya, mungkin ... tidak bisa.”


“Kenapa tidak biasa?” Pak Kades penasaran.


“Anak itu bisa membuat tanah di desa kami yang tandus menjadi subur.”


“Wah itu mitos yang sangat berlebihan.”


“Tidak Pak, anda tidak tahu, bahwa memang benar bukan Pak Kades yang lama yang membuat desa kami makmur, bukan programnya yang membuat tanah di desa kami subur, tapi anak itu.”


“Bagaimana cara dia membuat desa itu menjadi subur?”


“Kami semua hanya perlu menyuapinya makan, lalu setelah menyuapinya, kami dilarang untuk cuci tangan, kami harus menanam dengan tangan bekar menyuapi anak itu.”


“Hanya itu? konyol sekali.”


“Ya Pak, hanya itu, Makanya kenapa kami semua sepakat membuat perjanjian untuk tidak menyebarkan informasi ini. Karena kami pasti disangka orang gila, Pak Kades membuat kami melakukan perjanjian itu.”


“Baiklah, lanjutkan.” Walau tidak percaya, Pak Kades tetap ingin mendengar cerita itu.


“Secara ajaib, tanah kami subur kembali, kami sudah mencobanya Pak. tangan yang kami pakai untuk menanam tanpa menyuapi anak itu terlebih dahulu, tidak akan pernah tumbuh. Berbeda dengan tangan yang kami gunakan untuk menanam tapi sebelumnya menyuapi anak itu dulu, pasti tanahnya subur. Tanaman apapun yang kami tanam dengan tangan setelah melalui suapan itu, akan membuat tumbuhan tumbuh dengan sangat baik.”


“Apakah ini benar?”


“Saya mengalaminya sendiri Pak, kami semua warga desa mengalaminya.” Lelaki itu ingin Pak Kades percaya, karena dia bicara jujur.


“Lalu apa yang terjadi dengan anak itu?”


“Lima tahun kami menikmati kesuburuan tanah di desa kami, tapi tiba-tiba terjadi insiden.”  Lelaki itu terlihat ketakutan.


“Ada apa? apa yang terjadi?”


“Anak itu ulang tahun yang kelima, keluarga angkatnya merayakan ulang tahun dengan cukup meriah. Semua orang datang, membawa banyak hadiah lalu hujan datang, hujan yang seharusnya tidak ada di bulan-bulan itu, hujan yang aneh. Hujan yang begitu banyak mengeluarkan petir.”


“Lalu?”


“Pesta usai, seorang tukang tenda katanya akan membereskan tenda dalam keadaan hujan lebat, naas, dia tersambar petir, lalu setelahnya begitu banyak kejadian naas menimpa keluarga angkat anak itu, makanya, akhirnya, muncullah berita itu.”


“Berita apa?”


“Berita tentang anak sial, anak angkat itu menjadi anak sial bagi desa kami karena petir dan hujan turun membawa banyak kesialan.”


“Kenapa bisa anak itu dituduh? Padahal katanya dia yang membuat desa itu menjadi subur?”


“Entahlah Pak, saya juga bingung, karena letak rumah saya jauh dari letak rumah anak itu, kami ikut menikmati tanah subur karena menyuapi anak itu, tapi kami tidak begitu tahu tentang dia.”


“Lalu kenapa anak itu dituduh menjadi orang yang membakar rumah-rumah di desa kalian?”


“Warga yang terprovokasi bermaksud untuk membakar anak itu hidup-hidup, tapi tidka berhasil, anak itu katanya malah membakar rumah dan orang-orang di dalamnya. Kami selamat, tapi ada juga beberapa keluargaku yang kena imbas tapi alhamdulillah selamat.”


“Sungguh sulit dipercaya. Tapi kau mengalaminya sendiri, maka dari itu saya akan memilih untuk percaya, berarti desa ini harus dibersihkan dulu dari makhluk penasaran.” Pak Kades memang mendapatkan jawaban, tapi dia malah semakin bingung. Sekarang, harus meminta tolong siapa untuk membersihkan desa itu.


Berita tentang desa itu sampai juga ke telinga Mulyana, dia akhirnya mendatangi desa itu bersama sahabatnya, Dirga.


_______________________________________


Catatan Penulis :


Part Alka ini terakhir ya, sudah tamat. Yang mau kembali mengingat pertemuan Alka dengan Mulyana, bisa membaca kembali part 21 ya pertemuan Alka dan Mulyana nggak aku ulang lagi di sini.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2