
“Selesaikan hubunganmu dengan wanita itu.” Badrun berkata dengan kasar pada anaknya Yoga.
Mereka sedang di ruang kerja Badrun di kantor Polisi, ada papa mertuanya juga di sana.
“Apa maksud Papa? Aku tidak paham.” Yoga masih berusaha mengelak.
“Perempuan catering itu, putuskan hubunganmu dengannya!” Badrun kembali mempertegas perkataannya.
“Aku tidak punya hubungan apapun dengan wanita itu!” Yoga masih menyangkal.
Papa mertuanya yang sedari tadi diam saja, akhirnya mendekati Yoga yang duduk di hadapan Badrun terpisah meja, sedang papa mertuanya duduk di belakang mereka, di sofa mewah ruangan itu.
Papa mertuanya lalu melempar foto yang sudah dicetak, foto yang memperlihatkan kemesraan Yoga dengan wanita catering itu. Ada foto wanita itu bersandar pada bahu Yoga, lalu ada foto Yoga tersenyum sembari mempersilahkan wanita itu masuk ruangan kerjanya. Ada lagi beberapa foto kalau mereka berdua saling berpelukan.
“Sudahlah, mengaku saja, kita ini sama-sama lelaki, aku tahu bagaimana nakalnya mata dan nafsumu, kita semua tahu fase ini pasti akan datang pada setiap pria. Tapi jangan pernah stay di satu wanita simpanan, karena itu akan membuatmu terikat! Kalau mau main, yang pintarlah.” Papa mertuanya memang bukan lelaki bijaksana, orang yang sudah terpapar uang haram, banyak memiliki pemikiran buruk. Menjadikan wanita hanya sebagai alat untuk melampiaskan nafsu saja, rendah sekali mereka memandang wanita.
“Aku … aku ….”
“Putuskan hubungan dengan wanita itu, aku akan kenalkan tempat yang aman untukmu bermain, ingat ini, mereka hanya mainan, jangan kau bandingkan dengan anakku, main yang bersih, jangan pernah bodoh hanya karena 1 wanita saja.” Papa mertuanya berkata lagi.
“Apakah istriku benar anakmu?” Yoga tertawa.
“Tentu saja, tapi aku dan kita semua yang hadir di tempat ini adalah orang-orang yang sudah dewasa, paham akan hal ini, paham bahwa ini semua soal kodrat yang Tuhan berikan, seorang lelaki tak pernah mampu untuk mengendalikan nafsunya, tapi bisa menaruhnya di tempat yang tepat.”
“MAKA AKU MENARUH NAFSUKU HANYA PADA ISTRIKU SAJA!” Yoga berteriak dengan kencang dan meninggalkan tempat itu.
“Aku tidak yakin dia selingkuh.” Badrun berkata dengan lemah.
“Pak, kita ini berteman sejak muda, kau tahu kelakukanku dan aku tahu kelakuanmu, bagaimana dulu kita menguasai pasar dan bagaimana dulu kita selalu berbagi malam dengan para gadis, lalu kita perlahan naik, kau menjadi Polisi yang hebat dan aku menjadi pengusaha yang kaya raya, kita berjanjin untuk menjaga persahabatan ini dengan baik, menikahkan anak kita hanya agar kita bisa tetap saling menjaga milik kita, maka sekarang, kau tak perlu bersikap munafik di hadapanku, kawan.
__ADS_1
Aku marah karena anakmu mengkhianati anakku, tapi aku bukan malaikat yang memang tidak punya dosa, maka aku takkan menghakiminya, hanya pastikan anakku bahagia dan tidak pernah tahu perselingkuhan itu.” Papa mertua Yoga mengingatkan, betapa hitamnya mereka sebagai seorang pria yang sudah menjadi suami dan juga ayah.
“Aku akan pastikan kalau dia selesaikan dengan wanita itu, karena aku tak ingin dia digunakan untuk menjatuhkan kita.”
“Itu bagus, tapi jangan terlalu keras, biarkan dia menyelesaikan sendiri, kalau semakin keras, nanti mereka jadi terpacu untuk membangkang. Makanya aku bilang padanya, jangan stay di satu perempuan saja.”
Papa mertua Yoga lalu akhirnya pamit dan meninggalkan Badrun dengan rokok kretek di tangannya.
Sementara Yoga kembali ke tempat kerjanya, dia harus ke kantor itu karena ada begitu banyak hal yang harus dia kerjakan.
Saat sedang bekerja, tak terasa malam tiba, ternyata sudah larut malam, banyak pegawai kantor sudah pulang, dia hendak pulang tapi saat dia sedang membereskan meja dari semua kertas laporan, dia melihat seorang wanita masuk ke kantornya.
“Wulan, ada apa?”
“Pak, makan dulu, bapak kan belum makan malam.” Wulan perempuan catering itu memberikan semangkuk sayur sup dan juga nasi panas.
“Oh ya, terima kasih, kebetulan sekali saya belum makan, terima kasih.” Lalu Yoga duduk kembali dan menerima nampan berisi sayur sup yang lengkap dengan nasi.”
“Ya, itu nggak seberapa dengan perjuangan kamu yang akhirnya diperbolehkan orang tuamu untuk sekolah lagi, kejar cita-citamu setinggi langit ya, jangan mau dianggap rendah hanya karena kau perempuan dan tidak berpendidikan, kelak kalau kau akhirnya bisa mencapai cita-citamu, bantu semua orang yang butuh ya, jangan jadi serakah karena uang.
