Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 424 : Bulan Madu 22


__ADS_3

Kawanan menuju lokasi yang diberikan oleh petugas hotel itu, mereka naik mobil yang disediakan oleh hotel, wanita petugas hotel itu ikut dalam mobil. Dia katanya mencari alasan pada atasannya, akan menemani tamu dengan mobil itu.


Tentu Saja kawanan juga setuju membayar biaya pura-pura pergi ke tempat wisata menggunakan jasa hotel itu.


Butuh waktu sekitar 4 jam baru mereka sampai tempat itu, cukup terpencil, karena rumahnya dikelilingi oleh pohon-pohon besar, tidak bisa dibilang hutan, tapi jarak antara satu rumah ke rumah lain memang sangat jauh, melewati persawahan, ada juga perkebunan, sungguh rumah khas pedesaan.


“Kita sudah sampai, kalian bisa tanyakan apapun yang kalian ingin ketahui padanya.”


“Aku ingin kau ikut.” Ganding berkata, wanita itu akhirnya setuju untuk ikut, sedang supir hotel disuruh menunggu saja di mobil.


Petugas wanita itu mengetuk pintu pemilik hotel yang sebenarnya, seorang pria dengan rambut sebahu berwarna putih semua. Rambut itu dibiarkan tergerai, badannya juga sangat kurus, umur rentanya sangat terlihat.


“Kalian … sudah aku tunggu, dulu ayahmu juga ke sini, tapi mungkin sekarang aku akan berbeda.”


Kawanan tampak bingung karena mereka tidak paham dengan ucapan lelaki ini, tapi mereka tetap ikut, tidak merasakan apapun yang membuat mereka harus waspada, suasana di rumah ini asri, mereka semua sampai di tempat itu siang, tapi udara terasa sejuk dan matahari mengenai tubuh mereka dengan lembut, bahkan tidak ada keringat, saat mereka harus keluar dari mobil dan akhirnya mencoba masuk ke rumah pemilik hotel ini.


“Saya tidak bisa sediakan kalian kopi atau teh, saya hanya bisa menyediakan kalian air putih ini saja, pun kalau kalian percaya untuk meminumnya, minumlah. Kalau tidak,tidak perlu meminumnya.” Ucap pemilik hotel itu, dia terlihat sedang tidak sehat, karena dia batuk beberapa kali.


Aditia tanpa ragu menuang air putih dari teko plastiknya ke gelas kaleng yang memang tersedia di meja itu, tidak genap sesuai jumlah tamu, karena sepertinya memang tempat minum itu tersedia begitu saja, hanya untuk pajangan pada hari-hari lalu.


Setelah menuangnya, Aditia meminum air itu, memberikannya pada Alka, Alka memberikannya pada Jarni, Jarni pada Ganding , Ganding pada Hartino dan Alisha terakhir dengan gelas yang sama, air putih yang sangat segar.


“Mereka bilang aku melakukan pesugihan, karena aku hanya seorang seniman, memiliki sanggar tari. Darisanalah kami bertemu, aku dan ibunya Anggih.


Dia seorang Penari yang sangat mahir, wajahnya, tubuhnya dan kemampuan menarinya sungguh terlihat magis jika digabungkan, aku jatuh cinta padanya, pada pandangan pertama.


Hanya itu yang aku tahu pada awalnya, seorang wanita yang sangat cantik jelita, mahir menari.


Aku tidak tahu bahwa, dia bukan hanya penari yang handal, tapi dia … memiliki Dewa  yang disembah.


Dalam Hindu Bali, terdapat kepercayaan tentang konsep dewa yang disebut Dewata Nawa Sanga. Dewata Nawa Sanga merupakan wujud dari simbol swastika. Simbol ini digambarkan dengan bunga Teratai yang kembangnya bercabang delapan dengan dua garis silang dan tengah seperti arah mata angin.


Konsep Dewata Nawa Sanga diartikan sebagai sembilan dewa yang menguasai penjuru mata angin. Dewa-dewa tersebut mempunyai representasi dan ciri khas yang membedakannya dengan dewa-dewa lainnya.


Ada 9 Dewa yang mereka percayai menguasai 9 penjuru mata angin, dewa-dewa ini memiliki tempat pemujaannya masing-masing tersebar di Bali, banyak pengikut ajaran ini  tetap melestarikannya hingga saat ini.


Tapi ada 1 dewa yang mereka lupakan, dewa itu, bukanlah bagian dari 9 dewa tersebut, bahkan katanya dia telah diusir dari nirwana karena semua tingkah lakunya, dewa itu suka sekali berbuat segala macam keburukan, mulai dari mabuk, bermain dengan para dewi hingga mempertaruhan apapun untuk dipermainkan.


