Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 264 : Pabrik Seragam Tamat


__ADS_3

Rania datang setelah beberapa jam, dia terlihat sangat gelisah. Begitu sampai dia membuka pintu kamar dengan kasar, menyingkirkan Hartino jauh lebih kasar, membaringkan Alisha lalu memegang tangannya, memejamkan mata untuk memastikan sesuatu.


“Alka kita tidak punya waktu, jiwanya hanya akan bertahan dua hari saja. Tubuhnya akan diambil alih oleh jin itu, karena perjanjiannya memang tukar jiwa. Alisha harus menyerahkan tubuh itu sebagai pertukaran.” Rania wanita negro itu ketakutan, tubuhnya gemetar, bahkan air mata keluar.


“Aku tidak punya solusi, kau yang tahu ilmu dari negaramu.” Hartino terdiam, tidak kenal wanita ini, tapi dia merasakan energi sebesar yang dia rasakan ketika Alisha terbuka tabirnya, dia bukan wanita biasa.


Kawanan datang, semua berkumpul di ruang tengah menunggu apa yang bisa mereka lakukan untuk Lais.


“Aku punya solusi, tapi ini mungkin kalian akan keberatan, aku butuh Hartino untuk melakukannya.” Rania berkata tanpa menoleh pada Hartino, karena dia sebenarnya sangat membenci Hartino, dia membuat Lais menderita.


“Aku akan lakukan apapun untuk Icha.”


“Memang harusnya begitu Hartino, karena apa yang dia lakukan jauh lebih banyak untukmu.” Rania menatap tajam pada Hartino.


“Apa solusinya?” Alka bertanya.


“Jin tua itu bernama Esash, dia adalah jin tua yang hanya mau memiliki tuan yang memiliki tubuh sangat kuat, cantik dan … suci.” Rania berhenti menjelaskan.


“Lanjutkan Rania.” Alka meminta Rania melanjutkan.


“Ini satu-satunya cara yang aku pikir akan berhasil, jika cara ini berhasil, maka jin itu akan pergi dan tidak mau lagi tubuh Alisha. Tapi cara ini cukup kotor.”


“Maksudmu?” Hartino sudah curiga, tapi dia tak ingin menebak.


“Karena dia hanya akan menerima tubuh yang suci, maka kita buat tubuh Rania tidak suci lagi.”


“Brengs*k!” Hartino mengumpat. Karena cara ini benar-benar kotor, pantas Rania butuh Hartino.


“Kita harus melakukannya, ini cara yang paling ampuh.”


“Kau yakin ini akan berhasil?” Alka bertanya.


“Presentasenya masih lima puluh persen, tapi aku tidak punya cara lain.”


“Kau ingin aku menyetubuhinya dalam keadaan lemah seperti ini, kau gila!” Hartino sangat marah karena Rani merendahkan Alisha.


“Kalau kau tidak mau, aku akan meminta lelaki lain melakukannya, karena aku lebih memilih dia menjadi kotor dibanding jiwanya pergi dari tubuh itu dan menjadi jiwa yang tersesat dalam kegelapan. Ingat dia telah melakukan perjanjian jiwa yang ditangguhkan, artinya jiwa itu dibiarkan dalam tubuhnya hanya selama masa tertangguh itu dan celakanya Alisha telah menentukan waktu penangguhannya kemarin saat dia berusaha menyelamatkanmu dari Prabu, itu yang Alka katakan padaku sebelumnya melalui telepon, makanya waktu penangguhannya berakhir!” Rania kesal karena Hartino sok idealis.


“Bagaimana aku bisa melakukan hal kotor semacam itu pada tubuh wanita lemah ini, wanita yang sangat aku cintai, bagaimana aku menjadi sekeji itu?” Hartino menangis.


“Kau bertanya padaku, sementara kau tidak tahu, hal kotor apa yang Alisha lakukan demi untuk bersamamu!”


“Aku ….”

__ADS_1


“Aku bisa mencarikan lelaki yang cukup baik kalau kau menolak Har, aku tidak mau mengambil resiko kalau kau ragu.” Alka menatap marah pada Hartino karena berani ragu dalam keadaan genting seperti ini.


