Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 159 : Aditia 19


__ADS_3

“Bangun Dit.” Seseorang menepuk bahu Aditia, Aditia bangun dan masih mengantuk, tapi dia paksakan untuk bangun dan bergegas untuk bersiap solat tahajud setelah solat mereka semua harus ke lapangan, dini hari adalah waktunya latihan tenaga dalam.


Semua berkumpul, walau semua murid kecuali Aditia terbiasa dengan latihan dini hari ini, tapi tetap saja kantuk menghiasi mata mereka.


“Baris paling depan Aditia, jangan bersembunyi begitu.”


Aki Dadan menengur, dia tidak suka Aditia baru datang langsung berbaris di paling belakang.


“Iya, maaf Ki.” Aditia maju paling depan.


“Kau itu baru pertama kali latihan tenaga dalam, jadi kau harus memperhatikan dengan baik apa yang akan kita ajarkan padamu. Mengerti?!”


“Mengerti Ki.”


Aki meminta semua orang melebarkan kaki dan menekuknya. Posisi tangan ditekuk sampai sepinggang, telapak tangan dikepal dengan kepalan menghadap ke atas. Kepala tegak ke depan.


“Pertama yang harus kau lakukan adalah menghembuskan nafasmu sembari mendorong tangan yang ada pinggangmu ke arah depan dan saat mendorong tangan itu ke depan, telapak tanganmu membuka perlahan seiring dengan hembusan nafas. Tarik kembali tanganmu ke pinggang dan perlahan kembali mengepalkan telapak tangan sembari menarik nafas. Lakukan tarikan dan hembusan hingga kau merasa ketika mendorong tanganmu ke depan dari pinggang, terasa sangat berat. Itu artinya kau perlahan telah memulai membuka tubuhmu untuk memasukkan energi alam.”


Aditia melakukan dengan baik, dia suka ternyata malam dingin seperti ini, garakan yang dia lakukan membuat tubuhnya lebih hangat dan berkeringat.


Mereka melakukan gerakan seperti ini hinggai dua jam, lalu setelahnya mereka bersiap untuk solat subuh berjamaah.


Sarapan pagi sudah siap, mereka sarapan dengan nasi dan tellur goreng yang ditambah kecap. Mau sekaya apapun orang tua murid dari perguruan silat Aki Dadan, semua orang diperlakukan sama.


Aditia duduk di samping Aki Dadan, karena dia meminta Aditia duduk di sampingnya.


“Apakah hari ini terasa berat?” Aki bertanya.


“Berat, tapi aku suka melakukannya,”


“Hari ini latihan tenaga dalam dimulai dari awal, karena kau. Kita akan mengulang selama seminggu gerakan awal ini.”


“Apakah gerakan awal ini sangat penting Ki?” Aditia bertanya.


“Ya, ini adalah langkah membuka tubuhmu untuk menyerap energi alam,”


“Energi alam itu apa Ki?”


“Udara, kau tahu kita bisa hidup sampai hari ini karena kita bernafas dengan bebas. Nafas yang Tuhan berikan secara gratis. Di sini kau akan diajarkan cara memanfaatkan udara itu bukan hanya untuk sekedar bernafas.”


“Memang selain bernafas, udara bisa digunakan untuk apalagi Ki?”


“Untuk disimpan di dalam tubuh, lalu mengeluarkannya dengan tekanan yang tepat, tergantung lawan kita.”


“Kalau tekanannya salah saat dikeluarkan, apa yang akan terjadi Ki?”


“Kau bisa membunuh seseorang.”


“Hah?! maksudnya? Bisa sekeras itu tenga dalam yang kita keluarkan?”


Aki Dadan membuka telapak tangan kirinya, dia lalu membalik tangan kirinya sehingga telapak itu menghadap ke bawah, tapi gerakannya mengayun, persis tarian, lalu setelahnya dia menghempas telapak tangannya ke arah rambut Aditia. Aditia merasakan hembusan angin yang membuat rambutnya berantakan.