Nama dewa itu adalah ... Sak Gede!”


Kawanan terhenyak, persis seperti yang mereka bayangkan, bahwa ada yang berbeda dari apa yang mereka yakini, tentu dalam agama kawanan, konsep kedewaan tidak dapat dijadikan patokan, tapi konsep ghaib, adat dan budaya masih bisa ditelusuri.


“Tapi tidak ada satupun literatur mengenai dewa ini, bahkan namanya sama sekali tidak ada di kitab agama hindu Bali, tidak ada satupun cerita mengenai dewa ini.” Ganding berkata, dia sudah membaca seluruh literatur, baik kitab maupun artikel, tak ada satupun yang membahas mengenai nama ini.


“Ya, karena memang dia adalah dewa yang terusir, dewa yang tidak akan pernah dimasukkan ke dalam sejarah karena kejahatannya, tidak ada yang baik yang dapat diambil darinya, makanya dia adalah dewa terusir yang dilupakan.”


“Lalu bagaimana akhirnya anda mengenal nama ini, Sak Gede?”

__ADS_1


“Istriku yang penari itu, dia memuja Sak Gede.”


“Ibunya Anggih?” Aditia bertanya.


“Ya, ibunya Anggih, neneknya, buyutnya dan semua garis keturunan perempuan dari ibunya Anggih.”


“Di mana Anggih dan ibunya?”


“Sudah tidak di dunia ini lagi.”


“Sudah meninggal dunia?”


“Ya ....”


“Tapi dalam mimpiku Anggih baik-baik saja.”


“Mimpimu?” Lelaki itu bingung.


“Aku bermimpi Anggih adalah adikku, kami bermain, makan bersama, tapi kau seperti tidak merasakan kehadiranku, hingga aku membantu Anggih untuk mencuci piring, di sana aku melihat ibunya Anggih sedang latihan menari, kami melanjutkan untuk mencuci piring, lalu saat hendak kembali ke ruang makan itu kami ... melihat ibu ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat, entah siapa, apakah itu Sak Gede?” Aditia bertanya.


“Istriku penari yang handal, tapi bukan berarti dia tidak memakai cara-cara singkat untuk melakukan membuat dirinya semakin bersinar. Karena semua keluarganya melakukan itu, mereka memuja Sak Gede untuk mendapatkan kemampuan ... menggoda dengan lekuk tubuh, tidak heran, siapapun yang melihat istriku menari, mereka akan terpana, bahkan mungkin sampai terhipnotis.


Pernah terjadi hal yang sangat mengerikan karena itu, istriku menari tiga hari berturut-turut di sanggar kami, tempat dia latihan, di dalam rumah yang kau lihat itu.


Aku awalnya hanya melihat dia menari, tapi semakin aku lihat, semakin aku tak mampu memalingkan wajah, hinga tiga hari dia menari dan aku duduk terdiam, tanpa makan tanpa minum, kebiasaan ini hadir ketika ‘dia’ datang, dia datang untuk ...


Mengambil benih dalam rahim istriku.”


“Aku tidak tahu! Kalau aku tahu, aku takkan membiarkannya, bahkan aku takkan menikahinya, apalagi berani mencintainya. Tapi aku baru tahu setelah anak ketiga kami gugur dalam kandungan istriku.”


“Harus tunggu tiga janin gugur dulu, kamu baru sadar? Apakah istirmu tidak pernah bilang?”


“Mana mungkin dia bilang, karena dia mencintaiku dan juga dewa yang dia puja.”


“Lalu?”


“Ketika dia ditarik oleh Sak Gede, yang kamu lihat, itu mungkin ketika istriku hamil anak kelima kami, karena Anggih adalah anak ke empat yang aku paksakan istriku untuk selamatkan, aku memintanya melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan Anggih.”


“Lalu Anggih selamat? Bagaimana caranya?”


“Perjanjian baru, aku membuat perjanjian baru.”


“Wow, sungguh solusi yang luar biasa!”


“Aku belum bertemu ayahmu, coba saja aku bertemu dia sejak dulu, aku pasti sudah selamat, istri dan anakku pasti juga selamat.”


“Ayahku bukan Tuhan! Istri dan anakmu sudah memiliki takdir dari Tuhan.”

__ADS_1


“Tapi hanya ayahmu satu-satunya yang mampu menutup pura itu.”


“Pura? Vila?”


“Pura, itu bukan vila, tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi vila sejak awal. Itu adalah properti perjanjianku dengan Sak Gede, perjanjian baru, aku membeli tanah itu dulup ada awalnya, hanya tanah seluas vila itu, aku membangun pura besar di sana, pura untuk pemujaan Sak Gede.


