Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 253 : Pabrik Seragam 2


__ADS_3

Dinda segera berlari ke pabrik, padahal dia shift siang, tapi dia ingin segera tahu kejadiannya, kenapa Erin bisa ditemukan masih di dalam pabrik, apakah karena ditinggalkan Dinda semalam?


“Pak bagaimana dengan Erin?” Dinda sudah di kantor pabrik yang letaknya paling ujung  di pabrik ini.


“Kamu duduk dulu ya,” Supervisor itu berkata.


Kantor seperti biasa ramai, semua orang terlihat tidak bekerja tapi mengobrol, setelah Dinda datang, mereka akhirnya berkumpul mendekati Dinda.


“Pak, Erin nggak meninggal kan, Pak?” Dinda bertanya lagi.


“Sekarang ceritain dulu, semalam gimana kejadiannya? Nanti mungkin kamu akan dipanggil Polisi, untuk jadi saksi.


“Polisi? Kok bisa gitu Pak?” Dinda terlihat panik dan mulai menangis.


“Makanya kamu cerita dulu, siapa tahu kita bisa bantu.” Supervisor itumembujuk Dinda untuk bercerita.


“Semalam Dinda lembur, Erin nemenin, Erin sempet ngerengek pulang, tapi Dinda masih lembur sekitar sejam lagi, trus Erin akhirnya setuju untuk nungguk. Dia main hp di samping Dinda. Trus nggak lama dia ambil air, katanya haus, dia pergi ke dapur ….”


“Trus?”


“Trus nggak lama, Erin balik, dia abis dari dapur, nggak mainin HP lagi, tapi dia kayak merhatiin Dinda, sambil agak bengong sih, tapi Dinda terusin kerjaan aja karena emang lagi ngejar target, setelah kelar kerjaan, Dinda ngajak Erin pulang, trus Dinda gandeng tangan Erin, agak aneh saat itu ….”


“Anehnya?” Supervisor itu terlihat penasaran.


“Tangan Erin dingin banget, dia juga natap Dinda tuh aneh, kayak kosong gitu.”


“Ok, terus?” Semua orang menyimak dengan sangat serius.


“Terus kami jalan ke arah luar pabrik, lewatin seksi packing, nah di sini ini, Dinda bingung, karena ternyata masih banyak orang, mereka kerja kayak biasa.”


“Jam berapa itu”


“Jam berapa ya, kalau nggak salah sekitar jam 12 atau jam 1 lah.” Dinda lupa persisnya,


“Seharusnya sudah tidak ada pekerja sama sekali, terus?”


“Terus Dinda kayak mau ramah aja, Dina tegur salah satu orangnya, Dinda bilang permisi, tapi orang itu nggak ngebales, semua orang di sana tuh kayak nggak ngeh dengan kehadiran Dinda, lumayan aneh, tapi Dinda buru-buru aja, Dinda masih coba gandeng Erin terus, pas udah mau masuk seksi stok, tiba-tiba Erin narik tangan Dinda.


Dinda tanya kenapa, Erin bilang masih mau di sini, trus tiba-tiba dia lari lepasin tangan Dinda, Dinda panggil tapi Erin nggak mau denger, dia malah lari balik lagi ke seksi jahit, trus tiba-tiba semua pekerja langsung berhenti kerja dan nengok ke arah Dinda bersamaan, nakutin banget, Dinda takut, jadinya Dinda lari.


Sampe ke luar Dinda ketemu security pabrik yang lagi nunggu di depan pintu keluar, Dinda minta tolong dia buat jemput Erin, trus Dinda juga cerita kalau masih ada pekerja di seksi packing, tapi security bilang nggak ada orang lagi selain Dinda. Security itu juga bilang kalau orang pola udah pulang, maksudnya itu Erin, tapi Dina bilang kalau Erin sama Dinda tadi, cuma emang tangannya Erin dingin.

__ADS_1


Security itu ngotot,  bilang kalau Erin udah pulang, dia nggak mau nemenin Dinda masuk ke dalam lagi. Mungkin takut.”


Setelah mendengar keseluruhan cerita itu, Supervisor membuka laptopnya, dia lalu masuk ke sebuah aplikasi, setelah aplikasi terbuka, beberapa layar menampilkan ruangan yang semua orang kenal ruangan apa saja itu.


Ternyata itu adalah aplikasi CCTV, pabrik ini memiliki CCTV di semua ruangan kecuali kamar mandi dan ruangan bos, pemilik pabrik ini.