“Ini tenaga dalam Ki?”


“Ya. Jika kau gunakan secara tepat, kau bisa mengaturnya, hanya membuat rambut musuhmu berantakan, atau membuat tubuhnya yang berntakan.


“Wah seram sekali Ki, tapi kita kan, bukan musuh.” Aditia protes.


“Hanya perumpamaan anak muda.”


Beberapa mata melihat kedekatan Aki yang terkenal galak itu dengan anak baru, beberapa orang berbisik.


“Kayaknya itu anak calon jodohnya si Ami ya?” Seorang murid yang merupakan Kharisma Jagat juga berkata.


“Jodoh adat maksudnya?” Seorang Kharisma Jagat lain menjawab.


“Ya, mungkin aja. Jodoh adat kan ditentuin sebelum akil baligh.”


“Tapi kayaknya Aditia udah deh, udah akil baligh.”


“Tapi lihat deh, tampan, trus keliatan kok kalau dia berkharisma sebagai Kharisma Jagat, Ami juga keliatan suka sama dia. Aki juga dekat. Dia pasti keturunan Kharisma Jagat dengan kelas yang tinggi makanya Aki menerima murid baru padahal ini pertengahan tahun ajaran baru.”


“Udah makan aja, jangan pikirin yang enggak-enggak.”


“Tapi elu rela, kita yang lebih senior malah diabaikan, dia masih anak bau kencur.”


“Rela nggak rela.”


Aditia terlihat masih mengobrol dengan Aki oleh kedua Kharisma Jagat itu.


Setelah makan, mereka dibebaskan untuk melakukan apa yang mereka inginkan, kecuali tidur, salat dhuha atau sekedar jalan-jalan di sekitar kediaman.

__ADS_1


Aditia memilih duduk di depan rumah menghadap lapangan.


Seseorang mendatanginya, dia terlihat seumuran.


“Adit ya?”


“Iya, kami Aris kan?”


“Iya aku Aris.”


“Kamu baru juga kayak aku?”


“Enggak, aku udah dua tahun di sini,” jawab Aris.


“Dua tahun? kok bisa? Kita keliatan seumuran?”


“Ayah ibuku tinggal di luar kota, mereka menitipkan aku pada Aku dengan ... cuma-cuma.”


“Cuma-cuma? Maksudnya?” Aditia kurang paham, memang dia banyak kurang pahamnya sebagai anak muda. Sepertinya dia lebih suka banyak bertanya.


“Tidak membayar, orang tuamu membayar di sini?”


“Tidak tahu, aku cuma diantar Pak Dirga sahabat Ayahku, karena Ayahku sedang tidak bisa antar, soal bayar membayar, aku tidak tahu.” Aditia menjawab jujur.


“Kau lihat mereka itu, yang beberapa orang berkumpul?” Aris bertanya.


“Ya, aku lihat.” Aditia ingat, itu adalah kumpulan orang yang seperti dia, Aditia belum dijelaskan secara detail tentang dirinya oleh ayahnya, dia hanya tahu dia punya bakat untuk melihat hal yang orang lain tidak bisa lihat. Jadi penyebutan Kharisma Jagat belum familiar untuk dia.


“Mereka di sini disebut kumpuan elit.”


“Hah? kok gitu, mereka orang-orang kaya?”


“Ya kau benar Dit, mereka orang-orang kaya.”


“Kan kita semua sama, tidur sama di ruangan besar itu, cuci baju, cuci piring, makan dan pakaian, kita semua memakai atribut yang sama, tidak dibedakan, lalu kenapa mereka dibilang kelompok elit?”


“Semua orang memang mendapat fasilitas yang sama di sini, kecuali jajanan dan juga kebutuhan sehari-hari.”


“Maksudnya?”


“Kita itu seminggu sekali diperbolehkan ketemu orang tua, kumpulan mereka itu selalu dikunjungi oleh orang tua yang kaya raya, semua orang tuanya memakai mobil mewah dan pakaian yang terlihat mahal, membawa makanan camilan untuk anak-anaknya dan juga peralatan mandi yang sangat lengkap. Aku iri melihatnya.”


