Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 207 : Tinung 11


__ADS_3

Hartino dan Alisah terus berlari sembari menyerang dinding itu, mereka tak henti hingga terasa lelah, sampai pada titik di mana mereka melihat dari jauh, pria yang melakukan hal yang sama, dia seperti sedang menusukkan sesuatu kepada dinding itu, dinding yang tak nampak mata, tapi ketika diserang dia akan melakukan perlawanan balik.


Semakin mendekat mereka tahu, siapa lelaki itu.


“Dit!” Hartino berteriak, Aditia yang terlihat kelelahan menyadari kedatangan Hartino dan Alisha.


“Kalian kok bisa di sini?” Aditia bertanya, di kebingungan. Karena sedari tadi dia hanya sendirian.


“Nggak! bukan itu pertanyaannya, lu di sini?! bukannya elu di dalam pagar ghaib ini!” Hartino bahkan berteriak ketika mengatakan itu.


“Hah? nggak kok! aku di luar dari tadi, aku ikutin Mbah Nur. Tadi aku ke rumahnya cari dia, tapi dia nggak ada, trus saat mau balik ke rumah tempat wanita itu melahirkan lagi, dari jauh kulihat Mbah Nur sedang berjalan ke arah sini. Aku mengikuti Mbah Nur, aku terus memanggilnya sampai dia masuk ke gerbang ghaib ini sementara aku terpental, tidak bisa masuk.


Dari tadi aku mencari cara agar bisa masuk, tapi tidak bisa masuk. Aku takut kalau Alka akan kesulitan membantu persalinan, makanya aku terus berusaha masuk dengan menancapkan kerisku.” Aditia menjelaskan.


“Hah! kita dijebak!” Hartino berteriak, dia lalu menelpon dua sahabatnya, Jarni dan Ganding untuk datang ke tempat di mana Aditia ditemukan.


Saat mereka datang, Ganding terlihat frustasi. Aditia belum dijelaskan, karena reaksinya juga pasti akan sama gilanya.


“Ada apa sih! mana Alka?” Aditia mendesak untuk memberitahu yang terjadi, karena dia tidak melihat Alka di sini.


“Dit, kakak masuk ke dalam bareng Mbah Nur, karena Mbah Nur bilang elu ada di dalam, elu lagi dipaksa menikah dengan Tinung, kami terus saja menyerang pagar ghaib, tapi tidak berhasil. Karena putus asa, akhirnya kakak melakukan perjanjian dengan Mbah Nur, agar dia bisa berada di sisi dalam pintu ghaib dengan menjadi pelindung Mbah Nur melalui perjanjian itu. Tapi ternyata Mbah Nur bohong, nyatanya kau ada di sini, tidak di bagian dalam.” Ganding menjelaskan dengan suara yang sangat kalut.


Aditia setelah mendengar itu langsung menyerang pagar ghaib membabi buta. Dia tidak ingin kalau sampai Alka kenapa-kenapa, dia tidak akan bisa bertahan hidup lagi. Karena saat ini cintanya adalah pada Saba Alkamah setelah pengkhianatan Alya.


Tidak berhasil, Aditia terus melakukan serangan itu, tapi selalu gagal. Mereka tidak boleh terlalu lama terdiam di sini, karena akan sangat bahaya.


Alisha akhirnya mendekati Jarni dan Ganding, dia membisikkan sesuatu yang membuat Ganding dan Jarni terdiam, mereka berhenti menyerang dan duduk di bawah dengan bersila dan tatapan kosong.


Sementara Hartino yang tidak memperhatikan juga diperlakukan sama oleh Alisha, Hartino duduk bersila dengan tatapan kosong. Alisha melakukan gendam bisikan pada mereka.


Saat akan melakukan pada Aditia, Alisha terlambat.


“Aku tahu siapa kau!” Alisha mundur, dia tidak menyangka Aditia sadar kalau dia akan menggendanya.


“Apa maksudmu?” Alisha bertanya.

__ADS_1


“Kau bukan Lais, kau adalah gadis yang bersama Hartino ketika aku datang untuk meminta maaf, aku tahu kau melakukan perjanjian dengan Alka untuk melakukan ritual rubah wajah, Alka sudah mengakuinya padaku.”


“Ba-bagaimana bisa kau tahu wajah asliku? Aku sudah melakukan ritual itu. Bahkan dukun dengan ilmu tinggi saja takkan mengenaliku lagi sampai perjanjian itu selesai.” Alisha bingung.


“Kau tahu, kalau aku adalah Kharisma Jagat, tingkatan kami tertinggi di negeri ini dalam soal ilmu perghaiban, mungkin ilmumu lebih tinggi dari Saba Alkamah, tapi pengetahuanmu tidak akan lebih tinggi dariku, karena aku  Kharisma Jagat, penjaga pintu ghaib di negeri ini. Ilmumu bukan dari negeri kami, makanya aku langsung merasakan ketika dulu melihatmu untuk pertama kalinya di rumah Hartino, tapi tidak punya kesempatan memberitahunya sampai kau datang ke gua Alka.”


“Aku bisa menerobos masuk ke dalam pagar ini, asal aku diizinkan menggunakan khodamku.” Alisha membujuk Aditia untuk mengizinkannya meminta Khodamnya membuka jalan.


