
Hartino asik mencari data lalu tiba-tiba dia mendapatkan informasi yang sangat membuatnya ngeri.
“Ada apa? kenapa kau sampai lompat begitu?” istrinya bertanya, karena kaget Hartino sampai loncat dari posisinya saat melihat layar laptop.
“Lihat ini.” Hartino meminta istrinya mendekat, mereka masih di markas ghaib, mereka bahkan belum pulang ke apartemen, karena repot dengan kasus baru ini.
“Ada apa?” Alisha bertanya samil mendekat, begitu layar terlihat oleh matanya.
“Astaga!!!” Alisha kaget dengan apa yang dia lihat, reaksinya mirip dengan reaksi Hartino, suaminya, “Kau mencari informasi tentang jalan yang angker bukan? lalu kenapa kau diarahkan pada foto mengerikan seperti ini?” Alisha saja yang terbiasa dengan banyak kejadian yang terduga masih terkejut dengan foto itu.
“Berapa kira-kira jumlahnya?” Hartino masih memandang foto itu dengan seksama, berusaha menghitung.
“Kau yakin ingin menghitung? Sebanyak itu, belum lagi di sini, ini, nggak bisa dihitung beneran sih Har, ini mungkin jumlahnya ratusan bahkan mungkin sampai 1000 mah, banyak banget, di bawah, sampai ke atas gitu.” Alisha yakin dengan asumsinya.
“Ini hanya foto saja, tidak ada keterangan apa-apa sama sekali.” Hartino bingung.
“Hanya foto tidak ada artikel apapun? Nama jalan? Ini terjadinya di mana?”
“Ini dulu di sebuah jalan yang bernama jalan Kamboja!” Har menjawab.
“Namanya sangat epic, maksudku kita tahu bahwa bunga Kamboja adalah bunga yang memiliki ciri khas agak unik, karena di Indonesia bunga ini sering kita temui tumbuh di kuburan.”
“Ya, kenapa kalau pohon Kamboja selalu ada di kuburan ya? padahal di Bali saja, pohon Kamboja selalu bisa kita temui di setiap pura, kau lihat kan? kemarin kita ke Bali?”
"Bagaimana aku lupa, aku tahu alasannya kenapa Kamboja selalu ditanam di perkuburan, pertama, pohon kamboja selalu merontokkan bunganya bahkan sebelum bunya itu layu, berbeda dengan pohon berbunga lain, karena karakteristik ini, membuat kuburan yang jarang dikunjungi tetap bertabur kelopak bunga dan wangi, mengingat kamboja rontok saat masih wangi.
Kedua, di kuburan, kita tahu dengan jelas, banyak jasad di dalam tanah yang perlahan akan membusuk karena waktu, maka tanah dari jasad terkubur itu secara alami akan menjadi tanah yang subur, sedang pohon kamboja adalah jenis pohon yang membutuhkan pemupukan secara intens untuk bisa terus hidup dan berbunga.
Makanya pohon kamboja selalu menjadi pohon yang selalu dipilih untuk ditumbuhkan dikuburan.” Alisha menjelaskan panjang lebar.
“Kau jangan terlalu banyak bergaul dengan Ganding, aku takut.”
“Loh, kok takut?”
“Takut kalau kau akan menjadi aneh seperti Ganding, aku tidak suka.”
“Oh, kau tidak suka kalau aku sama jeniusnya dengan Ganding?”
“Dia bukan jenius, dia itu aneh, hidupnya hanya membaca saja, lihat kemarin kita liburan, apa yang selalu dia bawa?”
“Buku.”
“Nah, aku tidak mau kau seperti dia ya, kau membutaku merinding.” Hartino akhirnya mengajak Alisha keluar dari tempat mereka biasa mencari informasi, tempat yang penuh dengan alat tekhnologi mutakhir.
Hartino merasa perlu membicarakan soal foto itu pada kawanan, dia sudah memindahkan datanya ke laptopnya supaya bisa dipresentasikan kepada kawanan.
Beruntung, kawanan masih di markas ghaib, belum jalan, karena agenda untuk orang lapangan adalah ke luar, maksudnya Alka dan Aditia, sedang Jarni dan Ganding biasanya akan cari informasi di perpustakaan klenik, di mana banyak kitab mereka koleksi di markas ghaib ini, peninggalan Mulyana.
“Kalian harus lihat ini.” Hartino membawa laptopnya, dia lalu menyambungkan laptop itu pada televisi pintar yang ada di ruang tamu, sebelum pergi ke Bali, Hartino baru saja membelinya, televisi android, di mana kau bisa mengkoneksikan laptop dan gadjet apapun lebih mudah tanpa harus menggunakan kabel.