“Apa aku benar-benar harus melakukannya!” Hartino berteriak dan berlutut karena ini dilema yang sangat besar.


“Harus dilakukan olehmu atau oleh lelaki lain, aku tidak akan membuat Alisha tidak suci lagi.” Rania tegas mengatakannya.


“Kau pikir kau siapa?! Kita bisa cari cara lain kan, Kak?” Hartino bertanya lagi.


“Aku sudah bilang kan Har, aku tidak punya apa-apa untuk membantu Alisha.”


“Kau tanya aku siapa? Aku adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk mengurus tubuhnya ketika akhirnya tubuh itu telah bertukar jiwa, Alisha bahkan tidak tahu aku telah mencari cara untuk mematahkan perjanjian ini, kau harus melakukannya sekarang, karena dua hari ini jin tua itu tidak bisa mengendalikan tubuh Alisha yang lemah, kau harus melakukannya saat ini juga!” Rania memaksa.


“Har!” Alka juga ikut memaksa.


“Aku akan melakukannya, tapi sebelum itu, beri aku waktu dua jam, dua jam, aku akan melakukannya!” Hartino memohon.


“Baik, dua jam kau masih ragu, aku akan benar-benar membawa Alisha kepada lelaki lain, mengerti kau!” Rania kesal karena dia harus menunggu lagi dalam keadaan genting, tuannya jauh lebih penting dari apapun.



Dua jam kemudian Hartino sudah bersiap dengan semua orang, Alisha masih di kamar tidur, Hartino terlihat sedang berbincang dengan seseorang melalui telepon genggamnya, dia melakukan panggilan video.


“Om, terima kasih karena sudah mengerti, maafkan Hartino dan Alisha. Ini Pak Effendi, dia adalah penghulu di desa ini, ini Aditia dan Ganding akan menjadi saksi, ijab qabul akan kita lakukan hari ini. Aku dan Alisha akan jelaskan kemudian Om, maaf.” Terdengar suara tangisan dari sana, itu suara ibunya Alisha dan juga ibunya Hartino, mereka berada di Jakarta terhubung lewat sambungan panggilan video.


Prosesi akad nikah yang terlihat sembarang itu terjadi, Hartino selama dua jam ini ternyata mempersiapkan segalanya, mencari penghulu yang bisa dipanggil saat itu juga, menelpon keuarga Alisha dan juga ibunya Hartino, meminta mereka berada di satu tempat bersama saat prosesi ijab qabul.


“Saya terima nikah dan kawinnya Alisha Seotrisnahojo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” semua orang berteriak sah, Alka dan Rania menangis melihat betapa skema ini tidak terpikir sama sekali. Bahwa Hartino sampai akhirnpun tetap menjaga Alisha dan tidak ingin mengotorinya dengan melakukan hal yang tidak senonoh tanpa ikatan.


Hartino tetap sangat menjaga Alisha hingga akhir. Rania sekarang mengerti kenapa Alisha begitu mencintai Hartino, karena Hartino tidak seperti kelihatannya yang terlihat acuh tak acuh. Dia lelaki yang sangat baik dan melindungi.


Pernikahan selesai dilakukan, semua orang dibawa makan di restoran terdekat yang cukup terkenal oleh Aditia dan Ganding, tersisa hanya Rania, Alka, Hartino dan Alisha yang masih terbaring, dia tidak bangun lagi setelah meminta maaf pada Hartino sebelumnya.


“Aku akan melakukannya sekarang, aku akan menunaikan tugasku sebagai seorang suami, memberinya nafkah batin, kalian berdua bisa keluar sekarang.” Hartino meminta Rania dan Alka untuk keluar dari kamar.


Setelah mereka keluar, Hartino mendekati istrinya, seorang wanita yang memang sangat ingin dia nikahi, dari dulu hingga saat ini, tak ada satupun wanita yang sebanding dengan Alisha, bahkan saat Hartino belum tahu tentang jalan sesat yang dia pilih.