“Bagaimana caranya kau bisa membuka jalan kalau Karuhunku saja tidak mampu? Bukankah kau melihat, semua khodam sudah ikut membantu, tapi kami tidak bisa membuka pagar ghaib ini.” Aditia tidak percaya Alisha bisa membantu membuka pagar ini.


“Kita tidak punya waktu, aku juga tidak bisa bilang ini akan terbuka, aku hanya akan mencoba.”


“Mustahil kau tidak yakin, kau bahkan menggendam sahabat-sahabatku, kau tahu bahwa ini kemungkinan besar akan berhasil.”


“Dit, mana yang lebih penting? Penjelasanku? Atau keselamatan Alka? Buatku saat ini tidak ada yang lebih penting dari menyelamatkan Alka.” Alisha membujuk.


“Baiklah, kalau begitu kau aku perbolehkan membukanya dengan khodammu.”


Alisha lalu bersiap, dia memanggil khodamnya yang dia dapatkan dulu dari negara lain, seorang nenek-nenek tua dengan pakaian lusuh dan wajah mengerikan keluar.


Nenek itu mendekati Alisha dan memeluknya, Alisha berkata padanya dengan bahasa yang Aditia tidak mengerti.


Alisha mendekati nenek itu dan berusaha membantu dengan menenadang-nendang pagar itu hingga dia bergetar, Aditia ikut menancapkan kerisnya dan meminta khodamnya yang masih sadar, karena khodam yang lain ikut tidur di dalam tubuh tuannya.


Ada serpihan debu yang keluar dari pagar itu, serpihannya keluar dari tancapan kuku khodam Alisha, bolongannya kecil, tapi terbentuk sempurna menciptakan bolongan yang membuat dinding itu cacat.


“Dit! Tancepin keris lu di sini, baca mantra penghilang pagar ghaib, di titik ini kita pasti berhasil.” Alisha meminta Aditia melakukannya.


Aditia bukannya menurut pada perintah Alisha, dia hanya tahu, itu cara yang tepat.


Dalam hidungan lima menit, pagarnya rusak, lalu akhirnya hancur.


Kawanan dibangunkan. Mereka bingung karena tiba-tiba pagar ghaib telah hancur. Tidak punya wakt menjelaskan, Aditia berlari masuk mencari gubuk itu, dia tidak mau sampai telat.


Yang lain walau bingung karena meresa tidak ingat apa yang terjadi, akhirnya mengkuti Aditia, semetara Alisha paling belakang, dia telah mengusir khodamnya dari sana agar yang lain tidak bisa lihat.

__ADS_1


Gubuk itu ketemu, sampai di pintu masuk, Aditia mendobrak pintunya, dia melihat Alka sedang terduduk di tanah, wajahnya sangat pucat.


“Alka! Aditia langsung menggendongnya untuk duduk di bale yang terbuat dari rotan, di mana Mbah Nur terbaring dalam keadaan pucat dan dingin.


“Ka!” Aditia berusaha menyadarkan Alka. Alka masih diam saja.


“Kakak!” Yang lain ikut memanggil tapi Alka masih terdiam saja, tatapannya kosong, wajahnya pucat.


“Apa yang terjadi pada kakak?” Hartino bingung. Kakaknya tidak merespon apapun dia hanya terdiam saja dengan tatapan kosong.


Ganding mendekati Alka dan memeriksa lehernya.


“Tidak ada denyut nadinya!” Ganding kaget, benar-benar tidak teraba denyut nadinya.


“Apa maksudmu tidak ada denyutnya!” Aditia memeriksa, dia tidak menemukan denyut itu, dia lalu mencari di tangan Alka, dia benar-benar berharap Akan menemukan denyut nadi pada tubuh Alka.


Tapi semakin dia mencari, dia tidak menemukan apapun.


Aditia mulai mengeluarkan air mata, Alka masih terbaring dalam keadaan mata terbuka tapi tidak merespon apapun.


“Saba Alkamah, Sabaku, aku mohon, bangunlah sayang!” Aditia gemetar, dia begitu ketakutan, kenapa Alka masuk ke sini dengan perjanjian, kenapa Alka begitu nekat hanya karena mendengar dirinya akan dinikahkan dengan Tinung. Aditia terus memanggil kekasih hatinya yang belum menjadi kekasih itu.


“Dit, kita bawa Kakak ke Dokternya Malik, lu bisa kan hubungi Ayi dan meminta pertolongannya?” Ganding memberi solusi.


“Dokter Adi! Iya, aku tahu tempat prakteknya, kita ke sana sekarang.” Aditia menggendong Alka di punggungnya dan berlari, mereka akan pulang dan menuju rumah sakit Dokter Adi bekerja.


Hanya Dokter Adi yang akan bisa memberitahu mereka apa yang terjadi dengan Alka, dia sadar tapi tidak merespon sama sekali.


Begitu sampai angkot yang diparkir di rumah wanita yang hendak melahirkan itu, Aditia menaruh Alka di kursi belakang, sementara bersamanya duduk di depan adalah Ganding, sisanya di belakang semua.


Aditia menyetir seperti orang kesetanan, karena menuju Jakarta itu butuh waktu yang cukup lama, dia tidak ingin Alka sampai terluka apalagi tidak kembali lagi seperti dulu. Aditia tidak akan sanggup!


_____________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Ada yang kangen sama Dokter Adi?


Jangan lupa komentar ya.


__ADS_2