
Dinginya desa yang didatangi oleh lima sekawan membuat mereka menggigil, tidak terasa sudah malam, cerita Aki begitu dalam, sehingga mereka lupa waktu.
“Jadi, sejak itu Aki mengutuk pohon itu menjadi pohon borok, bukan lagi pohon obat?” Hartino bertanya sambil memakan singkong rebusnya.
“Ya, aku tidak mau pohon itu menjadi mudharat bagi semua orang, satu pohon di desa lain juga aku kutuk menjadi pohon borok.”
“Berarti bukan Ami yang dikutuk, tapi pohonnya.” Alka mengambil kesimpulan.
“Ya, memang begitu.” Aki Banu berkata.
“Lalu bagaimana cara kami menyembuhkan Ami Ki?” Alka bertanya.
“Hmm, dia sudah tahu mitosnya, lalu kenapa masih memegang pohon itu, sunggu manusia itu tidak pernah dapat ditebak isi hati dan fikirannya.” Aki Banu mengeluh.
Pertanyaan Aki Banu membuat mereka semua jadi ikut penasaran, apa yang membuat Ami memegang pohon itu? Padahal dia sudah tahu dari kecil bahwa pohon itu akan menimbulkan suatu penyakit.
“Tapi Ki, satu lagi, kenapa sikap Ami jadi seperti orang kesurupan, kami sempat berfikir dia disantet atau dipelet.” Ganding bertanya hal yang hampir saja dilupakan.
“Orang yang sakit terkadang menjadi hilang akal karena putus asa, sikap anak itu berubah karena memang dia tidak mampu menahan sakit dari borok itu dan sakit itu membuat sikapnya berubah.”
“Apakah dia masih bisa disembuhkan Ki?”
“Tentu saja Kasep, semua penyakit itu ada obatnya.”
“Apa obatnya Ki?”
“Pohon itu.”
“Hah? Kan itu pohon borok, masa pohon itu yang menjadi obatnya?”
“Itu memang pohon borok, bagi siapapun yang berani mengambilnya selain aku, si penanam pohon, aku akan mengambilkan beberapa helai daunnya, setelah itu kutukan pada daun yang aku petik akan aku hilangkan, maka daun itu berubah lagi menjadi pohon obat, tapi aku hanya akan kasih secukupnya saja.” Aki Banu mengingatkan bahwa daun itu hanya dia berikan benar-benar bagi yang membutuhkan, tapi lagi-lagi tanpa sepengetahuan orang yang membutuhkan itu, seperti Pak Mono anak yang kena pohon borok itu pada tahun 1985, dia menukar ramuan palsu dukun tersebut dengan ramuan daun pohon borok yang telah menjadi obat di tangan Aki Banu, sehingga anak itu sebenarnya memakan ramuan dari Aki Banu, bukan dari dukunnya, makanya dia bisa sembuh.
Tapi sayang, dukun palsu itu yang dapat nama, padahal ramuannya sudah ditukar oleh Aki Banu.
Lalu Aki Banu pergi bersama lima sekawan, mengambil daunnya, membatalkan kutukan pohon borok itu pada beberapa helai daun yang Aki Banu ambil, lalu memberikan daun itu pada Aditia.
Saat semua orang akan pamit, Aki Banu menahan Aditia sebentar, mereka berbicara empat mata, yagn lain masuk ke angkot jemputan duluan,
“Kenapa Ki?” Aditia bertanya.
“Ada yang mengikutimu, energinya tidak terlihat, tapi cukup dingin, apakah kau merasakannya?” Aki Banu bertanya.
“Iya Ki, aku merasa beberapa kali ada yang memanggil tapi tidak terlihat.”
“Dia belum siap untuk mendatangimu, ketika kau bertemu dengannya nanti, tolong dia Nak, kasihan.” Aki Banu berkata, lalu Aditia salim untuk pulang membawa daun obat itu, dalam fikirannya berkecamuk, apa yang dimaksud Aki Banu? Aditia belum mengerti saat ini, tapi mungkin nanti mengerti.
...
Lima sekawan sudah di rumah Ami lagi, saat masuk ke rumah, ayahnya Ami berkata, bahwa Ami sudah sangat kacau, tubuhnya kurus karena tidak mau makan, bau karena tidak mau mandi dan borok semakin bernanah.