“Ya, Wulan ingin seperti bapak, bisa bantu orang dan punya hati yang baik. Bapak itu anak orang kaya, tapi kerja kerasnya melebihi orang-orang yang hidupnya susah, lihat saja, semua orang sudah pulang, bapak masih di sini bekerja.”
“Ya, itu karena tanggung jawab Wulan, bapak tidak ingin tanggung jawab yang diberikan kepada bapak jadi berantakan, ini pembuktian, masalah anak-anak dari orang tua yang kaya, keberadaan mereka itu dianggap sepele, tidak punya power dan tidak boleh mengendalikan diri mereka sendiri, sepanjang hidup, aku hanya harus mengikuti apa yang orang tuaku katakan, maka aku hanya menjalani tanggung jawab ini agar orang tuaku tahu, aku juga ingin dianggap.” Yoga terbiasa membicarakan masalah keluarganya pada gadis muda yang dewasa dan baik hati ini, Wulan bilang ingin sekolah tinggi supaya bisa jadi guru di kampung rumah orang tuanya, makanya Yoga bantu dia untuk bisa kuliah, karena pekerjaannya yang hanya seorang wanita catering, dia tak punya cukup uang untuk kuliah.
Maka Yoga mencarikan sponsor setelah Wulan bekerja keras belajar dengan sungguh-sungguh dan akhirnya bisa masuk universitas.
“Wah berat ya pak ternyata jadi anak orang kaya.”
“Nggak juga, jadi apa aja juga berat selagi kita manusia, karena manusia itu dituntut untuk selalu produktif, bahkan ayahku masih saja kerja keras setelah apa yang dia miliki saat ini.”
__ADS_1
“Ya, Wulan kagum dengan Pak Badrun dan juga Pak Yoga, karena kalian dua orang yang sangat hebat, kerja keras dan tanggung jawab.”
“Wulan, maaf ya, mungkin banyak orang yang menyangka hubungan kita itu hubungan yang terlarang, mereka itu hanya orang-orang yang berpikiran busuk tentang kita, padahal kita bukan seperti yang otak kotor mereka bayangkan, kamu harus sabar ya.”
“Justru Wulan ingin minta maaf karena membuat bapak jadi susah, kalau saja bapak nggak bantu Wulan kemarin saat ayah Wulan sakit dan kritis, hingga bapak berusaha menenangkan Wulan, takkan ada yang menggunjingkan kita, maaf Wulan waktu itu menangis dan tak sadar memeluk bapak, tapi jujur, bagi Wulan, bapak itu seperti kakak Wulan sendiri, pengganti orang tua, tapi Wulan tak tahu, kalau berpelukan itu menjadi senjata untuk menjatuhkan bapak dan akhirnya membuat bapak terhina, karena digunjingkan punya simpanan wanita catering seperti Wulan.”
“Sudah, tak perlu dipikirkan, Wulan fokus saja ya, ini supnya enak sekali, sangat enak, kamu memang berbakat, bapak pulang dulu ya.” Lalu Yoga pulang dan membiarkan Wulan membereskan makan malam orang yang sudah dia anggap sebagai mentornya, tak terbesit sedikitpun dalam bayangannya untuk menjadikan mentornya sebagai lelaki idamannya, tak ada khayalan liar dalam pikiran Wulan, pun begitu dengan Yoga. Dia hanya berterima kasih karena Yoga selalu menolongnya. Yoga pun tidak pernah mengambil kesempatan sama sekali.
Saat dia hendak keluar dari ruangan kerja Yoga, tiba-tiba dia melihat seorang pria masuk, pria tua yagn dia kenali.
“Pak, Pak Yoga sudah pulang.” Wulan hendak keluar setelah memberitahu itu.
Tapi lelaki itu menutup pintu dan menguncinya, Wulan masih di dalam, di hadapannya dengan memegang nampan.
“Kau memang cantik, pantas saja anakku suka denganmu, pasti sulit baginya untuk melepasmu karena kecantikan dan makan yang kau sajikan itu, pasti kau bumbui dengan pelet bukan?” Lelaki itu menuduhnya.
“Demi Tuhan Pak, tak sekalipun saya pernah menggoda pak Yoga, begitu juga Pak Yoga, tak sekalipun dia pernah menggoda saya.”
“Brengsek, masih berani kau mengucapkan nama Tuhan untuk mulut kotormu itu, kita lihat, apakah setelah ini kau masih akan tetap bisa bersama anakku lagi!” Lelaki itu lalu mendekati Wulan, sementar Wulan mundur ketakutan.
…
“Aku sudah makan.” Yoga lalu hendak tidur setelah mandi, dia lelah sekali dan ketika istrinya menawari makan malam, dia menolak.
“Apa perempuan itu sudah membuatmu kenyang dan puas di luar sana?” Tiba-tiba istri Yoga marah.
“Jangan mulai lagi, aku lelah.”
“Aku lebih lelah karena menunggumu pulang untuk makan bersama, tapi kau malah sibuk di luar sana!”
__ADS_1
“Jangan berbicara seolah kau ini wanita yang benar ya.” Yoga lalu masuk ke kamar setelah mengatakannya.