Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 54 : Janggit Benthangan 9


__ADS_3

“Jadi, begitu Bu, apakah Dina punya teman yang sangat dekat?” Aditia dan Alka sudah kembali ke rumah orang tua Dina, si hantu setan yang suka bilang Ila karena ingin ikut mobil yang lewat jalan tol di mana dia dikuburkan oleh orang yang belum diketahui sampai sekarang.


“Teman dekat ya, Dina punya teman dekat wanita, namanya Yuni, mereka teman sekolah, tapi Ibu nggak punya alamat Yuni, telepon juga nggak punya, kami bukan orang tua telalu ikut campur urusan anak, Nak Adit.” Ibunya terlihat sudah lebih tenang, mayat Dina sudah dibawa ke rumah dan sudah dikafankan dengan rapih, menutup wajah, karena memang keadaannya sudah tidak utuh lagi, sementara ayahnya masih terlihat tidak bisa menerima, kakak lelaki dan perempuan Dina juga sudah ada di sini, ternyata Dina anak bungsu tiga bersaudara, yang pertama laki-laki, kedua perempuan dan terakhir Dina.


Sayangnya, kakak-kakak Dina jug tidak punya nomor telepon Yuni, teman sekolahnya pun, tidak ada yang dikabari, karena keluarga tidak punya nomor telepon teman-teman Dina.


“Kalau sekolahnya Dina dan Yuni di mana, Bu? Biar kami ke sana, coba cari tahu.”


“Kalian ini, Polisi?” Tiba-tiba kakaknya Yuni yang pertama bertanya, wajahnya terlihat tidak suka.


“Bukan.” Aditia menjawab singkat.


“Mereka hanya ingin membantu.” Ibunya berkata.


“Kalian wartawan? Pencari berita?” Kakaknya masih saja bertanya dan mulai kasar.


“Adikmu meminta tolong kami.” Alka akhirnya angkat bicara, dia tidak terima mereka dikasari, padahal hanya ingin membantu.


“Adikku? Maksudnya, Rahma?” Kakak pertama Dina menunjuk Kakak kedua Dina.


“Bukan, adik bungsumu.” Alka menegaskan.


“Maksudnya?”


“Jika kalian ingin tahu sebenarnya, aku tidak keberatan, tapi apakah kalian sanggup menerimanya?” Alka menantang.


“Kalian ini berdua mau menipu kami?” Kakaknya yang pertama menuduh.


“Apa ada uang yang kami minta dari Bapak dan Ibu? Sepanjang kami bertanya dan memberi kabar?” Aditia bertanya.


“Tidak, mereka tidak meminta uang sama sekali.” Ibunya menjawab.


“Kita selesaikan dulu pemakaman Almarhumah, setelah itu baru kita bicarakan masalah ini, tujuan kami tidak menipu, kalau tidak percaya, kau bisa konfirmasi dengan Pak Dirga, dia kepala Polisi yang membantu Dina pulang.”


Keluarga Dina setuju, Alka dan Aditia membantu pemakaman, jam 9 malam, semua selesai, pengajian hari pertama juga sudah selesai, seperti yang diperkirakan, tidak ada teman sekolah Dina yang datang.


“Sebelumnya, apa yang akan kami ceritakan mungkin akan membuat kalian terkejut, marah atau bahkan tidak percaya. Tapi, kami berusaha menceritakan semuanya dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya, berusaha tidak menambah atau mengurangi.” Aditia memulai, mereka berkumpul di ruang tamu tanpa bangku karena baru saja selesai tahlilan.


“Silahkan.” Kakak tertuanya Dina berkata.


“Dua minggu yang lalu terjadi kecelakaan di jalur Tol arah Bandung ke Jakarta, beberapa orang meninggal dunia, penyebabnya adalah, sesosok arwah wanita dengan mata bolong dan tubuh penuh darah.” Ibunya Dina menangis, dia sepertinya tahu, kemana arah omongan ini akan berlanjut.


“Teruskan, Mas.” Kakaknya masih tenang.


Aditia harus menceritakan secara detail bagaimana kondisi Dina, dengan begitu mereka akan berusaha membantu menyelesaikan permasalahan Dina.


“Kami menemuinya secara paksa.”


“Kok bisa?”