Bahkan remotnya saja bergfungsi seperti mouse pada komputer, karena sangat canggih.
“Lihat ini.”
Hartino mengirim gambarnya di ruang tamu itu, televisi yang cukup besar, foto yang Hartino kirim dari laptopnya membuat semua orang tercengang.
“Aku tidak pernah melihat foto semengerikan ini sejak foto perang dunia, ini foto lebih gila dibanding foto-foto perang dunia itu. “ Ganding berkata dengan takjub dan ngeri.
“Kenapa kau menunjukkan foto ini? apakah ada hubungannya dengan kasus kita?” Aditia bertanya, mereka semua duduk di ruang tamu dengan tenang.
“Aku menemukan ini saat sedang mencari jalan-jalan angker, yang pernah terjadi di kota kita ini, maka tiba-tiba aku dirujuk pada foto ini.” Hartino menjelaskan.
“Lalu apa informasi dari foto ini?” Aditia bertanya lagi.
__ADS_1
“Tidak ada, hanya ada keterangan nama jalan dari lokasi foto ini.”
“Apa nama jalannya?” Aditia masih bertanya.
“Jalan ... kamboja!” Hartino berkata dengan merinding.
“Foto dengan tumpukan mayat yang tak utuh, tubuh berserakan bertumpuk membentuk gunung kecil, mayat yang digantung di atas tiang kayu, mayat-mayat gosong ini, terjadi di kota kita? jalan kamboja?” Alka yang kali ini bertanya.
“Ya, benar, terjadi di jalan Kamboja.”
“Tapi foto ini masih hitam putih Har, maksudku, apakah benar ada jalan Kamboja pada jaman ini? kalau foto ini masih hitam putih, artinya foto ini diambil dari tahun yang cukup jauh, karena kamera diperkenalkan di Indonesia itu pada tahun 1841, tujuan pemerintah Hindia Belanda membawa Kamera ke Indonesia adalah untuk mendokumentasikan daerah-daerah jajahan mereka.
Tapi sepertinya ini bukan jaman penjajahan, bisa jadi ini jaman setelah penjajahan,"
"Kenapa kau begitu yakin Nding?" Hartino bertanya.
"Lihat pakaian mayat-mayat ini, ini jenis pakaian yang sedang trend pada tahun 50an, Fashion saat itu dipengaruhi oleh lagu-lagu Elvis Presley yang bernuansa rock and roll, lihat ini celana panjang ketat tapi cutbray dibagian bawah, jelas ini terjadi pada tahun 50an. Begitu juga dengan para wanitanya."
"Wah, kau menakutkan." Hartino berkelakar, karena saking detailnya Ganding.
"Kalau ini dari tahun 50an, berarti ini pembantaian pada tahun itu, tapi pertanyaanku, kalau relasinya adalah nama jalan dan ini merupakan terawangan yang diperlihatkan pada kita untuk menyelesaikan kasus, lalu apakah jalan Kamboja masih ada?" Aditia bertanya.
"Ya, mengingat jalan Kamboja saja namanya sudah sangat mistis, kita tahu kalau pohon kamboja itu selalu ditanam di kuburan, alasannya kenapa Kamboja selalu ditanam di perkuburan, pertama, pohon kamboja selalu merontokkan bunganya bahkan sebelum bunya itu layu, berbeda dengan pohon berbunga lain, karena karakteristik ini, membuat kuburan yang jarang dikunjungi tetap bertabur kelopak bunga dan wangi, mengingat kamboja rontok saat masih wangi.
Kedua, di kuburan, kita tahu dengan jelas, banyak jasad di dalam tanah yang perlahan akan membusuk karena waktu, maka tanah dari jasad terkubur itu secara alami akan menjadi tanah yang subur, sedang pohon kamboja adalah jenis pohon yang membutuhkan pemupukan secara intens untuk bisa terus hidup dan berbunga.
Makanya pohon kamboja selalu menjadi pohon yang selalu dipilih untuk ditumbuhkan dikuburan.” Hartino berkata dengan percaya diri.
"Kok tumben tahu itu?" Ganding takjub.
"Istriku yang kasih tahu." Alisha dan Hartino tertawa terbahak-bahak.
"Pantas, aku sampai merinding kau tiba-tiba jenius, kalau Alisha sih nggak heran dia lebih cerdas darimu." Aditia menghina, karena mereka berdua adalah duo kurang pintar. Mereka punya kemampuan lain yang bisa ditonjolkan.