“Memang orang tuamu tidak pernah datang?” Aditia bertanya tanpa mempertimbangkan ketersinggungan Aris.


“Tenang saja Aris, sepertinya Ayahku juga takkan sering ke sini, kau aku temani.”


“Apa ayahmu juga miskin seperti ayah aku?”


“Ya, ayahku supir angkot, tapi aku bangga dengan profesinya, dia orang yang hebat menurutku, dia melakukan apapun untuk membuat kami bahagia, jadi aku tidak akan menuntut banyak. Dia pulang setiap hari dalam keadaan sehat saja sudah cukup. Ibuku tidak pernah marah walau ayah pulang begitu larut, adikku juga pintar, kami semua sangat bersyukur memiliki satu sama lain.”


“Kau hebat bisa bangga dengan keluarga yang pas-pasan. Tapi aku ingin anakku kelak tidak seperti aku, merasa rendah diri dan selalu dirundung karena miskin.”


“Dirundung, di sini?”


“Ya, kau tahu kan, kalau kau ada masalah di sini dengan sesama murid, Aki tidak akan ikut campur. Dia ingin kita menyelesaikan sendiri, mereka yang kaum elit itu suka merundungku.”


“Hah, serius, kenapa nggak bilang ke Aki?”


“Kan tadi aku udah bilang, nggak mungkin Aki ikut campur.”


“Kalau begitu balas! Jangan diam.”


“Mereka sudah sangat hebat.”


“Jangan biarkan dirimu direndahkan, kau harus melawan Aris!” Aditia kesal karena Aris lemah sekali.


Tiba-tiba seseorang datang, dia adalah kaum elit, dia terlihat sedang makan cemilan yang enak dan membawa beberapa cemilan itu.


“Dit nih, dari kita, enak nih.” Dia memberikan cemilan itu hanya kepada Aditia.


“Makasih ya.” Lalu orang itu hendak berlalu setelah memberikan cemilan pada Aditia.


“Loh Aris nggak di kasih?”


“Siapa? anak miskin ini?” Lelaki itu tertawa memperolok Aris.


“Nggak apa-apa Dit, gue nggak terlalu suka kok.”


“Ya kalau begitu ini aku kembalikan, aku juga nggak terlalu suka.” Aditia mengembalikan cemilan itu dan membuat lelaki yang salah satu dari kaum yang disebut kaum elit itu.


“Kok dikembalikan?” Aris terlihat kecewa.

__ADS_1


“Ya masa aku makan sendirian!” Aditia kesal.


“Kalau kau tidak suka, kau bisa berikan padaku.” Aris menelan ludah.


“Aris! Pantas saja kau dihina dan dicemooh, ketika kau direndahkan, jangan pernah sekalipun kau memohon belas kasih mereka, itu hanya camilan, aku juga jarang sekali makan camilan itu, tapi ibuku selalu buat kue basah lebih enak dari itu, jadi menurutku kita tidak boleh terlalu terlihat rendah di mata mereka dengan memohon meminta hanya sekedar camilan!” Aditia kesal dan hendal meninggalkan Aris.


“Mungkin bagimu, itu hanya camilan, tapi bagiku yang tidak pernah memakan camilan selama dua tahun ini, itu adalah sesuatu yang sangat berharga!” Aris berkata dengan perasaan sedih.


Aditia menyesal karena tanpa sadar dia sudah ikut merundung Aris dengan cara merendahkan apa yang dia suka, Aditia ingin meminta maaf, tapi Aris keburu pergi dengan kepala menunduk ke bawah.


“Bukankah berbagi itu lebih baik?” Aditia dengan nekat mendekati kawanan elit itu.


“Apa maksudmu?” seseorang yang terlihat berumur sekitar tujuh belas sampai delapan belas tahun itu bertanya, dia juga terlihat seperti ketua dari kawanan elit ini.


