Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 41 : Akhir Mess


__ADS_3

Alka mengebut dengan kecepatan tinggi, lalu membawa Aditia ke rumah sakit. Begitu sampai Aditia dipapah ke UGD, ada perawat yang membantu mereka, seperti biasa, seorang Polisi akan dipanggil karena Aditia tertusuk keris.


Alka terdiam di depan ruang Operasi, dia tidak ingin beranjak sedikitpun.


“Kak, dia anak hebat kok, tenang ya,” Hartino merangkul kakak angkatnya, disusul Ganding dan Jarni. Mereka semua sudah berkumpul kembali di depan ruang operasi.


“Kita nggak usah kasih tahu Ibu dan Dita?” Ganding bertanya.


“Jangan, Aditia tidak mau masalah ini membuat orangtuanya sedih dan cemas. Kamu tahukan, bapak selalu bilang, jangan libatkan ibu dan Dita, karena mereka tidak boleh dilibatkan.” Alka berkata dengan nada panik.


“Iya Kak.” Adik-adik menjawab kompak.


Setelah operasi, Aditia akhirnya dibawa ke ruang perawatan, belum sadar, tapi sudah ada Polisi, lagi-lagi Polisi kemarin, Alka akan menanganinya.


“Kalian lagi!” Polisi itu seperti kesal tapi juga bersemangat, karena dia kemarin tidak percaya hal yang telah menimpa Akbar murni karena kelalaian, pasti ada sesuatu.


“Duduk dulu, Pak.” Hartino yang pandai masalah hukum mencoba mencairkan suasana, mereka duduk di sofa yang ada di ruang perawatan itu. Hartino yang membayar biaya rumah sakit, makanya Aditia bisa di ruang perawatan kelas VIP.


Mereka duduk di sofa, beberapa di bangku, petugas Polisi dua orang, tapi hanya satu yagn aktif bertanya.


“Jadi, jelaskan. Apa ini juga karena kelalaian kalian bermain pisau kaget lalu tertususk?” Pak Polisi itu mengejek.


“Kalau saya katakan seperti itu Anda akan percaya?” Alka yang duduk di sofa sebrang Polisi bertanya dengan nada mengejek juga.


“Jadi?” Pak Polisi tahu, dia menghadapi orang-orang pintar, jadi tidak bisa main-main.


“Aditia tertusuk ini.” Alka menyerahkan keris Aditia di meja, keris itu mini tapi terlihat sangat tajam, Alka sudah menarik kerisnya sebelum dia masuk ke UGD, karena takut keris itu diambil sembarangan oleh orang yang tidak tepat.


“Apa ini? kalian semacam sekte aliran sesat? Kalian menumbal Akbar dan Aditia!!!” Pak Polisi berdiri dengan dan berteriak, dia terlihat marah.


“Mana buktinya?” Alka bertanya dengan nada menantang.


“Ini kerisnya!” Pak Polisi menunjuk keris itu.


“Mana altar tumbalnya? Kalau kami mau menumbal, untuk apa membawa ke rumah sakit biar selamat?” Alka ikut kesal, saat mereka sedang bersitegang, tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu. Tampilannya gagah, cara jalannya sangat tegas, walau pakaiannya kasual.


“Bang! kok bisa di sini?” Pak Polisi kaget dan segera menghampiri orang tersebut, dia menyalami orang yang dia panggil abang itu.


“Iya, Aditia anak angkatku.” Lelaki itu menjawab.


“Jadi Aditia anak angkatmu, Bang?” Pak Polisi bertanya mereka sudah duduk di sofa.


“Iya.”

__ADS_1


“Sepertinya mereka ini pengikut aliran sesat, Bang. Aditia jadi korban mereka.” Pak Polisi menuduh, Alka kesal dan hampir menggerakkan tangan untuk melemparnya tanpa menyentuh.


“Alka! Ini Saba Alkamah, kan?” Lelaki yang dipanggil itu bertanya dengan nada yang ramah.


“Iya.” Alka menjawab singkat sambil terus memandang kesal pada Pak Polisi.