“Kami ini 5 sekawan yang mengurus arwah tersesat yang tidak tahu jalan pulang, kebanyakan arwah lupa, ada juga yang tidak rela, sisanya bingung. Pada kasus Dina, dia tahu kuburannya, tahu rumah orangtuanya, sisanya tidak ingat.”

__ADS_1


“Kalian … dukun?”


“Bukan! Kan, sudah kami bilang, tidak ada tarif untuk menyelesaikan masalah ini, bisa saya lanjutkan?” Aditia kesal.


“Baik, maaf.”


“Jadi saat ini, arwah Dina masih bersama kita, di rumah ini.”


“Ya Allah … ya Allah ….” Ayahnya Dina tiba-tiba berkata dengan sangat menyayat hati begitu tahu arwah putrinya masih di sini.


“Darimana kami tahu kalau kalian tidak bohong?” Lagi-lagi kakaknya Dina bertanya.


“Kau pernah mencuri uang ibumu dulu ketika berumur lima belas tahun, jumlahnya dua belas ribu, hanya Dina yang tahu, kau menaruh uang itu di bawajh tempat tidur, ibu dan ayahmu tidak tahu sampai saat ini. Hanya Dina yang tahu.” Kakaknya terlihat sedih mendengar itu.


“Tapi itu tidak cukup!” Kali ini Rahma kakak keduanya yang dari tadi diam akhirnya berbicara.


“Rahma, kau masih suka mencuri manga di kebun pak Abdulah? Habis itu kau selalu mengupas manga itu memberikan potongan terbesar untuk Dina dan sisanya dirimu, kau sangat suka mangga, tapi kau lebih sayang adikmu.” Aditia kembali mengatakan apa yang Dina katakan.


“Astagfirullah, itu benar, hanya adikku yang tahu aku selalu memotong mangga lebih besar untuk dia. Astagfirullah!” Rahma menangis sejadinya.


“Anakku ada di sini?” Ibunya bertanya.


“Iya, ada.”


“Apakah dia begitu kesakitan?”


“Tidak bu, arwah tidak merasakan sakit.”


“Bantu dia, Nak, kami akan melakukan apapun agar dia bisa pergi dengan tenang.”


“Kalau sekolah, kami bisa berikan infonya, saya akan tulisa alamat sekolah Dina dan Yuni.” Ibunya mengambil kertas dan pulpen lalu mencatat alamat sekolah.


Setelah menceritakan itu, Aditia dan Alka harus pulang, karena sudah malam, mereka memutuskan istirahat dulu sebelum besok memulai pencarian.


Sementara di tempat lain, Jarni masih tertidur dengan nyenyak di gua Alka, bersama Hartino, Ganding masih dalam perawatan karena terluka kemarin.


Hartino mencoba mencari cara melalui dark web tentang penyembuhan ajian wahita ini, tapi masih belum mendapatkan cara yang paling manjur.



Sudah pagi, Aditia dan Alka janjian ketemu di sekolah SMU Dina dan Yuni, mereka kemungkinan akan menggunakan ‘kemampuan’ untuk mendapatkan informasi secara cepat.


Alka datang menyamar sebagai ibunya Dina, sementara Aditia menjadi diri sendiri tapi menyamar menjadi Polisi, mereka harus memiliki alasan yang kuat untuk meminta informasi, Pak Dirga sedang menyelidiki hal lain sehingga membagi tugas dengan Aditia.


“Saya turut berduka cita ya, Bu, kami tidak tahu bahwa Dina sudah tiada, apa yang bisa kami bantu.” Wali Kelas Dina dulu setuju bertemu dengan mereka, serta mengajak Wakil Kepala sekolah.


“Saya datang ke sini karena butuh informasi teman-teman Dina, saya tidak punya nomor telepon mereka sama sekali, Bu. Kematian Dina dicurigai sebagai tindak pembunuhan, ini Pak Polisi yang akan membantu kita mengusutnya, maka dari itu, kami membutuhkan nomor telepon teman dekat Dina.” Alka yang menyamar menjadi ibunya Dina berkata.


“Baik, kami akan mencari di buku tahunan, karena kalau lulus-lulusan sekolah kita pasti membuat buku tahunan, di sana biasanya ada nomor telepon siswa yang bisa dihubungi.” Wali Kelas beranjak dan mencari buku itu di lemarinya.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Wali Kelas kembali dan memberikan buku itu pada Alka yang menyamar, Alka membuka lembar demi lembar hingga menemukan foto Yuni.

