
Pagi tiba, Gea sudah dibangunkan oleh seorang Dokter yang mendampingi, ada seorang Polisi yang kemarin menawarkan penyelesaian dengan bantuan Balian. Suaminya Gea dan juga adiknya ikut mendampingi.
Gea masih dalam keadaan diikat pada kaki dan tangan. Gea bangun dengan tatapan kosong, dia tidak berkata apapun, hanya menatap kosong ke depan.
Balian sudah ada di sana, dia memperhatikan Gea dengan seksama, dia terlihat bingung karena wanita ini sungguh terlihat sangat pucat dan tidak ada aura kehidupan di sana, tidak seperti pengantin baru yang sedang bahagia karena pernikahan yang baru saja dimulai.
Balian menyiapkan tirta yang diambil dari Tirta pada suatu tempat yang sangat , katanya tirta itu adalah air yang dapat menyucikan, sedang orang yang kerasukan, kebanyakan karena mhati mereka tidak suci, sehingga mudah dirasuki.
Tapi sayang, saat air itu di cipratkan ke tubuh Gea, Gea yang sudah sadar hanya terdiam dengan lemah, dia menatap kosong ke depan.
Karena tahu ini tidak ampuh, maka Balian mengambil setangkau daun kelor, juga daun pulau dan uga daun ilalang, daun itu direndam dalam tirta yang tadi dicipratkan, kemudian tiga daun yang katanya mampu mengusir ruh jahat itu dipukulkan ke bagian punggung serta tengkuk Gea.
Gea masih tidak bereaksi.
"Kalian tahu, tidak ada satupun jenis setan yang tidak takut pada tirta dan juga daun yang telah dimantrai. Tidak ada pengaruh pada manusia yang suci. Bahkan jika saja aku pukulkan daun ini padamu, ke sini kau." Balian itu berkata pada suami Gea, lalu suaminya berjalan mendekat, Balian meminta Anto itu mengulurkan tangan, dia lalu memukul daun yang dimantrai dan sudah terendam tirta suci itu, setelah daun-daun itu dipukulkan, maka suaminya kesakitan, merahlah tangannya, "lihat kan, kau saja merasakan sakit, karena hakikatnya manusia itu tidak ada yang suci, karena dosa. Apalagi jika ada setan dalam tubuh istrimu, harusnya dia menjerit seperti orang terbakar, tapi dia diam saja, tidak ada yang dia rasakan sama sekali."
Polisi yang ikut menghadiri pengusiran itu terkejut, dia mengerti maksud Balian.
"Maksudnya, tubuh istriku suci begitu?" Anto bertanya karena tidak paham.
"Atau telah disucikan."
"Maaf Pak, saya tidak mengerti keyakinan anda semua, tapi bagaimana kerasukan dan juga mimpi yang sudah saya ceritakan itu membuat istri saya menjadi suci, sementara ...."
“Dalam kepercayaan kami ada begitu banyak rupa dan wajah yang terlihat sangat mengerikan tapi tidak jahat, seperti kami membuat ogoh-ogoh, makhluk yang memiliki tubuh dan juga wajah paling menyeramkan, filosofi penciptaannya adalah, Ogoh-ogoh diciptakan sangat besar dan dengan wajah paling menyeramkan di antara wajah paling seram, karena untuk mengusir para setan-setan kecil, yang diharapkan akan ketakutan begitu melihat sosok ogoh-ogoh.
Maka dari sini kita paham, bahwa di Bali itu berbeda, tidak semua yang menyeramkan adalah yang jahat, tidak semua yang hitam dimaksudkan untuk kejahatan, bisa jadi kejahatan itu harus diusir dengan yang paling jahat, ini konsep Ogoh-ogoh.
Berkenaan dengan istrimu, jujur, ini adalah hal pertama yang saya temui, bagaimana mungkin seorang istri yang telah melewati malam pertama dengan suaminya, tetap menjadi suci, apalagi seperti yang kau katakan bahwa, kau bermimpi istrimu telah dilecehkan oleh sesosok yang sangat mirip denganmu. Maka tubuh istrimu seharusnya tidak suci lagi, maupun jiwanya, jika saja memang tubuhnya telah disucikan, maka jawabannya hanya 1.”
“Apa itu?” Anto bertanya.
“Istrimu telah dinikahi oleh ... salah satu Dewa keramat di sini.”
Anto terdiam, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Kalau itu terjadi, tidak ada yang bisa kita lakukan, karena kalau Balian sampai mampu melepas istrimu dari pernikahannya dengan Dewa, maka kemungkinan bala akan muncul. Bisa hanya untuk Balian, bisa juga untuk para warga di kota ini.”
“Omong kosong macam apa itu?” Anto tidak mau menerima, satu hal yang Anto tidak paham, bahwa Bali punya adat dan budaya yang harus dihormati, maka ketika Balian saja tidak mau menolong, mereka bisa apa.