Hartino perlahan membuka baju Alisha, baju yang sebenarnuya sudah sangat kotor karena pertarungan malam sebelumnya menghadapi Prabu.


Setelah membuka bajunya hingga tubuh Alisha tidak tertutup satu helai benangpun, Hartino melihat pemandangan yang sangat mengerikan, Hartino bahkan menangis seperti anak kecil, bersujud di samping tempat tidur Alisha.


Dia melihat betapa hancur tubuh wanita itu, banyak memar dan bahkan bekar luka bakar, tidak ada satu sentipun tubuhnya tanpa luka, hanya wajah dan telapak tangan saja yang tak ada luka, sedang semau yang tertutup, terdapat memar, bekas luka goresan, bekas luka bakar.


Hartino sangat sakit, perih hatinya hingga dia tak bisa menahan lagi, betapa kesakitannya wanita ini untuknya. Lalu untuk apa dia pergi selama ini? Untuk apa dia meninggalkan wanita ini? Karena dulu dia pikir, jika Alisha bersamanya, Alisha akan menderita dan akhirnya tidak bahagia, tapi ternyata menjauhinya adalah pilihan terburuk yang pernah Hartino lakukan.

__ADS_1


Dia membuat wanita yang dia cintai ini bahkan memiliki luka semengerikan itu. Hartino sesak nafas, sakitnya yang dia rasakan seolah adalah sakit yang Alisha tahan.


Gadis kecil yang selalu dia jaga, harus menderita dengan cara yang semengerikan ini.


Setelah sedikit tenang Hartino mendekati Alisha lagi, dia mengusap wajah Alisha, membelai rambutnya lalu mengecup kening Alisha dan berkata, “Aku mencintaimu, dengan seluruh hidupku.” Tiba-tiba air mata Alisha mengalir, walau dia saat ini sedang pingsan, satu kata yang sangat ingin dia dengar, akhirnya dilontarkan oleh pria yang sangat ia cintai.


Hartino memeluk wanita itu, membuka bajunya, hingga mereka berdua tidak terhijab oleh satu helai kainpun. Hartino melakukan malam pertama dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin istrinya kesakitan karena apa yang dilakukannya, Hartino begitu lembut melakukan malam pertama mereka, tidak ada kenikmatan yang dia rasakan, karena begitu takutnya menyakiti Alisha, walau akhirnya dia mampu membuat Alisha tidak suci lagi, tubuh itu sudah dinodai dengan cara yang benar. Cara yang khusuk, seorang suami yang mencintai istrinya.


Alisha masih tidak sadarkan diri, hingga tak benar-benar tahu apa yang terjadi sebenarnya, walau cara ini belum tentu berhasil, tapi Hartino tahu, menikahi Alisha adalah hal yang paling benar dia lakukan.


Apapun hasilnya, Alisha akan tiada sebagai istri dari seorang pria yang sangat dicintainya.


Setelah selesai dengan prosesi malam pertama yang seadanya, persis seperti ijab qabul seadanya, Hartino keluar, semua orang sudah berkumpul di rumah itu termasuk orang tua Alisha dan juga ibunya Hartino. Mereka sudah tidak sabar menunggu penjelasan Hartino, semua orang bungkam, karena Hartino yang akan menjelaskan pada kedua keluarga.


“Ma, Om, Tante, maaf kalau Hartino lancang menikahi Alisha dengan cara yang tidak sopan, putri kalian sangat berharga buat Hartino, kita akan memperbaiki pernikahan ini setelah Alisha sadar.”


“Apa maksudmu setelah Alisha sadar?” Papinya Alisha bertanya, dia terlihat sangat cemas.


“Saat ini Alisha dalam keadaan koma, kami tidak bisa berbuat apa-apa karena rumah sakit sudah menyerah dan meminta kami untuk membawa pulang Alisha.”


“Lalu kenapa Hartino tidak membaw Alisha ke Jakarta atau kita keluar negeri sekalian! Kenapa kau malah menikahinya, kau tidak menyebutkan alasan apapun saat memohon sampai bersujud seperti tadi siang.” Papinya Alisha masih menuntut penjelasan.