__ADS_1


Alka lalu meminta Aditia memfoto lembar yang  ada foto Yuni dan biodata Yuni, lengkap dengna alamat dan nomor telepon.


“Baik, ini sudah sangat membantu sekali, kami akan segera meminta keterangan yang bersangkutan, dari Yuni, kita bisa tahu, siapa saja yang harus kita selidiki.” Aditia dan Alka yang menyamar akhirnya pamit pulang.


Mereka sudah di mobil, Alka sudah berubah wujud menjadi dirinya kembali, wanita muda yang sangat cantik.


Aditia mulai berkendara menuju rumah Yuni, tidak lama sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sampai, Yuni ada di rumah. Begitu mendengar kabar tentang kematian sahabatnya, dia menangis sesegukan.


“Pantas sudah dua minggu ini saya kirim pesan singkat, dia tidak pernah balas, saya kira dia sibuk kerja, tapi ternyata ….”


Alka dan Aditia menyamar lagi dengan identitas yang sama seperti bertemu Wali Kelas.


“Apakah kamu tahu, Dina akan kerja dimana? Atau bertemu dengan siapa saat melamar pekerjaan itu?” Aditia bertanya.


“Tahu, dia katanya akan melamar menjadi TKW, dia mau kerja di Jepang, jadi Perawat, dia itu kan, lulusan Akper, gaji di sana besar, makanya dia mau kerja di sana. Tapi harus belajar bahasa Jepang dulu tiga bulan, dua minggu lalu, dia mau interview, perusahaannya … sebentar, saya ambil handphone saya dulu ya, dia pernah kasih tahu nama PTnya.”


Yuni masuk ke dalam kamar dan keluar membawa handphonenya, dia lalu menunjukan chatting terakhir dengan Dina, begini isi chattingnya.


[Gue deg-degan nih, besok interview.] Pesan singkat dari Dina.


[Santai aja, elu, kan, pinter, bisalah pasti.] Yuni menjawab pesan itu.


[Tapi harus belajar bahasa Jepang dulu, gue takutnya nggak bisa.] Balas Dina.


[Bisa, banyak doa, jangan telat besok ya., mau dianter? Di PT apa sih?]


[Iya, gue besok jam delapan jalan, nggak usah, pergi sendiri aja, PT. Maju Bersinar Raya, itu yayasan TKW bagus sih, mereka nggak pakai uang daftar, tapi nanti ada potongan gaji. Nggak usah dianter, gue dijemput nanti.]


Dijemput ….


Percakapan via pesan singkat hanya sampai disitu saja, rupanya Yuni ketiduran saat chatting, jadi dia tidak sempat bertanya Dina dijemput siapa.


“Apa Dina punya pacar?” Aditia bertanya lagi pada Yuni.


“Punya, tapi  kerjanya jauh, di … tengah laut, tapi di mana ya, lupa, pokoknya kilang minyak gitu, pulang setahun sekali, nggak tau deh, sekarang udah pulang atau belum. Harusnya dia pulang saat libur raya,” Jawab Yuni.


[Pacar? Kok orang tua Dina tidak pernah kasih tahu soal kekasih Dina ini?] Dalam hati Alka bertanya, tidak mungkin dia berkata sepeti itu, karena sedang menyamar menjadi ibunya Dina, kemungkinannya hanya satu.


“Pacar? Dina tidak pernah cerita.


Yuni menutup mulutnya, sadar karena telah keceplosan.


“Maaf Bu, maaf, Dina emang sembunyi-sembunyi pacarannya, karena ….” Benar saja, Dina tidak pernah cerita, makanya orang tuanya tidak tahu, kalau tidak tahu punya pacar pasti tidak cerita pada Alka dan Aditia, untung tebakan Alka benar.


“Karena apa?” Alka yang menyamar bertanya.


“Karena … dia sudah punya istri dan anak.” Yuni terpaksa harus mengatakan itu, sahabat dekat memang selalu lebih tahu dibanding keluarga, bahkan orang tua.


Ini akan semakin sulit buat Alka dan Aditia, tersangka pembunuhan akan semakin lebar.


Sekarang yang harus mereka temukan adalah yayasan tempat Dina akan melamar pekerjaan dan yang kedua adalah menemukan pacar Dina.

__ADS_1


Tersangka bisa jadi siapa saja.


Menurut kalian siapa?


__ADS_2