“Kami memiliki metode penyembuhan yang sama, yaitu penyucian tubuh dan jiwa, tapi kalau tubuh dan jiwa istrimu sudah suci, kami tidak tahu penyakit macam apa yang harus kami sembuhkan, sedang dalam dunia ghaib yang kami anut, istrimu lebih dari sehat. Dia bisa dibilang termasuk sakti mandraguna.”
Anto terdiam, dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Lalu apakah kami harus diam saja dengan keadaan kak Gea, Pak? Apa kami harus mempersembahkan tubuhnya untuk Dewa yang kau maksud?” Adiknya Gea kesal dan berbicara dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Kami sudah tidak lagi mempraktekkan tumbal menumbal, itu sudah lama nenek moyang kamitinggalkan. Tapi kedatangan Dewa bisa saja terjadi setiap saat. Bisa jadi untuk membantu kami dalam bencana, hanya saja kedatanganmu dan istrimu itu tidak tepat waktu. Sehingga ketika Dewa kami turun ke bumi dan melihat istrimu yang cantik jelita, lalu terpanalah Dewa kami, itu yang tidak bisa kami prediksi, jika kau bilang istrimu sempat kabur dan berlari seperti kera ... maka kutebak, saat ini, istrimu adalah istri dari Hanuman.”
Anto tertawa dengan sangat keras, dia tidak mau percaya, Hanuman? Dia bahkan menonton legenda itu dan menertawakannya, sekarang dia harus menanggung bahwa istrinya telah direbut oleh seorang Dewa. Takdir apa ini!
“Apakah istriku tidak bisa diceraikan saja oleh Dewa kalian? Karena aku tidak mungkin menceraikannya.” Anto lemas dan ikut masuk ke dalam skema yang Balian katakan.
“Aku tidak punya jawaban, karena aku hanya terbiasa melakukan penyucian pada jiwa dan tubuh yang kotor, bukan melakukan sebaliknya, yaitu mengotorkan jiwa yang suci.” Balian itu menolak dengan halus.
“Kau tidak bisa bantu aku?” Anto bertanya pada Balian sambil memegang bahunya dengan keras.
“Tidak bisa, karena ini bukan jalan yang biasa aku tangani, pun mungkin juga para Balian di kota ini.”
Lalu Balian itu pamit pergi, sedang Pak Polisi dan juga Dokter masih di sana.
“Pak Anto, kalau memang Balian tidak bisa bantu, sebenarnya saya masih punya 1 cara, tapi ini jarang sekali dilakukan, mereka kami panggil jika hanya ada gabungan ritual pada hari-hari besar tertentu.” Pak Polisi itu menjelaskan.
“Apapun Pak, saya mohon, saya benar-benar ingin istri saya sembuh, harta, jiwa kalau perlu akan saya berikan. Dia wanita baik Pak, dia menunggu saya sukses dulu, tidak pernah merengek sama sekali menunggu saya nikahi, lalu saat saya sudah sukses, sudah punya uang cukup, kami menikah dan sekarang dia malah sakit, saya tidak punya tujuan apapun dalam hidup ini selain membahagiakan istri saya.
Saya tidak peduli walau istri saya memang telah dikawini oleh Dewa yang telah kalian sebutkan tadi. Untuk saya, dia tetap istri saya yang suci, sejak saya nikahi sampai sekarang. Saya mohon bantu saya Pak.”
“Di kota ini ada perkampungan islam, di mana semua warganya islam, mereka adalah minoritas di sini, saya mendengar bahwa mereka bisa bantu orang-orang yang sakit karena hal yang tidak wajar. Tapi mereka jarang menangani orang kami, karena orang kami punya cara yang berbeda. Saya tawarkan karena kalian bukan dari kota ini, jadi siapa tahu, memang bukan kami jawabannya.” Polisi itu menjelaskan.
|
|
|
“Dit, ayolah, kita kan sudah janji.”
“Tidak Har, itu ustad gagal, trus Balian gagal, sekarang mau panggil si Jajat pasti, sudah pasti gagal makanya Jajat minta pertolongan kita, Hartino dan kalian semua, saya mohon dengan amat sangat, kita tolak saja kasus ini. Ingat, daftar kasus kita sudah sangat banyak, belum lagi yagn tidak tercatat ayahku.
Jadi aku mohon pada kalian, berhentilah, kita tolak saja.”
“Dit ... tidak adakah rasa kasihanmu melihat seorang wanita yang sangat baik hatinya, bertahan pada suaminya padahal dia mungkin bisa bahagia dengan lelaki lain, tapi dia tetap bersama lelaki itu, walau pada akhirnya menikah, dia harus menderita seperti ini. Sungguh terlalu kalau kita diam saja Dit.” Alisha ikut berpendapat.
“Alisha kau sudah pernah ke Bali?” Aditia bertanya.
“Sudah, tapi dulu sebelum aku menganut ilmu hitam dan memelihara Esash. Setelah itu tentu aku tidak bisa ke sana.”