“Seharusnya kalau kalian berniat memberikan padaku, kalian juga harus memberikan padanya, tidak adil kalau kau memberikan hanya padaku saja.”


“Kau tidak tahu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini?”


“Aku tahu, tapi hati yang baik itu gratis!” Aditia semakin kesal dengan anak-anak sok kaya ini.


“Jangan sok baik, jangan mentang-mentang ayahmu yang paling ka ....”


“Aditia! Bisa ikut Aki.” Aki Dadan memanggil Aditia disaat yang tepat.


Semua orang menunduk, takut kalau telah ketahuan membuat masalah dengan keturunan Kharisma Jagat yang merupakan dengant kelas tertinggi seperti Mulyana.


Mereka anak-anak yang sejak kecil dididik dengan adat dan budaya Kharisma Jagat dan kemewahan yang mengiringinya tahu menempatkan diri bagi yang menurut mereka memiliki kelas di atasnya. Sedang pada yang menurut mereka lebih rendah, sifat sok kaya mereka keluar.


Sementara Aditia dididik layaknya orang biasa yang memiliki kemampuan istimewa. Langkah Mulyana mendidik Aditia dengan kesederhanaan dan menilai semua orang dari ketulusan bukan manfaat dirasa tepat. Dengan melihat anak-anak sok kaya ini tentu Aditia jika dididik mirip dengan kawanan elit itu, maka mungkin Aditia akan menjadi ketua berandalan itu.


“Apa yang terjadi, kau tidak boleh membuat keributan dengan sesama temanmu.” Aki menegur.


“Mereka yang duluan, mereka sengaja memberikan camilan kepadaku saja tapi mengabaikan Aris, padahal Aris yang paling butuh karena dia sangat ingin makanan camilan itu, apakah karena Aris miskin dan tidak membayar sepertiku di sini, makanya semua orang bebas melakukan itu pada Aris dan diriku!” Aditia baru kali ini terlihat lepas kendali, dia benci sekali perundungan dalam bentuk apapun, apalagi penindasan.


“Membayar? Kau pikir tempatku ini taman bermain, kalau mau masak bayar?”


“Ya, Aris bilang semua orang membayar, dia tidak bayar karena dititipkan orang tuanya secara cuma-cuma, makanya dia dirundung.”


“Lalu dia bilang apa lagi?”


“Dia iri karena orang tuanya tidak pernah datang dan membawa makanan seperti kawanan elit itu.”


“Itu salahnya.”


“Jadi maksud Aki salah dia dan aku karena terlahir miskin?”


“Lihat Aditia, kau dan dia kau bilang kalian miskin, lalu kenapa sikap kalian berbeda? dia terlihat sangat rela merendahkan harga diri hanya untuk makanan, sedang kau? kau bahkan membelanya padahal tidak diminta dan menolak pemberian padahal mungkin kau juga ingin cemilan itu. Tapi kau bisa menahan egomu untuk membelanya? Kenapa sikap kalian berbeda?”


“Mungkin karena Aris tidak berani.”


“Itu masalah, miskin itu bukan soal harta, tapi soal pikiran Adit. Kalau kau berpikir dirimu miskin kau akan semakin membungkuk dan memohon dan meletakkan harga dirimu hanya untuk sebuah makanan. Tapi kalau dalam pikiranmu kau percaya kau berharga, maka kau akan melawan ketika ditindas, itu mental yang benar. Bukan karena merasa miskin lalu merendahkan diri.”


“Tapi Ki, Aris mungkin sudah terlalu sering direndahkan dulunya, di keluarganya, di lingkungan keluarganya dan teman-teman, makanya dia begitu. Jadi kita tidak boleh salahkan dia ketika dia menjadi berlaku merendahkan diri seperti itu.”


