Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 245 : Hestia 9


__ADS_3

“Baik Pak Nicko, seperti surat panggilan yang telah kami kirim sebanyak tiga kali dan bapak tidak datang juga, maka kami jemput secara paksa, karena ada beberapa hal terkait kasus Suminah yang telah tiada.”


“Apa! Suminah sudah mati!” Nicko terlihat sangat terkejut, dia benar-bener terlihat sedih dan terpukul.


Kabar kematian Suminah memang ditutupi, karena saat itu media yang masyarakat bisa jangkau hanya koran, maka membungkam koran adalah satu-satunya cara agar informasi mengenai kematian tersebut bisa ditutupi dengan sangat baik.


Tujuan dari menutupi kematian itu adalah, memberikan efek tenang bagi pembunuh, sehingga dia tidak merencanakan sesuatu untuk membangun alibi, tidak punya persiapan untuk kabur.


“Ya, Suminah telah tiada, tubuhnya ditemukan di sumur, dalam keadaan termutilasi.” Dirga menjelaskan, setelah dijelaskan, Nicko terlihat ingin muntah, tapi tertahan.


Ada dua kemungkinan ketika orang mendengar pembunuhan secara sadis dia ingin muntah, pertama, karena dia jijik dan tidak ingin mendengarnya, dalam hidupnya jarang ditemukan hal-hal yang kejam, lalu kedua adalah, kekecewaan yang sangat dalam, hingga membuat tubuhnya memberontak, dimulai dari sesak nafas lalu terasa ingin muntah.


Entahlah Nicko yang mana, tapi bagi Dirga, ini membuktikan, bahwa Nicko bukan pelakunya. Karena dua alasan diatas, yang manapun jawabannya atas reaksi tubuh Nicko, menjelaskan bahwa dia bukan pelakunya.


“Dimana anda saat tanggal ini?” Dirga tetap melakukan interogasi, agar dia punya landasan yang ajeg untuk memberikan pernyataan kelak akan status Nicko sebagai saksi, bisa jadi sebatas saksi, atau malah naik jadi tersangka.


“Sudah lama itu, mana saya ingat, tapi sebentar, ini adalah waktu di mana anak saya harus mempersiapkan prakaryanya, karena keesokan harinya dia harus mengumpulkan tugas prakarya, membangun sebuah gedung, saya dan anak saya seharian melakukan tugas itu bersama, bahkan saya tidak masuk kantor untuk membantu, ya, tepat tanggal ini.” Nicko menjelaskan dengan pasti, biasanya orang memang ingat tanggal-tanggal yang memiliki momen berkesan, seperti Nicko ingat bahwa itu adalah tanggal penting bagi anaknya.


“Baiklah, apakah anda memang benar seharian di rumah?” Dirga bertanya lagi.


“Ya, tentu saja ... sebentar. Saya pergi ke toko alat tulis, karena ada beberapa alat yang kurang. Itu saja. Setelahnya saya di rumah lagi seharian.”


“Berapa lama anda ke toko alat tulis?” Dirga bertanya.


“Sekitar, setengah jam.” Nicko berkata dengan yakin.


Waktu setengah jam tidka akan cukup untuk membunuh seseorang lalu memutilasinya.


“Apakah ada yang bisa membuktikannya bahwa anda hanya pergi selama setengah jam pergi ke toko alat tulis.” Hal ini sulit dibuktikan sebenarnya, hanya saksilah yang bisa menjadi landasan kesaksian Nicko.


“Bukti? Saya pergi menyetir sendiri karena hari itu Darmin supir saya tidak masuk, izin sakit, sebelum pergi, saya menyapa tetangga saya, dia kebetulan sedang jalan-jalan sore, setelah menyapanya, saya bergegas ke toko ATK karena takut tutup, toko ATK yang saya tuju, memang buka sampai sebelum magrib saja. Lalu setelah ke toko ATK saya segera pulang, takut anak saya kehilangan semangatnya untuk membuar prakarya jika saya kelamaan, saat saya pulang, tetangga yang berjalan-jalan itu juga baru saja selesai jalan-jalan sore. Anda bisa memanggilnya sebagai saksi, karena saya tidak punya bukti yang lain lagi, anak saya tidak bisa dimintakan keterangan karena masih di bawah umur kan? istri saya juga sama, karena bisa jadi memiliki potensi untuk memberikan keterangan palsu.