Hartino menenangkan orangtuanya, sementara empat sekawan lain naik ke atas untuk bertemu Ami.
Ami sedang diikat di tempat tidurnya, dia terlihat sangat kurus, menakutkan sekali efek pohon borok itu, andai tidak ada yang tahu obatnya, Ami akan tewas dengan luka yang menjijikan seperti itu.
“Ami, makan ini.” Aditia memberikan daun yang telah ditumbuk itu pada Ami, Ami awalnya menolak, tapi mereka berhasil memasukkan daun obat itu ke dalam tubuh Ami, setelah daun itu masuk ke mulut Ami semua, akhirnya Ami bisa tenang, lima belas menit daun itu masuk ke dalam tubuhnya, Ami bisa tertidur, mungkin sudah beberapa hari ini dia tidak tidur karena rasa panas dari borok itu.
“Ami sedang tidur Pak, Insyaallah setelah ini, Ami akan baik-baik saja, mungkin setelah ini dia akan jadi ***** makan lagi, setelah tiga hari, kami akan kembali ke sini untuk mellihat keadaannya ya Pak, kami harus istirahat dulu, semoga Ami cepat sembuh.” Aditia menjelaskan sekedarnya saja, tidak perlu tahu obat apa yang mereka berikan.
__ADS_1
“Alhamdulillah kalau begitu, tapi sebentar jangan pulang dulu, ini hanya sedikit yang bisa kami berikan, semoga bermanfaat untu kalian ....”
“Pak, tidak, terima kasih ya.” Aditia mengembalikan uang dalam amplop coklat cukup tebal yang diberikan oleh ayahnya Ami.
“Tidak De, ini kami ikhlas kok, ini karena kalian sudah lelah mencari obat itu.”
“Pak, kami tidak pernah mengambil imbalan atas semua pertolongan yang telah kami berikan pada yang membutuhkan, kami berkata seperti itu bukan basa-basi agar Bapak memberikan uang dengan jumlah yang jauh lebih banyak karena perkataan basa-basi kami itu. Kami tidak akan menerima uangnya dalam keadaan apapun, cuma kalau Bapak bersedia, lakukan seperti yang kami lakukan, tolonglah orang tanpa pamrih, seperti yang kami lakukan.” Aditia menolak lagi dengan halus dan kata-kata seperti ini selalu dia katakan pada orang-orang yang dia tolong, sehingga mereka bisa menciptakan llingkaran kebaikan yang tulus.
Setelah tiga hari Aditia dan Alka datang lagi ke rumah Ami, yang lain tidak ikut karena mereka masih mengerjakan hal lain.
“Bagaimana Pak? Keadaan Ami?” Aditia bertanya setelah mereka dipersilahkan masuk ke rumah Ami dan duduk di ruang tamu, tidak lama kemudian Ami turun dari kamarnya, tubuhnya sudah terlihat segar kembali, borok di tangan dan kaki sudah kering.
“Adit dan Alka ya? Terima kasih ya, borok-borok itu sudah mengering, tepat setelah kalian memakanku daun itu, aku bisa tidur nyenyak, lalu setelah bangun, aku menjadi sangaat lapar dan bisa makan seperti biasa, rasa panas dari borok-borokku seketika menghilang, walau belum sembuh total, tapi borok-borok ini mengering dengan cepat, di beberapa tempat bahkan borok ini sudah tidak terlihat dan tidak meninggalkan bekas sama sekali.” Ami sangat ceria.
“Baik Alhamdulillah kalau begitu Ami, tapi ada satu hal yang cukup membuat kami penasaran, kau tahu kan, kalau pohon itu bisa membuatmu terkena borok kalau memegangnya? Kenapa kau pegang pohon itu?” Aditia bertanya langsung.
“Jadi benar kalau pohon itu penyebab sakit borokku?” Ami bertanya.
“Sebentar, apakah pohon borok yang kalian maksud adalah pohon borok yang ada di dekat rumah neneknya Ami?” Ayahnya Ami bertanya.
“Iya Pak betul, Ami terkena borok karena memegang pohon itu.”