“Alka, ini Bapak Dirga, Alka lupa?” Pak Dirga mengingatkan bahwa dia adalah orang yang mengeluarkan Alka dari gua hutan bersama ayahnya Aditia dulu. Ternyata yang datang adalah Pak Dirga yang selalu membantu Aditia dan ayahnya dulu.


“Bapak Dirga?” Alka tersenyum, karena dia tahu, dua orang baik itu dulu wanginya sama, wangi seseorang yang hangat dan baik.


“Iya, Nak. Ya ampun, kamu tuh udah tumbuh dengan baik ya sekarang, sudah punya banyak teman dan bisa bersama Aditia, Bapak juga tahu, kalian semua disuruh Pak Mulyana untuk jaga Aditia dan keluarganya, kan?”


“Jadi, mereka melindungi Aditia, Bang?” Pak Polisi yang ternyata adalah adik tingkat di kepolisian Pak Dirga itu bertanya dengan kaget. Sikapnya sangat menghormati Pak Dirga.


Rupanya Aditia sudah buru-buru menghubungi Pak Dirga untuk datang, karena mereka tidak akan bisa menjelaskan semua, jika kasus Akbar bisa ditutupi, tapi kasus Aditia bisa jadi celah untuk membuat kasus Akbar dan Aditia dikorek lagi.


“Kisah tentang mereka, kamu tidak perlu tahu, tapi yang kamu perlu pegang, mereka tidak mungkin mencelakai manusia, mereka ini penjaga kita.” Pak Dirga berkata perkataan yang aneh menurup Pak Polisi.


“Penjaga manusia? Apakah mereka bukan manusia?” Pak Polisi itu bertanya.


“Mereka manusia, justru mereka menjaga kita dari makhluk lain, yang tidak bisa kamu lihat. Udah sampai situ aja ya. Nah soal penusukan Akbar dan Aditia, Alka jelasin semuanya, Bapak bantu menjembatani, supaya Pak polisi ini mengerti. Tapi, kamu harus diam dan tidak interupsi ya, ketika Alka menjelaskan semuanya.” Lagi-lagi Pak Dirga mencoba menolong anak-anak angkatnya.


Alka menjelaskan semuanya, semuanya dengan jujur dan terbuka, termasuk penusukan yang dilakukan oleh ibunya Akbar kepada anaknya, Pak Dirga menjamin, bahwa ini semua akan aman diceritakan oleh mereka.


“Alka bisa kasih bukti ke Pak Polisi, karena Pak Polisi cuma percaya sama bukti.” Pak Dirga bertanya.


“Tapi janji ya, kalau saya kasih bukti, Bapak akan lepaskan kami termasuk ibunya Akbar.” Pak Polisi mengangguk.


“SIlahkan, Nak.” Pak Dirga meminta Alka membuktikannya.


“Sini tangannya.” Alka meminta Pak Polisi mengulurkan telapak tangannya.


“Buat apa?” Pak Polisi agak keberatan.


“Kau kan minta bukti, kenapa sekarang takut?” Alka tertawa merendahkan.


“Tidak apa-apa, dia tidak akan mencelakaimu, dia ini anak baik, aku yang bertanggung jawab.” Pak Dirga menenangkan Pak Polisi.


Polisi itu akhirnya mengulurkan tangannya walau sedikit ragu.


“Ini agak menyakitkan dan mungkin menakutkan, tapi bertahanlah, kalau kau ingin bukti, kau harus melihatnya sendiri.” Pak Polisi terlihat terkejut mendengarnya, tapi dia tetap membiarkan Alka memegang tangannya.


Setelah Alka memegang tangan itu, Pak Polisi itu merasa ditarik … keluar dari tubuhnya. Dia terjatuh, karena melihat tubuhnya sendiri yang sedang mengulurkan tangan pada Alka, matanya terpejam, di depannya sudah ada Alka tapi dengan wujud jinnya.

__ADS_1


Dia ketakutan. “Kau … kau … benar pengikut aliran sesat? Apakah kau malah yang disembah oleh mereka? Apakah aku sudah mati!” Pak Polisi itu bergetar mengatakannya.