Setiap dewa itu pasti mempunyai pura sebagai tempat pemujaannya, banyak ritual yang kami lakukan agar Sak Gede mau berada di tempat yang sudah kami siapkan sebagai puranya.


Sak Gede bersedia, aku sangat bahagia, istriku juga bahagia, anak kami juga bahagia, karena kehidupan ekonomi kami berangsur baik, 1 vila, menjadi beberapa vila lalu menjadi hotel.


Kami kaya raya hanya dalam waktu beberapa tahun, pura itu tetap kami pertahankan, kami pikir Sak Gede telah memihak kami, tapi kami salah, ternyata Sak Gede tidak pernah memihak kami, dia hanya senang menjadi objek pujaan kami.


Kami memberikan makanan dan segala persembahan yang dia minta, kami memenuhi semua yang dia inginkan, sampai suatu saat keinginannya menjadi sangat gila, dia bilang, dia ingin ... jiwa.”


“Perlahan jin jahat akan menjelma menjadi serakah bila diberikan apa yang dia inginkan. Tidak heran Sak Gede menjadi. Jelas dia bukan dewa, tapi iblis.”


“Aku berikan, aku membangun pura itu perlahan, jengkal demi jengkal dengan darah dan daging para karyawanku.”


“Jadi benar! Dulu itu kau dalangnya Pak!” Petugas hotel itu marah, karena dia adalah pegawai senior yang menyaksikan kejadian itu.


“Kau beruntung tidak masuk dalam permintaan Sak Gede, karena Sak Gede tidak suka wanita dengan jiwa yang hitam sepertimu.” Lelaki itu menghina pegawai hotelnya, kawanan tidak tertawa karena tahu, mereka juga harus menjadi licik untuk mendapatkan informasi yang seharusnya, bukan informasi yang dia karang sebelumnya, bahkan Ganding harus mengeluarkan dana cukup besar malam itu karena petugas hotel ini sungguh mata duitan.


“Bisa teruskan Pak?”


“Aku sudah menumbalkan begitu banyak orang asing, Sak Gede masih saja terus serakah, dia lalu meminta anak dan istriku, Anggih bahkan belum dewasa saat itu, dia masih anak-anak, aku membuat perjanjian pura di tanah itu dan membuat Anggih berhasil selamat di rahim ibunya, lalu ketika Anggih telah lahir, haruskah aku memberikan anak itu! aku tidak mau, aku dna istriku terus mencari cara hingga istriku tiba-tiba jadi pendiam.


Dia selalu menari di sanggar kami, walau rumah kami tidak di tempat dengan sanggar tari itu lagi, tapi dia selalu ke sana untuk menari.


Pada hari ke 33 dia menari, akhirnya Sak Gede mengambil istriku, mengambil ibunya Anggih bahkan tanpa aku ketahui, mungkin momen ini kau melihat istriku ditarik oleh Sak Gede, dia mengorbankan dirinya agar Anggih dilepaskan, aku melihat mata dinginnya, tubuh dingin dan kaku itu tergeletak, pucat pasi dan membiru, matanya melotot, memperlihatkan betapa takutnya dia pada apa yang dilihat, Sak Gede mungkin menampakkan dirinya ketika dia mengambil istriku.”


“33 Hari dia menari?” Ganding bertanya.


“Tidak, dia tidak menari, dia sedang melakukan ritual Nding.” Alisha berkata.


“Apa maksudmu, bagaimana kau tahu?”


“Rangda membisiku tadi, dia tahu itu adalah ritual, ritual memuja dewa, dilakukan oleh para penganutnya untuk meminta permintaan, dilakukan membujuk dewa agar turun dan mengambulkan permintaan dari penganutnya.”


“Betul, maka ritual tari memuja itu dilakukan untuk meminta nyawa anakku diselamatkan oleh Sak Gede. Lalu ....”


“Lalu dia mengambil istrimu dengan cara diseret seperti itu, seperti yang aku lihat?”


“Betul, dia diambil dariku dengan cara yang tragis. Anggih bahkan tidak aku biarkan melihat mayat istriku, aku hanya berkata padanya ibunya telah tiada karena serangan jantung, tidak dia mengerti saat itu, tapi aku ingin dia ingat ibunya sakit. Bukan dibunuh oleh dewa yang dia sembah.”


“Tapi kau salah, anakmu melihat saat ibunya diambil bukan? saat itu aku di sana bersama anakmu.”


“Ya, itu salahku juga yang akhirnya dikemudian hari, aku kehilangan Anggih karena kebodohanku, tidak sadar bahwa yang diincar bukan hanya istriku.”

__ADS_1


“Anggih tiada juga?”


“Ya, Anggih tiada saat ....”


__ADS_2