Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 221 : Wangapuk 3


__ADS_3

Dua orang sedang membeli permen di warung terdekat dengan rumah susun itu.


“Beli buat ‘dia’ ya?” Pemilik warung bertanya, kebetulan warung belum tutup karena sedang ada pertandingan bola, sehingga pengunjung warungnya masih banyak, padahal ini sudah jam dua belas malam.


“Iya bu,” jawab orang itu.


“Yaudah hati-hati aja, jangan lupa bilang kata-katanya ya, itu yang adek kakak lantai lima sampai sekarang belum pulang karena takut dikejar. Takutnya ‘dia’ mencari korban lain.”


“Iya bu, makasih ya udah ingetin.” Lalu dua orang itu bergegas untuk naik, tujuan mereka adalah lantai lima.


Saat sudah di lantai belokan tangga lantai empat, orang pertama melempar permen bergagang itu, lalu orang kedua, melempar permen bergagang juga. Mereka berdua setelah melakukan itu langsung mencoba naik ke lantai lima.


“Eh! Sebutkan kata-katanya.” Seseorang yang berada di belakang dua orang itu berteriak, ternyata seorang wanita yang terlihat sangat rapih, sepertinya dia habis pulang kerja. Tapi ini terlalu larut untuk pegawai kantoran.


“Oh iya.” Salah satu dari dua orang itu berkata. Mereka berdua turun lagi.


Wanita yang menegur itu snack yang berbentuk bulat-bulat, lalu mengatakan kata-katanya, “Nih punyamu ya, aku kembalikan.” Setelah itu wanita itu naik ke lantai lima meninggalkan dua orang yang tadi tidak mengatakan kata-katanya.


“Ambil permennya,” Ucap salah seorang.


“Ya.” Ucap lainnya sambil berjongkok dan mengambil permennya. Saat tangannya berhasil menggapai salah satu permennya, tangan dingin yang entah datang darimana memegang tangan orang yang hendak mengambil permennya.


Tangan itu pucat sekali, berwarna kebiruan. Perlahan muncul sosok tubuh anak kecil yang berjongkok, dia masih memegang tangan orang yang hendak mengambil permennya, sosok anak itu melihat dengan tatapan tajam pada orang yang tangannya dipegang.


“Punyaku!” Anak itu berteriak, suaranya sangat nyaring hingga membuat semua makanan itu terlempar ke segala arah.


Salah orang itu, bukannya mengucapkan kata-kata, malah mencuri di tempat itu.


Orang yang memerintahkan untuk mengambil permen masih terpaku di sana, sedang orang yang tanganny sedang dipegang oleh Wangapuk, melihat kembali ke arah Wangapuk, bukannya takut, dia malah balik memegang tangan Wangapuk dan mencoba menariknya.


“Nding, bantu!” Jarni berteriak, Ganding yang tadi sempat kaget karena teriakan Wangapuk, tersadar dan membantu Jarni memegang Wangapuk yang hendak melarikan diri karena sadar, dua orang ini bukan penghuni, mereka berdua jangankan ketakutan, tapi malah memegang tangannya balik, Wangapuk kaget dan dia terus berusaha berlari, tapi karena Jarni dan Ganding sudah ditarik ke dunia Wangapuk, makanya mereka bisa tarik-tarikan.


“Siapa kalian!” Suara Wangapuk berubah menjadi suara yang berat.


“Bukan siapa-siapa. Menyerahlah, kami mau mengantarmu pulang!” Ganding menjawab masih memegang tangan lain Wangapuk, karena tangan satunya digenggam Jarni dengan sangat kencang.


“Pulang kemana! Ini rumahku!” Anak itu berteriak.


“Bukan! rumahmu bukan di sini, tapi kembali ke sisi Tuhan.”


“Bedebah kalian! Aku belum mati!”


Jarni dan Ganding saling lihat, mereka sempat terdiam, karena bingung dengan perkataan Wangapuk itu.


“Kau belum mati?”


“Ya! aku belum mati!” Wangapuk berteriak, perlahan wujudnya berubah, dari seorang anak kecil menjadi tinggi besar, seluruh tubuhnya berwarna hitam, matanya bulat hitam sempurna, taring muncul di antara bibirnya, taring itu melengkapi, ari bawah menjulang ke atas dan dari atas tumbuh ke bawah.


Taring yang terlihat tajam, bahkan di titik ini Ganding dan Jarni tertarik ke atas karena wujud Wangapuk berubah menjadi tinggi besar.


