
"Apakah ini adalah ... Qorin?" Alisha mengambil kesimpulan.
"Setahuku Qorin tidak merusak, dia menyerupai tapi tidak mengambil alih." Jarni mengoreksi.
"Khodam?"
"Alisha, kau mulai menebak-nebak." Alka memperingati Alisha, karena kawanan dilarang keras menebak-nebak tanpa landasan yang ajeg.
"Ada apa?" Para lelaki masuk ke ruang inap, tapi Alka meminta mereka semua untuk keluar, Alka sudah memberikan ramuannya dan Jarni sudah menambal pagar ghaib yang cukup tinggi, hanya agar tubuh itu tetap tenang.
Mereka berada di taman, yaitu taman yang memisahkan antara rumah utama Jajat dan keluarganya dengan tempat rawat inap para pasien ghaib.
“Aku masuk ke dalam ingatannya, saat menyentuh kening dan juga kepalanya, aku melihat saat mereka pertama kali datang ke Bali.
Aku melihat saat ada sesosok makhluk yang menyerupai Anto, suaminya Gea, itu bukan khodam ataupun Qorin, karena tidak masuk dalam ciri-ciri yang kita pelajari.”
“Kau tidak melhat wujud aslinya?” Aditia bertanya.
“Tidak ada wujud asli, itu memang wujudnya.”
“Maksudmu seperti kembaran?” Aditia kembali bertanya.
“Bukan kembaran, benar-benar Anto. Aku merasakan energi yang sama, bau yang sama dan wajah yang tidak ada perbedaan sama sekali selain mereka jadi ada 2.”
“Ka, aku tidak paham, kenapa bisa begitu?” Aditia bingung.
“Aku pun bingung Dit.”
“Kalau begitu tidak ada jalan lain selain ke sana Kak, ke vila itu, sekarang.” Ganding yang kali ini mengatakan idenya.
“Sekarang?” Alka bertanya dengan nada bimbang.
“Ya, aku sudah booking vilanya, aku meminta vila yang sama persis seperti yang mereka inapi.” Hartino rupanya sudah bergerak cepat, dia langsung booking vila itu, dia meminta vila yang sama persis seperti yang Anto dan keluarganya tinggali itu.
“Bagus, kalau begitu kita ke sana sekarang.” Ganding bersemangat.
Jarni tetap tinggal di vila itu, karena harus menemani Gea, sesuai janji mereka, sedang yang lain ikut, kenapa bukan Alisha saja yang tinggal di rumah Jajat, karena hanya Jarni yang bisa membuat pagar ghaib setebal itu, Aditia bisa, tapi tidak serapat dan secepat Jarni, makanya Jarni yang paling tepat untuk menjaga Gea.
Mereka pamit pada Jajat dan keluarganya, bahkan menolak makan malam bersama, walau ini belum malam, masih sore, karena mengejar agar dapat ke vila itu sebelum gelap.
Aditia menyetir, di sampingnya Alka, sisanya di belakang. Mereka menyewa mobil sedang untuk ke vila itu.
“Informasi lain yang aku dapatkan adalah, sebenarnya Anto dan Gea seharusnya tidak menginap di vila dengan tipe itu, karena itu tipe tertinggi, sangat mahal permalamnya, tapi karena ternyata vila yang harusnya untuk mereka, itu ada beberapa kerusakan, jadinya mereka diberikan vila dengan tipe paling mahal itu, untuk menjaga nama baik katanya, walaupun mereka rugi, karena Anto tetap membayar dengan harga sebelumnya, tipe vila yang standard.” Ganding menambahkan informasi yang belum disampaikan sebelumnya.
“Lalu terjadilah kejadian itu, Nding?” Alka bertanya.
“Ya, begitulah Kak.”
__ADS_1
“Berarti orang dalam hotel kemungkinan tahu apa yang terjadi.” Aditia menyimpulkan.
“Jangan mengambil kesimpulan di awal Dit, belum tentu.” Alka protes, karena tidak semua hal yang disebut kebetulan bisa direkayasa, bisa saja memang kebetulan.
“Aku juga yakinnya ada orang dalam, Kak.” Hartino menimpali.
