
Video 2
"Kita pulang?" Seseorang berkata pada seprang yang lain, dia adalah suami Gea dan adiknya. Adik Gea tetap mengabadikan dengan camera telpnya.
"Kamu ngapain sih rekan-rekam?" Suaminya Gea bertanya.
"Kakakku bilang apapun yang terjadi rekam semua yang terjadi padanya."
"Kapan dia bilang begitu?" Suaminya bertanya.
"Dua hari setelah kita sampai di Bali."
"Kenapa dia minta direkam terus?"
"Katanya ... dia merasa kau bukan kau." Adiknya menjawab dengan hati-hati.
"Aku bukan aku?"
Gea tidak pernah cerita soal dia bertemu dengan suami yang bukan suaminya di kamar mandi kamar vila itu. Gea keburu kolaps saat dia sudah tak bisa menanganinya lagi.
Tiga hari setelah dia di Bali, Gea kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Sekarang mereka sudah satu minggu lebih di sana. Ustad tidak bisa menolong.
Beruntung pemilik vila baik, mereka hanya menganbil biaya sewa vila selama seminggu saja, sesuai kesepakatan, kelebihan hari menginap tidak dihitung biayanya. Karena pihak vila merasa bahwa kejadian aneh ini terjadi di vila mereka.
"Kita pulang saja, mana tahu sampai di rumah Gea akan baik-baik saja." Suaminya bersikukuh untuk pulang, karena dia tidak ingin terlalu lama di Bali. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, para adik juga bekerja, jadi harus segera pulang.
"Baiklah, aku akan carikan tiket, Mas." Adiknya Anto berkata, dia seorang perempuan.
"Kalau begitu aku akan minta semua orang untuk bersiap. Aku bantu kau membereskan semua barang yang kita bawa ya." Adiknya Gea berkata.
Lalu semua orang bersiap untuk melakukan semua persiapan untuk pulang. Gea masih terbaring lemah.
Butuh waktu 2 jam untuk seluruh keluarga selesai packing.
Setelah semua sudah berkumpul, Mereka naik ke mobil, adiknya Gea melakukan prosedur check out, pihak vila menyediakan mobil untuk mengantar ke bandara.
Satu jam mereka berkendara, Gea baik-baik saja.
Dia tertidur dan tenang. semua orang telrihat kalut.
Begitu sampai bandara mereka melakukan proses check in, Gea masih baik-baik saja. Mereka duduk di sebuah bangku tunggu setelah check in dan melewati beberapa pemeriksaan, Gea dipinjamkan kursi roda dari pihak bandara.
Setengah jam sebelum waktu pemberangkatan.
Gea yang tenang lalu dia tiba-tiba berdiri.
"Gea kenapa sayang?" Suaminya bertanya.
"Suamiku menunggu di rumah, aku harus pulang."
__ADS_1
"Gea, aku suamimu." Anto kesal tapi dia tak bisa abai dengan sikap Gea
"Kita mau kemana?" Gea bertanya pada adiknya yang sedang merekam. Arah kamera ke arah wajahnya, wajah itu pucat dan terkadang menghitam lalu kembali lagi.
"Kita pulang ke rumah Kak."
"Aku harus pulang, aku harus pulang." Gea tiba-tiba berlari, dia melesat sangat cepat. Sulit mengatakan bahwa dia adalah manusia yang normal. Bahkan orang dengan gangguan jiwa saja tidak seperti itu.
Gea berlari dikejar suami dan adiknya, petugas juga ikut membantu.
Gea terus berlari, lalu akhirnya berapa petugas melumpuhkannua dengan melempar senjata kejut listrik.
Gea lumpuh. Senjata itu digunakan atas seizin suaminya.
Gea lumpuh dan dikejar oleh semua orang, tapi belum juga sampai pada tubuhnya, Gea sudah bangkit dan kembali berlari. Kali ini larinya sungguh tidak biasa.
Dia berlari seperti ... kera! Kedua tangannya menapak di lantai saat dia berlari.
Hingga kecepatan larinya menjadi jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Petugas semakin banyak dikerahkan, bahkan beberapa Polisi dan Tentara yang berjaga di sana ikut mengejarnya.
Setelah berkerjaram selama 20 menit mereka berhasil menangkapnya, 15 orang menahan tubuh itu termasuk suami dan adiknya.
Akhirnya tubuh itu bisa diikat dan Gea dibawa ke suatu ruangan, katanya itu ruangan pemeriksaan bagi penumpang pesawat yang bermasalah.
Ada Polisi yang akan menginterogasi suami dan adik Gea.
"Saya tidak bisa menjelaskan apapun pak. Tapi sebentar, boleh saya hubungi keluarga agar mereka pulang saja. Biar saya di sini. Kamu juga pulang saja." Suami Gea meminta adiknya Gea ikut pulang naik pesawat.
"Nggak! Aku temani kalian. Kau kan tahu, kerjaanku juga selama ini freelance, aku akan temani mbak dan mas. Aku hubungi orang tua kita, agar mereka pulang saja."
Lalu adiknya Gea menelpon keluarga mereka, meminta mereka pulang saja naik pesawat.
Walau berat, akhirnya mereka naik pesawat.
"Saat kami smapai Bali, kami baik-baik saja. Istri saya smagat semang Pak, kami sedang bulan madu setelah seminggu menikah. Tapi tiga hari setelah menginap di vila itu. Istri saya mendadak aneh. Dia selalu bilang sedang mencari suaminya. Dia selalu histeris mencari suaminya. Dia bahkan meminta adiknya untuk merekam apapun yang terjadi padanya.