“Kami kecelakaan saat naik gunung Om, Alisha tergelincir dari gunung, saat sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri, Alisha memintaku menikahinya Om, aku tidak mau terlambat, aku ingin memenuhi keinginannya, makanya aku buru-buru menikahinya dan memaksa Om untuk setuju, maafkan aku Om.”


“Har, kau tahu kan, aku dan maminya Alisha sangat percaya padamu, tidak ada satupun menantu yang kami harap selain dirimu, tapi ini aneh, kenapa Alisha ada di sini, kenapa dia tidak di Australia, bukankah dia seharusnya di sana untuk melanjutkan kuliah dan memulai bisnisnya? Kenapa tiba-tiba di ada di sini?” Papinya Alisha terlihat sangat frustasi, dia percaya Hartino, tapi semua penjelasan ini janggal.


“Om, satu minggu lagi adalah ulang tahun pernikahan om dan tante kan? Alisha bilang ingin menghadiahi om dan tante sebuah video perjalanan naik gunungnya dan dia sangat ingin mengubur foto om dan tante di atas gunung, tempat paling tinggi di desa ini, dia ingin cinta om dan tante abadi, tak pernah pudar hingga akhir hayat dan kokoh seperti gunung itu, dia ingin menghadiahi sesuatu yang dia dapatkan dengan jerih payah, bukan dengan uang. Kami setuju membantunya untuk naik gunung dan melaksanakan mimpinya, tapi kecelakaan itu terjadi Om, maaf karena Har tidak bisa menjaga Alisha dan maaf karena Hartino memaksa menikahi putrinya Om dan Tante yang sangat berharga bagi kita semua.” Hartino bersujud kembali dan sungkem pada kaki papinya Alisha, pertanda bahwa dia sangat menyesal melakukan ini semua dengan begitu tiba-tiba.


“Har, Om percaya kalau kamu bisa menjaga Alisha dengan baik, tapi apakah kau menikahinya karena ingin, atau karena permintaan Alisha?” Papinya Alisha memastikan bahwa putrinya harus dicintai, bukan dikasihani.


“Aku mencintai bahkan lebih dari diriku sendiri, aku mencintainya jauh sebelum dia merasakan itu padaku, selama ini aku diam karena aku takut mengekang sifat mandirinya, aku ingin dia menjadi wanita yang bebas memilih jalannya, makanya aku tidak ingin mengekangnya dengan pernikahan, andai aku tahu, bahwa keinginannya adalah menikah, tentu sudah sejak lama Har akan menikahinya.”


“Maka kalau begitu cukup, Om dan tante tidak butuh apapun lagi, cinta Har pada Alisha itu jauh lebih penting dari apapun.”


Hartino lalu meminta maaf pada maminya Alisha dan pada ibunya, mereka tentu sangat bahagia, cita-cita berbesanan akhirnya tercapai, walau dengan cara yang sangat aneh.


Alisha belum juga bangun, semua orang akhirnya pulang, Alisha dan Hartino pulang dengan ambulans, mereka akan pergi ke rumah sakit ternama di Jakarta, orang tua Alisha sudah memesan kamar VVIP di rumah sakit itu. Lima sekawan dan Rania akan mendampingi Hartino menjaga Alisha.


Apakah akhirnya Alisha akan bangun?


___________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Aku baikkan? Jarang-jarang loh aku ngubah cerita, kan kalian tahu aku agak keras kepala kalau soal alur cerita, tapi karena aku nggak mau kalian sedih, aku belokin nih ceritanya, tadinya aku mau buat Alisha langsung meninggal di part ini, tapi kalian semua sedih, makanya aku belokin.


Selanjutnya, nggak boleh ada yang ngeluh ya, karena aku tetap nggak mau Alisha bahagia gitu ajah, jangan lupa, biar bagaimanapun dia salah, telah memilih jalan sesat, jadi harus dihukum.


__ADS_2