"Ok, ok. Ini asumsiku, kita harus ke Jalan Kamboja itu untuk memeriksa energi yang mungkin bisa memberitahu kita kenapa Aditia mendapat penglihatan itu, kita harus memeriksa dan memastikan bahwa tempat itu membahayakan manusia."
"Kita akan ke sana sekarang. Tapi aku dan Alka saja yang akan pergi seperti biasa, kau tetap pada data dari internet dan Jarni serta Ganding aku ingin kalian cari tentang tumbal massal seperti ini, aku butuh data kalian lebih cepat. Mengenai deteksi energi, hanya aku dan Alka yang mampu mendeteksi dengan baik bukan?"
"Iya deh, si paling jago deteksi." Hartino mengejek.
Mereka semua akhirnya melaksanakan perintah pemimpin.
Alka dan Aditia bersiap ke tempat itu dan memastikan tempatnya memang bermasalah hingga mengirim sinyal pada terawangan Aditia.
...
Ada beberapa Jalan Kamboja yang Hartino temukan, karena foto itu tidak merujuk pada jalan yang pasti, hanya tulisan Jalan Kamboja saja, tapi Hartino memilih jalan Kamboja yang paling tua dari sekumpulan nama jalan itu, karena jalan paling tualah yang memiliki kemungkinan tentang peristiwa itu.
Begitu sampai lokasi Aditia dan Alka langsung menelusuri jalan, Jalan Kamboja seperti jalan lain, bukan jalan yang terlihat istimewa, hanya jalan yang biasa dengan dua arah jalan, muat untuk 2 mobil, kanan kiri jalan merupakan rumah penduduk, itu saja. Hanya jalan ini memang memiliki kontur yang cukup curam, turunan dan belokan tajam, menjadi alasan banyak terjadi kecelakaan.
"Tujuan kami menemui Lurah adalah seperti yang Bapak mungkin sudah dapat email dari atasan kami, yaitu badan pusat statistik Indonesia, bahwa kami sedang mengumpulkan data, untuk menetapkan bahwa jalan ini bermasalah, mengingat banyaknya kecelakaan yang terjadi baru-baru ini." Aditia dan Alka, menyamar menjadi petugas BPS, sedang email yang dikirim Hartino adalah email palsu mengatasnamakan BPS.
"Kecelakaan? hanya ada beberapa kali kecelakana di sini, itu juga tidak merenggut nyawa, jalan ini sangat amat layak untuk dilewati." Pak Lurah terlihat sangat bingung dengan kedatangan petugas BPS secara mendadadak ini.
"Tapi bukankah begitu banyak terjadi kecelakaan di jalan Kamboja itu Pak, jalan besar itu?" Alka bertanya.
"Apakah 5 kali selama 3 tahun terakhir itu bisa dibilang banyak Pak, Bu?" Pak Lurah mulai kesal.
"Baiklah, sepertinya ada kesalahan data makanya terjadi hal seperti ini, kami mohon pamit, terima kasih." Aditia ingin menyelamatkan muka mereka, makanya dia buru-buru pamit.
[Har! ini gimana sih data lu, katanya di Jalan ini banyak kejadian kecelakan, tapi kata Lurahnya cuma terjadi 5 kali selama 3 tahun terakhir!] Aditia menelpon Hartino, karena lokasi di tempat ini adalah Jalan Kamboja tertua, kau bilang di sini banyak terjadi kecelakan.
[Sorry, tadi datanya emang terjadi 5 kali kecelakaan berturut-turut, ternyata bukan di Jalan Kamboja itu, aku salah lihat data, Dit, maaf ya.] Hartino mengaku salah, dia juga salah mengirim email pada keluarahan itu.
__ADS_1
[Trus sekarang mesti gimana? lagian jalan ini biarpun jalannya curam baik turunan maupun belokannya, tapi lampu jalan pasti begitu terang benderang, karena banyak lampu jalan di sini, maka mimpiku bukan di sini.]
[Kau makan dulu saja ya, aku dan Alisha akan kroscek data lagi, karena jalan Kamboja itu memang ada beberapa, maaf ya.] Hartino meminta maaf lagi karena membuat Aditia dan Alka harus malu menghadapi Pak Lurah itu.
"Kita makan dulu, Har akan cari data dulu, baru kita ke tempat lain, ini juga sudah terlalu sore, hampir malam malah." Aditia meminta Alka mengikutinya ke angkot jemputan.
Mereka pergi ke arah restoran terdekat, kebetulan ada sebauh restoran di sana, restoran sederhana saja.