Supervisor itu pertama-tama membuka layar ruangan jahit, di mana Dinda bekerja, layarnya diperbesar, sehingga semua orang bisa melihat dengan jelas.


“Din, lihat ini, bagian yang kau bilang kalau Erin ke dapur, kita pindahin layarnya ke dapur ya.” Supervisor itu lalu membuka layar lain, mereka membuka setiap layar dan memperbesarnya agar bisa dilihat lebih jelas.


“Kok?” Dinda heran karena Erin terlihat bingung, awalnya Erin berbicara dengan seseorang di depannya, lalu setelahnya dia seperti kaget, menengok ke belakang badannya, setelah itu dia bergantian menengok ke depan dan kebelakang sebelum akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan terduduk bersandar pada dinding.


Anehnya, di sana yang terlihat hanya ada Erin, apa yang membuat Erin terlihat sangat ketakutan begitu hingga dia akhirnya pingsan? Itu yang semua orang ingin tahu.


“Erin pingsan Din, dia nggak pernah balik ke meja jahit kamu.”


“Tapi Pak ….”


“Ini saya pindahin lagi ya ke ruangan jahit.” Supervisor itu lalu membuka layar yang berbeda.


Saat layar dipindahkan ke ruangan jahit, lalu mengarahkan jam di mana Dinda merasa mereka bersiap pulang juga pada layar CCTV itu.


Tepat saat itu, ada kejadian aneh lagi, Dinda sendirian, tapi dia seperti berbincang dengan orang lain, tangan Dinda juga bergerak seperti hendak menggandeng seseorang, dari layar tangkapan CCTV Dinda terlihat berjalan dengan tangannya masih dibelakang tubuhnya, persis seperti menggandeng seseorang, tapi tidak ada seseorang di sana selain Dinda.


Terlihat kosong, Dinda terdiam di CCTV itu, dia lalu berjalan masih dengan tangan seolah menggenggam, dia berjalan sambil nunduk-nunduk seolah melakukan gerak permisi, saat sampai di pintu arah ruang packing, tubuh DInda tiba-tiba seperti ditarik dari belakang, dia terlihat hampir jatuh, lalu dia berbalik dan berteriak, entah kepada siapa, sedetik kemudian dia terlihat ketakutan dan membuka pintu ruang stok dengan kasar.


Lalu layar ruang stok di buka, di sana hanya terlihat Dinda berlari sangat kencang dan keluar dari ruangan stok.


Layar CCTV kembali di ganti ke bagian luar pabrik.


Di sana memang terlihat ada seorang Security, tapi wajahnya tidak terlihat, karena dia memakai topinya agak turun hingga membuat wajahnya sulit terlihat di CCTV.


“Ini siapa ya?” Supervisor itu bertanya.


“Maksudnya siapa?” Dinda bingung.


“Ini siapa? Karena hari itu yang jaga Cuma dua orang, satu jaga di depan, satu lagi keliling pabrik tapi bagian luar, cek keliling takut ada maling kayak biasa, jadi ini orang siapa? Dua orang security yang jaga udah aku minta keterangan juga kayak kamu dan saat jam kamu ngobrol ini, mereka nggak di sini, ada rekaman CCTVnya, jadi ini siapa? Yang pasti ini bukan setan karena terlihat.” Supervisor itu bertanya. Bukan kepada siapa-siapa, karena dia sedang bingung saja.”


“Aku tidak kenal security itu,” Dinda menjawab.


Security di sini banyak dan sering ganti-ganti karena tidak betah, wajar, security punya tiga shift, ditambah pabrik ini terlalu menakutkan. Jadi wajar, banyak yang tidak betah.

__ADS_1


“Aku juga tidak kenal dari gesture tubuhnya, sebagai orang yang sudah lama bekerja di sini, aku saja tidak kenal. Semua security sudah kutanyakan siapa pria ini yang memakai seragam security di layar ini, mereka tidak ada yang kenal, apalagi wajahnya tidak terlihat.” Supervisor itu menjelaskan.


“Pak, jadi maksudnya dia sengaja membiarkan Erin terjebak di dalam pabrik?” Dinda mulai menebak, yang lain merinding.


“Jujur aku takut kerja di sini jadinya, bukan cuma teror setan aja, tapi ada orang jahat juga. Kebayang nggak sih, misalnya kita yang di posisi Erin, trus kita butuh bantuan, mungkin aja kalau security itu mau masuk dan nolong Erin yang jatuh di dapur, mungkin aja Erin masih ada sekarang.” Salah satu pegawai berkata.