“Kau pintar dan tegas lebih dari umurmu, kau memang terlihat seperti anak Mulyana. Tapi dengar baik-baik, kau, Aris dan kawanan yang kalian sebut elit itu tidak membayar untuk masuk ke sini, aku punya uang cukup  untuk membiayai kalian, itu sebabnya di sini kalian harus hidup sederhana agar kalian tahu nilai hidup. Ada yang memberi sumbangan, tapi itu untuk yayasan yang aku beberapa orang lain buat, itu yayasan yang kami peruntukan untuk anak-anak yatim piatu.


Semua orang di sini gratis! Tidak membayar sepeserpun. Masalah orang tua mereka datang dengan kemewahan, aku tidak bisa larang, masalah camilan dan peralatan lain yang mereka sediakan lebih baik dari yang lain, aku juga tidak bisa larang, karena setiap orang memiliki batasan dalam peraturan, Aki mengatur semua dengan baik, tapi pasti ada saja celah, seperti camilan yang bikin iri itu.


Ada orang sepertimu, yang tidak terlalu bermasalah dengan kehidupan orang lain, tidak iri dan bersikap sepantasnya menurut kemampuan keluargamu, karena Mulyana mendidikmu dengan baik. Tapi ada juga orang yang seperti Aris, entah karena orang tua, lingkungan dan teman-teman, akhirnya merasa iri dan dengki lalu menginginkan kehidupan orang lain bukan fokus membuat diri semakin baik.”


“Tapi Ki, aku ....”


“Kau tidak boleh membela orang berlebihan, karena dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Kau tidak boleh memaksa mereka memberikan camilan kepada orang yang mereka tidak ingin berikan, tidak bisa memaksa Aris menerima kehidupanya yang menurutnya miskin dan meminta dia bersikap lebih menghargai dirinya. Tapi kau bisa mengendalikan dirimua sendiri agar bisa bersikap benar. Membela boleh, tapi jangan berlebihan. Ada yang bisa kau campuri, ada yang tidak bisa kau campuri. Aris harus membela dirinya sendiri, jadilah penasehat, tapi bukan tukang perintah. Jadilah pendamai, tapi bukan perusak. Mengerti?”


Aditia mengangguk sebenarnya dia sedikit masih kesal dengan kawanan sok kaya itu.


Sementara anak-anak sok kaya itu masih membicarakan anak baru yang menurut mereka itu sombong.


“Kau hampir saja habis oleh perkataanmu, kan Aki sudah bilang, tidak ada yang mengungkit soal Kharisma Jagat dan Tuan Mulyana di sini, karena Tuan Mulyana tidak suka dibicarakan, apalagi kekayaannya. Kita bisa habis oleh mami papi kita kalau ketahuan membicarakan Tuan Mulyana, kau tahu kan, dia adalah pemilik perusahaan keluarga kita semua.”


“Ya, hampir saja aku habis, lagian kenapa sih, kalau aku jadi Aditia, aku pasti akan menyobongkan ayahku di depan semua orang, sudah Kharisma Jagat kelas tinggi dan kaya raya. Tapi kenapa tuan Mulyana dan Aki melarang kita membicarakan kekayaan Tuan Mulyana, emang kenapa? apalagi di depan anaknya doang. Masa nggak boleh ngingetin dia kalau dia kaya raya.”


“Udahlah nurut aja, elu tahu kan hukuman bagi orang yang tidak taat peraturan, kau mau dikurung bersama pocong dan genderuwo oleh mami papi kita?”


“Iya aku akan nurut, lain kali aku tidak akan membahas tuan Mulyana, kekayaannya dan Aditia.”


“Satu lagi, soal Kharisma Jagat.”


“Iya, itu juga.”


Mereka tidak tahu bahwa Aditia bahkan tidak tahu begitu kaya rayanya Mulyana, mereka hanya dilarang membicarakan Mulyana dan juga kekayaannya, katanya itu sesuatu yang terlarang dibicarakan di tempat ini. Padahal itu semua agar Aditia tidak tahu soal ayahnya.

__ADS_1


“Ya, kita juga nggak boleh jadi musuhnya, karena dia orang yang cukup berpengaruh di sini.”


“Kalau itu aku setuju.”


__ADS_2