Saya tidak dapat penjelasan apapun, karena dia sering tak sadar."
"Kalau begitu, bolehkah kami panggil ... Balian apakah kalian keberatan?" Polisi itu bertanya. Balian adalah sebutan untuk dukun di Bali.
"Kami tidak Pak, tolong bantu kami, silahkan Bapak panggil orang yang kiranya bisa membantu kami." Anto berkata dengan pasrah sekaligus penuh harap.
"Berarti kalian akan melakukan ritual sesuai dengan kebiasaan di tempat kami ini ya?" Pak Polisi itu bertanya karena tahu Anto dan keluarganya beragama islam, jadi mungkin apa yang akan dilakukan sebagai ritual bisa jadi bertentangan dengan agama.
"Saya ikut Pak, yang penting istri saya bisa sembuh seperti sedia kala."
Lalu Anto, Gea dan adik Gea akhirnya menginap di tempat menginap terdekat dari bandara, kamar yang tidak terlalu besar dengan biaya sewa yang sangat murah.
Mereka menyewa dua kamar.
__ADS_1
Gea ditidurkan dengan kaki dan tangan yang diikat. Anto tidur di sofa kamar yang sama, sedang adiknya Gea tidur di kamar satunya lagi dengan pintu yang terkoneksi.
Anto sangat kelelahan, dia juga ikut tertidur.
Dalam tidurnya dia tiba-tiba terbangun, tapi tempat bangunnya sungguh aneh.
Dia terbangun di sebuah hutan yang sangat lebat, Anto melihat sinar yang cukup terang dari lejauhan, dia mengmpiri sinar itu dengan berlari.
Saat sudah sampai pada sinar itu dia melihat istrinya sedang bermesraan dengan ... dengan dirinya!
Anto terdiam, sulut mencerna apa yang terjadi, karena dirinya melihat dirinya sendiri sedang bermesraan dengan istrinya.
"Gea!" Anto berteriak memanggil istrinya. Gea melihat ke arah Anto, aneh ... karena Gea seperti tidak melihatnya, padahal Anto sudah berteriak dengan kencang.
Sedang sosok yang mirip dirinya itu melihat ke arah Anto dengan seringai yang menjijikan.
Seringai itu memperlihatkan betapa istrinya sudah menjadi milik Anto palsu itu.
Anto terus berteriak memanggil dua orang itu, Anto melihat betapa istrinya menikmati setiap sentuhan dari sosok yang begitu mirip dengan dirinya, Anto menangis melihat betapa istrinya tidak bisa dia sentuh, karena setiap Anto mau mendekat dia langsung terpental dengan sangat jauh. Hingga dia harus berlari ke arah mereka dan kembali mental lagi jika mencoba mendekat.
Anto terus berteriak memanggil nama istrinya.
“Mas! Mas!” Anto terbangun karena tubuhnay diguncangkan berkali-kali.
“Astagfirullah!” Anto berteriak saat bangun dan melihat istrinya masih tertidur dengan tenang.
“Kenapa Mas?” Adiknya Gea ternyata yang membangunkannya.
“Aku akan cerita apa yang baru saja aku mimpikan, kau rekam aku ya, siapa tahu ini ada hubungannya, karena aku yakin hubungan suami istri itu kuat, makanya mungkin ini petunjuk.”
Adiknay Gea bergegas mengambil telepon genggam dari dalam kamarnya, karena tadi dia langsung berlari begitu mendengar kakak iparnya berteriak-teriak memanggil nama kakaknya, dia kita Gea bangun dan mengamuk lagi, taunya Anto sedang mengigau memanggil nama kakaknya.
Begitu dia siap, Anto bercerita apa yang dia mimpikan pada adik iparnya.
“Jadi, ada sosok jin yang menyerupaimu, Mas?” Adiknay Gea bertanya.
“Iya, aku melihat jin itu sangat mirip denganku.”
“Dia sedang melecehkan kakakku?” Adiknya Gea memastikan lagi.
“Iya! Dia sedang melecehkan kakakmu menggunakan wajahku!”
“Apakah itu yang kakakuku alami, Mas?” Adiknya Gea bertanya, dia mulai menangis, walaupun lelaki tapi melihat kakaknya seperti itu, tentu dia takkan kuat.
“Aku tidak tahu, aku kita hal ini mungkin bisa membantu penyembuhan kakakmu, sekarang kita hanya berdoa dan solat saja. Soal ritual, kita ikuti, karena di mana langit dijunjung maka di sana bumi dipijak. Kita ikut saja, karena kalau benar, jin ini berarti dari sini, dai kota ini dan kita tak tahu cara mengusirnya. Kakakmu tidak akan bisa keluar dari sini kalau memang benar itu yang dia alami.”
Anto terlihat sedih, dia pasrah jika saja istrinya mengalami apa yang dia mimpikan, maka dia hanya ingin istrinya lepas dari tipu daya jin yang menyerupai dirinya.
“Kamu tidur aja dulu ya, besok mungkin hari yang berat lagi, Mas mau bilang makasih ya, kamu sudah mau menemani kami.” Anto berterima kasih pada adik iparnya.
Besok adalah harinya.
__ADS_1
Apakah Balian mampu menolongnya?