“Kau kira cari pekerjaan pakai orang dalam.” Alka masih tidak mau meyakininya.
Mereka sampai juga di vila itu dan langsung menuju lobby, Hartino dan Alisha yang mengurus chek-in.
“Mbak, kami sudah pesan vila tipe ini.” Hartino memberikan telepon genggamnya untuk menunjukkan pesanan vila yang sudah dia lakukan di telepon genggamnya.
“Baik Pak.” Customer SeriviceS itu mengecek di sistem pada komputernya.
“Mbak, nomornya yang nomor 11 ya.” Hartino berkata lagi.
“No … nomor 11 Pak?” Customer Services itu terlihat tegang.
“Iya, saya mau yang itu.”
“Maaf Pak, tidak bisa, karena vilanya sedang kami renov.”
“Kok gitu, tapi teman saya beberapa waktu lalu abis nginep di sana.” Hartino bersikeras.
“Maaf Pak, tapi ….”
“Mbak, saya maunya di sana, karena tempat itu menghadap lokasi yang kalau perhitungan jawa sangat baik. Saya ini sedang bulan madu ke dua, makanya saya mau yang itu, saya sudah cek di internet, kalau vila nomor itu yang terbaik, Jadi saya mau vila itu, tidak mau vila yang lain. Ngerti nggak!” Hartino berpura-pura marah dan menjadi customer yang keras kepala dan sulit diberi pengertian.
“Panggil Managermu ke sini! Orang macam kamu tuh nggak ngerti hal kayak gini, panggil sekarang!” Hartino mengeluarkan gaya tuan mudanya, dia memang punya uang yang cukup banyak untuk berlagak seperti itu, tapi kalian semua pasti tahu kalau ini bukan gayanya.
“Cepat panggil Managermu, kenapa kau malah planga-plongo gitu!” Alisha ikut-ikutan mengikuti gaya suaminya, sok kaya.
“Tapi … tapi ….”
“Kau mau kami buat keributan, lihat banyak yang antri loh, cepat panggil!” Alisha menggebrak meja, kareana Customer Servicesnya adalah perempuan, makanay harus Alisha yang bersikap kasar, agar tidak ada pelaporan pada pihak Polisi.
Tak lama kemudian Manager datang, sepertinya ada rekan kerja yang melapor, karena keributan ini sengaja dibuat oleh pasangan nekat itu.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?” Manager itu mendekati Alisha dan Hartino di luar meja Customer Services.
“Saya ingin vila dengan kelas tertinggi yang nomor 11 itu.” Hartino langsung pada intinya.
“Tapi maaf Pak, vila itu tidak bisa ditempati sementara waktu karena ….”
“Anda juga tidak bisa paham!!! Vila macam apa ini, kalian tidak tahu siapa kami? Kalian benar-benar ingin saya buat bangkrut, saya bayar loh, ini malah diperlakukan seperti ini, kalian sengaja tidak ingin saya menginap di sini kan!” Hartino berteriak-teriak, Alka dan Aditia menutup muka mereka, malu karena sikap kawannya, tidak mau membantu, karena tidak bisa berakting sebagus pasutri itu.
“Baik Pak, kita ke ruangan saya dulu ya, jangan di sini, boleh tolong ikut saya Pak.” Manager itu terlihat panik dengan reaksi Hartino, dia meminta hartino dan istrinya ikut dia ke ruangannya, tempat itu lebih privat, untunglah, Hartino juga sudah mulai malu sebenarnya.
__ADS_1
Mereka bertiga di ruangan Manager itu, Hartino masoh masih menunjukkan wajah kesalnya.
“Kami bukannya tak ingin memberikan vila itu Pak, tapi memang tidak layak untuk kami berikan, saat ini.”
“Saya tidak peduli, karena saya mau vila itu, sudah dihitung berdasarkan perhitungan kepercayaan kami, bagus untuk bulan madu, saya ke sini karena vila itu, teman saya merekomendasikannya, saya sudah bayar lunas juga di aplikasi, jadi saya mau vila itu, tidak mau yang lain, kalau anda tidak berikan maka, saya pastikan vila ini akan bangkrut, anda tahu siapa saya? Kami ini pasangan anak dari pengacara ternama di Indonesia, kami bisa buat kasus hukum jika anda tidak berikan vila itu.”