Jarni dan Ganding melepas tangan Wangapuk lalu melompat, agar mereka tidak terjatuh. Setelah kakinya menyentuh tanah, Lalu Jarni dan Ganding mulai berdiskusi dengan Wangapuk.

__ADS_1


“Kau bukan ruh anak itu?”


“Bukan!” jawabnya. Dia terlihat manja dengan ukuran badan sebesar itu.


“Kau jin yang menyerupai?” Tanya Ganding lagi.


“Ya!” jin itu merajuk dengan memunggungi Ganding dan Jarni.


“Salahmu kenapa kau menyerupai, makanya kami salah tangkap. Lagian iseng banget, menggoda penghuni di sini.” Ganding jadi kesal melihat kelakuan jin itu.


“Salah mereka kenapa percaya mitos, aku hanya memanfaatkan keadaan.” Jin itu membela diri.


“Lalu Bagaimana dengan ruh anak itu?” Ganding bertanya.


“Siapa?” Jin itu akhirnya berbalik dan wajah sok imutnya yang menjijikan itu hilang.


“Anak yang dulu menghuni lantai lima, yang wujudnya kau serupai, gimana sih!” Ganding kesal.


“Oh, aku tidak tahu, aku menyerupai apa yang mereka takuti, aku menjadi apa yang mereka bayangkan, aku saja tidak tahu rupaku seperti apa, karena wujud itu menjadi seperti apa yang orang-orang itu pikirkan di dalam pikirannya.”


“Ya, aku mengerti, memang kita melihat dan mendengar apa yang kita bayangkan. Tidak heran, jin yang suka menyerupai sepertimu ini menjadi seperti apa yang mereka bayangkan.”


“Nah itu, sini kembalikan permennya.” Jin itu meminta Jarni mengembalikan permennya, tenryata permen masih di tangan Jarni yang tadi dipegang jin itu.


“Ya ampun! Hanya satu permen, kau ini perhitungan sekali.” Jarni kesal dan melemparnya.


“Ucapkan akta-katanya.” Jin itu merajuk lagi, dia bahkan berkata sambil terlihat ngambek dengan melakukan gerakan injak bumi sebagai tanda dia tidak suka kalau permennya hanya dilempar begitu saja.


“Nggak mau! enak aja. Kalau tidak suka, kuambil permen itu lagi!” Jarni mengancam, dia kesal sekali melihat tingkah jin ini, kesal-kesal dia keluarkan ular mininya.


“Kau licik! Jelas kau mencuri dari kami secara paksa, kau memaksa orang-orang itu untuk mengatakan kata-katanya. Kau tidak dosa, mereka dosa karena musrik.” Jarni jadi kesal.


“Salah mereka percaya mitos daripada takut Tuhan.” Jin itu masih merajuk.


“Mulai sekarang berhenti mengganggu.” Ganding akhirnya mengultimatum.


“Tidak bisa!” Jin itu menolak, wajahnya masih terlihat dipaksa imut. Padahal wujudnya sangat mengerikan.


“Ikut kami saja, nanti kamu puas memakan permen yang kau mau, ke rumahku saja.” Ganding mengajak.


“Tidak mau!” Jin itu merajuk lagi, dia bahkan menggoyangkan tubuhnya khas rajukan anak lima tahun.


“Jarni, keluarin botol deh, males aku berantem ama di badan gede ini.” Ganding meminta Jarni mengeluarkan botol kaca yang ditutup dengan potongan kau, itu adalah tempat paling aman menyimpan jin.


“Ya.” Jarni hendak mengeluarkan botol itu, tapi tiba-tiba jin itu menyerang, dia mengeluarkan angin yang sangat kencang serta berteriak, sehingga Jarni dan Ganding mental.


Mereka tidak dalam keadaan siap menerima serangan karena dilakukan tiba-tiba. Wujud besar dengan kelakuan anak kecil itu ternyata membuat Jarni dan Ganding tidak waspada. Jadi mereka bisa diserang dengan mudah.


Ganding melihat Jarni terpelanting hingga hampir jatuh dari lantai empat itu, panik. Dia lalu melakukan gerakan menendang angin, sehingga tubuhnya yang terpental, bisa stabil, dia lalu mengejar tubuh Jarni yang sedetik lagi pasit jatuh dari lantai empat karena dia mental sampai balkon di lantai empat itu.


Ganding menarik kaki Jarni hingga Jarni akhirnya jatuh tepat di atas tubuh Ganding.