"Makan apa?" Aditia bertanya.
"Ayam goreng saja."
"Aku pesankan ya, minumnya?"
"Kopi hitam dingin." Alka menjawab lagi.
Aditia pergi ke kasir dan memesan makanan yang mereka inginkan, karena restoran ini bukan restoran pada yang besar, jadi tidak ada menu, lebih besar dari warteg, tapi tidak terlalu besar seperti restoran pada umumnya.
Tak lama pesanan mereka sampai, ternyata menu yang mereka pesan sama, Aditia dan Alka menikmati makan dengan tenang.
"Kemarin kejadian lagi, ini udah ke 15 kali ya?" Seseorang yang makan tak jauh dari duduk Aditia dan Alka berkata.
"Iya, kasihan ya, malah yang terakhir itu supir taksi sama tukang ojek, dua-duanya koma. Kalau gitu kan jadi beban keluarga ya, yang lain mah meninggal di tempat, padahal nggak tabrakan, cuma ya ... terowongan itu emang angker." Temannya yang lain berkata, suara mereka besar sekali, karena memang duduk antara Aditia dan mereka sangat dekat.
"Mau kemana?" Alka bertanya karena Aditia tiba-tiba berdiri.
"Aku mau tanya mereka." Aditia mendekati dua orang itu dan menyapa mereka.
"Punten Kang, mau tanya, itu tadi lagi ngomongin kecelakaan di sekitar sini ya?" Aditia bertanya.
"Eh I-iya, kamu siapa ya?" Dua orang itu terlihat terkejut dengan kedatangan Aditia yang langsung bertanya begitu saja.
"Punten Kang, saya petugas BPS, lagi mencari data kecelakaan di sekitar jalan Kamboja, tapi kata Pak Lurah nggak ada tuh kecelakaan di jalan besar yang curam itu." Aditia ingin memastikan, apakah Lurah itu sedang menyembunyikan sesuatu atau tidak.
"Oh emang bener, jarang kecelakaan di jalan besar itu mah, yang sering kejadian kecelakaan itu di terowongan jalan belakang Kang, lagian nggak selalu kecelakaan, yang motor kemarin mah emang kecelakaan, tapi korban sebelumnya bukan kecelakaan." Orang itu menjelaskan.
"Kalau bukan kecelakaan lalu kenapa ada kematian di terowongan itu, maaf tadi kedengeran soalnya, Kang." Aditia tak ingin dicap sebagai penguping.
"Oh itu emang biasa Kang, soal terowongan itu, terowongan angker Kang, kalau lewat situ tengah malam, nggak bisa nemu jalan keluar, kita sering nemuin kendaraan di parkir di terowongan itu, tapi pengemudinya udah nggak ada."
"Hah? kok bisa?"
"Pada bilang serangan jantung sih, Kang. Makanya kita orang kampung sini mah paham, kalau malam nggak berani lewat terowongan itu, tapi kalau supir taksi onlie atau ojek kan nggak paham, jadi sering pada dikerjain apa meninggal."
"Dikerjain oleh siapa?"
"Setan kayaknya mah, Kang, orang katanya diputerin sampe capek di dalam terowongan itu trus meninggal, pas di otopsi katanya kena serangan jantung.
Cuma yang korban supir taksi mah nggak meninggal, tapi koma, karena kebetulan ada yang nemuin pas subuh sama pengemudi lain yang kebetulan lewat, jadi bisa diselamatkan walau koma.
Kalau yang tukang ojek mah katanya ditabrak truk, truknya masuk ke terowongan pas tengah malam, nggak liat kalau sepeda motornya terparkir di sana, tukang ojeknya lagi di atas motor, mungkin lagi liat orderan makanya sembarangan aja berhenti."
"Yang tukang ojek di tabrak pas lagi berhenti, bukan tabrakan pas lagi jalan motornya?" Aditia bertanya lagi.
"Iya Kang, kalau yang ojek mah gitu katanya, sekarang supir truk lagi dipenjara, katanya sih ada uang damai, makanya dipenjaranya nggak lama."
"Terowongannya di mana Kang?" Aditia bertanya, lalu dua orang itu memberikan patokan dari terowongan itu.
Aditia kembali ke Alka yang sudah selesai makan.
"Kita akan ke terowongan dekat sini, kau beritahu Hartino apa yang mereka katakan, kau dengar kan?" Aditia memastikan.
"Ya, aku dengar semua."
__ADS_1
Aditia tanpa menyelesaikan makannya, membayar dan segara ke terowongan itu.