Tapi tetangga saya, dia bisa dipercaya karena seorang yang memiliki latar belakang di bidang hukum, dia seorang jaksa.”


“Baiklah, berikan nama dan alamatnya, saya akan meminta kesaksian selanjutnya pada orang itu. Lalu, apakah benar rumor mengatakan bahwa anda adalah kekasih gelapnya Suminah?” Dirga bertanya hal yang lebih sensitif.

__ADS_1


Nicko terdiam, dia mengehela nafas panjang, lalu mulai bicara, “Seharusnay informasi seperti ini tidak boleh ke luar, sehingga istri saya tidak perlu tahu kan?”


“Kesaksian anda dilindungi hukum, jadi anda bisa bebas bicara jujur tanpa takut orang lain tahu.” Dirga memberikan rasa aman akan kesaksiannya.


“Ya, kami memang seorang pasangan gelap, karena saya memiliki istri dan anak, jadi hubungan kami tidak pernah bisa dilegalkan, saya sangat mencintainya, dia membuat hidup saya jadi lebih berwarna. Saya memiliki tingkat stress yang tinggi dalam soal pekerjaan dan tuntutan keluarga serta istri saya untuk selalu sukses dalam soal pekerjaan.


Sementara Suminah, memberikan sesuatu yang berbeda, dia sangat penurut, melakukan apapun yang sangat inginkan, dia gadis baik yang polos, aku sangat mencintainya, bahkan berniat menikahinya di bawah tangan, tapi ternyata takdir berkata lain.” Nicko mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya, tangisnya tidak berlebihan, tapi sangat terlihat kalau dia sedih dan kecewa. Satu-satunya wanita yang sangat menghormati dan menghargainya sudah tiada.


“Bukankah dengan begitu, Suminah seseorang yang bisa saja mengancam anda dengan hubungan gelap kalian?” Dirga menyerang lagi, karena dia harus tetap menyentuh seluruh aspek yang mencurigakan.


“Tidak Pak, karena waktu saya lebih banyak bersamanya ketimbang istri saya, serta saya juga memberikan uang yang sangat banyak untuk Suminah bersenang-senang, jadi bisa dikatakan kalau istri saya yang seharusnya marah, karena dia tidak mendapatkan waktu saya yang cukup, serta uang yang saya berikan termasuk untuk seluruh kebutuhan keluarga, walau banyak tapi itu memang kewajiban saya, sementara Suminah mendapatkan uang saya hanya karena sikap nurutnya pada saya.”


“Istri anda tahu soal perselingkuhan anda dengan Suminah?”


“Tidak tahu ... sepenglihatan saya. Tapi kita sama-sama tahulah, kalau setiap istri punya insting yang kuat.”


“Istri anda tidak pernah mengemukakan keberatan atas waktu anda yang sedikit dan juga kecurigaannya pada anda? bukankah istri-istri selalu begitu? mereka akan meledak-ledak saat curiga?”


“Inilah yang saya kagumi dari istri saya Pak, dia orang yang sangat dingin, memiliki prinsip tinggi dan jika sampai dia curiga lalu meledak-ledak, dia pasti akan merasa rendah diri, karena kemungkinan saya mengakui, atau mungkin juga dia sudah mendapatkan bukti saya selingkuh. Makanya dia hanya diam, walau sikapnya semakin dingin dan sangat menuntut saya lebih keras lagi soal perusahaan, dia memang tidak bekerja atau ikut campur soal perusahaan, tapi dia ingin agar perusahaan saya terkenal hingga dia bisa menyombongkannya di depan semua kolega pestanya, orang-orang penting, istri-istri pejabat, istri saya punya kemampuan membangun relasi yang baik dengan orang-orang kaya.