__ADS_1


“Hampir aja!” Ganding lega, karena Jarni tidak jatuh ke lantai bawah. Biar ini adalah dunia ghaib, jatuh dari ketinggian itu, efeknya akan sama dengan jatuh di dunia nyata. Sangat bahaya.


Ganding sangat marah, matanya merah, dia sudah membangunkan Jarni dan siap untuk menghabisi jin itu.


“Berani sekali dia membuatmu hampir celaka!” Ganding mengeluarkan senjatanya, hal yang sangat jarang dia lakukan kecuali keadaan darurat.


“Nding! Jangan, ingat! Kita tidak boleh membunuh jin.”


“Tapi dia hampir mencelakaimu! Bagaimana mungkin aku membiarkannya!” Ganding melepas pegangan Jarni yang berusaha membujuknya.”


“Nding, aku mohon.” Jarni tiba-tiba memegang baju bagian belakang Ganding, dia menahannya, air matanya turun.


Ganding menahan kakinya, semarah-marahnya dia, tetap air mata Jarni tidak pernah bisa dia abaikan.


“Jangan menangis, aku takkan mengejarnya dalam keadaan marah seperti sekarang. Aku mengerti maksudmu. Kau takut kalau kita membuat kesalahan di sini bukan? karena aku akan dihukum oleh dua dunia.”


“Ya, ayo kita kembali dulu baru setelah itu kita pikirkan cara mengusirnya dari rumah susun itu.”


Ganding mengangguk, dia lalu memegang tangan Jarni dan dalam hitungan detik, mereka telah kembali ke dunia nyata.


Setelah masuk dunia nyata, Ganding memastikan lagi bahwa tidak ada luka di tubuh Jarni.


Setelah yakin, dia kembali menggenggam tangan Jarni dan membawanya turun untuk pulang.


“Seharusnya tadi kau tidak terlalu egois.” Jarni berkata, mereka sedang berada di mobil mewah, mobil yang biasa menjemput mereka untuk pulang.


“Kenapa?” Ganding menatap Jarni dengan lembut.


“Tadi kita berdua dalam bahaya, bukan hanya aku yang terpelanting, kau juga. Pokoknya lain kali, kalau begitu, kau harus memikirkan dirimu dulu baru aku, jangan seperti tadi, kau bahkan tidak membiarkan dirimu berpikir dan memaksa dirimu menyelamatkanku.” Jarni yang kali ini merajuk.


“Tapi aku kan tidak dalam keadaan darurat sepertimu, kau hampir jatuh dari lantai empat Jarni.” Ganding memperingatkan.


“Lihat ini!” Jarni menunjuk paha Ganding.


“Bukan apa-apa.” Ganding berusaha untuk menyembunyikannya.


Jarni kesal, dia lalu menekan paha itu, ada rembesan basah dari sana.


“Kau tertusuk besi yang menganga saat menarik kakiku, kau pikir kau tidak tahu, kau menyembunyikannya! Itu sakit kan? kau bahkan menjadikan besi yang menancap pahamu itu sebagai penahan saat menarik kakiku agar tidak jatuh, bukankah itu sangat menyiksa sakitnya!” Jarni menangis lagi.


“Itu kan besi ghaib, lihat aku masih bisa jalan.”


“Ya memang besi ghaib, tapi ingat, kita bukan manusia biasa, darahmu nyata!” Jarni semakin terisak.


“Ini tidak sebanding dengan membiarkanmu jatuh Jarni, kalau kau celaka, kau pikir aku masih bisa hidup. Ini berjuta kali lipat jauh lebih ringan. Sakit, tapi tak sesakit jika melihatmu celaka.” Ganding berusaha memberikan pengertian pada kekasihnya.


“Kau tidak pikirkan perasaanku? Bagaimana perasaanku melihat luka ini!” Jarni melepas genggamannya yang sedari tadi dia lakukan ketika memulai obrolan.


“Maaf aku tidak mempertimbangkan itu gadisku, karena aku sibuk memikirkan bagaimana melindungimu dibanding memikirkan perasaanmu, Maafkan aku. Lain kali aku pastikan aku aman dan kau aman. Begitu maumu kan?” Ganding berkata dengan lembut.


“Ya, begitu mauku. Kalau sekali lagi kau begitu, aku takkan pernah memaafkanmu lagi.” Jarni masih merajuk.

__ADS_1


Ganding mengusap kepala Jarni dan menariknya agar Ganding bisa bersandar pada bahu Jarni. Mereka harus ke rumah sakit untuk mengobati paha Ganding yang tertusuk besi.


Sementara jin itu masih lepas dan belum tertangkap.


__ADS_2