“Pak, kami berusaha memberikan yang terbaik untuk customer kami, kami hanya takut kalau ada kejadian yang tidak diinginkan di vila itu.”
“Saya tidak peduli, saya akan bertanggung jawab sendiri, atas apapun yang akan terjadi kedepannya, anda hanya perlu memberikan vila itu pada kami.”
“Pak, ini semua untuk kebaikan Bapak, karena vila itu bukan vila yang baik untuk pasutri, vila itu tidak mendatangkan kebaikan, saya mohon Pak.”
“Pak, apalagi sih masalahnya! Saya sudah bilang saya akan tanggung jawab, mengenai keyakinan, kalian tidak bisa usik, saya yakin vila itu terbaik. Kalau soal kecelakaan atau apapun saya tidak peduli, saya akan tanggung resikonya.”
“Baiklah kalau Bapak memaksa, maka saya akan buatkan surat pernyataan, jika saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka kami tidak bertanggung jawab.”
“Buatlah, saya akan tandatangani.”
“Baiklah, Bapak dan Ibu tunggu sebentar ya.” Manager itu lalu keluar ruangan dan tidak lama kembali dengan selembar kertas yang harus ditandatangani Hartino.
“Ini Pak, dibaca dulu ya, semoga Bapak dapat menerima kakhawatiran kami dan kami juga sudah berusaha untuk memberitahu Bapak, resikonya, maka apa yang terjadi kelak, bukan tanggung jawab kami lagi.”
Hartino mengambil kertas itu dan membacanya.
Judul dokumen itu adalah, surat pernyataan.
Lalu kalimat pembuka yang standard, setelahnya masuk ke poin 1.
Bahwa apapun yang terjadi ke depannya menyangkut kecelakaan yang menimpa tamu vila bukan kesalahan dari pihak vila.
Poin kedua, jika terjadi perubahan mental, muncul sakit mental dan kerasukan yang terjadi pada salah satu tamu, bukanlah menjadi tanggung jawab pihak vila, hal itu telah disepakati sebagai resiko yang tamu harus tanggung.
Hartino membaca poin kedua langsung menatap Manager itu.
Poin ini terlalu kentara, bahwa pihak vila tahu ada yang tidak beres dengan vila itu, tapi kenapa kemarin memberikan vila itu pada Gea, mereka pasti tahu kejadian ini sudah lama, tapi membiarkan vila itu digunakan oleh Keluarga Gea dan Anto.
“Sakit mental? Memang ada yang pernah sakit mental karena menginap, dia ada-ada saja sayang.” Hartino mencemooh, khas orang yang keras kepala.
Hartino masuk ke poin ketiga.
Apapun yang terjadi di vila, termasuk hilangnya anggota tamu, bukanlah tanggung jawab vila dan tidak punya kewajiban untuk mencari.
“Sungguh vila ini bukan vila biasa, ada poin untuk tamu hilang segala, memang pernah ada yang hilang Pak? Dibawa siapa tuh? Genderuwo?” Hartino tertawa, Alisha juga.
“Pak, mohon maaf, tolong dijaga bicaranya, akan sangat baik jika kita saling menghormati adat dan budaya setempat di mana kita berada, jadi saya mohon, batalkan saja niat anda menginap di vila itu, bagaimana?”
“Tidak, saya malah semakin bersemangat untuk menginap di vila itu, sungguh vila yang mengesankan sayang.” Hartino masih berakting, dia hanya ingin terlihat menyebalkan agar mereka bisa masuk ke sana tanpa dibantah lagi.
__ADS_1
“Baiklah, saya sudah memberitahukan dengan jelas, bahwa itu bukan vila yang baik untuk ditinggali, tapi anda bersikeras, maka saya bisa apa selain memberikan yang anda inginkan, silahkan tanda tangani, setelah itu saya akan siapkan vilanya dan barang bawaan anda akan kami bantu untuk dibawa ke sana.”
Hartino menandatangani surat itu itu dan Managernya mengambil surat itu, Hartino kembali kepada kawanan dan bersiap menuju sumber masalah itu.