“Baiklah, kalau begitu, saya akan jadwalkan untuk meminta kesaksian istri anda, untuk anda, saya kira cukup, saya akan memastikan semua yang anda katakan benar dan memeriksa silang saksi yang anda sebutkan tadi.”


“Pak, apakah saya bisa melihat jenazah Suminah? Karena ... saya ingin melihatnya terakhir kali.


“Bisa, kami mengawetkan jenazahnya untuk keperluan penyelidikan, tapi anda harus didampingi oleh Polisi, menghindari percobaan merusak bukti.” Dirga tidak sungkan mengatakan itu, karena jenazah Suminah harus dilindungi agar proses penyelidikan bisa berjalan dengan baik.


“Aku takkan merusak tubuh kekasih yang sangat aku cintai, Pak.” Nicko kembali bersedih.


Sesi meminta kesaksian padanya selesai, Dirga membiarkan Nicko pulang, karena sebentar lagi sesi kesaksian Deden, orang yang menunjkan mayat Suminah kemarin dulu.


...


“Baiklah, terima kasih karena kau datang setelah surat panggilan kami kau terima. Saudara Deden sudah tahu kenapa dipanggil ke sini?” Dirga bertanya. Dia terlihat lelah karena sibuk mengurus kasus Suminah.


“Iya Pak, soal kematian Suminah.”

__ADS_1


“Baik, kalau begitu saya takkan berbasa-basi lagi, sekarang bisa jelaskan apa hubungan anda dengan Suminah?”


“Kami teman sejak kecil, Pak.” Deden menjawab singkat, tak bisa dipungkiri raut khawatir menghiasi wajahnya.


“Baiklah, lalu apakah benar kau yang memberikan kesaksian pada Polisi setempat bahwa kau melihat mobil yang mencurigakan pada malam Suminah hilang?”


“Iya Pak,” jawabnya singkat lagi.


“Bukankah saat itu sudah malam? Kenapa anda bisa dengan gamblang mengingat plat mobil itu, saya dan tim sudah memeriksa tempat yang katanya terparkir mobil ketika malam itu kau melihatnya. Sulit melihat plat mobil itu karena lampu di jalan tersebut temaram, tidak terang. Lalu bagaimana bisa anda melihat plat itu dengan jelas dan menghapalnya?”


Deden diam, dia terlihat semakin gelisah, tapi satu hal yang dia tahu, Polisi ini bukan Polisi sembarangan, dia tahu ada celah dalam setiap kesaksian.


“Sebenarnya ... saya melihat mobil itu sering sekali, mobil itu menjemput Suminah hampir setiap hari, saya menghapal platnya dan ketika malam tiba, saya bisa yakin itu adalah mobil yang biasa menjemput Suminah hanya dalam satu kali lihat.”


“Anda menguntit Suminah?” Dirga langsung curiga.


“Tidak, saya tidak menguntitnya, saya tukang ojek, sering mangkal di depan gang, jadi saya sering lihat mobil itu berseliweran menjemput Suminah.”


“Tapi, kalaupun memang seperti itu, bukankah janggal kalau sampai anda menghapal plat nomornya, untuk apa?”  Dirga memojokkan Deden.


“Hanya ... agar ... maksud saya ... saya hanya ....”


“Anda menyukai Suminah juga kan?”


Deden menatap Dirga dengan tatapan marah, apa yang dia sembunyikan dari tadi akhirnya ketahuan juga.


“Pak, apakah mencintai seseorang itu salah?”


“Salah jika kau membuat orang lain menjadi korban.”


“Saya tidak membunuh Suminah, Pak!” Deden berteriak.


“Saya tidak mengatakan bahwa anda membunuhnya, saya bertanya, apakah anda menyukai Suminah?” Dirga melihat Deden masuk dalam jebakannya.


“Ya, saya memang menyukai dan mencintainya, itu sebabnya saya takkan membunuhnya.” Deden bersikeras.

__ADS_1


“Kau tahu, hanya seorang tersangkalah yang tahu, dimana korbannya dikubur, bukankah hanya kau yang tahu, dimana mayat Suminah dikubur?” Dirga menuduh secara langsung, karena dia peracya, Deden harus dipojokkan agar mengaku.


__ADS_2