“Astaga Ami! Kamu kan tahu, kalau pohon itu berbahaya, kenapa kamu ke hutan dan pegang pohon itu?” Ayahnya kesal mendengar itu.
“Ami awalnya hanya ingin berjalan-jalan ke hutan itu, Ami kangen lihat yang buat batu bata, dulu Ami dan teman Ami suka ke sana lihat orang buat batu bata itu, lalu Ami pergi ke hutan bata, melewati pohon itu saja, tidak memegangnya, sama sekali.
Setelah puas melihat orang-orang yang membuat bata, Ami melewati pohon itu lagi, saat itu sebenarnya habis hujan, jadi jalanan licin, Ami jalan tidak lihat-lihat, lalu terpeleset, spontan mencari pegangan, Ami memegang pohon itu.” Ami menceritakannya.
“Kenapa nggak cerita soal itu pas masih di rumah nenek?” Ayahnya bertanya.
“Ami takut, Ami kira cerita itu bisa saja bohong, tapi ternyata benar, Ami jadi borokan. Setelah itu, ayah tahu ceritanya.”
“Iya Yah, makasih ya Aditia dan Alka.” Ami berterima kasih.
Aditia dan Alka pamit, mereka diantar Ami pulang ke gerbang depan.
Aditia masuk mobil duluan Alka ditahan oleh Ami, mungkin ada yang ingn bicara katanya.
“Alka, apakah Alka pacarnya Aditia?” Ami bertanya.
“Bukan, kenapa Ami?”
“Hmm, Ami tidak kenal Aditia, kenapa Aditia ingin menolong Ami ya?”
“Hah? Mungkin karena memang Ami butuh pertolongan sedang Aditia merasa bisa membantu.” Alka cukup tidak suka arah omongan Ami.
“Apakah ada kemungkinan Aditia suka pada ... Ami?” Alka terkejut Ami mengatakan itu secara langsung.
“Tidak.” Alka menjawab dengan tegas.
“Kenapa Alka bisa yakin?”
“Karena ada gadis lain yang Aditia suka, tujuan Aditia menolong Ami hanya karena kasihan, hanya itu saja, tidak ada maksud lain, Aditia bukan orang yang sembunyi-sembunyi jika suka pada wanita, dia akan langsung menyatakannya dan member perhatian lebih.”
“Tapi bukankah Aditia memberikan perhatian lebih pada Ami, dengan menolong Ami?” Ami tetap bersikeras.
“Aku pastikan, dia menolongmu karena tujuan kemanusiaan, itu saja, yasudah ya.” Alka hendak pamit pulang, tapi saat dia melangkah ke gerbang, Ami mengejarnya dan berkata.
__ADS_1
“Apa kau gadis yang dia sukai?”
“Ami, cepat sembuh ya.” Alka tidak ingin menjawab.
“Kalau benar, berarti sainganku berat sekali untuk mendapatkannya ya.”
“Hah, jangan macam-macam Ami, kau harus fokus pada kesembuhanmu.” Alka lalu benar-benar pamit.
Alka masuk ke angkot bagian depan samping supir.
“Kalian bicara apa sih lama banget?” Aditia bertanya setelah mereka berkendara.
“Ami, dia merasa kau suka padanya makanya menolong dia.”
“Apa?! Lucu sekali.”
“Siapa yang lucu? Ami?”
“Bukan, pertanyaannya.”
“Oh itu lucu ya, apa kau memang tertarik padanya?” Alka kelepasan bertanya.
“Hmm, entahlah.” Aditia menikmati moment cemburu ini, dia ingin Alka merasakan api cemburu itu panas sekali.
Alka terdiam saja, dia tidak membalas ucapan itu, dia takut kalau Lanjo yang dia rasakan akan bereaksi secara berlebihan.
Sementar mobil melaju dengan kecepatan standar, saat sedang berjalan santai, tiba-tiba Aditai menginjak rem mendadak, dia memegang kupingnya sembari menunjuk ke arah depan, ada sesosok yang menghadang mereka dan membuat kuping Aditia sakit karena panggilannya yang memekakkan telinga.
“Aditttt!!!!” itulah teriakan sesosok itu yang membuat Aditia kesakitan pada telinganya.
__ADS_1