“Dasar manusia murni, pasti selalu ambil kesimpulan sendiri, padahal kau Polisi, ikut aku, kita akan melihat bukti yang kau minta, tenang saja, kau belum mati, aku bukan Tuhan, aku hanay butiran debu, Hama Allah seperti kalian, aku cuma dikasih berkah saja, itu kata Bapak.” Lalu Alka menarik ruh Pak Polisi itu, kerumah Pak Ari, diwaktu dimana Akbar sebelum tertusuk.


“Lihat dan perhatikan.” Alka memerintahkannya, Pak polisi melihat istrinya Pak Ari keluar kamar, dia sedang menuntun seseorang, bukan, bukan seseorang, tapi sesuatu.


Pak Polisi kaget karena itu adalah makhluk hitam, Kajiman.


“Itu apa?” Pak Polisi bertanya dengan ketakutan.


“Itu adalah Kajiman, dia menipu mata istri Pak Ari, sehingga menyangka dia adalah anaknya, setan itu telah menipu keluarga itu berhari-hari, makanya ibunya bahkan tidak menyadari bahwa yang dia tuntun adalah setan bukan anaknya yang sedang minta minum.”


“Pantas saja, dia menuntun setan itu dengan kasih sayang.”


Lalu adegan selanjutnya, Akbar asli keluar kamar dan setan itu memprovokasi ibunya Akbar untuk menyangka bahwa Akbar asli adalah setan yang menyamar, lalu … tertusuklah Akbar.


“Dia menyangka setan yang dia tuntun anaknya dan Akbar asli adalah setan, dia mencoba untuk melindungi anaknya dan terpedaya oleh tipu daya setan. Dia bukan pembunuh!” Alka menekan kata-kata itu.


“Kasihan sekali ibu dan anaknya, bagaimana dengan setan itu?” Pak Polisi bertanya.


“Bapak mau menangkapnya?” Alka meledek.


“Apakah kami bisa melakukannya?” Pak Polisi kali ini mengatakannya dengan nada yang putus asa.


“Tenang saja, kami yang lebih mampu, Kajiman sudah diringkus dan sudah di kembalikan ke tempatnya.  Saat proses itulah, Aditia terluka oleh kerisnya sendiri, dia berusaha meringkus Kajiman dengan darahnya, darah panas bagi seorang setan. Sekarang Bapak percaya pada kami?” Alka bertanya diiringi anggukan Polisi.


Mereka kembali ke raga masing-masing, Pak Polisi menangis, Alka agak heran dengan reaksi Pak Polisi terlihat berlebihan.


“Ada apa?” Pak Dirga bertanya pada adik tingkatnya di kepolisian itu.


“De, Alka, saya percaya dan saya tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum, saya mengerti apa yang ibunya Akbar lakukan, dia seorang ibu, pasti nalurinya akan selalu melindungi anaknya, walau akhirnya kena tipu daya.”


“Tapi, pasti ada hal lain, apa itu?” Pak Dirga mencoba mengorek.


“De, Alka, apa kira-kira ade bisa bantu anak saya?” Pak Polisi itu menangis sesegukan, dia ternyata punya masalah yang mirip.


“Ada apa ya Pak?” Alka bertanya dengan nada serius.


“Anak saya sakit, sudah 6 bulan ini, saya sudah datangi rumah sakit di Bandung ini, semua bilang anak saya baik-baik saja, sehat, tapi dia … dia … tidak baik-baik saja, semua dukun juga sudah saya datangi, sama saja, semua terapi dan rukyah semua sudah kami lakukan, habis uang saya dan tenaga, selama 6 bulan ini kami terus melakukan apapun agar anak kami sehat kembali, tapi nihil. Anak kami masih sakit.” Pantas Pak Polisi ini menangis, dia sedang mengingat nasib anaknya.


“Baik, itu terserah Alka, mau membantu atau tidak.” Pak Dirga tidak ingin memaksa.


“Bapak, kan tahu, kalau kami diajarkan untuk tidak menolak orang yang meminta bantuan.” Alka tersenyum, itu membuat Pak Polisi terliaht semangat.

__ADS_1


Sementara Aditia masih tertidur, biarlah, dia istirahat dulu, itu yang Alka fikirkan. Karena setelah ini pasti akan ada kasus yang akan membuat mereka sulit beristirahat lagi.


__ADS_2