“Apa maksudnya Erin masih ada? Erin udah nggak ada? Beneran Erin meninggal?!” Dinda mulai histeris, walau sebenarnya, dia sudah diberitahu sebelumnya kalau  Erin kena serangan jantung, tapi dia tidak benar-benar percaya Erin telah tiada.


“Din, namanya kematian cuma Tuhan yang punya kuasa. Sekarang kamu harus fokus ya. Setelah ini berikan kesaksian ke Polisi, apa yang kamu ceritain barusan, persis, aku akan kasih bukti CCTV ini kalau semua yang kamu omongin benar, karena kamu orang terakhir yang bersama Erin, kamu akan jadi saksi, jangan sampai mereka menyangka yang enggak-enggak tentang kamu.”


“Maksudnya menyangka yang enggak-enggak apa Pak?” Dinda bertanya, dia masih belum paham.


“Maksudnya bisa jadi kamu dituduh yang mencelakai Erin, tapi CCTV ini juga bisa jadi bukti yang kuat, kalau Erin pingsan, mungkin kesalahanmu hanya dianggap mengabaikan Erin, tapi sudah ada bukti kalau kau ditipu setan dan security ini kemungkinan akan dicari juga, jadi kamu tenang aja, yang penting jujur, ceritain semua yang kamu lihat dan kamu rasakan malam itu, persis seperti kamu cerita ke kita tadi ya.”


“Dinda mengangguk, dia juga masih menangis, dia sangat kehilangan.



Dinda lalu bergegas ke rumah Erin, dia diberi izin untuk cuti selama tiga hari dari kantor, untuk menangkan hati serta memenuhi panggilan polisi kelak.


Tapi hari ini Dinda ingin ke rumah Erin. Dia ingin melihat sahabatnya untuk terakhir kali.


Saat sudah sampai di rumah Erin, Dinda melihat bendera kuning tanda bahwa ada yang meninggal di rumah itu.


Dinda langsung masuk, tapi saat masuk ibunya Erin tiba-tiba berdiri dan menunjuk-nunjuk Dinda sembari berteriak, “Pembunuh! Pembunuh! Harusnya kamu yang mati!”


Dinda mendengar itu mundur dan menangis, dia berlari memeluk kaki ibunya Erin dan dia meminta maaf, dia bilang hanya ingin melihat Erin.


Tapi tidak diizinkan oleh ibunya, ibunya menendang Dinda dan memintanya keluar.


Sementara semuar orang melerai mereka, membawa Dinda keluar, mendudukannya di bangku luar, tidak lama kakak laki-laki Erin keluar, membawa air putih untuk Dinda.


“Maaf ya Din, ibuku terlalu kaget akan kepergian Erin, kau tahu kan, Erin akan menikah bulan depan, sementara pacarnya saat ini sedang dalam perjalanan pulang, karena pekerjaannya di luar kota, jadi ini berat sekali untuk keluarga kami.” Kakak laki-lakinya lebih bijaksana.


“Maafin Dinda Mas, Dinda bener-bener nggak niat untuk nyelakain Erin, Dinda bener-bener nyesel pulang lembur malam itu.”


“Soal kematian, itu takdir Din, kamu nggak lembur pun, kalau sudah giliran Erin, kita bisa apa. Kantor juga udah kasih liat kejadiannya di CCTV.  Kantor pasti udah tanya apa yang terjadi malam itu kan? Bisa ceritakan ke Mas, apa yang terjadi malam itu Din?”


Dinda mengangguk, lalu dia menceritakan semuanya, mulai dari Erin merengek pulang, sampai dia berbicara dengan security, kakaknya Erin terlihat sedih, dia sedikit menangis mendengar itu, karena dia yakin, kematian adiknyapasti sangat menakutkan.


“Maafin Dinda Mas.”

__ADS_1


Dinda hanya bisa mengulang kata itu, sementara pemakaman harus terus dilakukan, Dinda disuruh pulang saja oleh kakaknya Erin, karena bisa jadi ibunya mengamuk lagi jika melihat DInda ikut pemakaman, Dinda dengan berat hati pulang, dia benar-benar ingin melihat sahabatnya, dia ingin mengikuti pemakamannya, andai waktu bisa di putar, dia mau menukar nyawa, karena semua kejadian yang menimpa Erin adalah kesalahannya.


__ADS_2