“Sudah tahu kan kenapa kita tidak bisa ke sana?” Aditia bertanya lagi pada yang lain, khususnya kepada Alisha.
“Ya, karena akan ada tarik-tarikan energi, pertarungan khodam dan Karuhun serta perebutan kekuasaan, karena kita mendatangi daerah yang sangat tinggi magisnya.” Alisha menjawab dengan enggan.
“Tuh tahu, kita akan kesulitan bahkan sebelum kita sampai pada wanita itu. Kita akan kelelahan di sana karena harus tunduk pada ‘mereka’ karena kita yang memaksa masuk.”
__ADS_1
“Tapi Jajat bilang dia akan mendampingi kita melakukan ritual, sehingga kita tak perlu bertarung.” Hartino membela istrinya.
“Tetap saja, kau tahu ritualnya Kan Har! Kita harus melakukan hal yang melanggar apa yang agama kita ajarkan, kita harus ikuti apapun yang mereka ingin kita lakukan agar bisa masuk daerah mereka.
Kita harus menyamar menjadi bagian dari mereka, agar bisa masuk ke sana. Kita harus mandi di tempat-tempat suci agar bau kita menjadi mirip dengan mereka dan tentu saja ini bertolak belakang dengan prinsip kita, bahwa kita tidak mengikuti apa yang ‘mereka’ mau, pantang bagi kita mengikuti apa yang melanggar kebiasaan dari apa yang kita yakini, Har.”
“Tapi Dit, kau tahu kan, betapa banyak kisah yang diajarkan agama kita, bahwa jika itu soal hidup dan mati seseorang, maka kita boleh saja menolong, asal tidak membuat kita menjadi murtad.
Soal peraturan itu, kupikir kau salah, kita bisa minta keringanan dengan tidak melakukan ritual karena sebenarnya ini kan mereka yang minta tolong, bukan kita yang ingin ke sana, tapi ini adalah permintaan tolong dari mereka. Maka kita bisa saja meminta syarat.” Ganding memberi jalan tengah, cara berpikir jenius memang berbeda.
“Itu lagi, kau tahu kan kita tak mengambil keuntungan dari sana.”
“Mana ada aku akan meminta syarat untuk uang Dit, keuntungan dari mana!” Ganding kesal mendengar Aditia seperti menuduhnya akan meminta uang.
“Kenyamanan yang akan kita minta sebagai syarat, apakah itu bukan keuntungan bagi kita Nding? Kita sengaja meminta syarat agar nyaman, kau tidak merasa malu meminta itu, bukankah itu hal yang paling kita hindari, bukan karena mentang-mentang memiliki kemampuan, kita jadi sombong dan seenaknya minta syarat ini itu.”
“Tapi ....” Ganding sulit membantah, karena apa yang dikatakan Aditia itu benar.
“Jadi kita akan menolaknya?” Hartino bertanya lagi.
“Ya, kita akan menolak.” Aditia tegas mengatakannya.
“Ini masih ada beberapa video loh, Dit.” Hartino masih mencoba.
“Tidak, tidak perlu, aku tidak mau melakukannya, kita akan menolak!”
“Baiklah, aku akan menghubungi Jajat, kita akan menolaknya.” Hartino mengalah.
...
“Bagaimana, apa mereka setuju?” Anto bertanya, karena sudah 3 minggu mereka di Bali dan belum ada perubahan sama sekali pada Gea, biaya penginapan sudah sangat membengkak, tapi Anto tidak peduli, adiknya bahkan sekarang menginap di kamar yang sama untuk membuat tagihan kamar jadi lebih murah karena hanya 1 kamar saja.
“Mereka belum menjawab.”
“Tapi Pak Jajat, perut istriku semakin membesar.”
“Bersabar ya Pak, mereka itu memang benar-benar orang yang paling mungkin bisa menolong kalian, tapi mereka tidak bisa menjangkau Bali, karena sulit bagi mereka ke sini, dulu kakek nenekku ke sini saja mereka kesulitan, sangat sulit bisa berdamai dengan ‘mereka’ para penguasa di kota ini, maksudnya bukan pemerintah, tapi kerajaan ghaib yang ada di sini.
Makanya begitu kami bisa damai dan diizinkan ke sini, kami hampir tidak pernah ke luar dari kota ini, kecuali liburan saja.
Karena akan sulit kembali ke sini sekali kami pergi lagi.”
“Pak, saya tidak paham, saya hanya merasa, istri saya sudah sangat kesakitan, perutnya membesar dari hari ke hari, kita juga tidak ke Dokter untuk memeriksa karena tahu itu akan sia-sia. Bidan yang datang saja tidak bisa mendeteksi denyut jantung apapun dari perut istriku, karena kita semua tahu, dia tidak sedang hamil bayi ... biasa.”
“Bersabar, tunggu satu hari lagi, tunggu satu hari lagi Pak.”
__ADS_1